Compartir

Bab 6

Autor: Tulip
Sanjaya tertegun.

Inara tak lagi menatapnya. Dia berbalik dan berkata kepada Wati serta beberapa pelayan lainnya, "Bereskan barang-barangku. Cepat sedikit. Jangan sampai menghambat Pertiwi pindah kemari."

Gerakannya begitu cepat. Hanya dalam waktu kurang dari dua jam, dia sudah membereskan semua barangnya yang tidak seberapa banyak dan pindah ke sebuah paviliun kecil di bagian paling jauh dari kediaman. Tempat itu sudah bertahun-tahun tidak dihuni.

Paviliun itu sempit dan sudah tua. Luasnya bahkan tidak sampai sepertiga dari paviliun tempatnya tinggal sebelumnya.

Setelah selesai pindah, Inara berjalan menghampiri Sanjaya yang masih terpaku dan Pertiwi yang tampak puas. Dia berkata, "Oh ya, karena Sanjaya bilang kamu bukan orang luar, mulai sekarang kunci gudang kuserahkan padamu untuk disimpan. Urusan mengelola rumah tangga juga kamu yang urus."

Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan seuntai kunci kuningan dari lengan bajunya dan menyerahkannya.

Sanjaya tersadar. Ekspresinya seketika berubah. "Inara! Apa yang kamu lakukan? Itu adalah wewenang untuk mengurus rumah tangga! Bagaimana bisa diserahkan begitu saja?"

Mata Pertiwi langsung berbinar. Dia menarik lengan baju Sanjaya dan berkata dengan suara manja, "Kak Jaya, aku juga ingin belajar mengurus rumah tangga. Kebetulan sebentar lagi kediaman ini akan mengadakan jamuan musim semi, 'kan? Boleh aku mencobanya?"

Sanjaya menatap mata Pertiwi yang penuh harap, lalu melihat wajah Inara yang datar. Hatinya diliputi pergulatan.

"Kak Jaya ...." Pertiwi memasang wajah seolah hendak menangis.

Hati Sanjaya pun melunak. Pada akhirnya, dia menghela napas dan berkata kepada Inara, "Kalau Pertiwi ingin belajar, biarkan dia mencobanya dulu. Kamu bantu membimbingnya."

Pada akhirnya, dia tetap membiarkannya.

Inara sama sekali tidak terkejut. Dia lantas mengangguk, meletakkan kunci itu di tangan Pertiwi, lalu berbalik dengan tenang dan meninggalkan paviliun yang telah ditinggalinya selama lima tahun.

Sanjaya menatap punggungnya. Rasa panik yang tidak dapat dijelaskan kembali muncul di dalam hatinya. Kali ini jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Tanpa sadar, dia ingin mengejar. Dia ingin mengatakan sesuatu, ingin melakukan sesuatu. Namun, Pertiwi menarik tangannya sambil memainkan kunci di tangannya dengan gembira.

"Kak Jaya, akhirnya aku bisa membantumu!"

Melihat senyum bahagia Pertiwi, langkah Sanjaya terhenti. Dia berpikir, Inara begitu mencintainya dan sudah berkorban begitu banyak untuknya. Wanita itu hanya kesal sesaat. Tidak mungkin benar-benar ada masalah.

Setelah beberapa waktu, dia akan membujuk Inara dan menebus kesalahannya. Dengan pikiran seperti itu, pada akhirnya dia tidak mengejar Inara.

Selama beberapa hari berikutnya, Pertiwi memegang wewenang mengurus rumah tangga. Dia membuat kediaman itu menjadi kacau balau.

Pembukuan berantakan, para pelayan mengeluh, barang yang dibeli berkualitas rendah meskipun dibayar dengan harga tinggi.

Sanjaya bukannya tidak tahu. Namun, setiap kali Pertiwi merajuk atau meneteskan air mata, hatinya langsung melunak dan dia membiarkannya. Dia hanya meminta kepala pelayan untuk lebih banyak bersabar.

Di paviliun kecilnya, Inara mendengarkan Wati mengomel dengan kesal, tetapi dia hanya tersenyum tipis tanpa pernah ikut campur.

Sampai pada hari jamuan musim semi, Pertiwi sengaja mengirim seseorang untuk menyampaikan pesan bahwa ini adalah acaranya dan dia berharap Inara tidak hadir agar tidak merebut jasanya.

Inara justru senang bisa menikmati ketenangan seperti ini. Sepanjang hari, dia tidak keluar dari paviliun.

Tengah malam, saat dia baru hendak tidur, pintu kamarnya tiba-tiba didorong terbuka dengan keras.

Sanjaya menerobos masuk, membawa hawa dingin dan embun malam yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya menunjukkan kegelisahan dan keseriusan yang jarang terlihat.

Inara terbangun karena terkejut. Dia bangkit dan menatapnya.

"Inara." Sanjaya melangkah beberapa kali hingga sampai di sisi ranjang. Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa. "Bantu aku."

"Bantu apa?"

"Di jamuan musim semi tadi, Pertiwi terlalu ceroboh dan mengira patung giok yang bertahun-tahun lalu dianugerahkan oleh Ibu Suri sebagai wadah ludah untuk digunakan para tamu." Alis Sanjaya berkerut erat.

"Seseorang sengaja melapor kepada Ibu Suri. Beliau murka dan memerintahkan agar orang yang bertanggung jawab atas jamuan itu dihukum berat. Orang itu akan dikurung di penjara selama sehari untuk menerima hukuman berat, lalu digantung di menara gerbang kota selama sehari untuk dipertontonkan ke orang-orang!"

Dia menggenggam tangan Inara dengan sangat kuat.

"Kamu juga tahu, tubuh Pertiwi lemah dan dia penakut. Kalau masuk ke penjara seperti itu, dia bisa sekarat atau mati. Digantung di menara gerbang kota juga merupakan penghinaan yang sangat besar."

"Dia baru saja bercerai dan sudah begitu lama menjadi bahan gunjingan. Kalau sekarang harus menjalani hukuman seperti ini, dia pasti akan hancur. Jadi ... bisakah kamu ... menggantikannya?"

Inara menatapnya. Melihat kecemasan yang sama sekali tidak dia sembunyikan di mata Sanjaya, tiba-tiba Inara merasa selama ini dia tidak pernah benar-benar mengenal pria di hadapannya.

Dia mengira hatinya sudah mati dan tidak akan merasakan sakit lagi. Namun, mendengar Sanjaya menyuruhnya menggantikan Pertiwi menjalani hukuman yang tidak manusiawi dan menanggung penghinaan sebesar itu, dari sudut hatinya yang sudah lama mati rasa, tetap muncul rasa sakit yang tipis dan menusuk.

Perlahan, sedikit demi sedikit, dia menarik kembali tangannya.

"Sanjaya, hanya karena kamu nggak rela membiarkannya mati, kamu bisa mengorbankanku begitu saja?"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status