Compartir

Bab 7

Autor: Tulip
Pertanyaan Inara membuat hati Sanjaya bergetar. Dia buru-buru berkata, "Bukan mengorbankanmu! Ini ... ini cuma untuk sementara! Pertiwi benar-benar nggak akan sanggup menanggungnya!"

"Inara, kamu lebih kuat darinya. Kamu pasti bisa melewatinya. Setelah semuanya selesai, aku pasti akan menebusnya dan memperlakukanmu lebih baik. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan."

Inara menatap Sanjaya yang sibuk membela diri. Tiba-tiba, dia merasa begitu lelah sekaligus begitu konyol.

"Kalau bukan pengorbanan, lalu apa namanya?" tanyanya pelan, seolah sedang bertanya kepada dirinya sendiri. "Sanjaya, aku sudah lima tahun menikah denganmu. Di dalam hatimu ada Pertiwi, aku menerimanya. Kamu mengabaikan dan menelantarkanku demi dia, aku menerimanya."

"Kamu menyuruhku menggugurkan anak kita demi dia, aku menerimanya. Kamu memilih meninggalkanku di tepi tebing demi dia, aku juga menerimanya ...."

Inara mengangkat kepala dan menatapnya. Kali ini, akhirnya ada gejolak dalam matanya. Kesedihan dan keputusasaan yang begitu pekat hingga seolah tak mungkin terurai.

"Pada akhirnya, apa yang kudapatkan? Inikah yang kamu maksud ketika mengatakan lain kali kamu pasti akan mendahulukanku di antara aku dan Pertiwi?"

Keputusasaan di mata Inara membuat hati Sanjaya panik. Dia membuka mulut, tetapi semua alasan yang telah disiapkannya tiba-tiba tersangkut di tenggorokan.

Saat ini, di luar paviliun terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur, disertai bunyi gesekan baju zirah.

"Titah Ibu Suri tiba!"

Beberapa pelayan dan pengawal berpakaian istana masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Pelayan tua yang memimpin rombongan menyapu seisi ruangan dengan tatapan tajam.

"Atas perintah Ibu Suri, kami datang untuk menangkap orang yang bertanggung jawab atas jamuan dan sudah melakukan pelanggaran tata krama serta menodai benda yang dianugerahkan oleh kekaisaran."

"Tuan Sanjaya, boleh kami tahu, siapa yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan jamuan musim semi kali ini di kediaman ini?"

Semua orang menatap Sanjaya.

Tubuh Sanjaya menegang. Tangannya mengepal erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Dia melirik Inara yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan tatapan datar, lalu seolah melihat wajah Pertiwi yang ketakutan dan menangis.

Waktu seakan membeku. Setiap detik terasa seperti satu abad.

Pada akhirnya, dengan sangat perlahan dan susah payah, Sanjaya mengangkat tangannya dan menunjuk Inara. "Dia ...."

Hanya satu kata yang ringan, tetapi bagaikan mata pisau paling tajam yang menebas habis harapan terakhir yang tersisa di hati Inara.

Inara menatapnya, lalu tiba-tiba tersenyum. Senyumnya begitu indah, tetapi kosong tanpa sedikit pun kehangatan. Air mata mengalir dari sudut matanya.

Dia tak lagi menatap Sanjaya dan tidak mengatakan apa-apa.

Ketika para pelayan maju menghampirinya, dia menyingkap selimut, turun dari ranjang, lalu merapikan pakaian tidurnya yang tipis. Dengan punggung tegak, dia melangkah menuju para petugas istana yang dingin itu.

Saat melewati Sanjaya, langkahnya tidak berhenti sedikit pun, seolah pria itu hanyalah angin lalu.

Sanjaya tanpa sadar mengulurkan tangan hendak menahannya, tetapi jari-jarinya hanya sempat menyentuh ujung pakaian Inara yang dingin dan lembut sebelum terlepas begitu saja.

"Inara ...." Tenggorokannya terasa kering. Dia ingin mengatakan sesuatu.

Namun, Inara sudah melangkah keluar dari kamarnya, menuju malam yang dingin.

Sehari semalam di penjara menjadi kegelapan terpanjang yang pernah Inara alami seumur hidupnya.

Cambuk, pukulan tongkat, hukuman jarum, hukuman air. Berbagai macam siksaan kejam yang tak pernah terbayangkan olehnya silih berganti dijatuhkan kepadanya.

Rasa sakit itu sudah membuatnya mati rasa. Kesadarannya terus terombang-ambing.

Dia menggertakkan gigi, tidak memohon ampun, tidak berteriak kesakitan. Dia hanya terus mengingat jari tangan pria itu yang menunjuk kepadanya untuk terakhir kalinya, serta kata yang diucapkannya dengan begitu ringan.

Keesokan harinya, dia diseret ke atas menara gerbang kota. Angin awal musim dingin menerpa wajahnya seperti pisau. Pakaian tahanan yang tipis di tubuhnya sudah lama basah kuyup oleh darah dan menjadi keras.

Kedua tangannya dirantai. Dia digantung di tempat yang paling mencolok di atas menara gerbang kota.

Di bawahnya berkumpul tak terhitung banyaknya rakyat yang datang untuk menonton. Mereka menunjuk-nunjuk dan berbisik-bisik.

"Bukannya itu istri Tuan Sanjaya? Kudengar dia menodai benda yang dianugerahkan Ibu Suri!"

"Wajahnya lumayan cantik. Bagaimana bisa sebodoh itu?"

"Memang pantas! Itu kejahatan karena nggak menghormati Ibu Suri!"

Penghinaan, rasa sakit, hawa dingin ... semuanya bercampur menjadi satu.

Inara menundukkan kepala. Rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya. Dia memejamkan mata dan tidak memedulikan segala sesuatu yang terjadi di luar.

Kesadarannya perlahan menjadi kabur. Akhirnya, ketika matahari mulai terbenam, dia tak sanggup bertahan lagi dan kehilangan kesadaran sepenuhnya.

....

Ketika kembali sadar, dia sudah berada di paviliun kecilnya yang terpencil dan sunyi. Seluruh tubuhnya terasa seperti sudah dihancurkan lalu disatukan kembali. Tidak ada satu bagian pun yang tidak terasa sakit.

Di sisi ranjang berdiri seorang pengawal yang tidak dikenalnya. Ketika melihatnya sadar, dia membungkuk memberi hormat.

"Nyonya sudah sadar. Tuan memerintahkan hamba menunggu di sini." Dia menunjuk kotak-kotak brokat yang menumpuk di atas meja di sampingnya.

"Semua ini adalah hadiah dari Tuan untuk Nyonya. Beliau meminta Nyonya beristirahat dan memulihkan diri dengan baik."

"Tuan bilang Nona Pertiwi ketakutan karena kejadian ini, jadi beliau akan menemaninya beberapa hari di vila pemandian air panas di luar kota untuk menenangkan diri. Setelah pulang, beliau akan menebus kesalahannya kepada Nyonya."

Inara memandangi kotak-kotak brokat yang mewah itu. Sutra dan kain halus, perhiasan dan batu-batu mulia berkilauan dengan cahaya dingin di bawah penerangan yang redup.

Menebus kesalahan? Hatinya sudah lama mati. Sebanyak apa pun hadiah dan kompensasi yang diberikan, semuanya tidak ada gunanya.

Setelah pengawal itu pergi, Inara menahan rasa sakit yang menusuk dan perlahan turun dari ranjang.

Wati menahannya dengan mata memerah. "Nyonya mau ke mana? Setidaknya tunggu sampai luka Nyonya sedikit pulih."

Inara perlahan menyingkirkan tangannya. Suaranya serak, tetapi luar biasa tenang. "Aku sudah nggak bisa menunggu."

Bahkan sedetik pun dia tidak mau menunggu lagi.

Hari ini adalah akhir bulan, hari ketika surat cerai itu bisa dimintakan cap di balai pemerintahan.

Sambil menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke hati, Inara keluar melalui pintu belakang kediaman dan menghilang di jalanan awal musim dingin yang sunyi.

Di depan balai pemerintahan, dia menyerahkan surat cerai yang dibubuhi cap pribadi Sanjaya.

Pejabat yang bertugas pun memeriksanya dan memastikan semuanya benar. Dia kemudian mengambil cap resmi kerajaan dan menekankannya kuat-kuat pada lembar surat itu.

"Pernikahan Nona Inara dengan Tuan Sanjaya resmi berakhir. Mulai saat ini, kalian berdua berpisah dan tak lagi memiliki hubungan apa pun. Ini adalah surat perceraian resmi yang sudah disahkan kerajaan. Simpan baik-baik."

Selembar kertas ringan diserahkan ke tangannya. Inara menerimanya dengan ujung jari yang sedikit gemetar.

Dia melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya. Kemudian, dia menyerahkan satu salinan lain kepada pejabat itu. Suaranya lembut, tetapi jelas.

"Tolong kirimkan salinan ini ke Kediaman Putra Bangsawan Adipati Utara dan serahkan kepada Tuan Sanjaya."

Setelah menyelesaikan semuanya, dia berbalik meninggalkan balai pemerintahan dan menyewa sebuah kereta kain biru yang paling sederhana.

Kusirnya adalah seorang lelaki tua berwajah jujur dan sederhana. Dia bertanya, "Nyonya mau ke mana?"

Inara membuka tirai kereta dan memandang ibu kota yang sudah mengurungnya selama lima tahun untuk terakhir kalinya, kota yang menjadi saksi seluruh cinta, kebencian, dan keputusasaan dalam hidupnya.

Kemudian, dia menurunkan tirai, bersandar pada dinding kereta yang dingin, dan memejamkan mata.

"Jinggara."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status