ログインWandra baru saja hendak melangkah keluar dari balik air terjun bersama Ayu Wandira ketika telinganya menangkap suara-suara dari luar. Bukan suara binatang. Bukan suara alam. Tapi suara manusia. Banyak manusia.Wandra mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada Ayu untuk berhenti dan diam. Ayu yang masih dalam keadaan gemetar langsung membeku di tempat.Dari balik dinding air yang jatuh deras, Wandra bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi di luar. Ada sekitar dua puluh orang yang baru saja tiba di tepi kolam air terjun. Mereka melantunkan semacam doa atau nyanyian pujian dalam bahasa yang kuno dan aneh, suara mereka bersahut-sahutan dengan irama yang monoton dan menyeramkan."Wahai Yang Agung di balik air! Kami datang membawa persembahan! Terimalah korban kami dan berikanlah kepada kami harta yang Engkau janjikan!"Kemudian terdengar suara rintihan dan tangisan lain. Suara-suara itu lebih lemah, lebih takut. Suara orang-orang yang tidak datang dengan sukarela.Wandra menajamk
Sensasi itu luar biasa—memek Ayu mencengkram erat kontolnya seperti tangan yang memeras, cairan hangatnya membasahi bola-bola Wandra. 'Qi kita bergabung... rasakan levelmu naik lagi,' desah Wandra, matanya tertutup sejenak saat gelombang energi menyapu tubuhnya. Ayu menjerit kecil, 'Ya! Tubuhku bergetar... orgasme kedua dekat. Hisap payudaraku, Wandra!'Wandra condong maju, mulutnya telan puting kanan Ayu, hisap kuat sambil gigit pelan, lidahnya melingkar di sekitar montok merah itu. Tangan kirinya turun ke klitoris Ayu, gosok bundaran kecil itu dengan ibu jari, tambah ritme naik turun yang semakin cepat. Ayu bergoyang liar sekarang, pinggulnya menghantam paha Wandra dengan suara basah yang bergema di gua, 'Ahh... aku cum! Qi-mu banjiri aku!' Tubuhnya menegang, memeknya berdenyut hebat di sekitar kontol Wandra, cairan panas menyemprot keluar, basahi perut mereka berdua.Sensasi itu picu Wandra, dia dorong pinggul naik beberapa kali ganas, 'Ambil spermaku lagi, Ayu! Ini qi murni untu
Wandra menatap Ayu di balik pepohonan. Kemudian telinganya menangkap suara gemerisik kain yang jatuh ke tanah basah.Sejak Wandra mendapatkan Ruang Penakluk Naga, Wandra seperti membangkitkan kehidupan masa lalunya, atau menemukan jiwa tuanya, atau disebut reinkarnasi.Wandra telah menemukan jiwanya yang sebelumnya, dan dia tidak lagi memerlukan liontinnya, apalagi liontin itu memang sudah hilang sejak Wandra masuk dalam Ruang Penakluk Naga dan menemukan reinkarnasi nya.Sejak itu juga, Wandra tidak perlu khawatir akan asap pemancing gairah, tapi Wandra juga tidak akan bisa menahan godaan apapun yang datang padanya. Nafas Ayu terdengar cepat, penuh ketakutan bercampur hasrat yang bergelora. Ayu merasa berterimakasih, merasa bersalah, merasa kagum, dan semua itu bercampur menjadi satu. Wandra menoleh, matanya menyipit melihat sosok Ayu yang berdiri di sana, jubahnya sudah terlepas, menyisakan tubuh telanjang yang gemetar di bawah hembusan angin lembab hutan. Kulitnya pucat, payud
Gurita iblis itu tidak terima salah satu belalainya dipukul. Dari arah air terjun, belasan belalai lainnya melesat menuju Wandra. Mereka bergerak dari berbagai arah, berusaha mengepung dan melilit Wandra dari segala sisi.Wandra bergerak.Bagi Ayu yang terbaring di tanah dan menyaksikan semuanya, apa yang dia lihat selanjutnya adalah sesuatu yang akan dia ingat seumur hidupnya.Wandra tidak menghindar dari belalai-belalai itu. Dia justru maju ke arah mereka. Setiap pukulannya mendarat di belalai-belalai itu dengan kekuatan yang luar biasa. Belalai yang tadi tidak bisa digores oleh pedang pemimpin kelompok kini patah dan terpotong oleh pukulan tangan kosong Wandra. Cairan hitam keunguan yang merupakan darah gurita iblis itu menyembur setiap kali sebuah belalai terputus.Gurita iblis itu berteriak. Suaranya yang sangat rendah dan memilukan menggetarkan seluruh hutan. Burung-burung beterbangan dari pohon-pohon di sekitar. Tanah bergetar seperti ada gempa bumi kecil.Tapi Wandra tidak ber
Hutan itu terlihat sangat berbeda dari Hutan Tebing Merah tempat dia berburu harimau iblis beberapa waktu lalu. Pepohonan di sini jauh lebih lebat dan lebih tinggi, dengan kanopi yang begitu rapat sehingga cahaya matahari nyaris tidak bisa menembus ke dasar hutan. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, memberikan kesan suram dan misterius.Wandra memasuki hutan dengan langkah yang tenang. Dia sengaja memilih arah yang berbeda dari yang diambil kelompok Ayu Wandira. Dia tidak ingin dianggap mengikuti mereka.Begitu berada di dalam hutan, Wandra melepaskan roh primordialnya. Gelombang kesadaran itu menyebar ke segala arah, memetakan setiap kehidupan dalam radius satu kilometer. Binatang-binatang biasa, serangga, burung, beberapa ular besar. Tapi tidak ada binatang iblis dalam jangkauannya saat ini.Wandra terus berjalan lebih dalam ke hutan. Setiap beberapa ratus meter, dia kembali melepaskan roh primordialnya untuk memindai area yang lebih jauh.Sementara itu, kelompok
Pagi ini Winona sudah berdiri di depan rumah kos Wandra dengan mobilnya yang menyala. Wajahnya menunjukkan antusiasme yang tidak biasa saat Wandra membuka pintu pagar."Wandra, aku punya kabar bagus!" Winona langsung berkata bahkan sebelum Wandra sempat mengucapkan selamat pagi. "Ada informasi tentang binatang iblis di hutan gelap. Sebuah kelompok dari kota Dekon sudah tiba di pinggiran kota Arcandra untuk memburu binatang itu. Aku pikir kamu bisa bergabung dengan mereka."Wandra langsung tertarik. Sejak dia memurnikan dua inti roh yang dia dapatkan dari Istana Harta Berharga, dia sudah menginginkan lebih banyak inti roh untuk terus menaikkan levelnya. Hutan gelap yang terletak di antara kota Arcandra dan kota Bantara memang terkenal sebagai salah satu hutan paling berbahaya di wilayah ini, dan kemungkinan adanya binatang iblis di sana sangat tinggi."Ayo pergi," Wandra berkata singkat dan masuk ke mobil Winona.Mereka melaju menuju pinggiran kota Arcandra. Setelah sekitar empat puluh
Sekarang, giliran lotus—posisi intim yang mengharuskan mereka saling berhadapan, kaki saling melingkar. Joanna duduk di pangkuan Wandra, kakinya melingkari pinggangnya, sementara kaki Wandra melingkari bokongnya. Mereka saling tatap, mata penuh api. Tangan Wandra memeluk punggung Joanna, menariknya
Dengan gerakan lambat yang menyiksa, Wandra menyelaraskan batang kemaluannya dengan liang keintiman Joanna. Ujungnya menyentuh bibir luar yang sensitif, menggesek pelan untuk membangun antisipasi. Joanna mengerang frustrasi, pinggulnya bergoyang mundur, memohon penetrasi. Akhirnya, Wandra mendorong
Semua orang berdatangan ke ruangan dimana pasien yang sudah mati bangkit kembali. Banyak yang berseru kaget, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Pasien yang telah tiada, kini hidup kembali!Dr. Adrian dan timnya segera memeriksa pasien, memastikan kondisinya stabil. Kebingungan bercampur
Malam itu, sekitar pukul 19:00, Wandra mengantar Joanna ke Rumah Sakit Universitas Harapan Bangsa dengan jalan kaki. Joanna harus menjalani shift malam sebagai dokter ko-as—dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi besoknya.Mereka turun di depan gedung rumah sakit yang megah dan terang benderang dengan l







