Share

Bab 165

Penulis: Jw Hasya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 06:03:09

Bulan berganti dengan begitu cepat. Sutra dan Kama akhirnya memutuskan untuk tinggal satu rumah, meskipun mereka belum resmi menikah.

Hari ini, tepat usia Nathan dan Nala genap satu tahun. Banyak pernak-pernik yang menghiasi ruangan keluarga hunian mewah tersebut. Setiap pelayan yang bekerja di rumah itu tampak sibuk dengan segala rentetan yang akan Kama adakan malam nanti.

Bertolak dengan Kama, Sutra memilih berdiam diri di dalam kamar. Banyak hal yang tentu ia pikirkan. Terlebih perihal pesta ulang tahun kedua putra putri kembarnya tersebut.

Sebelum memutuskan untuk mendekor rumah, Kama dan Sutra sempat bersitegang. Wanita itu Sebetulnya menolak acara yang akan diadakan oleh Kama. Namun, pria itu bersikukuh tetap ingin memeriahkan acara satu tahun usia sang buah hati.

Sebetulnya bukan tanpa alasan kenapa Sutra menolak. Wanita itu memikirkan nasib kedua buah hatinya. Bagaimana jika akhirnya akan menjadi buah bibir para tamu undangan? Jika Nathan dan Nala ternyata terlahir di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
jangan sampai ada masalah baru dengan hadirnya jhois nih
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
duh si kama nekat ya.. apa yang bakal terjadi berikutnya nih.. apakah jois akan menjadi sumber masalah berikut nya
goodnovel comment avatar
Iin Huang
semoga aj cuma rekan bisnis ya kama, jgn aneh2 kamu kama
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kama Sutra   Bab 185

    Perlahan tapi pasti, Kama memainkan batu es dalam mulutnya mengitari setiap inci demi inci tubuh Sutra yang telah tersuguh tanpa helai benang. Kedua netranya menatap setiap permainan Kama, membuatnya lebih bergairah. “Aaah!” Ia kembali meloloskan desahannya. “Kau mau apa lagi?” tanya Sutra di tengah desahannya yang begitu terdengar seksi. Kama membuang asal batu es yang sudah menipis karena sudah mencair tersebut. Sejurus kemudian, pria itu mengambil sebuah tali yang terbuat dari kulit dan sebuah penutup mata. “Aku ingin menutup matamu dan mengikat kedua tangan serta kakimu ke ujung kasur,” jawab Kama sambil tersenyum smirk. Sutra pasrah. Bibirnya bergetar, hasratnya begitu dalam, ia tak dapat lagi membendungnya. Tak berselang lama, Kama telah selesai menutup kedua matanya serta menginat kedua tangan serta kakinya ke ujung kasur. Pemandangan yang tersuguh begitu menggairahkan. Kama meminkan tonjolan kecil yang sedikit menyembul di tengah belahan kerang simping Sut

  • Kama Sutra   Bab 184

    “Kau bilang hanya sebentar. Aku takut sendirian.” Sutra menatap Kama dan Mina secara bergantian. “Apa kalian sedang membahas sesuatu yang penting? Kenapa aku merasa begitu?” “Nyonya Deodola, aku dan Tuan hanya membahas persoalan pekerjaanku. Iya ‘kan, Tuan?” Kama mengangguk. “Besok aku harus ke Kota W. Nicko ingin kembali menjalin kerja sama denganku. Aku ingin selama kepergianku ke luar kota, Mina menjagamu dan juga anak-anak kita.” “Nicko?” Dahinya mengernyit. “Ya, mantan bosmu yang sempat menyukai dirimu.” “Kama, kau bisa tidak usah membahas dia di depan Mina?” Sutra menarik pergelangan tangan Kama, lalu sedikit menyeretnya ke dalam kamar. “Maaf, Mina, sebaiknya kau istirahat saja. Kama memang selalu begini, dia akan rusuh kalau sedang tidak ada kerjaan.” Mina tersenyum menanggapinya. “Apa yang kau bilang tadi?” tanya Kama saat keduanya sudah berada di dalam kamar. “Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Sutra yang memang tidak mengingatnya. “Kau bilang pada Mina

  • Kama Sutra   Bab 183

    “Selamat ulang tahun, Sayang.” Pria tampan dengan manik biru tersebut tampak mencium kening sang putri dengan begitu hangat. Sejurus kemudian, wanita anggun berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuah kado berbentuk kubus di atas kedua tangannya. “Ini hadiah untukmu, Nak. Mami dan Daddy sangat menyayangimu, Sayang. Bukalah.” Senyumnya mengambang, tapi terlihat begitu samar. Saat gadis itu hendak membuka kado, tiba-tiba terdengar sebuah tembakan yang memekakkan gendang telinganya. Membuatnya menyumpal cuping telinga, tapi segalanya terasa begitu sia-sia. Darah berceceran, lalu gelap, sunyi, dan …. “Aaaaah!” Matanya terbuka, deru napasnya begitu memburu hingga dadanya terlihat naik turun. “Ada apa? Kau mimpi buruk?” Kama mengguncang-guncangkan tubuh Sutra hingga wanita itu mengerjapkan kedua matanya. “Kama!” Dia lantas memeluk tubuh Kama yang duduk di sisi ranjang. “Hei, tenangkan dirimu. Kau sedang mimpi buruk?” Kama membetulkan posisi rambut Sutra yang terlihat acak-acak

  • Kama Sutra   Bab 182

    “Apa yang kau lakukan dengannya, Hans!”Bruak!Satu pukulan tepat mengenai pelipis Hans dengan begitu sempurna, hingga lelaki itu menahan rasa perih yang tiba-tiba merayap di area wajahnya. “Kau ingin bermain-main denganku? Ingin mengkhianatiku?” Wajahna begitu garang, Kama tidka bisa lagi menghalau kemarahannya.Sudah cukup lama, ia menahannya. Jujur, setiap gerak gerik Hans membuatnya menaruh curiga dan sebuah kecemburian, dan malam ini adalah puncaknya. “Hentikan! Ini rumah sakit!” seloroh Sutra saat kepalan tangan Kama hampir kembali mengenai wajah Hans. “Hentikan! Kau salah paham!” Sutra meraih pergelangan tangan Kama. Kama menatapnya dengan tatapan menghunus. “Apa kau bilang? Salah paham? Aku bahkan melihat dengan kedua mataku sendiri jika laki-laki brengsek ini memakai baju di hadapanmu, Sutra! Kau—“ Kama menggantung kalimatnya. “Kau salah paham! Dia habis menggendong Nala tanpa memakai baju, itu juga atas saran dari dokter. Karena tubuh Nala sangat panas, Kama!” Sutra memc

  • Kama Sutra   Bab 181

    Hans dan Sutra berdiri berhadapan. Begitu dekat, hingga sepoi napas dari keduanya terasa menerpa wajah. Sutra yang hanya memakai piyama slip berbahan sutra itu, tampak menatap wajah Hans, pun dengan pria tersebut, ponsel yang tengah menghubungi nomor Kama, terabai di genggamannya. Debaran itu kian nyata, Hans dapat merasakan jika jantungnya seolah ingin copot dari tempatnya. Namun, sebisa mungkin pria itu menepis segala dugaan-dugaan yang mungkin saja bisa terjadi di antara mereka. Benda panjang di tengah celana milik Hans pun mendadak mengeras dan terasa begitu panas. Tidak! Pria itu harus segera mengakhiri sesi sensasi yang tidak seharusnya ia rasakan. Wanita dihadapannya adalah Sutra, calon istri Kama sekaligus ibu dari anak-anaknya. “Hallo, Hans, ada apa?” Beruntung suara Kama dari seberang telepon menyentak perhatian Hans, hingga pria tampan itu segera mengalihkan perhatiannya. Hans mengatur napasnya yang sedikit tak beraturan. Meraup wajahnya sendiri agar sadar dari s

  • Kama Sutra   Bab 180

    Sutra tampak menatap lukisan seharga dua ratus milyar. Matanya begitu lekat menatap inci demi inci lukisan yang dilukis oleh mendiang Reynard sebelum dirinya meninggal dunia. Sebuah lukisan pemandangan lengkap dengan seorang wanita muda yang tengah menggendong seorang bayi kecil dalam dekapannya. Warja senja yang kontras begitu memukau penglihatan Sutra. Wanita itu seperti tengah merasa de ja vu. Namun, ia tak mengingat sama sekali. Mungkin hanya sekadar mimpi yang terlupakan. Pikirnya. “Nyonya sarapan sudah siap.” Mina mengagetkan Sutra. “Mina, kenapa kau yang masak? Di rumah ini sudah ada koki yang khusus untuk memasak. Tugasmu hanya melayani apa yang aku inginkan, bukan?” Mina tersenyum menanggapinya. “Tuan Deodola menginginkan mulai saat ini aku yang masak untukmu dan dia, Nyonya.” Sutra menganjur napas pelan. “Terserah kau saja. Aku hanya tak ingin kau terlalu lelah bekerja.” “Tidak, Nyonya. Aku bahkan sangat senang karena bisa membuatkanmu makanan.” “Baiklah, ja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status