Share

Bab 185

Author: Jw Hasya
last update Last Updated: 2026-01-09 22:07:27

Perlahan tapi pasti, Kama memainkan batu es dalam mulutnya mengitari setiap inci demi inci tubuh Sutra yang telah tersuguh tanpa helai benang.

Kedua netranya menatap setiap permainan Kama, membuatnya lebih bergairah.

“Aaah!” Ia kembali meloloskan desahannya. “Kau mau apa lagi?” tanya Sutra di tengah desahannya yang begitu terdengar seksi.

Kama membuang asal batu es yang sudah menipis karena sudah mencair tersebut. Sejurus kemudian, pria itu mengambil sebuah tali yang terbuat dari kulit dan sebuah penutup mata.

“Aku ingin menutup matamu dan mengikat kedua tangan serta kakimu ke ujung kasur,” jawab Kama sambil tersenyum smirk.

Sutra pasrah. Bibirnya bergetar, hasratnya begitu dalam, ia tak dapat lagi membendungnya.

Tak berselang lama, Kama telah selesai menutup kedua matanya serta menginat kedua tangan serta kakinya ke ujung kasur.

Pemandangan yang tersuguh begitu menggairahkan. Kama meminkan tonjolan kecil yang sedikit menyembul di tengah belahan kerang simping Sut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Iin Huang
aku jdi penasaran apa yg di sembunyikan kama
goodnovel comment avatar
Iin Huang
emang benda apa yg di bawah meja itu kama?? mencurigakan banget
goodnovel comment avatar
Mariati Binti kamarudin
Kenapa percintaan mereka terlalu dingin seperti tiada cinta antara mereka kecuali nafsu semata
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kama Sutra   Bab 188

    Entah mimpi apa semalam, Ellies harus menerima takdir yang seakan dikendalikan oleh Kama. Gadis itu begitu cantik, memiliki rambut bergelonbang hitam kebiru-biruan, dengan sorot mata yang begitu tajam, jernih dan sedikit menggoda. Bibirnya tipis, dengan tinggi badan sekitar 170 centimeter, membuat Ellies tampak semakin menarik. “Nona Ellies, Tuan Deodola mengutusku untuk segera membawamu ke Kota S.” Seorang bodyguard berperawakan kekar dengan memakai stelan serba hitam datang ke rumah Ellies setelah Kama dan Hans pergi sekitar lima belas menit lalu. Ellies menganjur napas tanpa kata. Gadis itu tampak memainkan permen karet dalam mulutnya sambil berjalan masuk dalam kamar. “Sial! Kukira Kama sudah tidak akan pernah lagi peduli dengan hidupku! Ternyata selama ini diam-diam dia telah mengatur segalanya!” katanya sambil memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam tas ransel hitam miliknya. Usai merapikan sebagian pakaiannya, Ellies kembali berhambur ke luar kamar. Rasanya begitu berat s

  • Kama Sutra   Bab 187

    Hans mengepalkan kedua tangannya saya melihat Kama memeluk wanita lain selain Sutra. Dadanya berderu membara. Namun, pria itu masih mencoba untuk bisa mengendalikan kemarahannya. Setidaknya, setelah pulang dari kediaman wanita itu, ia akan memberikan pelajaran untuk Kama. Wanita itu mengintip Hans dari balik punggung Kama. “Dia siapa, Kama?” “Oh, ya. Ini, Hans. Dia orang kepercayaanku selama ini. Hans, perkenalkan ini Ellies.” Hans mencoba tersenyum dan menyambut kabatangan dari gadis bernama Ellies. “Ayo, masuklah.” Hans memegang pergelangan tangan Kama dengan kuat, saat Ellis berjalan di hadapan mereka. “Kau pernah berjanji padaku, jika tidak akan pernah melukai hati Sutra! Kau lupa itu, Tuan?” bisik Hans dengan nada penuh penekanan. Kama menggeleng. “Ayo, silakan duduk.” Ellies kembali menoleh, tatapannya kemudian fokus pada jemari Hans yang begitu rapat di pergelangan tangan Kama. “Oh, kalian?” Ellies menggantung kalimatnya, menatap dalam ke arah Kama, seolah

  • Kama Sutra   Bab 186

    Setelah masuk dalam kamar utama, Kama meninggalkan Sutra. Dengan gerak cepat pria itu kembali masuk ke dalam kamar rahasianya lalu berjalan menju meja. Pria itu tidak lantas mengambil benda yang sempat dilihat oleh Sutra. Akan tetapi Kama seperti seolah sedang memikirkan sesuatu. Sesekali tampak berjalan mondar mandir.Hampir sepuluh menit berselang, akhirnya Kama mulai berjongkok dan mengambil benda tersebut. Lalu, memindahkannya ke tempat yang dirasa lebih ama. Sungguh, sebetulnya pria itu tak ingin menyembunyikan apa pun dari Sutra. Namun, ini bukan waktu yang tepat. Dia takut jika harus kehilangan sosok Sutra dalam hidupnya. Demi apa pun, Kama bekum siap untuk itu semua. Seperti yang telah dikatakan pada Sutra semalam, jika pagi ini dia akan pergi ke Kota W untuk menjalin kerja sama kembali dengan Nicko. Bukan tanpa alasan, pria yang pernah menaruh hati pada Sutra tersebut sempat memohon kepada Kama agar bisa kembali menyuntikkan dana di perusahaannya. Lama tak berkabar, rupany

  • Kama Sutra   Bab 185

    Perlahan tapi pasti, Kama memainkan batu es dalam mulutnya mengitari setiap inci demi inci tubuh Sutra yang telah tersuguh tanpa helai benang. Kedua netranya menatap setiap permainan Kama, membuatnya lebih bergairah. “Aaah!” Ia kembali meloloskan desahannya. “Kau mau apa lagi?” tanya Sutra di tengah desahannya yang begitu terdengar seksi. Kama membuang asal batu es yang sudah menipis karena sudah mencair tersebut. Sejurus kemudian, pria itu mengambil sebuah tali yang terbuat dari kulit dan sebuah penutup mata. “Aku ingin menutup matamu dan mengikat kedua tangan serta kakimu ke ujung kasur,” jawab Kama sambil tersenyum smirk. Sutra pasrah. Bibirnya bergetar, hasratnya begitu dalam, ia tak dapat lagi membendungnya. Tak berselang lama, Kama telah selesai menutup kedua matanya serta menginat kedua tangan serta kakinya ke ujung kasur. Pemandangan yang tersuguh begitu menggairahkan. Kama meminkan tonjolan kecil yang sedikit menyembul di tengah belahan kerang simping Sut

  • Kama Sutra   Bab 184

    “Kau bilang hanya sebentar. Aku takut sendirian.” Sutra menatap Kama dan Mina secara bergantian. “Apa kalian sedang membahas sesuatu yang penting? Kenapa aku merasa begitu?” “Nyonya Deodola, aku dan Tuan hanya membahas persoalan pekerjaanku. Iya ‘kan, Tuan?” Kama mengangguk. “Besok aku harus ke Kota W. Nicko ingin kembali menjalin kerja sama denganku. Aku ingin selama kepergianku ke luar kota, Mina menjagamu dan juga anak-anak kita.” “Nicko?” Dahinya mengernyit. “Ya, mantan bosmu yang sempat menyukai dirimu.” “Kama, kau bisa tidak usah membahas dia di depan Mina?” Sutra menarik pergelangan tangan Kama, lalu sedikit menyeretnya ke dalam kamar. “Maaf, Mina, sebaiknya kau istirahat saja. Kama memang selalu begini, dia akan rusuh kalau sedang tidak ada kerjaan.” Mina tersenyum menanggapinya. “Apa yang kau bilang tadi?” tanya Kama saat keduanya sudah berada di dalam kamar. “Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Sutra yang memang tidak mengingatnya. “Kau bilang pada Mina

  • Kama Sutra   Bab 183

    “Selamat ulang tahun, Sayang.” Pria tampan dengan manik biru tersebut tampak mencium kening sang putri dengan begitu hangat. Sejurus kemudian, wanita anggun berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuah kado berbentuk kubus di atas kedua tangannya. “Ini hadiah untukmu, Nak. Mami dan Daddy sangat menyayangimu, Sayang. Bukalah.” Senyumnya mengambang, tapi terlihat begitu samar. Saat gadis itu hendak membuka kado, tiba-tiba terdengar sebuah tembakan yang memekakkan gendang telinganya. Membuatnya menyumpal cuping telinga, tapi segalanya terasa begitu sia-sia. Darah berceceran, lalu gelap, sunyi, dan …. “Aaaaah!” Matanya terbuka, deru napasnya begitu memburu hingga dadanya terlihat naik turun. “Ada apa? Kau mimpi buruk?” Kama mengguncang-guncangkan tubuh Sutra hingga wanita itu mengerjapkan kedua matanya. “Kama!” Dia lantas memeluk tubuh Kama yang duduk di sisi ranjang. “Hei, tenangkan dirimu. Kau sedang mimpi buruk?” Kama membetulkan posisi rambut Sutra yang terlihat acak-acak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status