LOGINEllies duduk di ruang tamu dengan wajah sedikit tertekuk. Sebetulnya gadis tomboy itu ingin sekali menentang perjodohan yang terlalu dipaksakan oleh sang sepupu dengan tangan kanannya. “Nona Ellies, kamarmu sudah disiapkan. Mari aku antar.” Seorang pelayan yang usainya terbilang tidak jauh berbeda dengannya menawarkan diri untuk mengantar ke dalam kamar, sebelum bertemu dengan Kama. Hampir semua pelayan yang bekerja di mansion keluarga Deodola tahu jika hari ini akan kedatangan tamu istimewa. “Tidak perlu, aku ingin menunggu Kama dulu.”“Kalau begitu biar barangmu kuantar ke kamar.” Pelayan itu kembali menawarkan jasanya. Ellies tersenyum ramah. “Terima kasih … Mona.” Ellies melirik nametag yang bertengger di dada pelayan tersebut. “Tidak perlu repot-repot. Biar nanti aku bawa sendiri ke kamar. Kau tinggal kasih tahu saja, kamarku nomor berapa dari sebelah itu?” Ellies menunjuk ke arah kamar paling kanan. Di Di lantai dua, memang dikhususkan untuk kamar, dan kebetulan di sana ada
Setelah obrolannya dengan Sutra, Kama bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ellies akan datang beberapa jam kemudian, pria itu tentu harus menyambut sepupunya tersebut dengan baik, agar Ellies betah saat tinggal di kediamannya. “Sutra, kita mansion,” ajak Kama setelah terlihat rapi dengan jas panjangnya. “Akak serta Nala dan Nathan.” Saat ini Sutra sedang berada di ruang baca sendirian. Wanita itu terlihat menautkan kedua alisnya saat Kama mengajaknya ke tempat tinggal utama Kama. “Untuk apa?” “Sepupu ku datang. Jadi kita harus menyambut kedatangannya. Kau juga harus berkenalan dengannya. Karena dia bagian dari keluargaku.” Sutra mengangguk patuh, lalu wanita itu menutup kembali buku bacaannya dan berjalan ke luar, meninggalkan Kama yang masih berdiri di dalam ruang baca. Langkahnya belum benar-benar ke luar, tangan Kama tiba-tiba meraih pinggilnya dan membawanya dalam pelukannya, detik kemudian pria itu membawa tubuh mungil Sutra untuk duduk di atas meja, lalu melumat
Entah mimpi apa semalam, Ellies harus menerima takdir yang seakan dikendalikan oleh Kama. Gadis itu begitu cantik, memiliki rambut bergelonbang hitam kebiru-biruan, dengan sorot mata yang begitu tajam, jernih dan sedikit menggoda. Bibirnya tipis, dengan tinggi badan sekitar 170 centimeter, membuat Ellies tampak semakin menarik. “Nona Ellies, Tuan Deodola mengutusku untuk segera membawamu ke Kota S.” Seorang bodyguard berperawakan kekar dengan memakai stelan serba hitam datang ke rumah Ellies setelah Kama dan Hans pergi sekitar lima belas menit lalu. Ellies menganjur napas tanpa kata. Gadis itu tampak memainkan permen karet dalam mulutnya sambil berjalan masuk dalam kamar. “Sial! Kukira Kama sudah tidak akan pernah lagi peduli dengan hidupku! Ternyata selama ini diam-diam dia telah mengatur segalanya!” katanya sambil memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam tas ransel hitam miliknya. Usai merapikan sebagian pakaiannya, Ellies kembali berhambur ke luar kamar. Rasanya begitu berat s
Hans mengepalkan kedua tangannya saya melihat Kama memeluk wanita lain selain Sutra. Dadanya berderu membara. Namun, pria itu masih mencoba untuk bisa mengendalikan kemarahannya. Setidaknya, setelah pulang dari kediaman wanita itu, ia akan memberikan pelajaran untuk Kama. Wanita itu mengintip Hans dari balik punggung Kama. “Dia siapa, Kama?” “Oh, ya. Ini, Hans. Dia orang kepercayaanku selama ini. Hans, perkenalkan ini Ellies.” Hans mencoba tersenyum dan menyambut kabatangan dari gadis bernama Ellies. “Ayo, masuklah.” Hans memegang pergelangan tangan Kama dengan kuat, saat Ellis berjalan di hadapan mereka. “Kau pernah berjanji padaku, jika tidak akan pernah melukai hati Sutra! Kau lupa itu, Tuan?” bisik Hans dengan nada penuh penekanan. Kama menggeleng. “Ayo, silakan duduk.” Ellies kembali menoleh, tatapannya kemudian fokus pada jemari Hans yang begitu rapat di pergelangan tangan Kama. “Oh, kalian?” Ellies menggantung kalimatnya, menatap dalam ke arah Kama, seolah
Setelah masuk dalam kamar utama, Kama meninggalkan Sutra. Dengan gerak cepat pria itu kembali masuk ke dalam kamar rahasianya lalu berjalan menju meja. Pria itu tidak lantas mengambil benda yang sempat dilihat oleh Sutra. Akan tetapi Kama seperti seolah sedang memikirkan sesuatu. Sesekali tampak berjalan mondar mandir.Hampir sepuluh menit berselang, akhirnya Kama mulai berjongkok dan mengambil benda tersebut. Lalu, memindahkannya ke tempat yang dirasa lebih ama. Sungguh, sebetulnya pria itu tak ingin menyembunyikan apa pun dari Sutra. Namun, ini bukan waktu yang tepat. Dia takut jika harus kehilangan sosok Sutra dalam hidupnya. Demi apa pun, Kama bekum siap untuk itu semua. Seperti yang telah dikatakan pada Sutra semalam, jika pagi ini dia akan pergi ke Kota W untuk menjalin kerja sama kembali dengan Nicko. Bukan tanpa alasan, pria yang pernah menaruh hati pada Sutra tersebut sempat memohon kepada Kama agar bisa kembali menyuntikkan dana di perusahaannya. Lama tak berkabar, rupany
Perlahan tapi pasti, Kama memainkan batu es dalam mulutnya mengitari setiap inci demi inci tubuh Sutra yang telah tersuguh tanpa helai benang. Kedua netranya menatap setiap permainan Kama, membuatnya lebih bergairah. “Aaah!” Ia kembali meloloskan desahannya. “Kau mau apa lagi?” tanya Sutra di tengah desahannya yang begitu terdengar seksi. Kama membuang asal batu es yang sudah menipis karena sudah mencair tersebut. Sejurus kemudian, pria itu mengambil sebuah tali yang terbuat dari kulit dan sebuah penutup mata. “Aku ingin menutup matamu dan mengikat kedua tangan serta kakimu ke ujung kasur,” jawab Kama sambil tersenyum smirk. Sutra pasrah. Bibirnya bergetar, hasratnya begitu dalam, ia tak dapat lagi membendungnya. Tak berselang lama, Kama telah selesai menutup kedua matanya serta menginat kedua tangan serta kakinya ke ujung kasur. Pemandangan yang tersuguh begitu menggairahkan. Kama meminkan tonjolan kecil yang sedikit menyembul di tengah belahan kerang simping Sut







