MasukDua minggu berselang, penyakit Sofia bukan semakin membaik, putri dari Hans dan Ellies tersebut semakin tidak ada harapan. Denyut jantungnya kian melemah, kelopak matanya setengah menutup dengan sekujur tubuhnya mendingin. Hanya tingga kakinya yang masih terasa hangat. Ellies sudah tidak sanggup lagi melihat pesakitan yang didera sang putri. Wanita itu lantas pergi berlari menuju sebuah katedral yang berada di kawasan rumah sakit. Menuju sebuah altar lalu menjatuhkan kedua lututnya serta merekatkan kedua tangannya sebagai lambang jika dirinya tengah berdoa. “Tuhan, aku datang untuk mengemis padamu. Tolong kau angkat penyakit anakku! Jangan kau beri dia cobaan di luar dari kesanggupannya. Aku tahu aku sudah salah langkah selama ini, tapi … ku mohon jangan kau jadikan anakku sebagai bagian dari penebusan dosa dosaku! Kumohon, Tuhan!” Air mata Ellies mengalir deras, membasahi kedua pipinya yang sudah merah membara akibat isak tangis yang terperangkap dalam dadanya. Setiap hembusan
Sambil memeluk Sutra, Kama berusaha tersenyum meskipun senyum itu palsu. Entah kenapa, dia seolah tak tega saat melihat kesedihan itu sedikit menyapu wajah sang istri. Kama tidak ingin Sutra menjadi kepikiran hanya karena akan memikirkan penyakitnya tersebut. Namun, pria itu tiba tiba bertekad untuk bisa kembali sembuh tanpa sepengetahuan Sutra. Kama akan mencari cara agar dirinya bisa teraelamatkan dari mau yang tengah mengintainya. “Lain kali kau jangan membuat hatiku takut, aku tidak suka. Kecuali kau memang menginginkan aku pergi dari hidupmu,.” Suaranya terisak di dalam pelukan Kama. Membuat pria itu semakin merasa bersalah. Kama semakin mengeratkan pelukannya. “Hei, jangan bicara seperti itu. Sungguh, aku hanya ingin bercanda tadi. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau candaanku itu membuat kau bersedih.” ***Di ruangan rawat inap anak bagian hematologi rumah Sakit, sorot mata seorang dokter terfokus pada layar monitor yang menampilkan data kesehatan Sofia, bayi berusia tujuh
Suara sirene semakin menggelegar, menyebar ke setiap sudut gedung tua yang terbengkalai. Cahaya lampu dari mbil polisi mulai menerangi bagian dalam gedung melalui celah-celah dinding yang retak dan jendela tua, menciptakan bayangan samar yang bergoyang-goyang seolah ada makhluk tersembunyi di dalamnya. “Jangan biarkan mereka menangkap kita! Segera selesaikan ini sekarang juga!” pekik Bruno, menyadari bahwa kesempatan mereka sudah hampir habis. Pria itu kemudian mengambil senternya yang jatuh di tanah dan menyalakannya kembali, sorot sinarnya langsung menemukan sosok Delon yang masih berusaha melepaskan diri dari anak buah Bruno yang sedang menahan kakinya. Dengan kekuatan yang luar biasa, Bruno menarik Delon dari genggaman anak buahnya. Tubuhnya yang lemah dan terluka tampak seperti mainan di tangan pria tinggi itu. “Mau lari ke mana kau! Nyawamu sudah di ujung tanduk, Keparat!!” ujar Bruno dengan tatapan yang tidak lagi menunjukkan rasa kasihan sedikitpun. Delon masih terus beru
“Ke mana kau, Naina!” Delon terlihat mondar mandir di dalam ruangan kerjanya. Sudah lebih dari sepuluh kali, hari ini dia mencoba menghubungi Naina, tapi tak ada jawaban. Bahkan, ponsel wanita itu mati. Sesekali Delon menganjur napas kasar dengan sambil mengacak acak rambutnya sendiri. Delon kembali menekan ponselnya untuk menghubungi Naina. Beruntungnya, panggilan kali ini ada jawaban. “Naina, kau ke mana saja? Kenapa tidak mengabariku! Kau seolah menghilang dua hari ini!” ucap Delon dengan suara meninggi. “Bagaimana kelanjutan rencana kita? Apa kau sudah berhasil menghancurkan semua perusahaan Grup Deodola?” sambung Delon. Tak ada jawaban dari seberang sana. Namun, Delon dapat mendengar ada suara desahan napas yang begitu berat. Akan tetapi pria itu tidak dapat menebak, itu desahan suara siapa. “Kau jangan main main denganku, Naina! Aku bisa membuatmu hancur!”Masih tak ada jawaban. “Naina, apa kau i—“Tiba tiba panggilang terputus sebelum Delon menuntaskan kata katanya. “Si
“Sebetulnya kau pernah ada hubungan seperti apa dengan Sutra, hingga Kama sebenci itu terhadap dirimu?” Ellies duduk di bangku pangjang di koridor rumah sakit. Tatapannya tertunduk, seakan mencari jawaban atas rasahasia yang tengah disembunyikan Hans kepadanya. “Tidak ada. Tapi aku memang sudah salah besar pada Tuan Muda, karena sempat menaruh dendam terhadap dirinya,” elak Hans. Ellies tersenyum datar. “Apa kau pikir aku mudah untuk kau bohongi, Hans? Bahkan aku begitu mengenal sepupuku meskipun kau pernah menjadi salah satu orang kepercayaannya.” Ellies menengadahkan kepalanya, menatap langit langit koridor rumah sakit yang tampak sedikit memudar. “Dia orang yang mudah memaafkan, tapi … untuk sesuatu hal yang begitu menyakiti hatinya, dia tidak akan pernah bisa memaafkannya.” Ellies kemudian menoleh ke arah Hans, di mana pria itu saat ini yang tertunduk dalam. Kata kata Ellies betul betul menusuk tepat di ulu hatinya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak, menganga di perm
“Apa yang pernah kau lakukan pada Sutra? Hingga Kama tidak bisa memaafkanmu?”Hans turun dari atas pahan Ellies, kemudian merebahkan tubuhnya di samping perempuan tersebut. Sedangkan dia merbahkan tubuhnya, benda yang tadinya mengeras dan berotot di bagian selangkangannya saat ini tampak layu. Hans menindih kedua lengannya dengan kepala, tatapannya menerawang ke atas langit langit kamar. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”Ellies ikut merebahkan tubuhnya di sampingnya. “Karena aku ingin tahu saja. Setidaknya agar aku lebih yakin jika kau memang betul betul mencintaiku dan ingin hidup denganku.”Hans tersenyum datar. “Aku tidak pernah melakukan apa pun terhadap Sutra. Kama tidak bisa memaafkanku karena dia memang betul betul menyimpan dendam padaku,” tepis Hans. Rasanya pun tidak mungkin jika dia harus mengatakan pada Ellies hal apa yang pernah dilakukannya terhadap Sutra. “Tapi kenapa hatiku mengatakan jika kau menyembunyikan sesuatu dariku?”Hans memiringkan tubuhnya. Lalu menatap







