ログインSetelah suaminya berangkat ke kantor, Bu Elok naik ke atas untuk melihat kondisi Salsa yang sejak kemarin meriang. Dan tak disangka, ia mendengar sesuatu yang membuat curiga. Semoga hanya masuk angin saja.Salsa keluar kamar mandi dan kaget melihat Bu Elok berdiri di sana. Namun sikap angkuh yang telah mendarah daging membuatnya memasang topeng sinis. Tanpa sepatah kata pun ia membuang muka, melangkah melewati ibu tirinya menuju kamar."Salsa, kamu sudah minum obat?" tanya Bu Elok berusaha tetap sabar dan lembut.Salsa berhenti tepat di depan pintu kamarnya. "Belum," desisnya lirih.Saat ia hendak memutar gagang pintu, dunia di mata Salsa mendadak berputar hebat dan pandangannya menjadi hitam. Ia merasa kakinya kehilangan tumpuan dan gadis itu luruh. Tubuhnya limbung ke arah belakang.Dengan refleks Bu Elok menghambur untuk menangkap tubuh ramping itu sebelum kepalanya menghantam lantai. Meski akibatnya mereka berdua jatuh terduduk."Salsa, Salsa, bangun!" teriak Bu Elok panik. Suaran
Gadis itu menghela napas panjang. Seharusnya Ettan sudah masuk kuliah hari ini, kan? Tapi kenapa tak ada satu saja balasan dari ratusan pesan yang ia kirimkan sejak kemarin.Sepanjang mengikuti kegiatan di kelas, Salsa tidak bisa tenang. Setiap kali ponselnya bergetar karena notifikasi, ia berharap itu dari Ettan. Namun nihil. Ketakutan mulai merayap, membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Perasaan bahwa Ettan sengaja menghindarinya berubah menjadi ketakutan yang membuat jantungnya berdentum hebat. Tubuhnya yang sejak pagi tadi meriang, semakin terasa panas dingin.🖤LS🖤Bu Elok yang sedang merangkai bunga di ruang tengah, menghentikan aktivitasnya saat Salsa pulang dari kampus dengan langkah gontai."Salsa, kamu sakit, Nak? Wajahmu pucat gitu," tegurnya lembut.Salsa tidak berhenti. Ia hanya mengibaskan tangan dengan gerakan acuh tak acuh. Tanpa sepatah kata pun ia menaiki tangga dengan langkah terburu-buru, lalu membanting pintu kamarnya di lantai atas. Suara dentuman
KAMU YANG KUCINTAI - 50 HamilArsel menatap istrinya dengan binar yang sulit dibaca. Perasaan berat meninggalkannya. Jika menuruti ego, ia ingin sekali membawa Kimmy kembali tinggal bersamanya di Surabaya. Tiap hari bisa bertemu dan bersama-sama. Namun untuk sementara jelas tidak mungkin."Sayang, ponsel lamamu tidak usah diaktifkan lagi. Biar saja tetap padam," pesan Arsel sembari memakai jaket."Ya." Kimmy mengangguk pelan. Ponsel itu adalah satu-satunya cara yang bisa menghubungkannya dengan sang mama, teman-temannya, dan Langit. Arsel menyadari kalau pada akhirnya Kimmy akan tahu tentang Langit. Tapi jangan sekarang. Ia masih berusaha memenangkan hati istrinya secara utuh.Mereka keluar kamar. Arsel pamit pada Mbak Asih. Kimmy mengantarkan sampai ke teras depan. Sebuah kecupan manis mendarat di kening sebelum Arsel melangkah ke arah mobilnya. Kimmy membalas senyum suaminya sebelum Arsel masuk mobil. Begitu deru mesin mobil menghilang di kejauhan, sunyi kembali menyergap. Kimmy
"Tante berharap, kamu bisa menemukan Kimmy, Lang," ujar Bu Elok dengan suara bergetar."Saya akan mencarinya, Tan. Apapun keadaannya, saya akan menerimanya tanpa syarat," ucap Langit begitu meyakinkan.Mendengar itu setitik cahaya menyeruak di hati Bu Elok. Ia teringat cerita-cerita Kimmy tentang Langit, mungkin putrinya juga memiliki perasaan yang sama terhadap pria itu.Pertemuan singkat itu berakhir dengan kesepakatan yang sama, temukan Kimmy terlebih dahulu.Mereka berpisah. Langit memacu mobilnya kembali ke apartemen. Ia teringat peringatan dari sang papa kalau harus tetap berhati-hati. Pak Ndaru mulai menyadari bahwa ada duri di dalam keluarganya sendiri. Kelakuan sang istri mulai tercium busuknya.🖤LS🖤Di villa Batu ...."Bang, kenapa dulu kamu sering sekali mondar-mandir di depan kamarku kalau malam?" tanya Kimmy saat mereka berbaring di kamar. Beberapa bulan lalu menjadi kamar pengantin mereka yang tak tersentuh.Dahi Arsel mengernyit mendengar ucapan istrinya. "Maksudnya?"
Ia tidak tahu bahwa di balik dinding hotel yang megah itu, Arsel telah melindungi dirinya dan Kimmy melalui layanan Incognito Guest. Sebuah protokol privasi yang sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin menghilang dari pencarian."Sudah cukup aku seperti ini untuk kamu," keluh Zareen pelan dengan hati yang perih. Ia ingin menyerah, menerima kenyataan bahwa telah kalah. Namun bagian yang paling keras kepala di dalam dadanya terus memberontak dan masih tidak terima. Rasa cinta dan merasa mereka baik-baik saja yang menutupi kewarasannya.Mereka tidak sedang bertengkar. Tapi Arsel pergi meninggalkan lubang besar yang menganga di tengah-tengah rencana masa depan mereka.Zareen memejamkan mata, membiarkan isak kecilnya pecah di tengah kemewahan kamarnya yang terasa hambar. Logikanya berteriak untuk berhenti dan pergi mencari kebahagiaan baru. Namun sisi hatinya yang lain tetap tertambat. Perasaan yang menolak mati meski pemiliknya telah pergi.🖤LS🖤Kimmy baru saja keluar dari kamar
KAMU YANG KUCINTAI- 49 Berat Berpisah Malam itu di dalam unit sebuah apartemen, Langit terduduk. Cahaya dari layar laptop menyinari wajahnya yang serius.Jemarinya bergerak di atas keyboard. Klik. Masuk. Gagal. Klik lagi. Untuk yang keseribu kali ia mencoba menembus nomor ponsel Kimmy. Namun selalu gagal."Di mana kamu, Kim?" bisiknya resah. Ia diam sejenak memandang kerlip lampu kota dari jendela kaca di atas ketinggian.Langit menghela napas pelan, lalu jemarinya beralih sasaran. Sebuah nama muncul di pencarian. Arsel R. Permana.Ia membuka profil profesional pria itu untuk kesekian kalinya. Foto Arsel yang tampak berwibawa, rapi, dan penuh kendali terlihat dari tatapan matanya. Di sana tertera sebuah nomor ponsel. Langit tahu, melacak lokasi seseorang tanpa izin adalah sebuah pelanggaran privasi. Namun ia terpaksa melakukannya.Tangannya begitu terampil. Kursor bergerak, memasukkan baris-baris perintah pemrograman untuk melacak koordinat sinyal. Ia menahan napas saat bilah pemuat
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
"Aku tidak bisa, Pa. Hubungan kami sudah selesai."Pak Fardhan mengatupkan giginya rapat-rapat, menahan geram yang meledak di dada. Baru kali ini Arsel benar-benar melawannya. "Kenapa kamu begitu keras kepala? Atau kamu yang sebenarnya membawa Kimmy kabur dari rumah?"Senyum terbit di bibir Arsel.
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI - 27 Siapa Langit?"Papa akan mencari tahu keberadaan cowok itu. Mungkin bisa menjadikan petunjuk untuk menemukan Kimmy. Bisa jadi Kimmy memang sekarang bersamanya. Karena menurut Mama, mereka sangat dekat sejak masih kanak-kanak," kata Pak Fardhan."Apa sebenarnya yang ingin Pa







