Mag-log inRavi merengek minta susu. Anak itu sudah mulai mengantuk. Kimmy segera membawanya masuk ke kamar.Sementara di Surabaya. Salsa terlihat cemas memangku bayinya yang menangis. Mereka masih di perjalanan menuju rumah sakit. Mbak Sum yang berada di sebelahnya juga ikut khawatir. Ketika Salsa sampai di IGD, Yusri menyusul di belakangnya. Salsa kaget. "Mas, di sini juga?" tanyanya. "Iya. Tadi dikabari sama Pak Arsel."Salsa segera masuk ke ruangan. Memberikan bayinya untuk diperiksa. Dia menunggunya dengan cemas. Yusri mendampingi di sebelahnya dan Mbak Sum menunggu di luar. Hanya dua orang yang boleh masuk.Dan Salsa menghela napas lega. Ia tidak sendiri karena ada Yusri. Setelah pemeriksaan intensif, dokter memutuskan agar Silsi menjalani rawat inap. "Panasnya cukup tinggi untuk bayi seumuran ini. Kita pantau dulu 24 jam ke depan. Untungnya dia masih mau menyusu, jadi tidak perlu infus untuk sementara. Tapi memang perlu pengawasan, Pak," jelas dokter pada Yusri. Dikiranya pria itu ayah
"Sejak malam itu, aku perhatikan asistennya Arsel sering memperhatikan Salsa. Dia juga ngasih kado buat Silsi. Bagus-bagus dia milih baju dan playmat, Pa."Pak Fardhan menghela napas panjang. " Papa pikir ada apa. Asistennya Arsel itu Yusri. Tapi dia itu masih bujangan, Ma. Mungkin memperhatikan Salsa karena iba saja. Dia tuh masih jomblo, ganteng, dan dari keluarga berada juga sebenarnya. Papanya dosen dan mamanya seorang ahli gizi. Setelah banyak peristiwa terjadi, Papa belum berani berharap, Ma. Apa mungkin pria nggak neko-neko seperti Yusri, tertarik dengan perempuan yang memiliki masa lalu kelam seperti Salsa.""Pa, nggak semua pria baik memiliki standar yang sempurna. Contohnya saja Langit. Bahkan dia mau menerima Kimmy apapun adanya andai Arsel nggak tanggung jawab.""Permasalahannya beda, Ma. Kimmy kan dipaksa, kalau Salsa sukarela." Pak Fardhan begitu pesimis. Walaupun ia bisa menggunakan kekayaan dan kekuasaannya untuk mencari lelaki yang bisa menutupi aibnya Salsa dengan im
KAMU YANG KUCINTAI- 83 Tidak Percaya Diri Langit berdiri di sana, memakai kemeja formal warna biru yang rapi. Kemudian melangkah menghampiri Kimmy dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman."Mas," panggil Kimmy pelan. Ia menetralkan debaran di dadanya yang kini tak lagi sekuat dulu. Debaran dengan getaran halus yang dengan cepat mampu ia kendalikan."Kamu sama siapa?" tanya pria itu."Aku sendirian. Barusan dari toko buku."Langit menatap buku dan map yang didekap Kimmy di depan dada. "Kamu dari mana. Banyak sekali membawa buku?" Kimmy mengulas senyum. "Seminggu ini aku sudah mulai aktif kuliah lagi. Mau mengejar skripsi yang sempat tertunda kemarin. Kebetulan tadi habis bimbingan. Sebelum pulang mampir dulu ke toko buku."Mata Langit berbinar, ada ketulusan yang terpancar dari sana. "Syukurlah. Aku ikut senang. Akhirnya kamu kembali ke kampus. Semangat ya, Kim. Aku doakan semuanya lancar, revisinya nggak banyak, dan bisa wisuda tahun ini juga. Kamu pasti bisa.""Aamiin. Terima ka
Ia meraih kado dengan bungkus bermotif bintang-bintang dan mengoyaknya perlahan. Menyingkap sebuah kotak besar yang isinya tertata sangat rapi. Di bagian paling atas ada sebuah kartu ucapan. Salsa mengambilnya. Di sana tertulis untaian kalimat pendek."Selamat Mbak Salsa, atas kelahiran baby girl yang cantik. Semoga dia akan menjadi anak yang sholehah. __ Yusri."Salsa tertegun. Entah kenapa ia merasa terharu dengan doa yang ditulis pria itu. Padahal hampir semua kartu ucapan dari saudara-saudaranya juga mendoakan hal yang sama. Walaupun bayi itu lahir karena sebuah kesalahan, dia berhak mendapatkan doa yang terbaik.Ia kemudian mengeluarkan isi kotak satu per satu. Ada beberapa setel baju bayi dari bahan katun premium, sepasang sepatu mungil yang tampak begitu menggemaskan, dan sebuah topi cantik berwarna putih bersih.Di bagian bawah terdapat Playmat atau Gym Bayi Edukatif. Alas bermain itu memiliki perpaduan warna pastel yang lembut tampak sangat berkelas. Ada berbagai fitur stimul
"Alhamdulillah, baby girl," ujar dokter."Anakmu cantik, Sa," bisik Pak Fardhan dengan mata berkaca-kaca.Salsa terkulai lemas, tapi senyum tipis terukir di bibirnya saat bayi itu diletakkan di atas dadanya untuk inisiasi menyusu dini. Di samping brankar, Bu Elok menyeka air matanya, merasakan kelegaan yang luar biasa. Tubuhnya juga ikut basah oleh keringat.Setelah bayi dibersihkan, lalu diberikan pada Pak Fardhan untuk di azani.Di luar ruang bersalin, Arsel dan Kimmy juga bernapas lega. Ravi punya adik cewek.🖤LS🖤Setelah Salsa dan bayinya diajak pulang ke rumah, para sepupu dan kerabat datang untuk menyambangi. Melihat bayi perempuan yang imut dan cantik. Saat lahir, beratnya 3 kg dengan panjang 50 cm.Namanya Silsi Nur Salsabila Permana. Yang bisa bermakna cahaya mata air surga atau wanita yang teguh dan bijaksana. Pak Fardhan yang memberi nama pada cucunya. Salsa hanya ingin nama bayi perempuannya, tersemat namanya juga. Salsabila.Mengikuti jejak abangnya, menggunakan nama te
KAMU YANG KUCINTAI- 82 Baby Girl Meski malam itu suasana begitu meriah untuk menyambut pergantian tahun, tapi Yusri bisa merasakan kegelisahan Salsa. Bibirnya terkadang memang tersenyum, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Ada kepedihan dan kegelisahan dalam jiwanya. Padahal Salsa juga memiliki sorot mata tajam seperti abang dan papanya. Namun kalian ini terlihat redup."Yusri, ayo dimakan snack-nya. Jangan dilihatin saja," tegur Arsel."Iya, Pak Arsel," jawab Yusri lantas mencomot satu kue pukis. Salsa hendak bangkit untuk meraih piring puding, tapi kelihatannya dia kesulitan untuk bergerak. Yusri yang melihatnya, membantu mengambilkan piring oval itu dan memberikannya pada Salsa. "Ini, Mbak.""Oh, makasih, Mas."Kebersamaan malam itu berlangsung hingga jam sepuluh malam. Yusri dan asistennya Pak Fardhan pamitan. Sopir pribadi yang rumahnya dekat juga pamit pulang. Arsel mengajak istri dan anaknya naik ke kamarnya di lantai dua. Sedangkan Salsa sudah pindah kamar di lantai b
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak







