LOGIN"Malam ini kita lari sejenak dan menghabiskan waktu berdua. Semoga bulan depan kita bisa ke Pujon bertemu dokter Rin. Tepat di ulang tahunnya Ravi yang pertama.""Ya." Kimmy mengangguk pelan. Arsel membalikkan tubuh istrinya. "Malam ini, lupakan laptop itu. Lupakan revisi. Malam ini hanya ada aku dan kamu." Arsel menangkupkan tangan di wajah Kimmy, lalu mendaratkan ciuman yang lembut penuh kemesraan.Ciuman itu perlahan berubah intensitasnya. Kian membara. Arsel membimbing Kimmy menuju tempat tidur yang luas dengan sprei sutra yang dingin.Sentuhan Arsel yang lihai disambut Kimmy dengan seimbang. Hingga benar-benar tak ada jarak sehelai benang pun di antara mereka.Rasanya ingin menebus waktu beberapa bulan belakangan ini karena kesibukan masing-masing. Kalau boleh egois, Arsel menginginkan Kimmy hanya di rumah saja. Menunggunya pulang kerja sambil mengawasi anak. Tapi ia juga tidak ingin menghalangi keinginan Kimmy jika sang istri ingin merasakan bagaimana dunia kerja. Malam itu be
Salsa tersenyum. Ada getaran halus dalam dadanya. Namun buru-buru ia menyadarkan diri. Tidak boleh berlebihan menanggapi perhatian itu. Siapalah dirinya dibanding Yusri. Kisahnya kelam, sedangkan dia pria baik-baik.Segera Salsa mengetikkan balasan.[Waalaikumsalam, Mas Yusri. Alhamdulillah, Silsi sudah tidak panas lagi dan kami sudah di rumah sejak jam lima tadi. Terima kasih sekali lagi ya, Mas. Semalaman sudah menemani kami di rumah sakit.][Alhamdulillah kalau Silsi sudah sehat dan boleh pulang. Kalau belum pulang, rencananya saya mau ke rumah sakit lagi.]Salsa terdiam sejenak. Debaran di dadanya semakin hebat. Sampai jemarinya gemetar. Kemudian segera mengetik balasan. [Kami sudah di rumah kok, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak, ya.][Sama-sama, Mbak Salsa.]Setelah membalas pesan, Salsa termangu beberapa lama. Teringat sosok pria yang baru saja mengirimkan pesan. Ingat bagaimana dengan luwesnya pria itu menggendong Silsi dan menemaninya semalaman. Namun Salsa tak berani mem
KAMU YANG KUCINTAI - 84 Pertemuan Tak SengajaWanita paruh baya berseragam perawat itu berhenti dan tampak kaget. Ia mematung. Nampan di tangannya sedikit bergetar. Matanya terpaku pada Salsa yang tengah menimang bayi mungil dalam balutan selimut merah muda. Di sampingnya, ada pria berdiri tegak, membantu membenahi letak bantal dengan perhatian yang tulus. Salsa juga terkejut sejenak. Ia mengenali wajah itu. Mamanya Ettan, pria yang telah menggoreskan luka terdalam dalam hidupnya. Salsa menarik napas panjang lantas membuang pandang. Seorang tak mengenalinya. Sedangkan Yusri tak menyadari apa yang terjadi."Jadi Salsa sudah melahirkan. Bayi itu anaknya Ettan. Cucuku," batin perawat itu. "Lantas siapa pria itu? Apa lelaki yang menikahinya?" Wanita itu akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa. Masuk ke sebuah kamar perawatan. Setelah tugasnya selesai, ia segera ke ruang informasi untuk mencari tahu tentang pasien yang ada di paviliun. "Silsi Nur Salsabila Permana. Umur
Ravi merengek minta susu. Anak itu sudah mulai mengantuk. Kimmy segera membawanya masuk ke kamar.Sementara di Surabaya. Salsa terlihat cemas memangku bayinya yang menangis. Mereka masih di perjalanan menuju rumah sakit. Mbak Sum yang berada di sebelahnya juga ikut khawatir. Ketika Salsa sampai di IGD, Yusri menyusul di belakangnya. Salsa kaget. "Mas, di sini juga?" tanyanya. "Iya. Tadi dikabari sama Pak Arsel."Salsa segera masuk ke ruangan. Memberikan bayinya untuk diperiksa. Dia menunggunya dengan cemas. Yusri mendampingi di sebelahnya dan Mbak Sum menunggu di luar. Hanya dua orang yang boleh masuk.Dan Salsa menghela napas lega. Ia tidak sendiri karena ada Yusri. Setelah pemeriksaan intensif, dokter memutuskan agar Silsi menjalani rawat inap. "Panasnya cukup tinggi untuk bayi seumuran ini. Kita pantau dulu 24 jam ke depan. Untungnya dia masih mau menyusu, jadi tidak perlu infus untuk sementara. Tapi memang perlu pengawasan, Pak," jelas dokter pada Yusri. Dikiranya pria itu ayah
"Sejak malam itu, aku perhatikan asistennya Arsel sering memperhatikan Salsa. Dia juga ngasih kado buat Silsi. Bagus-bagus dia milih baju dan playmat, Pa."Pak Fardhan menghela napas panjang. " Papa pikir ada apa. Asistennya Arsel itu Yusri. Tapi dia itu masih bujangan, Ma. Mungkin memperhatikan Salsa karena iba saja. Dia tuh masih jomblo, ganteng, dan dari keluarga berada juga sebenarnya. Papanya dosen dan mamanya seorang ahli gizi. Setelah banyak peristiwa terjadi, Papa belum berani berharap, Ma. Apa mungkin pria nggak neko-neko seperti Yusri, tertarik dengan perempuan yang memiliki masa lalu kelam seperti Salsa.""Pa, nggak semua pria baik memiliki standar yang sempurna. Contohnya saja Langit. Bahkan dia mau menerima Kimmy apapun adanya andai Arsel nggak tanggung jawab.""Permasalahannya beda, Ma. Kimmy kan dipaksa, kalau Salsa sukarela." Pak Fardhan begitu pesimis. Walaupun ia bisa menggunakan kekayaan dan kekuasaannya untuk mencari lelaki yang bisa menutupi aibnya Salsa dengan im
KAMU YANG KUCINTAI- 83 Tidak Percaya Diri Langit berdiri di sana, memakai kemeja formal warna biru yang rapi. Kemudian melangkah menghampiri Kimmy dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman."Mas," panggil Kimmy pelan. Ia menetralkan debaran di dadanya yang kini tak lagi sekuat dulu. Debaran dengan getaran halus yang dengan cepat mampu ia kendalikan."Kamu sama siapa?" tanya pria itu."Aku sendirian. Barusan dari toko buku."Langit menatap buku dan map yang didekap Kimmy di depan dada. "Kamu dari mana. Banyak sekali membawa buku?" Kimmy mengulas senyum. "Seminggu ini aku sudah mulai aktif kuliah lagi. Mau mengejar skripsi yang sempat tertunda kemarin. Kebetulan tadi habis bimbingan. Sebelum pulang mampir dulu ke toko buku."Mata Langit berbinar, ada ketulusan yang terpancar dari sana. "Syukurlah. Aku ikut senang. Akhirnya kamu kembali ke kampus. Semangat ya, Kim. Aku doakan semuanya lancar, revisinya nggak banyak, dan bisa wisuda tahun ini juga. Kamu pasti bisa.""Aamiin. Terima ka
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak







