LOGIN"Nanti kalau mama belum menjemput, tungguin di warungnya Bu Risa atau ikut Tante Arin ya." Fiona mengangguk setelah mencium tangan Kamila, lalu berlari menuju ke kerumunan teman-teman barunya di sekolah SD. Begitu Fiona sudah aman, Kamila bergegas menyalakan sepeda motornya dan meninggalkan sekolah, menuju ke pasar tradisional yang tidak terlalu jauh.Tiga bulan setelah kematian Putra, Kamila memutuskan untuk berhenti membuka orderan kue dan dessert. Dia merasa tidak siap dan ingin menata diri dulu. Apalagi setelah melihat-lihat isi ponsel Putra yang baru diberikan oleh Harsa di hari ketujuh kepergian Putra.Kamila merasa tidak berminat untuk melakukan apapun. Bahkan, dia kehilangan minat untuk menekuni hobinya membuat kue dan dessert dan menjadikannya sebagai ladang penghasilan.Penyebabnya adalah arsip percakapan Putra dan Delina selama bertahun-tahun. Meskipun Kamila sudah meyakinkan diri bahwa dia tidak lagi peduli, tapi tetap saja membaca percakapan mesra mereka membuat hati Ka
Hal yang paling dibenci oleh Harsa adalah menjadi pusat perhatian. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu, membuat Harsa diam tak berkutik. Bagaimana mereka bisa tahu tentang perasaannya terhadap Kamila? Apakah sejelas itu? "Maksudnya gimana?" Mereka semua saling pandang. Bahkan para sepupu pun menghentikan aktivitasnya bermain ponsel dan fokus melihat Harsa. "Ck, gitu aja nggak tahu. Harsa itu suka pada Kamila. Putra sih, bodoh. Masa istri secantik itu malah dianggurin. Malah sibuk selingkuh sana sini. Padahal perempuan kan sama saja. Mau modelnya bagaimanapun juga, tetap sama saja rasanya." Bolehkah Harsa menghilang sekarang? Hari ini adalah hari kematian Putra. Kenapa mereka malah sibuk membahas tentang Harsa? Seharusnya, mereka sibuk berduka atas kepergian salah satu keponakan mereka. "Oalah, pantesan kamu menolak Tasya. Mbak Khoir sampai malu-maluin terus menyodorkan Tasya setiap kali ada kesempatan, tapi selalu kamu tolak. Lah bandingannya bidadari begitu. Tasya mah buluk,
"Oh, ini istrinya Putra yang nggak tahu diri itu? Suami sakit bukannya merawat, malah enak-enakan di rumah mentang-mentang rumahnya bagus." Baru juga masuk ke dalam rumah, Kamila sudah dicecar oleh ucapan pedas dari Bulek Khoir, adik dari ayah mertuanya. Dia hanya diam dan menunggu, tidak langsung membalas. Banyak keluarga yang baru bisa datang karena rumah mereka jauh. Dan mereka hanya diam, karena Bulek Khoir mendominasi. "Sudah kubilang dari dulu, seharusnya Putra menikahi Delina saja. Eh, si Aminah malah menolak mentah-mentah. Padahal kalau seandainya Delina yang menjadi menantunya, Putra pasti masih hidup." "Oh, jadi Bulek mendukung Delina meniduri dua pria sekaligus? Ayah dan anak." Balasan Kamila membuat semua orang di ruang tamu syok dengan mulut menganga. "Jaga ucapanmu! Aminah! Ini menantu yang kamu bangga-banggakan itu? Tidak punya sopan-santun!" teriak Bulek Khoir. "Yang tidak punya sopan santun di sini siapa? Anda datang ke sini untuk melayat, atau untuk mencaci sem
"Kenapa kamu tidur dengan ayahku? Kamu menukar tubuhmu demi apartemen ini, hah!" Delina kaget luar biasa begitu membuka pintu apartemen mewah hadiah dari Pak Mustofa, tubuhnya langsung didorong ke belakang. Aroma parfum yang begitu dia hafal langsung memenuhi rongga hidungnya. Rasa rindu itu begitu menggebu-gebu. Dia meraih wajah pria yang selama ini merajai hatinya, lalu melumat bibir itu dengan penuh nafsu. Putra yang awalnya marah luar biasa, langsung lupa karena sentuhan Delina. Mereka melakukan perbuatan laknat itu di sofa ruang tamu tanpa peduli dengan status mereka berdua saat ini. Delina tersenyum. Dirinya merasa menang karena tetap bisa meraih Putra, meskipun pria itu sudah menikah. Walaupun dia cemburu luar biasa karena istri Putra begitu cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari Delina. "Kamu sendiri menikahi perempuan lain. Aku hanya ingin memberimu pelajaran," rajuk Delina manja begitu mereka selesai. Putra mendekatkan dahinya ke dahi Delina. "Ibuku sangat menyukai Kami
Setiap manusia pasti melakukan dosa. Entah itu dosa yang disengaja, ataupun dosa yang tidak disengaja. Dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan. Yang membedakan masing-masing individu adalah, bagaimana mereka bersikap setelah sadar telah berbuat dosa. Bertaubat dan memperbaiki diri, atau justru semakin terjerumus ke dalam kubangan dosa sampai ajal menjemput.Kamila bukan orang yang suci. Dia memang sangat mencintai Putra, tapi dia juga merasa nyaman dengan laki-laki lain. Bedanya, dia bisa mengontrol dirinya dan tidak melewati batas seperti Putra, karena menganggap bahwa perasaan terlarang itu adalah ujian dalam rumah tangganya. "Kenapa kalian bisa sekeji itu?" Entah sudah berapa menit Kamila dan Delina hanya berdiam diri di salah satu gazebo kafe yang ada di dekat pabrik sepatu. Posisi mereka begitu strategis, sehingga tidak akan ada orang yang mendengar obrolan mereka. Setelah keluar dari makam, Harsa menggendong Fiona dan mengajak mereka ke kafe,
Proses pemakaman Putra berjalan dengan lancar. Kamila berdiri sambil merangkul Fiona yang berdiri di sebelahnya. Tidak seperti kematian kakeknya dulu, entah kenapa Fiona hanya diam. Padahal, Kamila sudah ketar-ketir anak itu akan bicara yang tidak-tidak. Apalagi setelah mengatakan tentang kakaknya yang terlahir dari rahim Delina. Para pelayat mulai berduyun-duyun meninggalkan pemakaman setelah Pak Modin selesai berdoa. Hanya tersisa keluarga inti. "Mil, kamu mau tinggal di mana setelah ini? Pulang saja biar kamu nggak kesepian," ucap Bu Karlina. Kamila menggeleng. "Saya di rumah Mas Putra saja, Bu. Nggak apa-apa, saya udah terbiasa berdua dengan Fiona." "Tapi sudah nggak ada lagi yang menafkahi kamu. Bagaimana makanmu dan Fiona nanti? Bagaimana dengan biaya sekolahnya? Kamu mau kerja setelah ini?" cecar Bu Karlina. Kamila menggertakkan rahangnya. Di saat seperti ini, ibunya malah membahas tentang hal-hal yang tidak seharusnya dibahas. Dia baru saja kehilangan suaminya. "Itu biar







