Accueil / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 64. Sudut Pandang Harsa

Share

64. Sudut Pandang Harsa

Auteur: Alya Feliz
last update Date de publication: 2026-05-02 07:42:36

"Maksudnya apa sih, bro? Ponakanmu indigo ya?" tuntut Ilham.

Harsa tidak menjawab. Dia sibuk memikirkan perkataan Fiona. Dulu, ketika ayah tirinya meninggal, Fiona bilang di depan semua pelayat bahwa pria itu kebingungan di sebelah jenazahnya sendiri yang sedang dimandikan.

Semua orang langsung berbisik-bisik ketakutan, tapi banyak yang menganggap omongan Fiona hanyalah celetukan biasa khas anak kecil.

"Fiona tidur aja di pangkuan om nggak apa-apa. Nanti om bangunkan kalau papa udah keluar,"
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    69. Kemarahan Kamila

    "Oh, ini istrinya Putra yang nggak tahu diri itu? Suami sakit bukannya merawat, malah enak-enakan di rumah mentang-mentang rumahnya bagus." Baru juga masuk ke dalam rumah, Kamila sudah dicecar oleh ucapan pedas dari Bulek Khoir, adik dari ayah mertuanya. Dia hanya diam dan menunggu, tidak langsung membalas. Banyak keluarga yang baru bisa datang karena rumah mereka jauh. Dan mereka hanya diam, karena Bulek Khoir mendominasi. "Sudah kubilang dari dulu, seharusnya Putra menikahi Delina saja. Eh, si Aminah malah menolak mentah-mentah. Padahal kalau seandainya Delina yang menjadi menantunya, Putra pasti masih hidup." "Oh, jadi Bulek mendukung Delina meniduri dua pria sekaligus? Ayah dan anak." Balasan Kamila membuat semua orang di ruang tamu syok dengan mulut menganga. "Jaga ucapanmu! Aminah! Ini menantu yang kamu bangga-banggakan itu? Tidak punya sopan-santun!" teriak Bulek Khoir. "Yang tidak punya sopan santun di sini siapa? Anda datang ke sini untuk melayat, atau untuk mencaci sem

  • Karma Suami Mendua    68. Penyesalan Delina

    "Kenapa kamu tidur dengan ayahku? Kamu menukar tubuhmu demi apartemen ini, hah!" Delina kaget luar biasa begitu membuka pintu apartemen mewah hadiah dari Pak Mustofa, tubuhnya langsung didorong ke belakang. Aroma parfum yang begitu dia hafal langsung memenuhi rongga hidungnya. Rasa rindu itu begitu menggebu-gebu. Dia meraih wajah pria yang selama ini merajai hatinya, lalu melumat bibir itu dengan penuh nafsu. Putra yang awalnya marah luar biasa, langsung lupa karena sentuhan Delina. Mereka melakukan perbuatan laknat itu di sofa ruang tamu tanpa peduli dengan status mereka berdua saat ini. Delina tersenyum. Dirinya merasa menang karena tetap bisa meraih Putra, meskipun pria itu sudah menikah. Walaupun dia cemburu luar biasa karena istri Putra begitu cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari Delina. "Kamu sendiri menikahi perempuan lain. Aku hanya ingin memberimu pelajaran," rajuk Delina manja begitu mereka selesai. Putra mendekatkan dahinya ke dahi Delina. "Ibuku sangat menyukai Kami

  • Karma Suami Mendua    67. Rahasia Gelap Putra

    Setiap manusia pasti melakukan dosa. Entah itu dosa yang disengaja, ataupun dosa yang tidak disengaja. Dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan. Yang membedakan masing-masing individu adalah, bagaimana mereka bersikap setelah sadar telah berbuat dosa. Bertaubat dan memperbaiki diri, atau justru semakin terjerumus ke dalam kubangan dosa sampai ajal menjemput.Kamila bukan orang yang suci. Dia memang sangat mencintai Putra, tapi dia juga merasa nyaman dengan laki-laki lain. Bedanya, dia bisa mengontrol dirinya dan tidak melewati batas seperti Putra, karena menganggap bahwa perasaan terlarang itu adalah ujian dalam rumah tangganya. "Kenapa kalian bisa sekeji itu?" Entah sudah berapa menit Kamila dan Delina hanya berdiam diri di salah satu gazebo kafe yang ada di dekat pabrik sepatu. Posisi mereka begitu strategis, sehingga tidak akan ada orang yang mendengar obrolan mereka. Setelah keluar dari makam, Harsa menggendong Fiona dan mengajak mereka ke kafe,

  • Karma Suami Mendua    66. Kedatangan Delina di Pemakaman

    Proses pemakaman Putra berjalan dengan lancar. Kamila berdiri sambil merangkul Fiona yang berdiri di sebelahnya. Tidak seperti kematian kakeknya dulu, entah kenapa Fiona hanya diam. Padahal, Kamila sudah ketar-ketir anak itu akan bicara yang tidak-tidak. Apalagi setelah mengatakan tentang kakaknya yang terlahir dari rahim Delina. Para pelayat mulai berduyun-duyun meninggalkan pemakaman setelah Pak Modin selesai berdoa. Hanya tersisa keluarga inti. "Mil, kamu mau tinggal di mana setelah ini? Pulang saja biar kamu nggak kesepian," ucap Bu Karlina. Kamila menggeleng. "Saya di rumah Mas Putra saja, Bu. Nggak apa-apa, saya udah terbiasa berdua dengan Fiona." "Tapi sudah nggak ada lagi yang menafkahi kamu. Bagaimana makanmu dan Fiona nanti? Bagaimana dengan biaya sekolahnya? Kamu mau kerja setelah ini?" cecar Bu Karlina. Kamila menggertakkan rahangnya. Di saat seperti ini, ibunya malah membahas tentang hal-hal yang tidak seharusnya dibahas. Dia baru saja kehilangan suaminya. "Itu biar

  • Karma Suami Mendua    65. Anak Rahasia

    Harsa refleks berdiri sambil menggendong Fiona, sampai dia sadar bahwa dia akan kerepotan jika masuk ke dalam kamar adiknya sembari membawa keponakannya. Dengan hati-hati, Harsa meletakkan Fiona di atas sofa dan berucap, "Ham, tolong jagain Fiona." Tanpa menunggu jawaban dari Ilham, Harsa langsung berlari menuju ke kamar Putra yang ada di depan ruang keluarga. Pintu kamar masih tertutup rapat, tapi tangisan ibunya yang menyayat hati sudah terdengar. Harsa membuka pintu dan melihat hal yang sudah dia prediksi sebelumnya. Putra terbujur kaku dengan mata menutup di atas ranjang, sementara Bu Aminah memeluk Putra sambil menangis tersedu-sedu. Pemandangan yang pernah dilihatnya setahun lalu. Bedanya, kali ini Bu Aminah lebih kacau. Harsa mengalihkan pandangannya pada Kamila yang hanya berdiri dengan wajah linglung. Tanpa berpikir panjang, dia memegang kedua lengan adik iparnya dan menuntun wanita itu keluar dari kamar. Sempat melirik Pak Muhajir yang memberi syarat ingin berbicara den

  • Karma Suami Mendua    64. Sudut Pandang Harsa

    "Maksudnya apa sih, bro? Ponakanmu indigo ya?" tuntut Ilham. Harsa tidak menjawab. Dia sibuk memikirkan perkataan Fiona. Dulu, ketika ayah tirinya meninggal, Fiona bilang di depan semua pelayat bahwa pria itu kebingungan di sebelah jenazahnya sendiri yang sedang dimandikan. Semua orang langsung berbisik-bisik ketakutan, tapi banyak yang menganggap omongan Fiona hanyalah celetukan biasa khas anak kecil. "Fiona tidur aja di pangkuan om nggak apa-apa. Nanti om bangunkan kalau papa udah keluar," bujuk Harsa. Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, angin tiba-tiba berhembus dengan kencang dan suhu udara langsung turun. Ilham refleks memakai jaket yang tadi diletakkan sembarangan di atas sofa, sementara Harsa menutupkan jaket Fiona ke tubuh anak itu. Dia sendiri menahan rasa dingin itu karena tidak memakai jaket. "Aneh, kok tiba-tiba jadi dingin banget begini ya?" gumam Ilham. Fiona yang tadi bersikeras untuk menunggu ayahnya, matanya kini sayu. Harsa terkekeh melihat betapa kerasny

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status