INICIAR SESIÓNTepat pukul empat sore Elmira sudah selesai dengan kelasnya. Tapi ia tidak menemukan adanya sang suami menjemputnya ketika keluar dari dalam ruangan. Di koridor kelas pun kosong. Elmira menunggu kedatangan Gavin tapi batang hidung laki-laki itu tak juga muncul. Gavin tidak ada di sekitar sana."Duh, laki gue beneran ngambek?" celetuk Elmira sambil menatap layar ponselnya menunggu pesan dari Gavin yang ternyata tidak ada satupun pesan ataupun telepon yang masuk. "Tapi, masa iya ngambek karena gue suruh keluar dari ruangan gue? Ya wajar kan? Masa iya dia kerjaannya ngekorik gue mulu. Kayak yang gak ada kerjaan lain aja."Elmira mulai pusing memikirkan suaminya. Apalagi kalau marah Gavin benar-benar menyeramkan, Elmira jadi takut membuat suaminya itu tersinggung. Gavin, laki-laki kaku, lucu, dan gila disaat yang bersamaan. Dibalik wajahnya yang kaku dan datar, tersimpan kegilaan dan keganasan yang tidak dapat diduga.Elmira bahkan sampai terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa ketika mel
Jarak antara Fakultas Ekonomis Bisnis dan Fakultas Hukum tidak menjadi hambatan bagi Freya demi bisa bertemu dengan suaminya. Wanita hamil itu dirundung rasa kesal karena diancam oleh Gavin tadi. Dan hal itu membuat Freya menjadi putar haluan berjalan, yang awalnya ingin masuk ke kelasnya ia jadi berbelok berjalan menuju fakultas sang suami. Ia mencari sang suami detik itu juga karena benar-benar tidak bisa fokus untuk belajar.Sungguh, emosi Freya sudah berada di ubun-ubun. Kehamilannya terganggu karena ditekan sana-sini. Mulai dari suami yang tak ada gunanya, kehidupan pernikahan yang jauh dari ekspektasinya, pun sekarang diusir pula dari rumah. Rasa benci Freya pada Elmira pun kian menjadi-jadi. Dan kali ini, Zayn harus berhasil membantunya melawan gadis itu. Suka tidak suka, mau tidak mau. Freya yakin akan membuat mereka menang dari Gavin dan Elmira kali ini karena memiliki aib tentang mereka berdua.Dan di sinilah Freya berada sekarang, tepatnya di depan gerbang fakultas Hukum.
"Kak ... Ini too much banget enggak, sih? Ya ampun, gue bisa ke kelas sendiri, Kak. Gak perlu dianter kayak anak kecil gini.""Apanya yang berlebihan? Saya cuman mau mastiin keamanan istri saya."Elmira menghela napas pasrah melihat Gavin yang tak mau pergi dari fakultasnya ini. Ia pikir Gavin akan pergi setelah mempermalukan Pameela dan setelah memperlihatkan pada semua orang tentang hubungan mereka, tapi ternyata Gavin tetap mengekorinya sampai ke kelas. Alhasil mereka berdua kembali menjadi pusat perhatian."Ya tapi gak pakai dianter sampai ke kelas juga kali, Kak. Berasa anak TK yang dianter sama bapaknya gue tuh!" "Saya gak perduli. Saya cuman mau tahu kelas kamu di mana.""For what!?""Karena saya gak mau kamu bakal kenapa-kenapa terus kabur kayak kemarin.""Ya ampun Kak, gak bakalan ada yang berani apa-apain gue setelah tahu kita ada hubungan, gue juga gak bakalan kabur lagi! Lo gak percaya sama gue!?""Enggak."Dan kini, seenaknya saja Gavin merangkul bahu Elmira sambil menga
Pameela menggeleng lagi hingga membuat Gavin kembali menatapnya tajam. "Kalau Elmira gak mau maafin kamu, hari ini saya gak bisa jamin kamu untuk selamat dari saya.""Gavin, ini too much —""Kamu bilang berlebihan? Kamu pikir dengan membully Elmira kemarin itu gak berlebihan?!" seru Gavin. "Cepat, sialan! Kamu udah bikin Elmira menderita kemarin! Dan sekarang saya gak mau dia masih berpikiran macam-macam bahkan sampai overthinking!"Setelah mengatakan itu Gavin mendorong tubuh Pameela hingga tersungkur di kaki Elmira. Sementara Elmira terkejut bukan main melihat Pameela dengan pemandangan seperti itu. Belum lagi tatapan aneh orang-orang yang tertuju ke arah mereka."Sayang ..." Gavin menghampiri Elmira lalu mengusap rambutnya di depan semua orang yang ada di sana. "Pameela katanya mau ngomong sama kamu."Pameela mati kutu. Apalagi saat melihat kini semua orang yang ada di sana mengeluarkan ponsel untuk merekam apa yang akan dia lakukan saat ini. Habis sudah reputasi Pameela sebagai se
Kemarin adalah hari yang sangat melelahkan bagi Elmira. Bahkan rasanya ia sangat malas untuk kuliah hari ini setelah apa yang dia dapatkan kemarin. Malas bertemu Pameela, malas bertemu Freya, malas meladeni semua cemoohan dan omong kosong mereka, karena semua itu hanya akan membuang energi Elmira saja. Tidak ada keuntungan yang gadis itu dapatkan dari itu semua.Semakin dekat dengan kampus, Elmira semakin ragu untuk melanjutkan perjalanan. Alhasil ia merengek pada sang suami yang tengah fokus menyetir untuk diantarkan pulang saja ke apartemen. "Kak, pulang aja yuk? Please. Gue males banget ngampus. Belum siap ketemu dan ngeladenin mereka," rengek Elmira tiba-tiba."Jangan buang dan korbankan waktu kamu hanya untuk meratapi nasib karena udah dibully sama orang-orang gak penting itu. Mereka pasti bakalan ketawa menang kalau ngelihat kamu gak ke kampus hari ini. Dan itu artinya tujuan mereka berhasil untuk merusak mental kamu," nasihat Gavin."Tapi kak —""Tenang, El. Ada saya juga nant
Setelah putus dari Zayn, Elmira tidak percaya lagi dengan yang namanya janji dan tidak mau menjanjikan apapun lagi pada seseorang. Tapi demi suaminya, demi Gavin yang imut ini Elmira rela merombak prinsipnya. Hati kecil Elmira menuntunnya untuk mempercayai Gavin."Iya, Kak. Janji," sahutnya. Lalu mengulurkan kelingkingnya dan menautkannya dengan kelingking milik Gavin. Melihat itu membuat senyum tipis Gavin terbit. Hati yang tadinya ketar ketir kini kembali menghangat."Oke, karena saya suami yang baik, permintaan maaf kamu diterima."Mereka berdua akhirnya kembali saling tatap dan berakhir dengan Gavin yang mengalihkan pandangannya karena merasa malu saling tatap dalam waktu yang lama.Sisi ranjang Elmira kemudian bergoyang kala Gavin merebahkan dirinya di sana. Laki-laki itu berbaring menyamping hingga membuat posisi keduanya kini saling berhadapan satu sama lain.Lembut dan hangat telapak tangan Gavin menyapa kulit pipi Elmira setelahnya."Setelah kejadian kemarin, gak ada yang mau







