Mobil Bang Zul melaju tenang meninggalkan area kampus, membelah jalanan kota yang mulai ramai. Aku masih duduk membeku di kursi penumpang, pikiranku kacau balau, mencoba mencerna kata-kata terakhir Bang Zul."Menikahlah denganku, Riska. Supaya status jandamu yang kamu anggap memalukan itu hilang." Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak kunjung berhenti.Apakah ini sebuah lamaran serius? Atau hanya cara Bang Zul untuk membangkitkan semangatku agar berani menghadiri reuni? Wajah Bang Zul saat mengucapkannya terlihat serius, begitu tulus, tapi klakson di belakang kami mengakhiri momen itu dengan begitu tiba-tiba, membuatku tidak sempat bereaksi.Aku melirik Bang Zul. Dia tampak tenang, fokus pada kemudi. Wajahnya menunjukkan konsentrasi, seolah apa yang baru saja dia katakan hanyalah hal sepele yang tidak perlu dipikirkan lebih lanjut. Namun, aku tahu, itu jauh dari kata sepele."Bang Zul," panggilku pelan, suaraku sedikit parau.Dia menoleh sekilas, m
Pertanyaan Bang Zul yang menggantung di udara, diiringi keheningan yang menyesakkan, membuatku terpatung. Aku menatapnya, mataku mungkin memancarkan seribu pertanyaan dan seribu ketakutan sekaligus. Namun, bibirku kelu, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk menghadapi pria tinggi ini.Sebuah gumpalan tebal terasa mengganjal di tenggorokanku, menahanku untuk menjawab semua pertanyaan itu.Apakah semua ini benar-benar nyata? Apakah Bang Zul serius dengan semua ucapannya?Setelah semua yang aku lalui, setelah semua pengkhianatan, rasa sakit dan kekecewaan yang kualami, mungkinkah ada harapan baru yang begitu besar, begitu tulus, datang dari seseorang seperti Bang Zul?Bang Zul menatapku lekat, seolah mencari jawaban di mataku yang kosong. Senyum tipis terukir di bibirnya, sebuah senyum yang penuh pengertian, namun juga ada jejak kesedihan yang samar di sana. Dia menghela napas pelan, seperti menerima kebisuan sebagai jawaban sementara. Mungkin Bang Zul tahu, aku butuh waktu, ya
Aku berjalan menuju mobilnya, dan saat membuka pintu, sebuah kilas balik memori langsung menghantamku. Ini adalah mobil yang sama, mobil yang dulu sering aku tumpangi saat masih bersama Bang Fahri, saat dia masih memperlakukanku dengan baik. Ingatan itu membuatku sedikit meringis, rasa pahit muncul kembali. Aku masuk ke dalam, duduk di kursi penumpang. Aroma khas mobil itu masih sama. Bang Zul duduk di belakang kemudi, lalu mulai melajukan mobil dengan tenang, membelah jalanan pagi yang mulai ramai."Jadi, apa kegiatanmu sekarang?" Bang Zul memulai percakapan, mencoba memecah keheningan yang sedikit canggung di antara kami berdua."Aku hanya kuliah saja, Bang," jawabku, pandanganku tertuju pada jalanan di depan. "Di bagian Agribisnis."Bang Zul mengangguk. "Agribisnis, ya. Itu pilihan yang bagus sekali, Ris. Sesuai dengan latar belakangmu di peternakan. Aku tahu kamu memang punya bakat di sana." Dia tersenyum, lalu menoleh sekilas padaku. "Aku senang melihat kamu yang sekarang. Kamu
Setelah pertemuan tidak terduga dengan Bang Zul dan drama di warung makan, aku kembali ke kos dengan langkah gontai. Pikiran dan perasaanku campur aduk.Siapa sangka, di tengah kota yang begitu luas ini, takdir kembali mempertemukanku dengan masa lalu yang ingin kuhindari, dan masa lalu yang selalu memberiku pertolongan. Aroma masakan dari warung itu, disusul jeritan Ibu Mertua, masih terngiang di telingaku. Aku mencoba mengenyahkannya, fokus pada tugas-tugas kuliah yang menumpuk, sembari duduk di lantai beralaskan karpet, serta meja lipat pendek berwarna biru dan segelas minuman dingin.Saat aku sedang sibuk mengerjakan tugas yang rumit di meja belajarku, ponselku berdering nyaring di atas bantal. Nama Ibu Tiri tertera di layar. Sebuah senyum tipis terukir di bibirku. Sudah kuduga, beliau pasti akan menghubungiku. Kalau Bang Zul bisa muncul di dekatku, pastilah keluarga yang ada di desa pelakunya."Halo, Bu?" sapaku, sengaja sedikit ceria, mencoba menyembunyikan sisa-sisa kelelahan.
Bang Zul membawaku menjauh dari warung makan yang mendadak terasa seperti medan perang emosional. Tangan Bang Zul masih memegang lenganku, menuntunku berjalan cepat, meninggalkan kehebohan di belakang.Aku bisa mendengar bisikan-bisikan dari dalam warung, disusul suara melengking Ibu Mertua yang memanggil namaku. Namun, aku tak peduli. Fokusku hanya pada langkah kaki Bang Zul yang mantap, menarikku menjauh dari kekacauan itu.Kami berhenti di sebuah bangku taman kecil, tidak jauh dari warung. Bang Zul melepaskan pegangannya, lalu menatapku lekat. Wajahnya yang tenang berhasil sedikit meredakan gemuruh di dadaku."Riska, kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi, suaranya lembut dan penuh perhatian. "Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa... mereka?" Dia melirik ke arah warung, sedikit mengernyit.Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih berpacu kencang. "Aku... aku kuliah di sini, Bang," jawabku, suaraku sedikit bergetar. "Aku ngekos juga di dekat sini. Tadi
Hari-hari di desa bergulir dengan cepat, membawa serta rutinitas baru yang ku nikmati. Aku mulai menjalani hidupku dengan penuh semangat, bertekad untuk mengejar impian yang sempat tertunda. Kini, aku adalah mahasiswi di sebuah universitas swasta di kota terdekat dengan desa. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan Agribisnis, sesuai dengan minatku pada peternakan dan keinginanku untuk mengembangkan usaha ayahku kelak.Awalnya, aku sempat khawatir akan merasa canggung atau sendirian. Siapa yang mau berteman dengan seorang janda, apalagi yang dulunya pernah jadi bahan gosip sekampung? Namun, ternyata kekhawatiranku tidak beralasan. Ada beberapa mahasiswi yang juga seumuran denganku, bahkan ada yang lebih tua. Mereka bukan tipikal anak SMA yang baru lulus, melainkan orang-orang dewasa yang juga ingin melanjutkan pendidikan, mungkin karena berbagai alasan seperti aku. Kami cepat akrab, membentuk kelompok belajar, dan saling mendukung. Ternyata, aku tidak sendirian.Enam bulan berjalan d