LOGIN
"Ayu ... beneran dibawa pergi polisi?" Viola akhirnya bisa bersuara setelah sekian lama berlalu.Yang menelepon adalah manajer Viola, Mikha.Setelah insiden yang menimpa Farrel hari itu, Mikha secara halus menggali informasi dari Viola hingga akhirnya mengungkap kebenarannya.Ayu adalah staf kosmetik merek Pallama yang pemotretan iklan kemarin, sekaligus teman dari asisten Viola.Mikha berkata dengan nada tegas, "Sudah kubilang sejak dulu, kamu nggak boleh gegabah dengan orang. Kenapa harus menyinggung Amanda?"Viola membalas dengan tidak terima, "Memangnya dia siapa? Apa mungkin Keluarga Sasmitha takut dengan model kelas teri seperti dia? Dianya saja yang terlalu sombong, aku cuma memberinya pelajaran!"Mikha benar-benar tertawa kesal mendengarnya. "Memang dia bukan siapa-siapa, tapi jangan lupa, pacarnya itu Mario, dan sahabatnya itu Nayla, putri Keluarga Tanu! Pemimpin Grup Tanu!""Jangan lupa, Melanie bahkan harus tunduk minta maaf kepadanya!"Meskipun masalah Melanie yang diculik
Dia tidak percaya jawaban omong kosongnya tadi. Waktunya tidak sesuai sama sekali.Dari rumah sakit ke rumahnya membutuhkan waktu paling cepat 40 menit.Amanda menyimpulkan, jika Mario bisa datang secepat itu, jelas dia sudah meninggalkan rumah sakit sebelum siaran langsung dimulai.Mario tersenyum, tasa kagum terpancar di matanya. "Wanita cerdas.""Jangan memujiku."Dia tidak terpengaruh oleh omongan manis itu.Mario meneguk kopinya, meletakkannya di atas meja, lalu menatapnya dengan ekspresi serius."Kapten Fadli tadi telepon, dia menemukan saksi yang bisa membuktikan kalau kamu diberi obat, dan itu cukup untuk membuktikan niat Farrel untuk menyerangmu."Amanda terdiam, matanya tiba-tiba melebar, buru-buru menatapnya."Benarkah?"Mario sudah menduga dia akan bereaksi seperti itu. Bibirnya tersenyum kecil, lalu dia mengangkat dagunya menunjuk ponsel yang diletakkan Amanda di atas meja."Kapten Fadli pasti sudah memberitahumu, coba dilihat."Amanda belum sempat membuka ponselnya. Begit
Penampilan Mario, yang tampak lembut dan bersahaja, memancarkan tekanan yang membuat orang-orang tidak berani berkutik.Amanda terkejut. Mario seharusnya masih berada di rumah sakit.Sedangkan Liliana merasa lega saat melihatnya."Mario, aku tahu Amanda itu pacarmu, tapi membunuh itu ada konsekuensinya. Jangan kira dia bisa lolos begitu saja karena Keluarga Tanu mendukungmu."Gina menggertakkan giginya. "Aku sendiri yang akan mengirimnya ke penjara!""Oh? Jadi maksudmu, kekuasaanmu lebih besar daripada hukum?"Sepuluh menit sebelum Mario datang, kebetulan Kapten Fadli menelepon, memberitahunya bahwa pelaku yang memasukkan obat ke dalam minuman sudah ditemukan.Dia juga menjelaskan bahwa pelaku memang diperintahkan oleh seseorang.Amanda sedang sibuk berurusan dengan Gina, belum tahu semua itu dan bahkan tidak sempat memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya.Para wartawan menyaksikan situasi semakin memanas, merasa semakin bersemangat hingga berhenti mengajukan pertanyaan dan hanya menga
"Kamu memanipulasi berita untuk memicu sensasi dan merusak reputasiku. Aku berhak menuntut secara hukum."Amanda tenang dan tidak merendahkan diri. Setiap kata yang dia ucapkan sangat tajam dan bermakna. Dia memancarkan pesona yang penuh percaya diri dan ketenangan, hingga seketika suasana di sekitarnya menjadi sunyi senyap.Gina terkejut. Padahal secara penampilan, Amanda tampak biasa-biasa saja. Tak disangka, dia bisa berbicara dengan begitu teratur dan menampilkan dirinya sebagai korban."Jangan pura-pura jadi korban. Anakku ... memang benar terluka karenamu.""Kamu harus bertanggung jawab dan ditangkap. Satu-satunya alasan kamu dibebaskan adalah karena kamu didukung oleh Nayla dan Mario."Gina sudah menyelidiki semuanya dan mengetahui latar belakangnya dengan sangat baik.Dia tidak takut, karena Amanda memang benar-benar melakukan semua itu. Dia tidak percaya Nayla dan Mario bisa memutar balik fakta.Bahkan jika dia tidak bisa membuat Amanda masuk penjara, dia akan memanfaatkan kej
Amanda tidak kenal orang itu. Wajah Amanda merah dan bengkak, dengan lima bekas jari yang jelas terlihat di pipinya. Dia tampak agak kacau dan bahkan sedikit menyedihkan.Dia mengerutkan kening, menatap wanita di hadapannya dengan bingung. "Aku nggak tahu siapa kamu, kenapa kamu menamparku?"Wanita itu berpakaian mewah, berkilauan dengan perhiasan, dan sekilas terlihat bukan orang biasa.Amanda dapat menebak kira-kira siapa dia.Sampai akhirnya dia, mendengar pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sengaja dibuat sensasional."Nyonya Gina ini ibu Farrel, benar?""Farrel sekarang koma, tapi pelaku penyerangannya nggak dihukum apa-apa. Bagaimana pendapat Nyonya tentang hal ini?""Tuduhan-tuduhan yang beredar di internet tentang Amanda itu apakah benar? Apakah dia merayu Farrel, dan karena gagal lalu ingin membunuhnya?"Pertanyaan para wartawan itu malah memperkeruh keadaan, membuat amarah Gina semakin berkobar."Ya, dia merayu anakku! Anakku masih sangat muda, menjaga kesuciannya, dan sejak
Melanie duduk di sana, memainkan sebuah pena dengan kedua tangannya, tersenyum sedikit nakal."Kamu ke mana saja? Kenapa baru berangkat?"Wajah Austin berubah muram. Dia melangkah ke mejanya dan berkata dengan nada tidak ramah."Sedang apa kamu di sini?""Aku datang mencarimu. Kenapa? Sebenci itu kamu padaku?"Melanie sengaja mengangkat dagunya, bertanya dengan tatapan memprovokasi.Austin tidak ingin membuang waktu berdebat dengannya. Dia menunjuk ke arah pintu. "Keluar."Melanie sudah terbiasa diperlakukan seperti ratu. Wajahnya langsung muram, lalu dia segera bangkit dari kursi dan melempar pena itu kepada Austin."Kamu berani bicara begitu kepadaku, Austin! Jangan lupa seperti apa kamu dulu kepadaku."Austin berdiri diam tanpa menghindar. Ujung pena melesat di samping pipinya, menggores kulitnya hingga mengeluarkan setetes darah.Wajahnya seketika tertutup kelabu, alisnya berkerut dalam-dalam, dan Melanie tertegun melihatnya."Keluar!"Austin berteriak marah, wajahnya terlihat jela







