MasukDia menarik napas dalam-dalam, telapak tangannya mengepal dan bersiap membuka pintu.Tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi.Tiba-tiba, amarah Simon yang tertahan terdengar dari dalam. "Kalau kamu gila, pergi ke rumah sakit jiwa."Shania berhenti tersenyum. Matanya merah padam, menatapnya dengan marah. "Kalaupun aku gila, itu karena kamu yang memaksaku jadi gila."Pria itu berkata bahwa setelah kehilangan orang yang dicintainya, dia tidak akan pernah mau berkompromi dan menjalin hubungan dengan wanita lain.Dia telah menunggunya selama lima tahun.Tapi, lima tahun kemudian, pria itu malah bersama mantan tunangan adiknya.Ini merupakan penghinaan besar baginya.Dia sungguh benci!"Cepat pergi dari sini, jangan sampai Nayla melihatmu!" Simon memperingatkan dengan dingin.Shania mencibir, "Aku nggak mau pergi. Kamu bisa apa? Punya hak apa dia merebut pria pilihanku? Aku nggak akan mengampuninya!"Simon mengerutkan kening, kesabarannya habis. Tangannya mencengkeram leher wanita itu d
Nayla menoleh untuk melihatnya, tidak bisa mengaitkan pria elegan dan tampan di depannya ini dengan pria yang dideskripsikan Hans."Kenapa kamu menatapku terus?"Menyadari tatapannya, Simon tersenyum.Nayla berkata sambil tersenyum tipis, "Aku cuma penasaran, apa mungkin kamu tiba-tiba berubah pikiran dan membatalkan acara besok lusa.""Apa aku tipe orang yang rela menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan istriku?" Simon mengerutkan kening, seolah kata-kata Nayla sangat tidak mungkin akan terjadi.Nayla mendengus.Dia pasti gila jika membiarkan kata-kata Hans mengganggunya.Hans adalah orang yang kekanak-kanakan dan posesif. Meski dia tidak mencintai Nayla, dia tetap ingin menghancurkan kebahagiaannya dengan orang lain.Entah orang ini Simon atau siapa pun itu."Aku cuma bercanda, tolong jangan diambil hati."Nayla mengambil sebuah gaun pengantin, tersenyum manis dan cerah, "Yang ini gimana menurutmu?""Bagus."Simon sangat murah hati dalam memberikan pujian. Dia berkata, "Nyonya Jatmi
Dia membuka pintu mobil, bersiap untuk masuk."Kamu tahu nggak dua hari ini dia ketemu siapa?"Hans tiba-tiba berteriak, "Dia bersama Shania selama dua hari ini. Dia nggak mencintaimu sama sekali, Nayla, sadarlah!"Nayla berhenti sejenak, melirik ke samping. "Apa maksudmu?"Hans mencibir, "Dia dan Shania saling mencintai. Kalau Simon nggak mengejar dukungan Keluarga Tanu, dia nggak akan pernah melirikmu.""Selama Shania masih ada, kalian berdua nggak akan pernah bahagia bersama!"Hans berbicara dengan penuh kemarahan dan keyakinan bahwa dirinya benar."Kamu beneran nggak peduli semua yang terjadi di antara mereka?""Simon cuma main-main tentang mengumumkan hubungan kalian di ulang tahunnya. Dia nggak akan benar-benar melakukannya."Jantung Nayla berdebar kencang.Dia ingat aroma parfum yang tercium pada baju Simon dan video yang dia lihat.Mungkinkah mereka benar-benar memiliki sesuatu?Tapi dia segera kembali tenang dan berkata dengan dingin, "Sudah selesai? Silakan pergi kalau sudah.
"Nggak, Kakek, aku akan berlutut di sini sampai Kakek memaafkanku," kata Hans dengan penuh penyesalan, kepalanya tertunduk rendah.Sikapnya tampak sangat tulus dan menyentuh hati.Tapi Kakek Dio tetap tak tergoyahkan. "Kenapa kalian diam saja? Cepat! Aku baru saja makan, jangan buat aku marah sampai mau muntah."Selama lima tahun itu, dia tidak tahu bahwa Nayla telah mengalami begitu banyak penderitaan.Seandainya dia tahu, dia pasti sudah mematahkan kaki pemuda ini sejak lama.Nayla benar-benar kehabisan kata-kata.Kakeknya yang tua ini pandai juga bicara yang menyakiti hati.Paman Wiguna menahan tawa dan segera memerintahkan satpam untuk membawanya keluar.Hans terdiam, menatap kosong ke arah Kakek Dio.Kenapa begini?Dia sudah berlutut dengan tulus, apa lagi yang diinginkan darinya?Para satpam segera masuk, menangkap lengannya, dan hendak membawanya pergi."Kakek, dengarkan aku! Aku beneran datang minta maaf ....""Kakek, kumohon beri aku kesempatan. Aku nggak akan pernah mengecewa
Uangnya benar-benar habis tanpa sisa.Untungnya, dia kemudian tersadar.Setelah menikah dengan Simon, jangankan yang diberikan oleh Simon sendiri.Belasan toko yang diberikan oleh Kakek Markus saja menghasilkan omset bulanan yang fantastis.Sekarang, dia adalah seorang wanita kaya yang tersembunyi."Ya sudah, kembali saja. Lagi pula, bisnis Keluarga Tanu jadi milikmu setelah aku pergi."Kakek Dio tidak menolak gagasan itu dan berkata, "Bisnis Keluarga Tanu pada akhirnya akan jatuh ke tanganmu suatu hari nanti. Ada baiknya kamu belajar mengelola bisnis sejak dini."Dia sudah terbiasa dengan penolakan Nayla dan tidak menaruh harapan sama sekali.Nayla dulu selalu berkata tidak tertarik dan tidak tahu, dan bahwa dia akan menyerahkannya kepada Hans setelah menikah.Konyol.Mana mungkin Kakek Markus tidak tahu pikiran jahat macam apa yang disimpan di kepala Hans?Selama bertahun-tahun, alasan dia menutup mata adalah karena dia merasa bahwa asal Nayla bahagia, apa pun tidak masalah.Selama H
Dia awalnya tidak percaya dan ingin menemui Nayla langsung untuk meminta penjelasan.Tepat di sudut koridor, dia tidak sengaja mendengar Nayla berkata kepada Karin, "Aku benci orang seperti Simon, terlalu sombong."Setelah itu, dia berhenti mendekatinya sama sekali.Adapun kata-kata yang disampaikan Hans, dia tidak ingin memikirkannya lagi seumur hidupnya.Dia berpikir bahwa setelah sepuluh tahun berlalu, masalah itu akan perlahan memudar.Lalu waktu itu, dia mendengar Nayla berkata secara langsung, "Aku paling benci dengan orang yang memanfaatkan utang budi orang lain ...."Simon menekan ingatan itu. Matanya yang dalam dipenuhi ekspresi gelap dan terkekang, wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan ....Bibirnya yang tipis terkatup rapat. Dia menundukkan kepala dan menggosok pelipisnya.Nayla tidak mendapatkan informasi berguna apa pun dari Austin. Bahkan daftar yang diberikannya pun pada dasarnya sama dengan apa yang diingatnya.Investigasinya telah menemui jalan buntu.Ini berarti,







