INICIAR SESIÓNSejak hari saat Mario dipanggil pulang.Melanie memperhatikan reaksi mereka dan berjalan mendekat dengan angkuh."Oh, jadi seseorang sudah dicampakkan kakakku secepat itu?""Nggak heran. Berani-beraninya dia mengira bisa melawan Keluarga Senja dengan masalah sepele itu. Mempermalukan diri sendiri saja."Baru dua hari yang lalu, orang tuanya memberitahunya bahwa Mario memutuskan untuk tidak berhenti menggugat Viola.Mereka juga mengatakan bahwa Mario akan segera menikah.Meskipun tidak disebutkan dengan siapa, Melanie sudah bisa menebak pasti dengan Sandra.Lagi pula, neneknya sama sekali tidak suka dan tidak akan menerima Amanda yang rendahan.Hati Amanda terasa teriris. Dia tidak bisa menggambarkan perasaannya, jadi dia memutuskan untuk membalas dulu."Kalau soal mempermalukan diri sendiri, siapa yang berani tanding denganmu?""Kamu belum lupa soal siaran langsung itu, 'kan?"Kata-kata tajam Amanda mengingatkan Melanie pada masa lalu yang memalukan, menyebabkan wajahnya memucat lalu b
Dia lalu menatap Emir dan Andini. "Tuan Emir, Nyonya Andini, Nyonya meminta kalian masuk."Mereka saling bertukar pandang dengan ragu, tetapi tidak bertanya dan segera bangkit menuju kamar.Wajah orang-orang lainnya menunjukkan ekspresi yang beragam.Kartika sangat cemas dan bergegas menghampiri kepala pelayan."Maksudnya apa? Calvin sudah datang, apa Ibu nggak tahu? Apa yang dia bicarakan dengan Mario nakal itu?"Arnold mengikuti di sampingnya dengan cemas, wajahnya tampak tidak senang."Dia dibiarkan pergi begitu saja? Viola mau dibiarkan? Ibu pasti nggak akan menyerah menyelamatkan cucunya sendiri."Kepala pelayan berkata dengan tenang, "Nona dan Tuan, mohon tenang. Nyonya pasti sudah punya rencana. Nggak baik mengganggu istirahat Nyonya."Keduanya terbungkam.Mereka hanya bisa menatap Emir dan Andini yang berjalan menuju kamar.Mereka lalu menatap Calvin.Sandra tampak bingung dan bersiap pergi. Begitu melangkah ke luar, terdengar suara yang hangat dari belakang."Dokter Sandra, ka
Mario tetap acuh tak acuh dan tidak mengucapkan apa-apa.Dia melangkah melewatinya, menuju kamar Nenek Ratna.Nenek Ratna bersandar di kepala tempat tidur. Setelah pingsan, wajahnya pucat dan lemah, seperti burung elang yang sayapnya patah, tanpa aura wibawa yang biasanya.Dia menoleh kepada kepala pelayan di samping tempat tidur dan memberinya instruksi."Keluar dulu."Kepala pelayan itu, dengan raut wajah yang tampak tidak tenang, keluar dari kamar dan menunggu di luar.Mario melangkah mendekat ke tepi tempat tidur, raut wajahnya tetap datar dan tidak berubah."Sifatmu terlalu keras, yang menderita justru dirimu sendiri."Nenek Ratna menahan amarahnya. "Aku cuma mau bertanya satu hal. Apa yang kamu inginkan agar tantemu dan Viola dibebaskan?"Mario mengangkat pandangannya."Nggak jadi minta bantuan cucu sulungmu lagi?"Nenek Ratna tiba-tiba tersenyum seolah menyadari sesuatu."Kamu benar-benar ingin membuatku marah. Ternyata kamu membiarkan Calvin menyelamatkan Michael. Jangan lupa,
Mata Andini membelalak ketakutan. Tuduhan ini terlalu serius.Bahkan Emir yang biasanya setenang gunung pun tampak terkejut."Bu, perkataanmu itu terlalu berlebihan."Kartika tampak puas, melirik suaminya seolah memamerkan dirinya sangat disayangi.Arnold memanfaatkan kesempatan itu untuk meredakan situasi. "Bu, Mario bukan anak yang seperti itu, dengarkan dulu penjelasannya."Mario tampak acuh tak acuh, tanpa sedikit pun emosi di matanya, seolah semua ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.Namun, aktingnya harus tetap dilanjutkan."Viola bersekongkol dengan Farrel memberi obat bius kepada Amanda, menghasut Farrel untuk melecehkan Amanda, buktinya terekam dalam video.""Viola menyuruh asistennya memberi obat bius, dan ada saksi yang bisa mengidentifikasinya. Perilakunya sangat buruk. Kalau dia minta maaf dengan tulus, mungkin masalah ini bisa diselesaikan."Mario menoleh, tatapan dinginnya menyapu Kartika."Justru Keluarga Senja yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lain.
"Nggak perlu buru-buru dijawab. Tunggu aku pulang, jawab aku nanti."Begitu Mario selesai berbicara, sosoknya yang tinggi dan ramping menghilang dari pandangan.Saat tersadar dan berlari mengejarnya, Mario sudah naik lift turun ke lantai bawah.Dia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan: [Hati-hati di sana, aku menunggumu pulang.][Ya.]Setelah membalas pesan, Mario turun ke bawah dan masuk mobil, langsung menuju rumah keluarganya.Sekitar pukul dua siang, Mario melangkah masuk.Begitu masuk, ruangan tampak penuh sesak.Neneknya duduk di kursi utama yang ada di tengah. Di sebelah kirinya secara berurutan adalah ayahnya, Emir, lalu ibunya, Andini. Sedangkan di sebelah kanannya adalah bibinya, Kartika, dan pamannya, Arnold Sasmitha.Kepala pelayan berdiri dengan penuh hormat di belakang Nenek Ratna, dan suasana ruang tamu terasa kaku dan serius."Kukira kamu nggak akan pulang, nggak mau mendengarkan omonganku lagi," kata Nenek Ratna sambil memukul sandaran sofa dengan keras.Ekspr
Tidak seharusnya dia gegabah menampar Amanda."Ibu!"Julian bergegas datang, dan saat melihat kondisi ibunya seperti itu, ada emosi yang melintas di matanya.Dia melangkah cepat ke sisi ibunya, lalu menatap Mario dengan raut wajah muram."Mario, ibuku sudah tua, kamu tega menyiksanya seperti ini?"Tatapan Mario menajam. "Setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Usia nggak bisa dijadikan tameng, apalagi status."Kata-katanya tegas, raut wajahnya mantap dan dingin.Semua orang datang memohon belas kasihan, lalu apa artinya penderitaan yang dialami Amanda?"Mario!"Julian mengertakkan giginya dengan keras, dan Gina buru-buru menahannya. "Mario, kamu benar. Kami memang salah. Walaupun aku lebih tua, aku memang menampar Amanda. Aku bersedia minta maaf."Dia mengeluarkan selembar cek. "Uang ini sebagai ucapan maaf kami dan kompensasi kepada Nona Amanda. Kami cuma mohon agar Nona Amanda berkenan memaafkan kami."Mario mengatupkan bibir tipisnya. "Nggak usah, simpan saja







