Ruang tamu keluarga Mahesa malam itu terasa lebih dingin. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan, memberi nuansa hangat, tapi suasana di dalam justru penuh ketegangan. Felix duduk di sisi kanan sofa panjang, tubuhnya menegang, rahangnya mengeras. Di seberangnya, Maharani duduk dengan anggun, menyilangkan kaki, sambil sesekali merapikan helai rambutnya yang tergerai ke bahu. Senyumnya tampak percaya diri, seakan ia sudah memenangkan sesuatu bahkan sebelum pertempuran dimulai. Clara, yang duduk di kursi tunggal, menatap anaknya lalu mengalihkan pandangan ke Maharani. Perempuan itu tampak nyaman, berbeda dengan Felix yang duduk dengan ekspresi emosi yang hendak meledak. Felix akhirnya mengulang pertanyaannya. Suaranya terdengar dalam dan penuh tekanan.“Rani, jawab aku. Untuk apa kamu pergi menemui Alma?” Pertanyaan itu membuat senyum Maharani sempat goyah. Sekilas ia menelan ludah, merasa terpojok. Namun cepat-cepat ia menegakkan tubuh, menarik
“Ya,” jawab Riko mantap, menatap Alma yang masih terdiam di kursinya. “Semua aset ini milik Pak Aditya Kusuma. Sebagian sudah resmi atas nama Anda, sebagian memang belum sempat berpindah, tapi semuanya memang diwariskan untuk Anda.” Alma menatap map tebal itu dengan mata masih melebar. Baginya, deretan angka dan nama perusahaan yang tadi ia lihat bukan sekadar daftar aset. Itu adalah kenyataan baru yang terasa terlalu asing untuk dirinya. Seumur hidup ia berjuang keras, berdiri dengan kaki sendiri. Kini, dunia seakan berubah setelah melihat selembar map di atas meja. Alma mengangkat wajah, menatap Riko. Ada ketulusan di mata pria itu. Ia menyadari, meski Riko dibayar untuk mengurus semua ini, kesetiaannya menjaga amanah ayahnya tidak bisa diremehkan. Rumah yang tetap terawat, pelayan yang setia, bahkan detail kecil seperti foto ibunya yang tak pernah diturunkan—semuanya membuat Alma yakin. “Terima kasih, Riko,” ucap Alma lirih, suaranya bergetar. “Kamu sudah menjaga semuanya dengan
Mobil Alma berhenti tepat di depan sebuah rumah besar bercat putih dengan desain modern minimalis. Pilar-pilar kokoh menjulang di sisi kiri-kanan pintu utama, jendela-jendela kaca lebar membiarkan cahaya matahari menembus ke dalam, dan halaman luas dihiasi pepohonan rindang yang membuat suasana teduh dan nyaman. Alma menelan ludah. Tangannya masih menempel di setir, seakan-akan jika ia turun, seluruh kenyataan ini akan berubah. "Ini … rumahku?" pikirnya. Dari arah teras, dua orang pelayan keluar terburu-buru. Wajah mereka sumringah begitu melihat Alma. Mereka saling pandang, lalu salah satu perempuan setengah baya dengan seragam abu-abu rapi melangkah lebih cepat. “Selamat datang kembali, Nona Alma!” ucapnya, suaranya penuh haru. “Kami benar-benar menunggu saat ini tiba.” Alma hanya bisa menatap, kaku, tak tahu harus membalas apa. Riko turun dari mobilnya, menghampiri. “Mereka adalah pelayan yang memang sudah ditugaskan menjaga rumah ini sejak dulu. Mereka sangat mengenal keluar
Malam itu, Alma merasa tubuhnya begitu berat. Kepalanya penuh sesak dengan kejutan demi kejutan yang menekan batinnya sejak siang tadi. Tentang Arhan yang benar-benar kehilangan kewarasan, tentang tunangan Felix, tentang apartemen yang ternyata selama ini milik Felix sendiri. Semuanya berputar-putar seperti gangsing di kepalanya. Ponselnya bergetar berkali-kali di meja samping tempat tidur. Nama Felix berkedip terus-menerus di layar. Disusul deretan notifikasi pesan yang masuk tanpa henti. Alma menatap layar itu dengan mata basah, namun ia tetap tidak menyentuhnya. Tangannya justru meraih ponsel, menekan tombol power hingga layar meredup, lalu benar-benar mematikan perangkat itu. "Maaf, Lix … aku nggak bisa," bisiknya lirih. Malam itu, ia memilih menutup mata, meski hatinya masih berdegup tak menentu. Tidurnya gelisah, dihantui potongan memori dan suara-suara yang tak ingin ia ingat. Keesokan paginya Sinar matahari pagi menerobos dari celah tirai, menyentuh wajah Alma yang pucat.
Alma terdiam di tempat ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Namun tubuhnya segera diliputi kehangatan begitu seseorang merengkuhnya dalam pelukan erat. “Alma … kamu baik-baik aja, kan? Jangan dengerin kata-kata Arhan barusan. Dia udah nggak waras. Semua orang tahu dari penampilannya. Percaya deh, nggak ada yang akan memandang serius omongan orang yang sudah kehilangan akal kayak gitu.” Suara itu, suara Septiana. Tenang, tegas, tapi juga lembut. Pelukan dokter psikolog yang biasanya galak itu terasa menenangkan. Alma terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. Bahunya masih bergetar, tetapi perlahan jantungnya kembali berdetak lebih teratur. “Terima kasih, Septiana …” ucapnya lirih, meski matanya masih terasa panas. Septiana melepaskan pelukan, menatap wajah Alma yang tampak pucat. “Dengar ya, kamu nggak salah. Arhan sendiri yang bikin dirinya hancur. Dan sekarang, dia butuh penanganan medis, bukan belas kasihan.” Alma menatap balik, matanya sayu. “Maksudmu?” “Kami, aku sa
Alma mengatur napas dalam-dalam, mencoba menyembunyikan degup jantung yang tiba-tiba tak karuan. Wanita elegan di hadapannya menatap tajam, penuh percaya diri. Senyum samar yang menghiasi wajahnya membuatnya sesak, seolah akan ada kabar baru yang menegangkan. “Perkenalkan sekali lagi, saya Maharani Bramata. Panggil saja Rani … mungkin kamu bisa mengenalku sebagai calon tunangan Felix.” Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Tubuh Alma menegang. Untuk sesaat, ia bahkan merasa udara di sekitarnya membeku. Mata Alma melebar, memandang Rani seolah ingin memastikan apakah ia benar-benar mendengar dengan jelas. “Tunangan … Felix?” suaranya nyaris tak terdengar. Maharani tersenyum getir, lalu duduk anggun di kursi di depan meja Alma. “Ya. Pertunangan kami sedang dipersiapkan. Sangat mewah, katanya. Diadakan di ballroom keluarga besar, dengan undangan yang jumlahnya … entahlah, mungkin ratusan.” Alma menelan ludah. Hatinya nyeri, berdenyut tak karuan. Baru beberapa malam lalu, Feli