Pintu apartemen Alma terbuka. Suasana di lorong yang mencekam tadi masih terasa menempel di tubuh Alma, membuatnya sedikit gemetar saat melepas sepatunya. Ia berjalan perlahan ke ruang tamu, berusaha mengatur napas, sementara Felix mengikutinya dalam diam. Alma menuangkan dua gelas minuman dari teko kaca di meja, lalu meletakkan salah satunya di depan Felix. Ia duduk di sofa seberang, tubuhnya condong ke depan, tatapannya lebih serius. “Tolong, jelaskan semuanya ke aku,” suaranya rendah namun tegas. “Aku tidak mau ada kejutan lagi setelah ini, Felix.” Felix menatap gelas yang Alma sodorkan, seolah mencari jeda untuk menyusun kata. Tangannya belum menyentuh minuman itu. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya. “Aku mengerti,” katanya akhirnya, pelan namun jelas. “Kamu berhak tahu.” Keheningan sejenak terjadi di antara mereka, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Lalu Felix mulai bicara. “Sejak awal aku tahu kamu akan dalam bahaya. Perselisihanmu dengan Arhan, keter
Alma terpaku di tempat. Matanya tak berkedip menatap sosok pria bertopi dan bermasker yang berdiri di depan pintu apartemennya. Jantungnya berdentam begitu kencang, seolah hendak meledak keluar dari dada. Pria itu melangkah sedikit maju, lalu membuka masker pelan-pelan.“Alma,” suaranya terdengar jelas. Senyum yang muncul di wajahnya membuat darah Alma seperti berhenti mengalir. Itu benar … Arhan. “Arhan …?” suara Alma tercekat. “Bagaimana mungkin kamu bisa sampai ke sini? Kamu ngapain di sini?” Arhan tersenyum, tapi senyumnya tidak wajar. Terlalu aneh, terlalu dipaksakan. Matanya berkilat, seperti anak kecil yang baru menemukan mainan kesayangannya. Ia mendekat, langkahnya perlahan dan sedikit sempoyongan. “Akhirnya … akhirnya kita bisa bersama lagi, Alma,” ucapnya penuh antusias, tapi nada suaranya terdengar aneh. “Kita rujuk, yuk. Kamu pasti mau kan? Kamu masih cinta padaku, kan?” Alma mundur setapak, tubuhnya menempel pada dinding dingin lorong apartemen. Jemarinya bergetar,
Malam itu, di kediaman keluarga Mahesa, Clara masih belum bisa memejamkan mata. Gaun pesta berwarna biru safir yang ia kenakan sejak sore tadi belum berganti. Meski jam menunjukkan hampir tengah malam, ekspresinya masih segarang saat ia berdebat dengan Felix di aula. Ia melangkah ke ruang kerja pribadinya, ruangan dengan dinding panel kayu tua dan rak-rak penuh buku serta dokumen keluarga besar Mahesa. Lampu meja menyala temaram, hanya menyinari area kecil di atas meja marmer. Clara duduk, mengetukkan jari di permukaan meja dengan gelisah. “Tidak boleh di tunda-tunda lagi. Felix harus segera diamankan.” gumamnya lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya masuk dengan sopan. Dialah Ratna, asisten kepercayaannya selama lebih dari lima belas tahun. Selalu setia, selalu siap kapan pun Clara memanggil. Ratna menunduk hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” Clara menegakkan badan, nada suaranya dingin namun penuh kuasa. “Ratna, kita tida
Dentum musik pesta masih terdengar samar dari aula utama, namun di sebuah ruangan kecil berpanel kayu elegan, suasana jauh lebih hening. Lampu kristal menggantung teduh, memantulkan cahaya hangat ke meja panjang di tengah. Felix menarik tangan ibunya dengan sopan namun tegas, menuntunnya masuk. Clara, Ny. Mahesa, berjalan mengikuti, meski langkahnya tampak berat, penuh gengsi. Begitu pintu tertutup rapat, Felix menoleh, menatap ibunya dengan sorot mata yang nyaris tak pernah ia tunjukkan—tajam, penuh ketegasan. “Ma,” suara Felix rendah tapi bergetar, menahan emosi, “apa maksud Mama barusan? Kenapa Mama bisa mengatakan hal seburuk itu tentang Alma?” Clara tetap tenang. Ekspresinya datar, bibirnya terkatup rapat sebelum akhirnya terbuka dengan nada dingin. “Mama hanya mengatakan kebenaran, Felix. Kalau perempuan itu memang wanita baik-baik, rumah tangganya dulu tidak akan gagal. Fakta jelas menunjukkan, dia tidak mampu menjadi istri yang baik.” Felix tertegun. Sejenak ia merasa napa
Angin malam berembus lembut, membawa aroma bunga flamboyan yang masih bermekaran di sudut taman. Alma duduk sendirian di bangku kayu, tepat di tepi kolam renang yang permukaannya berkilau diterpa lampu sorot. Riuh pesta di aula besar terasa jauh, hanya samar terdengar di telinganya. Ia menunduk, menatap pantulan dirinya di air. Bayangan wajahnya tampak samar, bercampur dengan cahaya lampu, seolah mengolok-olok rasa minder yang tadi mencuat setelah bertemu Ny. Mahesa. Tatapan dingin ibunda Felix itu masih terpatri jelas dalam benaknya. Nggak apa-apa, Alma, ia mencoba menenangkan diri. Kamu memang bukan siapa-siapa. Jangan berharap terlalu jauh. Beberapa menit berlalu dalam hening, sampai suara langkah pelan terdengar mendekat. Seorang pelayan berseragam hitam-putih membungkuk sopan.“Permisi, Nona. Lebih baik menunggu di dalam. Tuan Felix masih bersama tamu-tamu pentingnya. Udara malam bisa membuat Nona masuk angin.” Alma tersenyum tipis, berterima kasih. “Baiklah, aku masuk.” Ia
Sorak sorai dan tepuk tangan mulai mereda ketika Felix menutup pidatonya. Lampu sorot kembali menyebar, menghangatkan suasana aula yang mewah dengan kilau kristal di langit-langit. Dari arah kursi barisan depan, seorang wanita paruh baya dengan gaun berwarna emerald berkilauan bangkit berdiri. Usianya mungkin sudah melewati lima puluh, namun aura anggun dan tegas yang terpancar membuat banyak tamu secara refleks memberi jalan. Wanita itu berjalan mantap menuju panggung, bibirnya melengkung tipis dalam senyum formal. Begitu tiba di samping Felix, ia meraih putranya dalam pelukan penuh kasih. “Selamat, sayangku.” Suaranya lembut, namun ada ketegasan yang sulit disembunyikan. Felix membalas pelukan itu sambil tersenyum hangat. Dari tempatnya berdiri di sudut aula, Alma memperhatikan dengan cermat. Ia menahan napas. Itu pasti ibunda Felix, pikirnya. Raut wajah wanita itu memancarkan wibawa seorang nyonya besar, sorot matanya penuh penuh perhitungan. Elegan, tapi juga … sedikit intimidat