LOGIN“Ouhh … Om, jangan keras-keras, sakit tahu!” Mata Reino membulat. Dadanya seolah diremas. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang ia dengar dari balik telepon. “Irisha, papahku di mana?” tanyanya ketus, amarah mulai merayap di suaranya. “Siapa?” sahut Irisha ringan. “Maaf, nggak kedengeran. Aku lagi sibuk.” “Irisha!” Reino meninggikan suara. “Halo, kau dengar aku, kan?” “Ya, Rei … ada apa?” jawabnya seolah santai. “Halo, Rei … sinyalnya jelek. Ahhh ….” Desahan terakhir itu menjadi penutup panggilan. Telepon terputus, disusul tawa kecil Irisha yang terdengar puas. Reino menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding. Kulit tangannya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadanya. “Sialan!” bentaknya. “Kau benar-benar pelacur, Risha!” Dita yang mendengar teriakan itu segera mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Rei, bagaimana?” tanyanya cepat. “Apa Revan sudah menjawab?” Reino menggeleng keras. “Belum, Mah.
Keesokan paginya, Irisha menggandeng Revan menuju sebuah studio foto ternama. Begitu tiba, matanya langsung menyapu ruangan, lalu jarinya menunjuk salah satu pelayan butik yang berdiri tak jauh dari sana. “Tolong bantu suami saya ganti pakaian,” pintanya singkat. Sementara itu, Irisha melangkah menuju ruangan lain. Senyum tipis terukir di bibirnya ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sebuah kejutan yang hanya ia sendiri tahu. Revan kini berdiri di depan cermin besar. Tubuhnya terbalut jas rapi, lengkap dengan bunga kecil yang terselip di saku dada. Ia memandangi bayangannya sendiri cukup lama, seolah belum benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya. “Memang harus seperti ini?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar ragu. “Apa aku tidak terlihat … aneh dan berlebihan?” Pelayan butik itu tersenyum ramah. “Tenang saja, Pak. Anda terlihat sangat pantas. Percaya atau tidak, Bapak justru tampak jauh lebih muda.” Namun, kegugupan tetap terpancar jelas dari wajah Revan. Ia
Ada keraguan samar di mata Revan. Bagaimana bisa ia percaya pada wanita yang dulu justru ingin melihatnya hancur? Pertanyaan itu menggantung di udara, tapi Irisha lebih dulu menjawab tanpa ditanya. Ia mengangkat wajah Revan, kedua tangannya menahan dengan lembut. “Percayalah padaku, Om … aku tidak akan pernah mengkhianati kamu.” Butiran sisa air mata masih bertahan di sudut mata Revan. Ia mengangguk pelan. Pasrah atau mungkin mulai percaya. Irisha tersenyum kecil. “Nah, begitu. Ini baru suamiku. Tegas. Dingin. Bukan pecundang yang larut dalam penyesalan.” Sudut bibir Revan terangkat samar. Untuk pertama kalinya, hatinya terasa sedikit ringan. Irisha pun beranjak, mengambil kotak obat. “Sini. Aku obati dulu.” Belum sempat Revan bersiap, Irisha menyentuh lukanya dengan cairan antiseptik. “A-aduuh!” desis Revan, menahan nyeri. “Tahan,” kata Irisha tanpa merasa bersalah sama sekali. “Sebentar lagi juga selesai. Kau dokter, kan? Kalau kau obati pasien pasti kau tahu rasan
“Tinggalkan aku sendiri. Dan tolong … rahasiakan semua ini. Jangan sampai ada yang tahu!” perintah Revan, tak ingin dibantah. Fahri hanya sempat mengangguk sebelum akhirnya melangkah mundur, meninggalkannya bersama sisa-sisa kepercayaan yang hancur. Revan melangkah ke ruang kerjanya dengan seluruh sisa tenaga yang ia punya. Di ruang kerjanya, ia melepaskan semua kesakitan yang selama ini ia tahan. “ARGHHHHH!” Teriakannya memantul di dinding, seperti jiwa yang sedang retak. Sebuah bingkai foto ia lempar, Foto Revan bersama Dita dan Reino pecah berhamburan di lantai, serpihannya seperti menggambarkan hidupnya yang ikut hancur. “Kenapa, Dita?! Kenapa kau membohongiku?!” Ia meraih meja dan kembali melempar semua yang ada di sana, napasnya terengah, hampir tak menemukan oksigen untuk bertahan. Suara kaca pecah itu membuat Bi Inah terlonjak. Dengan panik, ia bergegas ke lantai atas menuju kamar Irisha. “Non Risha … Non?” panggilnya, suara gemetar. Irisha, yang tengah men
“Dede bayi?” bisiknya lirih, “malam ini kita pasti dapat pelukan dari Papah. Ayo, kita siap-siap dulu.” Selesai mandi, Revan tak langsung menemui Irisha, ia memilih duduk di sofa. Tangannya meraih laptop, berusaha larut dalam pekerjaan, atau justru bersembunyi dari Irisha. “Om?” panggil Irisha pelan, mendekat. Tak ada jawaban. Irisha mendesah dramatis. “Dosa loh nyuekin istri …” Revan menutup laptop setengah, lalu menatapnya. Tatapan tajam, dingin, tapi lelah seolah ia tidak lagi punya tenaga untuk marah, tapi juga belum siap untuk berdebat. “Maumu apa?” tanyanya tegas, datar, tanpa nada membujuk. Irisha duduk di pangkuannya begitu saja, mengalungkan tangan di leher Revan. Napasnya terasa di kulitnya, membuat Revan menegang. “Maunya, dipeluk Om …,” bisiknya menggoda, bibirnya menyentuh bibir Revan sekilas cukup singkat untuk disebut ciuman, cukup lama untuk disebut tantangan. Revan memejamkan mata sejenak, menahan diri. Ia tahu apa yang Irisha lakukan. Ia tahu Irisha
Irisha menunduk, napasnya tercekat. Keberanian yang selama ini ia banggakan runtuh dalam sekejap. Permainan yang ia mulai, kini berubah menjadi jerat yang siap menelan dirinya sendiri. Revan jatuh duduk di bathtub, kedua tangannya bergetar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, seperti mencoba mencabut rasa sakit yang menancap di dadanya. Anehnya saat dulu Dita, mantan istrinya, menghancurkan hatinya dengan perselingkuhan, ia tidak sesakit ini. Tapi sekarang? Luka itu terasa lebih dalam, lebih nyata, lebih kejam. “Apa salahku?” bisiknya, namun getar suaranya terdengar seperti teriakan putus asa. “Kalau kau ingin pergi … kenapa harus menghancurkanku dulu?” Tidak ada jawaban. Irisha hanya berdiri membatu. Ketakutannya bukan lagi soal kemarahan Revan, tapi tentang apa yang akan terjadi jika Revan sampai tahu kebenarannya. Kebenaran tentang siapa Reino. Tentang darah siapa yang mengalir dalam diri pria itu. Irisha memejamkan mata, seolah berharap bisa bersembunyi di balik kelopak







