MasukDita buru-buru menarik lengan Reino dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Setelah mereka pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Udara terasa berat, menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya menguap. Revan menghampiri Irisha yang duduk di samping ibunya. Ia menunduk, memastikan istrinya baik-baik saja. “Van?” panggil sang ibu lirih. “Ya, Mah?” jawab Revan lembut. “Jaga Irisha dan kandungannya baik-baik,” ucapnya dengan suara bergetar. “Mamah nggak mau satu-satunya penerus keluarga kita sampai kenapa-kenapa.” Revan mengangguk. “Iya, Mah. Aku janji. Aku akan menjaga mereka berdua.” Sang ayah melangkah mendekat, wajahnya sarat kekhawatiran. “Van, Reino dan Dita, mereka berdua sangat ambisius dan keras kepala. Papah justru takut mereka bertindak nekat dan mencelakai Irisha.” Sebelum Revan sempat menjawab, Irisha lebih dulu angkat bicara. “Tenang, Pah,” katanya lembut. “Risha bukan perempuan yang lemah. Dan lagian ada Om Revan sudah berjanji menjag
“Kau pria mandul!” Teriakan dari Reino, seolah menghancurkan benda apa saja yang ada di ruangan itu. Suasana mendadak membeku. Semua orang terpaku, termasuk kedua orang tua Revan yang tampak terpukul oleh ucapan itu. Namun, tidak dengan Irisha. Ia justru tertawa cekikikan, seolah menikmati kekacauan yang terjadi. “Mandul?” Ulang Irisha sambil menyeringai. “Ya!” Reino menunjuk Revan dengan penuh amarah. “Kalau aku bukan anak kandungnya … berarti selama ini pria itu memang mandul!” “Reino, jaga ucapanmu!” potong Dita tajam. Ia segera menarik lengan putranya, mencoba menghentikannya. “Cukup, Mah!” teriak Reino sambil menghempaskan tangannya. “Aku memang bukan anak Revan! Dia bukan ayahku!” Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Reino. Dita gemetar, air mata menggenang di matanya, sementara ruangan itu kembali sunyi, sunyi yang penuh luka dan kehancuran. “Mah …,” ucap Reino terbata, suaranya melemah setelah tamparan itu. Dita menatapnya dengan mata bergetar, menahan a
Keributan kecil mulai terdengar. Semua mata tertuju pada mereka. Revan melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Reino, menatapnya dengan sorot tajam yang menekan. “Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya dingin, amarah terselip jelas di balik nadanya. “Menghancurkanmu!” jawab Reino tanpa ragu. Dita yang melihat emosi putranya semakin tak terkendali segera meraih tangan Reino dengan kuat. “Rei … Rei … tenang dulu,” ucapnya terburu-buru, berusaha menenangkan. “Ini pasti salah paham. Mamah yakin papahmu sedang keliru menilai kita.” “Salah paham?” Revan mengulang dengan nada sinis. Ia menatap Dita tanpa sisa kelembutan. “Dita, akhiri sandiwara ini. Katakan sekarang … siapa sebenarnya ayah kandung Reino.” “Mas, kau benar-benar sudah gila!” teriak Dita histeris. “Reino anak kandung kita! Kau justru percaya pada perempuan gila itu?” tudingnya kasar ke arah Irisha. Irisha tetap diam. Tatapannya lurus, tak gentar, seolah ia tahu, kebohongan yang dipertahankan Dita akan runtuh dengan
Sebelum kain penutup itu dibuka, Revan sempat menatapnya dengan rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. Setahunya, hadiah untuk ayahnya hanya satu. Kejutan demi kejutan dari Irisha membuat dadanya terasa tak tenang. “Silakan buka!” perintah Irisha tegas. Kain penutup pertama disingkap perlahan. Seketika, kilau sebuah jam tangan mewah terpampang jelas, jam koleksi limited edition yang selama ini hanya menjadi impian sang mertua. Pria tua itu mendekat, matanya membesar tak percaya. “Irisha … Revan …” Suaranya bergetar. “Bukankah ini jam terbaru itu? Jam yang hanya ada tiga buah di dunia?” Irisha tersenyum kecil. “Benar, Pah. Irisha mencarinya cukup lama dan tidak mudah mendapatkannya,” balas Revan kali ini. Sang ayah terdiam beberapa detik, lalu wajahnya berubah haru. Ia melangkah mendekat dan memeluk Irisha erat. “Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Papah benar-benar sangat menghargai ini.” “Sama-sama, Pah,” jawab Irisha hangat. “Ayo Om, pasangkan di tan
Setibanya di kamar, Irisha mengepalkan tangannya erat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bergemuruh. “Nyonya Dita … belum saatnya kau hancur,” bisiknya penuh dendam. “Tunggulah. Pembalasanku akan datang, dan aku akan membuat hidupmu hancur, sehancur-hancurnya.” Pintu kamar mandi terbuka. Revan yang baru saja selesai menatap wajah istrinya dengan sorot khawatir. “Kau menangis?” tanyanya pelan. Irisha segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu memaksakan senyum. “Tidak,” jawabnya cepat. “Ini … tangisan bahagia.” Revan menatapnya lekat, seakan ingin menembus kebohongan itu. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Irisha mengangguk pelan, meski suaranya sedikit bergetar. “Ya … yakin.” Revan menariknya ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Apa mereka mengganggumu lagi?” tanyanya penuh perhatian. Irisha menggeleng ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak. Justru aku yang mengganggu mereka.” Revan terkekeh kecil, men
“Ouhh … Om, jangan keras-keras, sakit tahu!” Mata Reino membulat. Dadanya seolah diremas. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang ia dengar dari balik telepon. “Irisha, papahku di mana?” tanyanya ketus, amarah mulai merayap di suaranya. “Siapa?” sahut Irisha ringan. “Maaf, nggak kedengeran. Aku lagi sibuk.” “Irisha!” Reino meninggikan suara. “Halo, kau dengar aku, kan?” “Ya, Rei … ada apa?” jawabnya seolah santai. “Halo, Rei … sinyalnya jelek. Ahhh ….” Desahan terakhir itu menjadi penutup panggilan. Telepon terputus, disusul tawa kecil Irisha yang terdengar puas. Reino menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding. Kulit tangannya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadanya. “Sialan!” bentaknya. “Kau benar-benar pelacur, Risha!” Dita yang mendengar teriakan itu segera mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Rei, bagaimana?” tanyanya cepat. “Apa Revan sudah menjawab?” Reino menggeleng keras. “Belum, Mah.







