LOGINKeributan kecil mulai terdengar. Semua mata tertuju pada mereka. Revan melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Reino, menatapnya dengan sorot tajam yang menekan. “Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya dingin, amarah terselip jelas di balik nadanya. “Menghancurkanmu!” jawab Reino tanpa ragu. Dita yang melihat emosi putranya semakin tak terkendali segera meraih tangan Reino dengan kuat. “Rei … Rei … tenang dulu,” ucapnya terburu-buru, berusaha menenangkan. “Ini pasti salah paham. Mamah yakin papahmu sedang keliru menilai kita.” “Salah paham?” Revan mengulang dengan nada sinis. Ia menatap Dita tanpa sisa kelembutan. “Dita, akhiri sandiwara ini. Katakan sekarang … siapa sebenarnya ayah kandung Reino.” “Mas, kau benar-benar sudah gila!” teriak Dita histeris. “Reino anak kandung kita! Kau justru percaya pada perempuan gila itu?” tudingnya kasar ke arah Irisha. Irisha tetap diam. Tatapannya lurus, tak gentar, seolah ia tahu, kebohongan yang dipertahankan Dita akan runtuh dengan
Sebelum kain penutup itu dibuka, Revan sempat menatapnya dengan rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. Setahunya, hadiah untuk ayahnya hanya satu. Kejutan demi kejutan dari Irisha membuat dadanya terasa tak tenang. “Silakan buka!” perintah Irisha tegas. Kain penutup pertama disingkap perlahan. Seketika, kilau sebuah jam tangan mewah terpampang jelas, jam koleksi limited edition yang selama ini hanya menjadi impian sang mertua. Pria tua itu mendekat, matanya membesar tak percaya. “Irisha … Revan …” Suaranya bergetar. “Bukankah ini jam terbaru itu? Jam yang hanya ada tiga buah di dunia?” Irisha tersenyum kecil. “Benar, Pah. Irisha mencarinya cukup lama dan tidak mudah mendapatkannya,” balas Revan kali ini. Sang ayah terdiam beberapa detik, lalu wajahnya berubah haru. Ia melangkah mendekat dan memeluk Irisha erat. “Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Papah benar-benar sangat menghargai ini.” “Sama-sama, Pah,” jawab Irisha hangat. “Ayo Om, pasangkan di tan
Setibanya di kamar, Irisha mengepalkan tangannya erat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bergemuruh. “Nyonya Dita … belum saatnya kau hancur,” bisiknya penuh dendam. “Tunggulah. Pembalasanku akan datang, dan aku akan membuat hidupmu hancur, sehancur-hancurnya.” Pintu kamar mandi terbuka. Revan yang baru saja selesai menatap wajah istrinya dengan sorot khawatir. “Kau menangis?” tanyanya pelan. Irisha segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu memaksakan senyum. “Tidak,” jawabnya cepat. “Ini … tangisan bahagia.” Revan menatapnya lekat, seakan ingin menembus kebohongan itu. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Irisha mengangguk pelan, meski suaranya sedikit bergetar. “Ya … yakin.” Revan menariknya ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Apa mereka mengganggumu lagi?” tanyanya penuh perhatian. Irisha menggeleng ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak. Justru aku yang mengganggu mereka.” Revan terkekeh kecil, men
“Ouhh … Om, jangan keras-keras, sakit tahu!” Mata Reino membulat. Dadanya seolah diremas. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang ia dengar dari balik telepon. “Irisha, papahku di mana?” tanyanya ketus, amarah mulai merayap di suaranya. “Siapa?” sahut Irisha ringan. “Maaf, nggak kedengeran. Aku lagi sibuk.” “Irisha!” Reino meninggikan suara. “Halo, kau dengar aku, kan?” “Ya, Rei … ada apa?” jawabnya seolah santai. “Halo, Rei … sinyalnya jelek. Ahhh ….” Desahan terakhir itu menjadi penutup panggilan. Telepon terputus, disusul tawa kecil Irisha yang terdengar puas. Reino menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding. Kulit tangannya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadanya. “Sialan!” bentaknya. “Kau benar-benar pelacur, Risha!” Dita yang mendengar teriakan itu segera mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Rei, bagaimana?” tanyanya cepat. “Apa Revan sudah menjawab?” Reino menggeleng keras. “Belum, Mah.
Keesokan paginya, Irisha menggandeng Revan menuju sebuah studio foto ternama. Begitu tiba, matanya langsung menyapu ruangan, lalu jarinya menunjuk salah satu pelayan butik yang berdiri tak jauh dari sana. “Tolong bantu suami saya ganti pakaian,” pintanya singkat. Sementara itu, Irisha melangkah menuju ruangan lain. Senyum tipis terukir di bibirnya ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sebuah kejutan yang hanya ia sendiri tahu. Revan kini berdiri di depan cermin besar. Tubuhnya terbalut jas rapi, lengkap dengan bunga kecil yang terselip di saku dada. Ia memandangi bayangannya sendiri cukup lama, seolah belum benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya. “Memang harus seperti ini?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar ragu. “Apa aku tidak terlihat … aneh dan berlebihan?” Pelayan butik itu tersenyum ramah. “Tenang saja, Pak. Anda terlihat sangat pantas. Percaya atau tidak, Bapak justru tampak jauh lebih muda.” Namun, kegugupan tetap terpancar jelas dari wajah Revan. Ia
Ada keraguan samar di mata Revan. Bagaimana bisa ia percaya pada wanita yang dulu justru ingin melihatnya hancur? Pertanyaan itu menggantung di udara, tapi Irisha lebih dulu menjawab tanpa ditanya. Ia mengangkat wajah Revan, kedua tangannya menahan dengan lembut. “Percayalah padaku, Om … aku tidak akan pernah mengkhianati kamu.” Butiran sisa air mata masih bertahan di sudut mata Revan. Ia mengangguk pelan. Pasrah atau mungkin mulai percaya. Irisha tersenyum kecil. “Nah, begitu. Ini baru suamiku. Tegas. Dingin. Bukan pecundang yang larut dalam penyesalan.” Sudut bibir Revan terangkat samar. Untuk pertama kalinya, hatinya terasa sedikit ringan. Irisha pun beranjak, mengambil kotak obat. “Sini. Aku obati dulu.” Belum sempat Revan bersiap, Irisha menyentuh lukanya dengan cairan antiseptik. “A-aduuh!” desis Revan, menahan nyeri. “Tahan,” kata Irisha tanpa merasa bersalah sama sekali. “Sebentar lagi juga selesai. Kau dokter, kan? Kalau kau obati pasien pasti kau tahu rasan







