Se connecter"Aku tahu kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya, Alena. Tapi perusahaanku tidak punya banyak waktu.Aku menawarkan proposal kerja sama investasi antara Hartawan Corp dan Bramantyo Group. Ini adalah transaksi yang adil. Kemarin di kantor, aku hanya menunjukkan sebagian kecil dari dokumen itu sebagai bukti.Aku memegang seluruh berkas lengkap beserta bukti otentik keterlibatan keluarga besar Regantara dalam tragedi satu tahun lalu. Tandatangani kerja sama ini besok sore, dan seluruh berkas utuh itu akan menjadi milikmu sepenuhnya. Aku tunggu jawabanmu sebelum jam 3 sore." Penawaran Rafael begitu halus namun sangat menyudutkannya. Rafael dengan sengaja memegang kartu as—fakta bahwa ia masih menyimpan sisa dokumen lengkap yang belum ditunjukkannya. Alena kini benar-benar dijepit oleh dilema besar: menyetujui kerja sama yang akan menyelamatkan perusahaan keluarga Rafael demi mendapatkan sisa bukti itu, atau menolaknya dan berisiko kehilangan jejak selamanya. Alen
Panggilan telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat dan serak khas pria paruh baya di seberang sana."Halo, Non Alena?" sapa Pak Adrian dengan nada terkejut sekaligus hangat. "Ada apa menelepon larut malam begini, Non? Apakah ada masalah penting di kantor atau ada sesuatu yang terjadi?"Alena memusatkan seluruh fokusnya. Ia mencoba merapikan intonasi suaranya agar tidak terdengar panik atau penuh prasangka."Maaf mengganggu waktu istirahat Pak Adrian," tutur Alena pelan dan penuh hormat. "Saya ... sebenarnya ada satu hal yang tiba-tiba mengusik pikiran saya, Pak.""Sampaikan saja, Non. Apa yang bisa saya bantu?" sahut Pak Adrian ramah.Alena mengambil napas pendek, lalu bertanya dengan nada hati-hati. "Ini tentang Regan, Pak Adrian. Saya tiba-tiba terpikir ... bagaimana alur sejarahnya sampai Regan akhirnya bisa bertemu kembali dengan keluarga kandungnya—keluarga besar Regantara? Bisakah Pak Adrian menceritakannya sedikit pada saya?"Di seberang telepon, P
Alena memundurkan langkahnya satu tapak, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin bagai es. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan rasa sakit dan kebingungan yang teramat sangat. Ia begitu sulit untuk menerima bahwa pria yang baru saja ia beri kesempatan untuk masuk ke dalam hatinya, mungkin memiliki keterikatan darah dengan tragedi terbesar dalam hidupnya."Aku ... aku tidak bisa mempercayai ini begitu saja hanya dari selembar kertas milikmu, Rafael," bisik Alena parau, tenggorokannya terasa begitu kering.Rafael menyunggingkan senyum tipis yang amat samar—senyuman dari seorang pria yang berhasil menanamkan benih keraguan mematikan di hati wanita yang diinginkannya. Malam makin larut tatkala mobil Regan berhenti di pelataran vila pribadi milik Alena. Lampu depan kendaraan memancarkan pendar hangat, menembus selimut kegelapan malam yang tenang.Begitu melangkah keluar dari mobil, mata tajam Regan seketika menangkap sosok Alena. Wanita itu berdiri mematung di depan
Alena masih mematung di area balkon luar hotel, menggenggam ponselnya yang bersuhu dingin dengan telapak tangan bergetar. Gema ancaman Rafael membakar seluruh pikirannya. Kebenaran di balik kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya belasan tahun lalu adalah luka terbesar dalam hidupnya—sesuatu yang selalu ingin ia tuntaskan.Mengambil napas panjang untuk menetralkan kepanikannya, Alena merapikan gaun sutranya lalu melangkah kembali ke dalam Grand Ballroom.Di sana, Regan tampak sedang berbincang dengan beberapa pengusaha elit. Namun begitu menyadari kehadiran Alena, mata tegas Regan langsung tertuju padanya. Pria itu pamit sejenak dari lawan bicaranya dan melangkah mendekat."Ada apa, Lovely? Wajahmu tampak pucat," tanya Regan peka, tangannya terulur mengelus jemari Alena yang dingin.Alena mencoba menyunggingkan senyum setenang mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat. Ia tidak ingin menyeret Regan ke dalam ancaman Rafael sebelum melihat sendiri kebenaran dokumen itu."R
Setelah memikirkan dengan tenang, akhirnya Alena menerima ajakan Regan. Meski awalnya penuh keraguan. Namun, Alena mencoba yakin jika pilihannya tepat.Malam itu, di dalam kendaraan mewah yang meluncur membelah jalanan malam Kota Hilstown, Alena menatap keluar jendela. Gaun malam berwarna navy blue berbahan sutra yang mengenakannya memantulkan pendar lampu kota dengan amat anggun. Di sampingnya, Regan menggenggam jemari Alena dengan lembut, sesekali memberikan remasan hangat untuk menenangkan keraguan wanita itu."Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Alena," bisik Regan dengan suara bariton yang begitu tenang. "Terima kasih sudah mau melangkah bersamaku malam ini."Alena menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Aku sudah berjanji padamu untuk tidak melarikan diri lagi, Regan."Begitu mobil mereka berhenti di depan pelataran Grand Ballroom hotel bintang lima tempat acara amal berlangsung, puluhan kilatan cahaya kamera jurnalis langsung menyambut kedatangan mereka. Regan turu
Beberapa hari pasca-liburan singkat di pantai yang penuh dinamika, Alena telah kembali menjalankan rutinitasnya sebagai pimpinan Arta Group. Pagi itu, dengan balasan setelan blazer elegan berwarna krem yang memancarkan aura kepemimpinan yang anggun dan berkelas, Alena melangkah mantap menyusuri koridor utama gedung Arta Group.Namun, di belokan lorong menuju ruang rapat direksi, langkah Alena mendadak tertahan sejenak. Dari arah berlawanan, sosok Alres berjalan mendekat.Pemandangan pria itu seketika menyita perhatian. Penampilan Alres kini jauh berbeda jika dibandingkan dengan sosok direktur utama yang selalu tampil perfeksionis dan angkuh seperti dulu. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus, dan raut ketegasan di matanya kini berganti menjadi sorot kedewasaan yang tenang, meski gurat-gurat penyesalan mendalam masih menyisa tipis di pelipisnya.Alres tidak lagi memancarkan amarah, keputusasaan, atau histeria seperti saat berlutut di restoran waktu itu. Pria itu kini tampak sedang berusa







