LOGINLangkah kaki yang tergesa-gesa menggema riuh di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown. Dion, Rafael, Kevin, dan Angel berjalan cepat dengan raut wajah panik dan tidak percaya. Kabar penangkapan Keira atas tuduhan pencemaran nama baik hingga percobaan pembunuhan yang disampaikan Alres via telepon benar-benar menghantam mereka bagai petir di siang bolong.Setibanya di depan kamar rawat VIP, langkah mereka terhenti sejenak. Dua petugas kepolisian berseragam lengkap berdiri tegap bersama beberapa pria berjas hitam dengan postur tubuh tinggi tegap, menjaga pintu kamar tersebut dengan ketat dan mengintimidasi. Beruntung, setelah dokter pribadi Keira keluar dan memberikan izin, mereka dipersilakan masuk satu per satu.Di dalam kamar, Keira masih terbaring kaku tak sadarkan diri di atas bangsal dengan selang infus menancap di tangannya. Sementara Alres terduduk di sofa ujung ruangan, memijat pelipisnya dengan raut wajah yang amat gelisah dan lesu."Alres! Ini beneran?!" Kevin membuka suar
Langkah kaki Regan terhenti di anak tangga pertama. Dahinya berkerut dalam, menatap ke arah pintu utama yang berukir megah. Jam dinding raksasa di sudut ruang tengah menunjukkan hampir pukul satu malam. Siapa yang bertamu di jam yang teramat tak lazim ini?Dengan langkah tenang namun waspada, Regan memutar arah jalannya menuju ruang tamu. Ia menarik napas panjang sebelum memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.Rasa terkejut seketika menghantam Regan saat sosok wanita paruh baya bertubuh anggun, dibalut gaun malam mahal dan mantel bulu elegan, berdiri di balik pintu. Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibirnya yang terpoles lipstik merah ceri."Mami ...?" gumam Regan, matanya membelalak pelan. "Kapan Mami pulang dari Bristown? Kenapa langsung ke sini dan bukannya ke kediaman utama?"Miranti, ibunda Regan, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. Suara ketukan high heels-nya menggelegar ritmis di atas lantai marmer, menebarkan aroma parfum mawar Prancis yang kuat
Di dalam kabin mobil mewah yang melaju tenang membelah keheningan malam kota, aroma leather berpadu dengan wangi parfum maskulin milik Regan.Regan melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya, tempat Alena duduk termenung menatap keluar. Jemari wanita itu saling bertautan di pangkuannya, menyiratkan sisa-sisa ketegangan dari apa yang baru saja terjadi di rumah sakit dan aula pesta."Alena," panggil Regan lembut, memecah kesunyian yang sempat mendominasi. "Kamu tampak begitu tenang, tapi aku tahu pikiranmu sedang melayang ke mana-mana. Apa kamu benar-benar yakin tidak ingin menuntut semua kasus Keira secara bersamaan? Termasuk menyeret Angel yang selama ini menjadi kaki tangannya?"Alena menoleh perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Dua dakwaan itu—pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan di eskalator—sudah lebih dari cukup untuk membuat Keira mendekam sangat lama di balik jeruji besi, Regan. Hukum akan bekerja setimpal padanya."Alena
"Apa maksud kalian?!" Alres membentak, matanya menatap tajam para pria berjas yang ternyata didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap.Petugas polisi melangkah maju seraya mengacungkan sebuah amplop dokumen resmi. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama Nona Keira. Beliau resmi dilaporkan atas kasus pencemaran nama baik serta penyebaran berita bohong terhadap Nona Alena. Selain itu, berdasarkan bukti baru yang diserahkan, Nona Keira juga dijerat pasal percobaan pembunuhan atas insiden di mal, di mana beliau terbukti sengaja mendorong Nona Alena dari atas eskalator.""Apa?!" Alres terperanjat hebat, kaget setengah mati. Wajahnya pucat seketika. "Apakah Anda tidak salah tuduhan?! Keira tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"Polisi menyerahkan surat perintah penangkapan beserta berkas salinan bukti kepada Alres. Dengan tangan yang gemetar hebat, Alres membaca setiap lembar dokumen tersebut. Di dalamnya terlampir rekaman CCTV mal yang memperlihatkan gera
Di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown yang lengang, Alres berdiri bersandar pada dinding dingin di depan ruang perawatan VIP. Pakaiannya yang sempat basah kini berganti kemeja kering yang dibawakan asistennya.Pikirannya melayang jauh kembali ke area kolam renang tadi. Suara tenang Alena dan sindirannya yang menohok tentang insiden danau bertahun-tahun lalu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan gema. “Aku melihat kamu sama sekali tidak bisa berenang sampai hampir tenggelam. Bukankah itu aneh?"Alres memijat pelipisnya yang berdenyut. Keraguan sempat menyusup ke dadanya saat melihat Keira kepakan tangan dan tenggelam begitu mudah. Namun, alasan yang diberikan Keira—soal kram mendadak akibat dingin dan trauma mendalam semenjak menyelamatkannya dulu—terdengar sangat masuk akal bagi Alres.Lagipula, Alres tidak punya alasan untuk meragukan Keira; bukti yang dimiliki wanita itu sewaktu menyelamatkannya puluhan tahun lalu terlalu kuat untuk disanggah. Hanya saja, instingnya teta
Tanpa mengulurkan waktu, Regan memberi isyarat tegas pada kepala keamanan. Layar monitor besar di sudut lorong aula yang terhubung langsung dengan sistem keamanan pusat seketika menampilkan rekaman CCTV dari area kolam renang. Para tamu undangan membendung area tersebut, menatap layar dengan rasa penasaran yang memuncak.Video diputar dalam kecepatan normal lalu diperlambat tepat di detik-detik krusial.Di layar itu, terlihat jelas Alena sedang berbalik hendak melangkah pergi. Namun dari arah belakang, Shanon melesat maju dengan kedua tangan terulur penuh dorongan ganas. Di saat yang hampir bersamaan, Keira juga bergerak agresif menghampiri Alena dari sudut berbeda. Namun, gerakan refleks Alena yang gesit berkelit membuat dorongan kuat Shanon menghantam tubuh Keira. Keira yang hilang pijakan panik dan secara refleks mencengkeram baju Shanon, menarik mereka berdua jatuh berbarengan ke dalam kolam.Kenyataan pahit itu terpampang nyata di depan mata puluhan pasang mata kolega kelas atas.







