MasukKlub malam Eclipse berkilau dalam balutan lampu neon temaram yang memantul di atas lantai dansa bergemerlap. Dentuman musik deep house berbass rendah menghentak dada, memadati ruangan yang dipenuhi oleh para kaum elite kota, pengusaha, serta lingkaran dalam Paman Haris. Di salah satu sudut VIP yang agak tersembunyi namun memiliki pandangan jelas ke lantai dansa, Alena dan Regan bersiap dalam penyamaran mereka.Meskipun menyamar, penampilan keduanya sama sekali tidak kehilangan pesona alami mereka. Alena dan Regan mengambil peran sebagai pelayan malam itu—sebuah kedok sempurna untuk mengawasi situasi tanpa menarik perhatian dari orang-orang berjas rapi di sekitar area VIP.Mengenakan kemeja rapi berkerah dengan rompi pelayan dan rambut yang diikat rapi, Alena membawa nampan berisi gelas-gelas kristal berisi sampanye. Di sisi lain, Regan berdiri tegap dengan balutan seragam serupa, tatapan matanya setajam elang mengawasi setiap gerak-gerik di area lantai dansa. Sementara itu, Biru menya
"Tunggu, dengar dulu!" Bella mengangkat kedua tangannya, berusaha meredam kepanikan Alena dan Biru yang kompak menolak idenya tadi. "Kalian tidak usah panik begitu. Antoni dan orang-orang lingkaran dalam Paman Haris itu tidak mengenalku. Aku bisa masuk dengan mudah dan berpura-pura menjadi perwakilan dari salah satu keluarga elite luar kota."Regan mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Tetap saja terlalu beresiko, Bell. Lingkungan Antoni bukan tempat yang aman untuk dimainkan sembarangan. Kalau identitas palsumu terbongkar—""Tunggu sebentar, Re. Aku setuju sama Regan soal ini," sela Biru tiba-tiba, memotong ucapan Bella. Pria itu melangkah maju dengan ekspresi tidak setuju yang terpatri jelas di wajahnya. "Ide ini terlalu berbahaya, Bell. Kamu sedang berhadapan dengan tikus-tikus berdasi yang licik.”Bella ingin membantah, tetapi Biru tetap melanjutkan ucapannya.“Kalau sampai ada satu saja orang di lingkaran Antoni yang curiga atau mengenali gerak-gerikmu, keselamatanmu taruhannya. Ki
Setelah kepergian Biru dan Bella ke teras luar, ruang tengah itu kembali diliputi keheningan yang intens. Regan masih berdiri tegak beberapa langkah di hadapan Alena, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh harap dan kelembutan yang mati-matian ia tahan.Alena membuang muka, menggigit bibir bawahnya pelan. Ia tahu benteng pertahanannya hampir runtuh sepenuhnya akibat insiden panik tadi. Namun, gengsi dan sisa-sisa kewarasannya menolak untuk menyerah begitu saja.Bagi Alena, memaafkan Regan detik ini sama saja dengan mengkhianati kenangan orang tuanya. Ia bertekad pada dirinya sendiri: ia tidak akan melunak sepenuhnya, tidak akan kembali ke pelukan pria itu, sampai ia memegang bukti nyata bahwa keluarga Regantara—terutama mendiang ayah Regan—benar-benar bersih dari konspirasi busuk tersebut.Meski demikian, ego dinginnya tidak sanggup mengusir pria itu begitu saja.Alena melirik sekilas ke arah meja makan kecil di sudut ruangan yang sudah terhidang seporsi sarapan hangat. Dengan rau
Regan melangkah cepat menghampiri pintu utama Vila Amarilis dan membukanya. Namun, alih-alih mendapati anak buah Paman Haris atau informan misterius, sosok yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan napas terengah-engah justru adalah Bella."Bella?" Regan bersuara dengan nada kaget, keningnya berkerut dalam. "Ada apa? Kenapa kamu bisa—""Re!" potong Bella cepat dengan nada penuh kepanikan yang kentara. "Alena ... di vila sebelah! Tadi pagi aku melihat ada orang berjaket hitam mengawasi kamarnya dari dekat balkon, dan posturnya asing! Aku takut seseorang mengincar Alena!"Mendengar kata "balkon" dan "Alena" dalam satu kalimat, seluruh saraf di tubuh Regan seketika menegang. Seketika itu juga, rasa panik yang luar biasa merajai rongga dadanya—Regan tidak menunggu Bella menyelesaikan kalimatnya atau meminta penjelasan lebih lanjut. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menerobos keluar pintu, berlari kencang membelah halaman rumput yang memisahkan Vila Amarilis dengan kediaman Al
Di kediaman Regantara, Paman Haris berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang, menyesap scotch mahal dari gelas kristalnya. Di balik ekspresinya yang tampak tenang dan berwibawa di hadapan publik, pikirannya tengah berpacu kencang. Selama beberapa hari terakhir, ia merasakan ada kejanggalan yang mengusik ketenangannya.Laporan dari anak buah kepercayaannya di divisi keuangan Regantara Group menyebutkan bahwa beberapa arsip transaksi lama dari tahun transisi kematian ayah Regan tiba-tiba mengalami pergerakan akses yang tidak biasa. IP address internal perusahaan mendeteksi adanya penarikan data dalam jumlah besar—sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang dengan hak akses tingkat tinggi, atau ... seorang CEO.Paman Haris menyipitkan matanya. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum sinis yang dingin.Anak itu ... Regan benar-benar mulai mencariku, batin Paman Haris penuh perhitungan.Selama ini, Paman Haris merasa aman karena ia mengira dokumen-dokumen rekayas
Alena mendorong pintu kaca balkon lebih lebar, matanya menyapu setiap sudut area luar. Namun, alih-alih mendapati Regan berdiri di hadapannya, emperan balkon itu tampak kosong. Hanya ada embun pagi dan udara dingin yang menyapa wajahnya."Siapa di luar, Al?" tanya Bella penasaran, ikut mengintip dari belakang punggung Alena.Alena mengerutkan kening, menggelengkan kepalanya pelan sambil mengedarkan pandangan ke bawah. "Tidak ada siapa-siapa ... Tapi aku yakin tadi aku melihat bayangan seseorang."Tepat saat itu, beberapa meter di bawah balkon, sebuah pemandangan dramatis baru saja terjadi.Sesaat sebelum pintu kaca terbuka, dengan refleks kilat dan tekad bulat untuk tidak memperkeruh keadaan, Regan mengambil keputusan nekat. Ia melompati pagar pembatas balkon lantai dua, meraih tepian dinding dan pilar luar bangunan dengan sigap, lalu bergelantungan sesaat sebelum menjatuhkan diri ke rumput bawah.Beruntung, di balik sosoknya sebagai CEO yang kaku dan terpandang, Regan memiliki fisik







