ANMELDENAlena masih berdiri di depan pintu. Tangannya belum menyentuh gagang pintu ketika dia akhirnya memutuskan untuk melihat siapa yang datang. Dia berjalan mendekati pintu, lalu mengintip melalui lubang keamanan.Alena terdiam. Orang yang berdiri di depan pintunya ternyata Regantara. Tanpa ragu, Alena langsung membuka pintu."Regan?"Regantara tersenyum tipis."Ada apa malam-malam begini?" tanya Alena.Regantara tidak langsung menjawab. Dia justru mengangkat kedua tangannya. Di tangannya terdapat dua paper bag berwarna cokelat dengan logo restoran ternama. "Kamu pasti belum makan malam."Alena mengerjapkan mata."Ayo kita makan."Alena tersenyum kecil. "Tidak perlu. Aku tidak lapar."Begitu kalimat itu selesai, terdengar suara dari perutnya. Alena langsung terdiam. Wajahnya berubah sedikit malu.Regantara menahan senyum. "Perutmu ternyata tidak bisa berbohong.""Regan ...." Alena menatapnya kesal, tetapi sudut bibirnya justru terangkat.Regantara terkekeh. "Aku sudah menduga kamu belum ma
Alena masih duduk di kursi yang sama meskipun kafe sudah semakin sepi. Percakapan Rafael dan Keira terus terngiang di kepalanya. Kematian kedua orang tua Alena setahun lalu.Kalimat itu berulang-ulang memenuhi pikirannya. Alena bahkan tidak menyadari berapa lama dia duduk di sana sampai seorang penjaga kafe menghampirinya."Maaf, Kak."Alena mengangkat wajah."Kafe kami sebentar lagi tutup."Alena mengerjapkan mata. Dia baru menyadari bahwa sebagian besar meja di sekelilingnya sudah kosong. Hanya ada beberapa pelayan yang sibuk membereskan meja."Maaf." Alena segera mengambil tasnya dan berdiri. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan meja, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang.Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Seseorang segera menangkap lengannya."Alena."Alena mendongak. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata yang sangat dikenalnya. Regantara membantu Alena untuk berdiri lebih tegak.Entah kenapa, begitu melihat wajah pria itu, pertahanan Alena yang sejak tadi dia bangu
Alena memperhatikan interaksi keduanya, pria itu terlihat memberikan sesuatu pada Keira, seperti sebuah hardisk komputer. Mungkinkah itu hardisk miliknya dulu, Alena masih belum bisa memastikannya.Alena masih tidak bergerak. Ia masih tidak mempercayai sosok yang tengah ia ikuti adalah Rafael. Pria yang selama ini paling sering berdiri di pihaknya. Pria yang beberapa kali membelanya ketika Alres bersikap tidak adil kepadanya. Bahkan setelah perceraian mereka tetap memperlakukannya dengan baik.Bagaimana mungkin? Alena menarik napas pelan. Namun, Alena tidak ingin larut dalam ketidakpercayaannya, buktinya pria itu ada di hadapan Keira saat ini. Dia harus memastikan apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu.Alena tidak mungkin mendekati mereka secara langsung. Karena itu, dia mencari posisi yang lebih dekat.Setelah memastikan Keira dan Rafael tidak memperhatikannya, Alena berjalan memutar menuju bagian dalam kafe. Ada sekat kayu yang memisahkan beberapa meja, cukup tinggi untuk menu
Alena masih memperhatikan gerak-gerik pria itu, ia juga tidak lupa merekam kegiatannya di depan komputer, Alena juga sempat melihat kartu akses yang tadi sempat digunakan pria tersebut.Alena terus memperhatikan pria tersebut diam-diam. Kali ini dia tidak berniat menghampirinya. Alena mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik pesan.Regan, aku menemukan seseorang di Arta Group. Dia memakai komputer Angel dan baru saja login ke My Lovely.Tidak sampai beberapa detik, pesan balasan masuk. Jangan dekati dia. Ikuti dari jarak aman kalau kamu bisa. Aku akan menyusul.Alena mengangguk kecil meskipun Regan tidak mungkin melihatnya. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.Pria itu masih berada di depan komputer Angel. Sesekali dia menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang yang datang. Setelah beberapa menit, dia berdiri.Alena segera menundukkan tubuhnya dan bersembunyi di balik dinding.Pria itu keluar dari ruang departement desain.Alena menunggu beberapa detik sebelum mengikutin
Keheningan cukup lama terjadi di antara Alres dan Alena.Alres masih menatap meja di hadapannya, seolah kembali mengingat kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu."Usiaku baru dua belas tahun saat itu," akhirnya Alres membuka suara. "Satu hari sebelum ayahmu membawa kami keluar dari panti asuhan."Alena tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya, dia tidak terlalu ingin mendengar cerita masa lalu Alres. Namun, entah kenapa, kali ini dia tetap diam."Kamu ingat ada sebuah danau kecil di sekitar panti," lanjut Alres. "Anak-anak sering bermain di sana, meskipun pengurus panti sudah berkali-kali melarang."Alres berhenti sebentar. "Aku pernah jatuh ke dalamnya saat mengambil bola."Alena menatapnya sekilas. Ia mengingat danau itu, dulu saat mengunjungi panti bersama Ayahnya, Alena pernah bermain di sana. Namun, Alena samar-samar mengingatnya, seperti melupakan sesuatu."Aku sebenarnya bisa berenang. Namun, kakiku tiba-tiba keram."Suara Alres terdengar lebih pelan. "Semakin aku berusaha naik
"Alena, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"Langkah Alena yang semula hendak meninggalkan meja langsung terhenti. Alres melangkah maju mendekatinya. Alena menarik napas pelan sebelum menoleh. Benar saja, pria itu berdiri beberapa langkah dari mejanya.Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Alena sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Alres, apalagi hanya berdua seperti ini. Setelah apa yang terjadi di antara mereka, Alena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.Dia mengambil tasnya. "Aku pergi dulu."Namun, baru saja Alena hendak melangkah, Alres menahannya. "Tunggu, kita perlu bicara."Alena menatap tangan Alres yang masih menahan kursinya, lalu menatap wajah pria itu dengan kesal. "Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu.""Aku hanya ingin bicara sebentar.""Aku tidak punya waktu.""Aku tahu." Alres menghela napas. "Makanya, sebentar saja."Alena menatapnya beberapa detik. Sebenarnya dia ingin menolak. Namun, semakin Alres mema







