Se connecterPagi berikutnya, Alena tiba di Arta Group lebih awal dari biasanya. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan pertanyaan Regantara. Kenapa dia yang harus mengingat masa lalu mereka.Seketika pikiran Alena terbagi dua, antara masa lalunya dengan Regantara yang terlupakan, dan masa kini yang harus mulai ia rencanakan. Termasuk menjalani pekerjaan barunya menjadi wakil direktur utama.Sejak resmi menjadi wakil direktur, ia tahu cara orang-orang memandangnya sudah berubah. Kemarin, beberapa karyawan masih membicarakannya sebagai mantan istri Alres. Hari ini, ia adalah salah satu orang yang memiliki wewenang dalam perusahaan.Alena tidak ingin perubahan itu membuatnya terburu-buru. Ia justru ingin memulai dengan memahami kembali perusahaan dari dalam.Begitu sampai di ruang kerjanya, Alena meminta beberapa dokumen kepada sekretaris. “Bisa tolong siapkan struktur organisasi terbaru, daftar kepala divisi, dan laporan proyek yang sedang berjalan?”“Baik, Bu Alena.”“Termasuk prosedur ak
Setelah Pak Adrian dan keluarganya pulang, suasana di Villa Amarilis kembali tenang.Alena membereskan beberapa piring yang masih berada di meja makan, sementara Regantara berdiri di teras sambil menerima telepon.Pria itu memang tidak langsung pulang. Setelah makan malam selesai, ia mengatakan masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.Alena tidak mempermasalahkannya. Malam itu sebenarnya cukup menyenangkan. Tidak ada pembicaraan tentang Keira, Alres, atau masalah perusahaan yang biasanya memenuhi pikirannya.Hanya makan malam sederhana dan percakapan ringan. Setelah dapur kembali rapi, Alena keluar membawa dua gelas air. Namun, Regan masih berbicara di telepon.Alena meletakkan salah satu gelas di meja teras. “Minum dulu kalau sudah selesai,” katanya.Regan mengangkat tangan sebagai tanda mengerti. Alena mengangguk lalu kembali masuk.Beberapa menit kemudian, ia mendengar suara pagar terbuka dan tertutup. Mungkin pria itu pulang terlebih dulu untuk mengambil sesuatu
Sepulang dari Arta Group, Alena langsung menuju Villa Amarilis. Hari ini terasa jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Bukan karena rapatnya berlangsung terlalu lama, tetapi karena untuk pertama kalinya ia harus duduk di tengah para pemegang saham sebagai bagian dari jajaran manajemen perusahaan.Ia masih memikirkan banyak hal ketika melihat Regantara sedang duduk di teras rumahnya. Pria itu tampak santai dengan sebuah laptop di hadapannya. Begitu melihat Alena melewati rumahnya, Regan langsung melambaikan tangannya.Melihat lambaian tangan Regan, Alena pun menanggapi dengan lambaian tangannya. Alena berpikir ia harus mengucapkan terima kasih, ia pun menghampiri Regantara.“Sudah pulang?”Alena mengangguk. “Sudah.”Regan memperhatikan wajahnya beberapa saat. “Sepertinya kamu terlihat sangat lelah? Bagaimana Rapatnya, berjalan lancar?”Sebelum menjawab, Alena meletakkan tasnya di kursi terdekat sebelum duduk di hadapan Regan. “Sangat melelahkan ... tapi berkatmu, semuanya be
Rapat akhirnya selesai. Setelah keputusan disahkan, Alena resmi menduduki posisi sebagai wakil direktur Arta Group.Para pemegang saham mulai meninggalkan ruang rapat satu per satu. Alena masih merapikan beberapa dokumen ketika Alres menghampirinya.Pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah dingin. “Ternyata selama ini kamu berhasil menyembunyikannya dengan baik.”Alena mengangkat wajah. “Menyembunyikan apa?”“Kemampuanmu.”Alena mengerutkan kening. “Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu.”Alres terdiam.Alena menutup dokumen di tangannya. “Tapi kamu yang tidak pernah mau tahu tentang aku.”Ucapan itu membuat Alres tidak langsung menjawab. Ia menatap Alena cukup lama. Selama ini ia memang mengenal Alena sebagai istrinya. Namun, semakin banyak hal yang muncul setelah perceraian mereka, semakin ia menyadari bahwa perempuan yang selama lima tahun hidup bersamanya ternyata menyimpan begitu banyak sisi yang tidak pernah ia ketahui.Mungkinkah perubahan Alena yang ia lihat hari i
Suasana ruang rapat kembali memanas. Beberapa pemegang saham masih terlihat tidak puas setelah mendengar penjelasan Pak Adrian.“Saya tetap tidak setuju.”Seorang pria yang duduk di sisi kanan meja mengangkat tangan. “Nona Alena memang memiliki saham terbesar, tetapi pengalaman beliau dalam mengelola perusahaan masih sangat minim.”Beberapa orang mengangguk setuju. “Benar. Menjadi pemegang saham terbesar tidak otomatis membuat seseorang mampu mengelola perusahaan.”“Arta Group bukan perusahaan kecil yang bisa dipelajari dalam beberapa hari.”“Apalagi langsung menduduki posisi wakil direktur.”Alena tetap diam. Ia sempat melirik pada Keira yang terlihat puas dengan perdebatan mereka.Alena mengabaikan raut wajah Keira. Ia mendengarkan semua keberatan itu tanpa memotong.Pak Adrian justru terlihat tenang. “Saya memahami kekhawatiran Anda semua.” Ia meletakkan dokumen di atas meja. “Namun, saya perlu mengingatkan satu hal.”Semua orang kembali memperhatikannya.“Berdasarkan struktur kepe
“Tunggu, apa maksud semua ini? Kami tidak akan setuju jika posisi wakil direktur diduduki oleh orang yang tidak kompeten!”Suara itu membuat seluruh ruangan mendadak hening. Semua orang menoleh ke arah pintu. Keira berdiri di sana dengan wajah tegang.Ia baru saja menerobos masuk tanpa meminta izin. Napasnya sedikit memburu, sementara tatapannya tertuju kepada Alena.Alena tetap duduk dengan tenang. Ia sudah bisa menebak siapa yang akan merasa paling terganggu dengan rapat ini.Keira melangkah masuk. “Apa haknya sampai dia bisa meminta posisi wakil direktur?” tanyanya lagi.Alres yang duduk tidak jauh dari Alena langsung mengernyit. “Keira.”Keira menoleh kepadanya.“Duduklah.”“Tapi, Alres—”“Duduk dan tenang.” Nada suara Alres terdengar tegas.Keira menggigit bibir.Ia masih terlihat tidak puas, tetapi akhirnya berjalan menuju salah satu kursi yang kosong. “Baik.”Ia duduk dengan wajah kesal.Alena hanya meliriknya sebentar, lalu kembali menatap Pak Adrian.Pak Adrian justru terliha







