MasukSenyuman tipis tersungging di bibir Regan saat ia membaca laporan singkat di layarnya. Berita kecelakaan Antoni yang baru saja terjadi sudah sampai di telinganya. Tentu saja itu bukan kebetulan; Regan memang sengaja memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelajaran telak pada sepupunya yang sudah kelewatan batas itu.Namun, anak buah Regan bergerak sangat rapi. Insiden di jalan tol dini hari tadi murni direkayasa sedemikian rupa hingga terlihat seperti kecelakaan tunggal akibat kelalaian murni.Beberapa menit lalu, Mami Miranti bahkan sempat meneleponnya dengan nada panik dan histeris, mengabarkan bahwa Antoni mengalami kecelakaan tunggal dalam keadaan mabuk berat. Akibatnya, kedua kaki sepupunya itu patah parah, dan Antoni kini terancam mendekam di penjara karena terbukti mengemudi di bawah pengaruh alkohol.Regan sama sekali tidak merasa bersalah. Dalam hati kecilnya, ia bahkan masih merasa cukup berbelas kasihan karena tidak sampai mencabut nyawa pria brengsek itu. Bagi Regan, huk
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus kaca jendela vila, namun atmosfer di kamar utama terasa sangat ketat bagi seorang Regan Regantara.Pria yang biasanya menjadi penguasa absolut di meja rapat itu kini tidak berdaya di hadapan tatapan tajam Alena. Saat Regan berniat melangkah keluar dari kamar dengan balutan kemeja kerjanya, Alena langsung berdiri di ambang pintu dengan tangan berkacak pinggang."Mau kemana, Tuan Regan?" tanya Alena dengan nada penuh selidik.Regan berdehem pelan, mencoba memasang wajah meyakinkan. "Ke kantor, Al. Ada rapat penting yang harus—""Tidak ada rapat-rapat," potong Alena tegas, menepis mentah-mentah alasan Regan. "Lukamu masih basah dan butuh istirahat total. Kembali ke tempat tidur sekarang, atau aku benar-benar akan mendiamkanmu seharian."Melihat tatapan mematikan namun penuh perhatian dari wanita di hadapannya, pertahanan Regan runtuh seketika. Ia mengurungkan niatnya, menyerah tanpa perlawanan, dan kembali mendudukkan diri di tepi ranjan
"Alena—!"Jeritan histeris Regan membelah keriuhan taman bermain.Dalam hitungan detik yang sangat krusial, Regan merespons tanpa ragu sedikit pun. Ia melemparkan kedua cone es krim stroberi di tangannya ke sembarang arah dan berlari secepat kilat menerjang jarak di antara mereka. Motor listrik itu bukannya memperlambat laju atau berusaha mengerem, melainkan terus menderu kencang tanpa kendali lurus menyasar Alena.Brak!Tepat sebelum moncong motor melibas tubuh Alena, Regan melompat dan merengkuh pinggang wanita itu dengan sangat erat, memutar posisi mereka di udara. Regan sengaja menjadikan tubuh besarnya sendiri sebagai tameng hidup untuk menahan benturan dan gesekan dengan permukaan jalan pejalan kaki.Keduanya berguling di atas aspal dan rumput taman. Motor listrik itu terus melaju menghantam tiang pembatas sebelum akhirnya sang pengemudi melarikan diri di tengah kerumunan massa yang gempar."Alena! Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?" desis Regan menahan nyeri, matanya menyapu s
Pagi hari di vila pribadi Regan menyambut dengan sinar matahari keemasan yang menembus celah-celah tirai jendela kamar. Suasana di dalam ruangan terasa begitu hangat, jauh berbeda dari ketegangan mencekam yang sempat melanda keluarga Regantara malam sebelumnya.Alena membuka matanya perlahan. Kegelapan dan mimpi buruk yang sempat menghantuinya semalam seolah lenyap begitu saja, tergantikan oleh dekapan hangat yang melingkari tubuhnya. Ia mendongak dan mendapati Regan sudah terbangun, menatapnya dengan senyuman paling lembut yang pernah ia tunjukkan. Tidak ada lagi aura dingin atau intimidasi; yang ada hanyalah sorot mata penuh cinta dan ketulusan."Pagi, Love ...." bisik Regan serak, mengecup kening Alena penuh kelembutan.Alena merona tipis, lalu membalas senyuman itu. Meskipun tidak melakukan apa-apa, keduanya menghabiskan waktu cukup lama di atas ranjang dengan obrolan ringan yang sarat makna. Jarang sekali mereka memiliki waktu tenang tanpa gangguan dari dunia luar. Topik pembicar
Suara gebrakan pintu yang sempat membuat jantung Alena berdegup kencang seketika berubah menjadi kebingungan. Bayangan sosok yang berdiri di ambang pintu dengan napas memburu bukanlah musuh atau anggota keluarga yang berniat membuat keributan, melainkan Biru—sahabat karib Regan yang datang tanpa dosa dan rasa bersalah sedikit pun.Tanpa memedulikan suasana tegang atau keterkejutan di wajah Regan dan Alena, Biru langsung melangkah masuk lebar-lebar. Tanpa permisi, pria itu menyambar pergelangan tangan Regan dan menariknya menjauh dari Alena."Alena ... Sori banget ya aku pinjam Regan sebentar!" seru Biru tanpa beban kepada Alena, sebelum ia menyeret Regan menjauh dari ruang utama.Alena yang masih dilanda sisa-sisa keterkejutan hanya bisa mengerjap pelan. Melihat ekspresi konyol dan santai milik Biru, Alena menghela napas maklum. Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan."Silakan ... aku mau naik ke kamar dulu," ucap Alena sopan, memilih memberi ruang bagi kedua pria itu sebelum melan
Ketukan keras tongkat Oma Risa pada lantai marmer langsung menghentikan segala perdebatan sengit yang nyaris memecah ruang makan. Wanita sepuh itu berdiri dengan tatapan penuh wibawa, memandangi anak-anak dan cucunya satu persatu dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan mendalam."Cukup!" suara Oma Risa menggema tegas, tidak memberikan ruang bagi siapa pun untuk membantah. "Aku tidak mau mendengar perdebatan apa pun lagi di meja makan ini. Jamuan selesai. Silakan bubar!"Mendengar titah mutlak sang matriark, suasana mendadak terdiam kaku. Memanfaatkan situasi yang tidak kondusif itu, Alena perlahan bangkit dari kursinya. Wanita itu merasa bahwa kehadirannya malam ini telah menjadi pusat kekacauan dan perdebatan keluarga Regantara.Dengan sopan, Alena menunduk ke arah Oma Risa dan Mami Miranti. "Oma, Mami ... sepertinya makan malam ini sudah cukup kacau karena keberadaanku. Izinkan aku pamit pulang lebih dulu," ucap Alena lirih namun tegas.Oma Risa dan Mami Miranti menatap Alena







