LOGINNapas Keira memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Pelipisnya dibasahi keringat dingin yang membuat beberapa helai rambutnya menempel acak di dahi. Tatapan matanya menyalang penuh kebencian yang mendalam, terkuat pada sosok Alena yang berdiri begitu anggun dan tenang di dekat pintu."Alres tidak akan pernah benar-benar meninggalkanku! Kamu dengar itu, Alena?!" teriak Keira histeris, suaranya melengking tinggi hingga memantul di dinding-dinding dingin ruang perawatan. "Dia sangat mencintaiku! Dia berutang nyawa padaku! Terlebih lagi ... aku adalah satu-satunya wanita yang menyelamatkannya dari dasar danau kala itu!"Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa panik dan kegilaan, Keira merogoh bagian bawah bantal di ranjang pesakitannya. Jemarinya yang gemetaran menarik keluar sebuah benda kecil yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.Ia menggenggamnya erat-erat, lalu memamerkannya ke udara di hadapan semua orang.Sebuah gelang manik-manik s
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa itu memotong keheningan mencekat di lorong. Semua mata seketika teralih pada sosok pria tinggi berjas hitam—salah satu bodyguard kepercayaan yang ditugaskan Alena untuk mengawal proses pemeriksaan di dalam kamar rawat.Pria itu berhenti beberapa langkah di depan Alena dan Regan, lalu menundukkan kepala dengan takzim."Nona Alena, Tuan Regan," lapor bodyguard itu dengan napas sedikit terengah namun suaranya terdengar sangat mantap. "Prosedur pemeriksaan ulang dan uji laboratorium oleh Tim Forensik Kepolisian serta Kepala Rumah Sakit sudah selesai dilaksanakan secara khusus dan cepat."Laporan singkat itu seketika memecah atmosefer kalut di lorong. Alena merapikan letak blazer-nya, lalu melangkah lebih dulu tanpa mengindahkan Alres yang masih mematung dengan linangan air mata di pipinya. Regan mengiringi langkah Alena dengan protektif, diikuti oleh Dion, Rafael, Kevin, Angel, dan Alres yang melangk
Melihat Angel sibuk mengejar Alena, ponsel Dion di dalam saku jasnya bergetar. Satu pesan masuk dari tim penyelidik lapangan. Setelah membacanya, mata Dion membelalak lebar. Tanpa membuang waktu, Dion segera memanggil Alena yang belum melangkah jauh."Alena, tunggu ...!" seru Dion keras. Ia lalu menoleh dan menarik lengan Alres. "Res, cepat ikuti aku!"Alres yang kebingungan tidak membantah, ia segera menyusul langkah Dion. Kevin dan Rafael pun ikut berlari di belakang mereka.Alena menghentikan langkahnya saat mendengar suara Dion memanggil dari belakang. Ia mengabaikan Angel yang masih merengek, lalu berbalik menatap rombongan itu dengan tatapan dingin."Ada apa lagi, Dion?" tanya Alena datar."Dion, sebenarnya apa yang mau kamu tunjukkan?" selak Alres yang makin tidak sabar.Dion menarik napas panjang, lalu menatap Alena dan Alres bergantian. "Alena, tolong jangan pergi dulu. Ini ada hubungannya dengan insiden danau belasan tahun lalu ...
Dion menatap Alres yang berdiri di sebelahnya. Sejujurnya, di dalam saku jas Dion sudah tersimpan laporan awal mengenai gelang manik-manik dan insiden danau belasan tahun lalu. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk langsung membeberkan segalanya saat itu juga. Namun, Dion menahan diri. Ada satu detail krusial yang masih butuh konfirmasi lanjutan dari saksi kunci di panti asuhan, dan ia tidak boleh memberikan fakta setengah matang yang bisa memicu kekacauan baru.Dion akhirnya mengurungkan niatnya. "Ada beberapa hal kecil dari tim lapangan yang masih harus saya pastikan kembali, Tuan Alres. Saya akan menyampaikan laporan lengkapnya begitu semua bukti tervalidasi."Alres hanya mengangguk kaku, pikirannya terlalu kalut untuk mempertanyakannya lebih jauh.Tak lama kemudian, derap langkah teratur terdengar di lorong. Tim dokter spesialis kebanggaan Alena dari Edward Medical Center tiba bersama dua orang dokter forensik yang ditunjuk resmi oleh pihak kepolisi
"Angel ...." gumam Alena pelan saat matanya mengunci sosok gadis yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah penuh tuntutan.Alena memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh halus. Sebuah senyum miring yang terkesan remeh terukir manis di bibirnya, memancarkan ironi yang begitu kental atas ucapan bernada manipulatif dari Angel barusan."Sok polos dan bertingkah seolah menjadi korban ...." desis Alena dengan suara tenang namun menusuk tajam. "Justru karena kelakuan sok polos dan tipu dayanya itulah, hidupku hancur dan aku harus menderita selama lima tahun dalam pernikahan beracun. Jika dia memang merasa 'merelakan' Alres untukku, kenapa dia tidak mencoba merebutnya secara terang-terangan di awal sebelum aku dan Alres menikah?"Alena menatap Angel yang kini pucat pasi. "Kenapa dia harus menunggu aku menjadi istrinya dulu, lalu perlahan merusak rumah tanggaku dari dalam dengan pura-pura menjadi wanita paling malang di dunia?"Alres yang berdiri tak jauh dari sana seketika tertegun he
Pintu kamar rawat VIP kembali terbuka. Dokter Peter keluar dengan raut wajah sangat serius dan penuh keprihatinan yang tertata rapi. Di luar, Alres, dua petugas kepolisian, serta Dion, Rafael, Kevin, dan Angel masih menunggu dengan cemas."Dokter, bagaimana kondisi Keira?" tanya Alres cepat dengan suara parau.Dokter Peter menarik napas panjang, menyesuaikan kacamata di pangkal hidungnya sebelum berbicara dengan nada klinis yang meyakinkan dan penuh wibawa."Tuan Alres, Pak Polisi, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Nona Keira mengalami Disosiatif Stupor yang dipicu oleh Sinkop Vaskular berat pasca-kejadian tenggelam tadi malam dan sebelumnya," terang Dokter Peter seraya menunjukkan berkas rekam medis resmi di tangannya."Tekanan emosional dan trauma yang ekstrem membuat respons saraf otaknya menurun drastis hingga ia kehilangan kesadaran secara berkala," lanjut Dokter Peter. "Untuk penanganan medis dasar, rumah sakit kami tentu sanggup. Namun, untuk pemulihan trauma sarafnya secara







