Share

Gara-gara Tikus

Author: YOSSYTA S
last update publish date: 2026-08-04 13:03:48

Di sebuah rumah kecil sederhana. Di pinggiran kota Jogjakarta.

Dalam kamar yang sempit dan kecil, Zoya Amanda, 27 tahun, duduk melamun di depan cermin kusam.

Tatapannya kosong. Tangannya meremas handuk kecil, mengeringkan rambutnya yang masih basah. Bau harum sampo melati memenuhi kamar. Tapi, pikirannya masih melayang jauh ke masa lalu.

Tujuh bulan telah berlalu.

Namun, rasa sakit itu masih tetap ada. Luka masih membekas dalam, menggores hati Zoya.

Tawa Bu Farida, elusan perut Frisca, dan map coklat yang dilempar di kakinya itu, masih terus membayangi pikirannya setiap malam.

Zoya tersenyum miris mengingat itu semua.

'Cih, ternyata laki-laki itu semua sama saja. Tidak hanya artis, pejabat ataupun orang biasa. Setelah sukses, mereka akan langsung membuang barang lama dan menggantinya dengan yang baru, yang lebih fresh, lebih cantik dan lebih segalanya,' batinnya ngenes.

'Begitu pun dengan istri. Mereka langsung melupakan siapa orang yang pernah menemaninya dulu dari nol.'

Ironi sekali bukan?

Habis manis sepah dibuang. Atau lebih tepatnya 'kacang lupa kulitnya'.

'Cinta?!'

Wanita berkulit sawo matang itu kembali tersenyum getir.

'Apa itu cinta? Semua omong kosong.'

Sejak perceraian itu, hati Zoya seolah mati rasa. Dia tak lagi percaya yang namanya cinta.

'Tapi, sudahlah. Lupakan, Zoya! Kamu harus kuat dan tak boleh lemah. Buktikan pada Damar. Kalau kamu bisa hidup tenang tanpa dia,' bisiknya pelan. Tapi bahunya bergetar.

'CITTT... CITTTT!'

Tiba-tiba suara tak asing langsung membuyarkan lamunannya.

Reflek dia mencari dari mana sumber suara itu berasal.

Jantung Zoya seakan copot. Dari kolong meja rias, dua ekor tikus mengintip. Matanya merah. Satu di antaranya berlari lurus ke arah kakinya.

Bagai patung, otaknya nge-lag, diam dua detik. Dan, di detik ketiga....

"AAA... TIKUSSS! TOLOOONG! ADA ... TIKUS!"

Teriakannya memecah pagi yang tenang. Spontan dia melompat panik. Handuk putih yang melilit tubuhnya hampir melorot. Zoya tak peduli. Dia lari. Keluar kamar, melewati ruang tamu, langsung ke pintu depan yang memang tidak dikunci.

KRIEETTT!

Berbarengan dengan itu, pintu kayu depan terbuka.

Di ambang pintu berdiri sesosok laki-laki. Tinggi. Kaos hitam polos, celana jeans sobek di lutut. Rambut sedikit basah karena gerimis. Di tangannya ada helm.

Enzo. Teman adiknya, Raka.

Belum sempat dia mengucapkan salam, "Permisi. Assalamu ala--" dari dalam, ada yang langsung menerjangnya.

"AAA... ADA TIKUS!!!"

Brug!

Badan Zoya menabrak dada Enzo dengan keras. Keduanya oleng dan jatuh ke teras. Zoya di atas. Enzo di bawah.

Rambut basah Zoya menetes ke leher Enzo. Napas mereka sama-sama kacau.

Dunia seolah berhenti berputar.

Mereka saling tatap. Dua detik. Diam. Saling shock.

Zoya terpaku, menatap wajah asing pria itu. "Ya Allah, ini siapa? Terus... aku lagi pake apa sekarang? Handuk?! Astagfirullah!"

Sementara batin Enzo, 'Siapa nih cewek? Ngapain dia peluk aku sekenceng ini?'

Hingga tiba-tiba—

"ASTAGHFIRULLAHALADZIM!!! APA-APAAAN INI?!” Suara Bu RT memecah segalanya.

Ibunya Zoya, Raka, Bu RT, dan Pak RT. Empat orang. Masih pegang kresek gorengan anget dari pasar. Mata mereka melotot. Mulut Bu RT sampai kebuka lebar.

Pemandangan di depan pintu. Seorang janda muda hanya berbalut handuk putih, menindih seorang laki-laki di teras rumah.

Hening seketika.

Raka yang pertama sadar. Wajahnya pucat. "B-BANG ENZO?! Ngapain kamu di sini?"

Zoya terlonjak, panik. Dia buru-buru berdiri sambil menarik handuknya sekuat tenaga. Lututnya lemas. Wajahnya memerah, malu setengah mati.

Enzo ikut berdiri. Mengusap tengkuknya yang pegal. Wajahnya tetap datar, tapi telinganya merah. Dan sekilas ia sempat melirik Zoya dari atas sampai bawah.

Di tengah genting seperti ini, Bu RT dan Pak RT sudah salah paham.

"EH, kami nggak ngapa-ngapain!” Zoya buru-buru bersuara. Suaranya serak. “Ini salah paham! Tadi ada tikus! Dan dia nolongin saya!"

Zoya langsung sembunyi di balik punggung Enzo. Tangannya mencengkeram kaos Enzo dari belakang.

Sigap Raka melepas jaket dan memberikan pada kakaknya untuk menutupi bahu Zoya.

"Iya, Bu. Tadi dia kaget. Gak sengaja nabrak saya." Suara Enzo datar, tapi badannya otomatis maju selangkah. Menghalangi Zoya dari pandangan Bu RT.

Ibunya Zoya sudah duduk lemas di kursi teras. "Oalah, Nduk... malu sama tetangga. Malu sama bapakmu di kuburan."

Zoya menunduk. Air matanya mulai jatuh.

Enzo melihat bahu Zoya yang bergetar. Batinnya mulai berisik.

'Sial. Kenapa aku jadi kasihan? Ini bukan urusanku. Tapi... kalau aku diem, cewek ini bakal habis digosipin satu kampung.'

Pak RT mendengus keras. "Pokoknya kami gak mau tau! Kamu harus tanggung jawab!”

Rahang Enzo mengeras. "Tanggung jawab apa, Pak? Orang kami gak ngapa-ngapain, kok."

Bu RT menyahut cepat. Matanya nyala. "NIKAH! Kamu harus nikahin Zoya! Besok! Kalau tidak, kami bawa ke balai warga!"

"APA?!"

"NIKAH?!”

Zoya dan Enzo terpekik shock bersamaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Els Arrow
kasian Thor......... jangan buat sedih dongg, zoya harus bahagia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    KONTRAK SELESAI

    JAM 12 MALAM. Enzo tak bisa tidur. Di sebelahnya, punggung Zoya masih bergetar pelan. `Hiks... hiks...` Hatinya `JLEB!` Sakit. Tangannya udah gatel pengen narik Zoya ke pelukan. Tapi otaknya, nahan. Hingga... JAM 1 PAGI. Matanya masih betah melek, melirik ke arah pintu kamar. Pikirannya langsung tertuju ke Damar, yang tidur di kamar sebelah. 'Damar!' Darahnya langsung naik. Tangan ngepal sampai buku-buku jarinya putih. Batinnya menggelegak, 'Aku samperin sekarang. Aku hajar tuh orang! Beraninya dia peluk Zoya!' Tapi dia melirik lagi ke Zoya yang masih nangis sesenggukan, lalu ngelirik jam dinding. Masih tengah malam. Kalo ribut sekarang, satu rumah kebangun. Nenek kebangun. Bi Ijah kebangun. Bakal gaduh. Akhirnya dia bangun pelan-pelan. Tak tega melihat Zoya nangis terus di sebelah. Dia ambil kunci mobil dan jaket, keluar kamar tanpa suara. Di garasi, dia geber mobil. Muter-muter Jakarta, dari jam 1 sampai jam 3 pagi gak tentu arah. Hujan rintik-rintik. La

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Jebakan Frisca

    PUKUL 9 MALAM - DI KAMAR. Dari sore, Zoya sudah cantik, sudah wangi, rambut diurai masih sedikit basah, habis keramas. Dia pakai baju tidur satin dari Lyora. Hatinya deg-degan menunggu Enzo pulang. Tapi, kenapa belum pulang juga? Sejak kejadian Damar maksa peluk di kolam siang tadi, dia pengen banget cerita ke Enzo. Biar gak salah paham. `KLEK!` Pintu kamar kebuka. Enzo pulang. Mukanya kusut, dingin, tanpa senyum. Beda sama pagi tadi yang janjiin mau bawain es krim. Rupanya 2 jam lalu Frisca sudah kirim bom kedua. Setelah foto, dia kirim video Damar peluk Zoya di pinggir kolam. Videonya dipotong, pas Zoya berontak gak kelihatan. Caption Frisca, "Enzo, maaf. Aku liat Zoya sama Damar di taman tadi siang, akrab banget peluk-pelukan. Dan aku dengar, Zoya bilang masih sayang sama Damar. Dia mau nikahin kamu, karena mau balas dendam sama aku, dan cuma mau manas-manasin Damar doang." "Ternyata selama ini kita dibohongi sama Zoya!" JEDERR! Otak Enzo muter liar sepanjang ja

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Pertengkaran Hebat

    Frisca muncul dari balik pintu masuk rumah. HP masih di tangan. Muka merah padam. Napasnya ngos-ngosan. Dari tadi dia sudah berada di sana. Sembunyi di balik pilar. Sengaja merekam. Menahan emosi melihat semuanya dari awal.Damar kaget, langsung pucat pasi."F-Frisca?! Kamu... kamu dari kapan di sini?"Frisca jalan cepat, hentakin kaki.`TUK TUK TUK!` Sepatu hak tingginya nusuk lantai marmer sampai berdecit."JANGAN PURA-PURA BEGO, DAMAR! AKU LIAT SEMUANYA! DARI KAMU PELUK ZOYA! DARI KAMU BILANG MAU BALIKAN! SEMUANYA AKU DENGER!"Damar panik, ngeles cepat. Sambil geleng kepala, dia angkat tangan kayak orang ketangkep basah."Bukan! Bukan kayak gitu! Tadi itu..." Diam sejenak, otaknya sibuk mencari alasan yang masuk akal. Keringetnya netes, gelagapan. "Zoya tadi mau jatuh. Dia kesandung, mau jatuh ke kolam. Jadi, aku reflek, gak sengaja! Sumpah!""KESANDUNG?!" Frisca tertawa sinis, air matanya sudah mau netes tapi ditahan. Bibirnya bergetar nahan marah."DAN, KAMU REFLEK PELUK DIA SAM

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Kolam Renang

    Satu minggu Enzo jadi WO dadakan. Hari ini dia masih keluar lagi. Cek final lighting gedung sama Nenek. Zoya ditinggal di rumah. Akhirnya bisa napas. Duduk santai di pinggir kolam renang, kaki dicelupin ke air, sambil telponan sama Enzo. "Mas, udah selesai?" Di telpon, suara Enzo capek tapi semangat, "Udah. Tapi biasa, Nenek tadi bawel banget. Kamu di rumah jangan kemana-mana ya! Nanti aku bawain es krim kesukaan kamu." "Iya, Mas. Makasih, ya." Zoya senyum. Wajahnya berseri dan hatinya pun menghangat, tidak seperti hari kemarin, tegang. Telpon mati. `TUT...` Zoya pindah duduk di kursi rotan, senderan. Angin siang sepoi-sepoi terasa sejuk menerpa wajah. Untuk pertama kalinya seminggu ini dia bisa duduk santai tanpa mikirin kebaya, gedung, atau tatapan Frisca. Tapi ketenangan itu tak lama. `Tap... tap...` Langkah kaki. Zoya noleh. Dan langsung kaku. Damar. Damar berdiri di belakang, dekat pintu masuk rumah. Pakai kaos oblong, muka kusut. Tak ada Frisca di deketny

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Persiapan Pesta

    KEESOKAN Harinya - JAM 7 PAGI. Ruang makan masih dingin. Habis kejadian bom semalam. Pak Deon belum turun sarapan. Damar dan Frisca pun sama, masih di kamar. Tapi satu orang udah rapi dari jam 6 pagi. Kemeja putih, rambut sisir ke belakang. Enzo. Zoya bangun dengan mata bengkak habis nangis semalam. Masih tetap menyiapkan makanan untuk semua orang. Begitu meliat Enzo lagi teleponan sambil bawa map tebal, ia pun heran. "Mas? Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Enzo matiin telepon, senyum. Mode kucing besarnya balik lagi. Gak ada sisa marah semalam. "Ngurus istri mau jadi pengantin lagi, Sayang." Dia tarik kursi lalu duduk. "Ngomong-ngomong orang-orang gak ada yang sarapan?" "Gak tau. Mungkin mereka masih marah." Zoya masih terlihat sedikit sedih. "Sudahlah, biarkan saja mereka. Yang terpenting kamu gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat. Agar pas pesta nanti kamunya vit, jangan sampai sakit." "Iya, betul kata Enzo." Nenek yang baru datang langsung nyahut.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Perlawanan Enzo

    "Oke, jika itu maunya Papa."Satu ruangan langsung nengok ke Enzo.Suara Enzo pelan. Tapi dinginnya nusuk sampai ke tulang.Frisca yang tadinya udah senyum kemenangan, langsung tegak duduk. Vanessa juga ikut nahan napas.Enzo tarik Zoya lebih rapat ke pelukannya. Rahangnya mengeras, `KREK!` terdengar jelas."Jika dalam satu tahun Zoya tak juga hamil. Maka--"Dia jeda. Sengaja.Semua orang tahan nafas. Wajahnya kaku, tegang. Bahkan jam dinding yang terdengeran pelan seolah langsung berhenti berdetak.Lalu Enzo natap Pak Deon lurus, senyumnya miring. Senyum yang paling ditakutin relasi bisnisnya."-aku yang akan keluar dari rumah ini, bersama Zoya!"`JEDERRR!!`Satu rumah auto kaget!"Mas ...." Dengan mata sembab, Zoya langsung geleng kepala panik. Tangannya narik-narik lengan Enzo. "Mas, jangan ngomong gitu."Nenek yang tadinya mau marah ke Pak Deon, langsung `HAH?!` Matanya melotot! Tongkatnya hampir lepas! "ENZO! JAGA BICARA KAMU!"Pak Deon lebih kaget lagi. Wajah bos besarnya yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status