Compartir

Disidang Warga

Autor: YOSSYTA S
last update Fecha de publicación: 2026-08-04 13:28:33

Ruang tamu sempit itu pengap.

Suara kipas angin muter `Tek-etek-etek!` tapi tetep gerah.

Zoya duduk di kursi plastik. Baju kaos oblong putih sama celana training. Rambutnya sudah diikat, tapi mukanya masih pucat. Matanya sembab.

Di sebelahnya duduk Enzo. Kaos hitam polos, celana jeans. Helm masih di pangkuan. Sikapnya tenang, tapi rahangnya tegang.

Seperti terdakwa yang siap disidang. Mereka duduk bersebelahan.

Di depan, Ibu Zoya, Raka, Bu RT, Pak RT, dan dua ibu-ibu `yang kebetulan lewat` ikut mampir. Kepo.

Zoya sudah lelah menjelaskan. Suaranya pelan. "Bu... demi Allah, ini gak sengaja. Tadi memang beneran ada tikus. Aku takut, terus pintu kebuka. Dan... dia pas di depan."

"Alasan!" Bu RT memotong sengit sambil ngetok meja. "Janda kok kelakuannya kayak ABG! Malu sama umur! Mau jadi omongan se-RT lagi, kamu?!"

Ibu-ibu yang `kebetulan lewat` langsung ikut nimbrung.

"Lha iya to, Bu. Mosok, janda keluyuran cuma pake handuk tok. Gak sopan banget kan itu?"

"Nah, itu. Pantesan suaminya dulu cerain dia."

Bisikan-bisikan itu nusuk ke telinga Zoya satu-satu. Pipinya panas. Tangannya makin kuat meremas ujung kaosnya.

"Astagfirulloh, Bu. Saya gak begitu." Sambil nahan kesal, Zoya menoleh tajam. Lalu pandangannya beralih ke Ibunya melembut. "Ibu percaya sama aku 'kan?"

Sambil mengangguk, Ibu Fatimah cuma bisa nangis. "Iya, percaya, Nduk. Tapi tetangga udah liat semua."

Semua mata beralih ke Enzo.

"Kamu!" Jari Pak RT menunjuk. "Ngaku! Ada maksud apa main ke rumah janda jam segini, huh?"

Enzo yang sedari tadi cuma diam bagai patung, mengusap tengkuk. Berusaha untuk tetap tenang.

'Oh, jadi ini kakak perempuannya Raka? Tapi, tunggu! Janda, cewek secantik dia udah jadi janda? Sayang banget.'

"Hey, bocah! Ditanya, kok malah bengong?" Suara cempreng Bu RT mengagetkannya.

"Nama saya Enzo, Bu, Pak. Temen kerjanya Raka di supermarket. Saya cuma mau nganterin bon lembur Raka yang ketinggalan."

Raka langsung manggut cepet. "I-iya Pak! Bon lembur itu penting banget!"

"Terus, kenapa bisa sampai tindih-tindihan kayak tadi?! Jawab!" lanjut Bu RT lagi.

Hening.

Zoya menatap lantai. Ubinnya retak. Sama seperti hidupnya sekarang. Retak di mana-mana.

Di sebelahnya, Enzo juga diam. Tapi dalam kepalanya masih ribut.

'Anjir, kenapa jadi gini sih? Aku cuma mau nganterin bon. Kenapa sekarang harus tanggung jawab nikahin orang? Janda pula. Haddehh....'

Zoya mencubit pahanya sendiri di bawah meja. Sakit. Berusaha tegar, tidak menangis.

Enzo melirik Zoya sekilas. Cewek itu menunduk. Bibirnya digigit. Nahan tangis. Batinnya jadi tak tega.

Lama ia berpikir. Akhirnya Enzo bersuara.

"Ya udah."

Semua orang menoleh.

"Saya tanggung jawab," lanjut Enzo dengan rahang yang mengeras. Terpaksa.

"HAH?!" Mata Zoya langsung melotot. "Tanggung jawab apa?!"

"Nikah," jawab Enzo singkat. "Saya akan nikahin kamu besok. Biar gak jadi fitnah."

Dunia Zoya bagai terhenti tiga detik.

"GILA KAMU?!" Sambil mengeratkan giginya kesal, Zoya berbisik. "Kita aja gak kenal!"

Wajah datar Enzo tetap menatap ke depan. Suaranya pelan cuma Zoya yang dengar. "Daripada diarak satu kampung. Pilih mana?"

Deg!

Zoya terdiam. Air matanya jatuh. Tak ada pilihan.

Bu RT langsung senyum lebar. "NAH! GITU DONG JADI LAKI! Harus berani tanggungjawab. Besok bawa orang tua kamu dan langsung nikah! Biar gak jadi omongan tetangga!"

"Tapi, orang tua saya di luar kota, Bu," kata Enzo cepet. "Saya akan bawa Om saya sebagai wali keluarga. Besok saya kesini lagi jam 8 pagi. Kita nikah siri dulu biar sah."

"Baik, sudah diputuskan, besok mereka akan nikah!" ucap Pak RT menyudahi semua keributan.

Besok. Nikah. Antara janda yang trauma dan karyawan yang sebenernya... bukan karyawan biasa.

Pas semua bubar, Zoya langsung berdiri. "Ini benar-benar gak adil!"

Lalu ia berlari ke kamar. Membanting pintu.

`Brugh!`

Zoya langsung nyungsep di kasur. Bantal dipeluk erat. Tangisnya pecah.

'Apa aku emang gak pantas bahagia, ya Allah? Udah diselingkuhin, sekarang malah harus nikah sama orang asing demi nutup mulut orang?'

Di luar, Enzo pamit sama Raka.

"Besok aku akan datang jam 8."

"Tapi, Bang. Seriusan mau nikah sama Mbak Zoya?"

Enzo nyalain motor. "Gak ada pilihan lain, Ka."

`Ngeng!` Suara deru mesin motor terdengar menjauh.

Di atas motor, pikiran Enzo malah makin ribut. Masih tak percaya dengan keputusan yang ia buat tadi.

Baru sekarang otaknya nyambung.

'Nikah... Tunggu. Bukannya Papa bilang, syarat buat dapetin warisan perusahaan aku harus nikah tahun ini? Kalau gak, aku bakal dijodohin sama anak rekan bisnisnya itu?'

Cekkiitt!'

Enzo mengerem mendadak di pinggir jalan.

'Gila. Anak rekan bisnis Papa itu kan... gak bener. Manja, kasar. Kalau aku nikah sama janda ini, Papa gak bisa maksa aku nikah sama dia lagi. Aku bisa batalin perjodohan itu.'

'Tapi... apa Zoya mau? Dia kan korban di sini.'

Enzo menatap langit Jogja yang mendung.

'Entahlah. Yang jelas, kata sudah terlanjur terucap. Aku harus lanjut. Lagian... nikah sama dia sepertinya tidak terlalu buruk.'

Sementara di kamar, Zoya duduk meringkuk di atas kasur. Sambil memeluk lutut ia mulai menangis sejadinya.

'Ya Allah, cobaan apa lagi ini?'

'Aku tidak berharap kisah indah dalam hidupku. Namun, jika boleh meminta, Tuhan. Aku ingin mendapatkan sedikit kebahagiaan di suatu hari nanti. Amin.'

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
Els Arrow
lanjut Thor, biar enzo lebih berjuang
goodnovel comment avatar
Cynta
Zoya kenapa kasar sama Enzo.. kasihan lho.. 🫣
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    KONTRAK SELESAI

    JAM 12 MALAM. Enzo tak bisa tidur. Di sebelahnya, punggung Zoya masih bergetar pelan. `Hiks... hiks...` Hatinya `JLEB!` Sakit. Tangannya udah gatel pengen narik Zoya ke pelukan. Tapi otaknya, nahan. Hingga... JAM 1 PAGI. Matanya masih betah melek, melirik ke arah pintu kamar. Pikirannya langsung tertuju ke Damar, yang tidur di kamar sebelah. 'Damar!' Darahnya langsung naik. Tangan ngepal sampai buku-buku jarinya putih. Batinnya menggelegak, 'Aku samperin sekarang. Aku hajar tuh orang! Beraninya dia peluk Zoya!' Tapi dia melirik lagi ke Zoya yang masih nangis sesenggukan, lalu ngelirik jam dinding. Masih tengah malam. Kalo ribut sekarang, satu rumah kebangun. Nenek kebangun. Bi Ijah kebangun. Bakal gaduh. Akhirnya dia bangun pelan-pelan. Tak tega melihat Zoya nangis terus di sebelah. Dia ambil kunci mobil dan jaket, keluar kamar tanpa suara. Di garasi, dia geber mobil. Muter-muter Jakarta, dari jam 1 sampai jam 3 pagi gak tentu arah. Hujan rintik-rintik. La

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Jebakan Frisca

    PUKUL 9 MALAM - DI KAMAR. Dari sore, Zoya sudah cantik, sudah wangi, rambut diurai masih sedikit basah, habis keramas. Dia pakai baju tidur satin dari Lyora. Hatinya deg-degan menunggu Enzo pulang. Tapi, kenapa belum pulang juga? Sejak kejadian Damar maksa peluk di kolam siang tadi, dia pengen banget cerita ke Enzo. Biar gak salah paham. `KLEK!` Pintu kamar kebuka. Enzo pulang. Mukanya kusut, dingin, tanpa senyum. Beda sama pagi tadi yang janjiin mau bawain es krim. Rupanya 2 jam lalu Frisca sudah kirim bom kedua. Setelah foto, dia kirim video Damar peluk Zoya di pinggir kolam. Videonya dipotong, pas Zoya berontak gak kelihatan. Caption Frisca, "Enzo, maaf. Aku liat Zoya sama Damar di taman tadi siang, akrab banget peluk-pelukan. Dan aku dengar, Zoya bilang masih sayang sama Damar. Dia mau nikahin kamu, karena mau balas dendam sama aku, dan cuma mau manas-manasin Damar doang." "Ternyata selama ini kita dibohongi sama Zoya!" JEDERR! Otak Enzo muter liar sepanjang ja

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Pertengkaran Hebat

    Frisca muncul dari balik pintu masuk rumah. HP masih di tangan. Muka merah padam. Napasnya ngos-ngosan. Dari tadi dia sudah berada di sana. Sembunyi di balik pilar. Sengaja merekam. Menahan emosi melihat semuanya dari awal.Damar kaget, langsung pucat pasi."F-Frisca?! Kamu... kamu dari kapan di sini?"Frisca jalan cepat, hentakin kaki.`TUK TUK TUK!` Sepatu hak tingginya nusuk lantai marmer sampai berdecit."JANGAN PURA-PURA BEGO, DAMAR! AKU LIAT SEMUANYA! DARI KAMU PELUK ZOYA! DARI KAMU BILANG MAU BALIKAN! SEMUANYA AKU DENGER!"Damar panik, ngeles cepat. Sambil geleng kepala, dia angkat tangan kayak orang ketangkep basah."Bukan! Bukan kayak gitu! Tadi itu..." Diam sejenak, otaknya sibuk mencari alasan yang masuk akal. Keringetnya netes, gelagapan. "Zoya tadi mau jatuh. Dia kesandung, mau jatuh ke kolam. Jadi, aku reflek, gak sengaja! Sumpah!""KESANDUNG?!" Frisca tertawa sinis, air matanya sudah mau netes tapi ditahan. Bibirnya bergetar nahan marah."DAN, KAMU REFLEK PELUK DIA SAM

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Kolam Renang

    Satu minggu Enzo jadi WO dadakan. Hari ini dia masih keluar lagi. Cek final lighting gedung sama Nenek. Zoya ditinggal di rumah. Akhirnya bisa napas. Duduk santai di pinggir kolam renang, kaki dicelupin ke air, sambil telponan sama Enzo. "Mas, udah selesai?" Di telpon, suara Enzo capek tapi semangat, "Udah. Tapi biasa, Nenek tadi bawel banget. Kamu di rumah jangan kemana-mana ya! Nanti aku bawain es krim kesukaan kamu." "Iya, Mas. Makasih, ya." Zoya senyum. Wajahnya berseri dan hatinya pun menghangat, tidak seperti hari kemarin, tegang. Telpon mati. `TUT...` Zoya pindah duduk di kursi rotan, senderan. Angin siang sepoi-sepoi terasa sejuk menerpa wajah. Untuk pertama kalinya seminggu ini dia bisa duduk santai tanpa mikirin kebaya, gedung, atau tatapan Frisca. Tapi ketenangan itu tak lama. `Tap... tap...` Langkah kaki. Zoya noleh. Dan langsung kaku. Damar. Damar berdiri di belakang, dekat pintu masuk rumah. Pakai kaos oblong, muka kusut. Tak ada Frisca di deketny

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Persiapan Pesta

    KEESOKAN Harinya - JAM 7 PAGI. Ruang makan masih dingin. Habis kejadian bom semalam. Pak Deon belum turun sarapan. Damar dan Frisca pun sama, masih di kamar. Tapi satu orang udah rapi dari jam 6 pagi. Kemeja putih, rambut sisir ke belakang. Enzo. Zoya bangun dengan mata bengkak habis nangis semalam. Masih tetap menyiapkan makanan untuk semua orang. Begitu meliat Enzo lagi teleponan sambil bawa map tebal, ia pun heran. "Mas? Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Enzo matiin telepon, senyum. Mode kucing besarnya balik lagi. Gak ada sisa marah semalam. "Ngurus istri mau jadi pengantin lagi, Sayang." Dia tarik kursi lalu duduk. "Ngomong-ngomong orang-orang gak ada yang sarapan?" "Gak tau. Mungkin mereka masih marah." Zoya masih terlihat sedikit sedih. "Sudahlah, biarkan saja mereka. Yang terpenting kamu gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat. Agar pas pesta nanti kamunya vit, jangan sampai sakit." "Iya, betul kata Enzo." Nenek yang baru datang langsung nyahut.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Perlawanan Enzo

    "Oke, jika itu maunya Papa."Satu ruangan langsung nengok ke Enzo.Suara Enzo pelan. Tapi dinginnya nusuk sampai ke tulang.Frisca yang tadinya udah senyum kemenangan, langsung tegak duduk. Vanessa juga ikut nahan napas.Enzo tarik Zoya lebih rapat ke pelukannya. Rahangnya mengeras, `KREK!` terdengar jelas."Jika dalam satu tahun Zoya tak juga hamil. Maka--"Dia jeda. Sengaja.Semua orang tahan nafas. Wajahnya kaku, tegang. Bahkan jam dinding yang terdengeran pelan seolah langsung berhenti berdetak.Lalu Enzo natap Pak Deon lurus, senyumnya miring. Senyum yang paling ditakutin relasi bisnisnya."-aku yang akan keluar dari rumah ini, bersama Zoya!"`JEDERRR!!`Satu rumah auto kaget!"Mas ...." Dengan mata sembab, Zoya langsung geleng kepala panik. Tangannya narik-narik lengan Enzo. "Mas, jangan ngomong gitu."Nenek yang tadinya mau marah ke Pak Deon, langsung `HAH?!` Matanya melotot! Tongkatnya hampir lepas! "ENZO! JAGA BICARA KAMU!"Pak Deon lebih kaget lagi. Wajah bos besarnya yang t

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status