Mag-log inNuansa mengantar Caroline sampai apartmennya, wanita itu meminta Nuansa mengantar sampai dalam. Nuansa pun menurutinya. Caroline memeluknya erat. Suaranya serak penuh permohonan, “tolong jangan tinggalin aku,” isaknya yang sejak tadi tertahan.Nuansa membalas pelukannya dengan erat, “maafin aku Carol. Sejak bundanya Carmen pergi, aku sadar kalau kebahagiaanku itu melihat anakku bahagia, dan aku ... enggak mau menyakiti anak itu,” bisiknya.“Apa selama ini enggak pernah ada rasa sayang dari kamu untukku? Sedikit aja?”“Aku sayang kamu, tapi aku memakai logikaku Carol, dan logikaku menang.”Caroline memejamkan mata, pria dan logika adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, secinta apa pun pria pada wanitanya, namun mereka masih bisa menggunakan akal sehatnya. Berbeda dengan wanita yang disebut makhluk perasa, jika dia sudah mencintai laki-laki, maka dia hanya akan mengutamakan perasaannya saja tanpa memikirkan
“Cukup!! Stop!! Mbok bantuin!!” ujar Nuansa yang mencoba melerai keduanya, namun tidak berhasil. Kedua wanita itu sudah saling jambak, rambut mereka tampak berantakan pakaian mereka koyak tak beraturan.Hingga Nuansa akhirnya memeluk Nayaka dan melindunginya dari pukulan Caroline, meskipun dia juga menjadi sasaran amukan dari keduanya.Namun, dari sana Caroline bisa melihat bahwa Nuansa benar-benar melindungi istrinya.Napasnya tersengal, menatap Nuansa yang melindungi Nayaka dengan tubuhnya, sementara Mbok Sumi yang sudah membawa air di ember dari dapur itu hanya menatap pemandangan itu dengan bibir terkatup. Hampir saja dia menyiram keduanya menggunakan air, namun dia terlambat, pertengkarannya sudah usai.Nuansa yang bersusah payah memisahkan kedua orang yang bertengkar seperti kucing yang lagi berantem itu kini meminta keduanya saling menjauh.“Kamu tunggu di sana,” tunjuk Nuansa tegas pada Caroline. Meminta wanita yang rambutnya sudah berantakan itu untuk menunggu di ruang tamu,
Nayaka terbangun di pagi hari, dia sedikit menjauhkan diri hingga Nuansa kembali menariknya dalam pelukan.“Sudah siang,” ucap Nayaka melihat jendela yang sudah membiarkan cahaya mentari pagi menelusup dari balik gorden.“Sebentar lagi,” tutur Nuansa mengusap punggung sang istri lembut. Nayaka bisa merasakan aroma tubuh Nuansa, tidak bau, namun ada aroma yang membuat hormonnya naik dan merasa nyaman. Rupanya tidur sambil berpelukan seperti ini bisa membuatnya begitu tenang.Nayaka mendongak, menatap wajah pria tampan yang menikah dengannya itu, dia mengecup pipi Nuansa membuat Nuansa membuka matanya.“Kenapa? Mau lagi? Hm?” tanyanya dengan suara berat yang khas.“Kalau nanti mau lagi, boleh minta duluan?” tanya Nayaka.“Boleh dong, dengan senang hati,” ucap Nuansa.Dia terus memeluk tubuh sang istri dengan erat, hingga terdengar suara pintu diketuk.“Pak, ada tamu,” ucap Mbok Sumi.“Siapa, mbok?” tanya Nuansa.“Itu ... hmm anu ... ,” ucap Mbol Sumi dari balik pintu.“Siapa sih ganggu
“Ehm, Mas, eungghhh,” desahan lolos dari bibir Nayaka ketika Nuansa terus melumat labianya, menggigit kecil daging tumbuh yang ada di sana. Nayaka tersentak ketika merasakan jemari Nuansa mulai menari di bagian dalam miliknya, rasanya begitu menggairahkan seperti ada dorongan yang ingin keluar.Nayaka tak lagi menahan lenguhannya, dia meracau kenikmatan. Nuansa terus menggerakkan jemarinya dengan lihai, namun tak menyakiti, lidahnya pun ikut bermain memberikan rangsangan yang membuat Nayaka tak kuat lagi, diangkat pinggulnya dan dia melentingkan tubuhnya ketika merasakan sesuatu melesak keluar dari kewanitaannya.Nuansa masih mencumbunya, lalu dia melepas cumbuannya, menatap Nayaka yang dadanya turun naik setelah mendapat pelepasannya.Wajah Nayaka bersemu ditatap dengan intens oleh Nuansa seperti itu, Nuansa kemudian menurunkan kaki Nayaka, melepas sepatu wanita itu dengan perlahan dan meletakkan di lantai. Dia berdiri dan hendak mengambil pakaianya
“Enggak usah dibuka sepatunya,” ujar Nuansa ketika mereka memasuki rumah. Nayaka sudah merunduk, bersiap membuka tali sepatu panjangnya itu.“Kenapa?” tanyanya seraya kembali berdiri dan menatap Nuansa yang meletakkan sepatu di rak sepatu bagian depan rumah.“Enggak apa-apa, gue suka liatnya,” ucap Nuansa, “buka di kamar aja,” imbuhnya sambil berjalan lebih dulu.Meskipun tidak mengerti, namun Nayaka mengikuti saja instruksi Nuansa. Dia mengikuti pria itu sampai menuju ke kamar mereka. Ketika Nayaka masuk, rupanya Nuansa sudah menunggu di balik pintu. Dia sedikit mendorong Nayaka ke arah pintu. Mengukung tubuh wanita itu dengan tangannya.“Sorry,” ucapnya sebelum melumat bibir Nayaka. Nayaka membelalakkan mata, namun ciuman itu begitu panas dan menggairahkan.“Euhm,” lenguh Nayaka ketika merasakan jemari sang suami sudah menari di pinggangnya, rasanya geli namun ada gelenyar an
Nuansa menatap ponselnya yang terus bergetar, panggilan masuk dari Caroline. Dia mengabaikan panggilan wanita itu sejak sore tadi ketika Nayaka memposting foto dan video saat dia menerima buket bunga. Pesan-pesan yang dikirim Caroline sudah menunjukkan betapa wanita itu begitu cemburu.Hingga beberapa saat sebelum Nayaka turun panggung, Nuansa tak bisa lagi mengabaikan panggilan dari Caroline yang mengancam akan mendatangi orang tua Nuansa dan berkata bahwa pernikahan mereka hanyalah kesepakatan dan bukan pernikahan sesungguhnya.Nuansa berjalan ke belakang, ke tempat yang lebih sepi.“Kenapa lagi sih? Ya wajar kasih bunga, aku bersalah sama dia. Sudah jangan ngambek terus, kamu harus mengerti sekarang statusku sudah menikah. Pernikahan ini pun ... bukan pernikahan yang seperti itu, jangan tunggu aku lagi.”Ucapan dari Nuansa terdengar oleh Nayaka yang tersenyum kecil, pasti pria itu menelepon Caroline, dia pun meninggalkan lorong sepi itu men







