LOGINMalam semakin larut ketika suara napas halus Zain terdengar stabil di dalam kamar. Bayi itu sudah tertidur lelap setelah seharian lelah mengobrol dengan Cita. Di dapur yang diterangi lampu neon putih terang, Cita kembali sibuk memasak adonan menjadi kue-kue yang lezat.
Sementara Rayhan duduk bersandar di atas kasur dengan kedua kaki dilipat. Layar ponselnya yang menyala terang memantulkan bayangan di wajahnya. Jarinya sesekali bergerak mengusap layar, berpindah dari satu aplikasi ke aplik"Kenapa? Nggak doyan? Nggak doyan pun harus tetap kamu makan, Mas. Awas aja kalau nanti di warung Bu Is aku dengar kamu pingsan pas hari pertama keliling!" ucap Cita sembari berkacak pinggang. Tak peduli dengan busa sabun di kedua tangannya. Rayhan tak menjawab. Pria itu langsung duduk, meraih sendok, lalu menyuap nasi goreng itu ke mulutnya. Matanya membelalak pelan. Rasa nasi goreng buatan istrinya ternyata sangat lezat, tak kalah dari nasi goreng di pedagang kaki lima. "Ck. Habis makan jangan lupa dicuci sendiri alat makannya. Awas aja kalau ditinggal!" decak Cita merasa kesal karena diabaikan. Rayhan menatap punggung Cita yang masih sibuk di depan bak cuci piring. "Nggak nyangka ya, kamu peduli padaku." Wajah Cita kembali menegang. Entah kalimat itu pujian atau ejekan. "Peduli matamu! Itu biar Mas punya tenaga buat narik motor. Kalau Mas pingsan di jalan gara-gara kelaparan, yang repot bayar utang Bank Plecit itu siapa? Aku juga, kan?!"
Rayhan mengerang pelan. Bukannya bangun, ia malah menarik selimut hingga menutup seluruh wajahnya. "Berisik, ini masih dingin...." gumamnya.Cita menautkan kedua alisnya. "Bangun, nggak?! Katanya suruh bangunin!" serunya mulai kesal."Hmm? Dingin... Lima menit lagi...." gumam Rayhan lagi masih dengan kedua mata terpejam."Nggak ada lima menit lima menitan! Nanti sayurannya keburu diborong tengkulak lain baru tahu rasa kamu!" Cita yang tidak sabaran langsung meraih lengan Rayhan dan menariknya kuat-kuat. "Ayo bangun!""Hm?" Rayhan membuka kedua matanya sebentar, lalu memejamkannya lagi. "Sssstt. Diamlah....""Ck. Mas Rayhan yang menyuruhku membangunkanmu buat pergi ke pasar. Ingat, ya! Hari ini hari pertama Mas jualan. Niat jualan nggak sih?" omel Cita benar-benar kesal."Iya, iya... Sebentar. Kamu cerewet sekali," gumam Rayhan yang masih berat untuk membuka mata.Cita mendengus pelan. Tak disangka bahwa Rayhan cukup sulit dibangunkan. Namun malam tadi Cit
Wajah Mak Gonjreng langsung merah padam mendengarnya. Rasa gengsinya sebagai orang yang merasa paling berkecukupan di RT tersebut serasa dicoreng seketika. "Idih! Nggak sudi, ya!" sergah Mak Gonjreng cepat, mengibaskan tangannya ke udara dengan sombongnya. "Palingan sayurannya juga jelek-jelek, layu, sisa-sisa pasar! Ya kali orang kaya kayak Mak beli sayur di tukang keliling begitu? Mak itu kalau beli sayur selalu ke supermarket di kota! Yang segar, yang tempatnya ber-AC!" cibirnya menghina. Cita menghela napas panjang agar tetap tenang. Lalu ia mengangguk-angguk pelan sembari menatap gelang emas berderet di kedua tangan Mak Gonjreng. "Oh... Jadi Mak sukanya beli sayuran ke supermarket kota ya, Mak?" "Ya iyalah. Kamu mana ngerti. Suami Mak kan kerja, terus dapat kiriman juga dari anak Mak yang kerja di laut. Lagian ya suami kamu itu pengangguran. Mana ada uang buat beli stok sayuran segar? Yang ada pasti ngambil dari sampah pasar yang sudah je
"Bohong soal apa?""Bank Plecit itu pelitnya setengah mati sama nasabah baru!" ujar Cita dengan kedua matanya memicing curiga. "Bu Yanti kemarin cerita kalau mau pinjam uang lima ratus ribu saja di Bank Plecit harus pakai jaminan BPKB atau alat elektronik, terus disurvei dulu rumahnya. Kok Mas Rayhan yang bukan orang asli sini boleh pinjam uang sebanyak itu? Apa lagi Mas nggak punya jaminan dan baru tadi malam ngide mau jualan. Bank Plecit mana yang sebodoh itu mau kasih pinjaman belasan juta dalam hitungan jam sama pengangguran yang baru pindah?"Rayhan mengedip dua kali. Ia merasa terhina dengan ucapan Cita, namun juga tak menyangka bahwa Cita yang dikenal sebagai Janda Cantik dan cukup pendiam itu ternyata benar-benar cerewet dan cukup kritis saat berhadapan dengannya. Ia berdeham pelan, sedikit salah tingkah ketika disudutkan oleh logika istrinya yang ternyata cukup tajam. Rayhan lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Sebaiknya Mas Rayhan balikin motor dan duit
"Sudahlah. Aku mau pulang. Makasih sudah membawakan pesananku," ujar Rayhan sembari menyalakan mesin motornya."Tunggu." Gilang menahan lengan Rayhan."Apa?""Kamu serius mau jualan sayuran? Kamu itu kan-""Bukan urusanmu," potong Rayhan sembari memberikan tatapan tajam."Kalau gitu kasih tahu aku di mana kamu tinggal sekarang," ucap Gilang kemudian."Kamu tidak perlu tahu.""Aku ini temanmu, Ray. Tante Lilis juga khawatir soal kamu," bujuk Gilang lagi.Rayhan terdiam sejenak. "Soal Mamah... Kamu harus tetap rahasiakan keberadaanku. Aku cuma mau menenangkan diri dulu.""Oke. Aku bakalan rahasiain ini dari Tante Lilis. Tapi kamu harus beri tahu aku di mana kamu tinggal sekarang," desak Gilang mulai geregetan.Rayhan lagi-lagi memberikan tatapan tajamnya. "Lain kali saja.""Oke. Aku tagih janjimu nanti.""Ya," sahut Rayhan singkat dan malas."Tapi kenapa kamu malah jualan sayur? Bukankah sebelumnya kamu milih mau bersantai jadi pengangguran saja? Kenapa malah tiba-tiba kamu minta cariin
Rayhan langsung tersadar dari lamunannya. Layar ponselnya kini memang sedang menampilkan iklan alat kontrasepsi tersebut."Sembarangan!" dengus Rayhan."Ya terus ngapain nonton iklan kondom seserius itu?" tanya Cita lagi dengan tatapan curiga.Rayhan segera bangkit duduk. "Ini cuma iklan. Aku lagi nonton dracin dari tadi dan tiba-tiba iklan," jelasnya."Iklan yang dihayati," ejek Cita lagi."Sembarangan! Aku lagi mikir mau jualan apa. Oh jangan-jangan... Kamu yang suka pakaiin kondom buat cowokmu, ya?" balas Rayhan sembari menautkan kedua alisnya.Cita langsung mengerucutkan bibirnya. "Ish. Apaan, sih?""Terus kenapa kamu meributkan kondom? Kalau nggak bisa kasih aku ide, mendingan kamu tidur sana. Atau sebenarnya kamu nunggu aku tidurin?""Dih najis," sungut Cita sembari melenggang pergi masuk ke dalam kamar. Namun semarah-marahnya Cita, wanita itu tetap bisa mengontrol kekuatan untuk menutup pelan pintu kamarnya demi Zain tetap tidur nyenyak.







