Home / Romansa / Kawin Grebek / 16. Rencana Usaha

Share

16. Rencana Usaha

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-09-17 21:57:17

Rayhan langsung tersadar dari lamunannya. Layar ponselnya kini memang sedang menampilkan iklan alat kontrasepsi tersebut.

"Sembarangan!" dengus Rayhan.

"Ya terus ngapain nonton iklan kondom seserius itu?" tanya Cita lagi dengan tatapan curiga.

Rayhan segera bangkit duduk. "Ini cuma iklan. Aku lagi nonton dracin dari tadi dan tiba-tiba iklan," jelasnya.

"Iklan yang dihayati," ejek Cita lagi.

"Sembarangan! Aku lagi mikir mau jualan apa. Oh jangan-jangan... Kamu yang suka pak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kawin Grebek   114. Bidadari di Dalam Rumah

    Malam itu sudah tiga hari Rayhan pergi lembur. Cita hanya bersama Zain saja di dalam kamar lama milik suaminya. Rayhan juga tidak mengirimkan pesan lagi setelah ia memberikan kabar bahwa dirinya sudah tiba di tempat tujuan."Mas Rayhan pasti sangat sibuk...." gumam Cita.Wanita itu memangku Zain yang mulai tertidur dalam pelukannya. Lalu ia menatap ke arah jendela kamar yang besar, menampakkan langit malam yang cerah tanpa bintang."Jadi gini ya kalau dititipi warisan rumah mewah. Andai rumahku masih ada, mungkin aku nggak akan bawa Zain hidup menderita dan bisa ajak Mas Rayhan tinggal bersama," gumam wanita itu lagi sembari menatap menerawang jauh, teringat dengan kehidupan masa lalunya saat keluarganya masih utuh.Cita menghela napas pelan. Kehangatan tubuh Zain di pangkuannya perlahan mereda seiring dengan lelapnya si kecil. Bayi mungil itu mulai bernapas teratur, tenggelam dalam mimpi indahnya. Dengan sangat hati-hati, Cita beranjak dari kursi sudut kamar dan mel

  • Kawin Grebek   113. Oma Sudah Sayang

    Lilis menautkan kedua alisnya. Ia lalu kembali menatap Zain yang masih memasang wajah ceria menggemaskan."Andai saja dulu Oma menemukan kamu lebih awal, Zain. Kamu nggak akan tinggal di kontrakan kecil yang pengap itu, Sayang," gumam Lilis pelan seolah mengajak Zain bicara. "Salahkan ayahmu itu yang sok-sokan mau hidup mandiri dan menggelandang seperti kucing jantan di luar sana sebelum akhirnya membawa ibumu pulang," omelnya kemudian yang disusul suara tawa ceria khas bayi.Di sekitar Lilis, tidak hanya ada satu atau dua orang ART seperti yang diketahui Cita selama ini. Ada beberapa asisten rumah tangga lain yang bertugas di bagian dalam rumah mewah tersebut, hilir mudik membereskan sudut-sudut ruangan sambil mencuri-curi pandang ke arah cucu kesayangan majikan mereka.Zain perlahan-lahan mulai kelelahan setelah cukup lama tertawa dan bercanda dengan sang nenek. Kelopak mata bayi mungil itu tampak semakin berat. Tak lama kemudian, Zain terlelap dengan damai di atas sof

  • Kawin Grebek   112. Diskon Lingerie

    Cita menoleh mengikuti arah telunjuk Bi Jum. Di balik gantungan kain satin yang berkilau di bawah lampu, terpajang sebuah lingerie berwarna merah maroon. Potongannya begitu terbuka, berbahan renda tipis menerawang dengan aksen tali silang yang seksi dan elegan di bagian punggung. Desainnya jelas diperuntukkan khusus untuk menggoda mata pria di malam hari."Non Cita kan cantik dan sudah jadi istrinya Den Rayhan. Coba deh beli ini. Siapa tahu hubungan kalian semakin rapet," bisik Bi Jum dengan senyuman merekah.Cita terdiam mematung. Matanya melebar sempurna. Darahnya berdesir naik ke wajah, membuat kulit putihnya mendadak memerah seperti kepiting rebus hingga ke pangkal telinga."B-Bi Jum... A-apa-apaan ini...?" bisik Cita terbata-bata, nyaris tak sanggup mengeluarkan suara saking malunya.Wanita cantik itu bahkan tak sanggup membayangkan dirinya sendiri mengenakan pakaian setipis dan seseksi itu di hadapan Rayhan. "Nggak mungkin. Saya nggak mau pakai baju kaya gitu.

  • Kawin Grebek   111. Rasa Bersalah yang Semakin Bertambah

    Cita masih berdiri bersandar di balik pintu kamarnya sambil memegang dadanya yang bergemuruh. Rona merah di pipinya perlahan memudar, berganti dengan helaan napas panjang penuh kelegaan karena berhasil melarikan diri dari sang ibu mertua. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara tangisan rewel dari dalam kamar membuat Cita buru-buru mendekati ranjang. Zain terbangun lebih cepat dari dugaan, rupanya bayi mungil itu haus dan minta digendong."Cup cup cup, Sayang. Mama di sini," ucap Cita mencoba menenangkan Zain yang menangis.Setelah membuatkan susu hangat, Zain kembali diam. Cita kembali teringat ucapan suaminya yang membuatnya malu. Tanpa membuang waktu, ia merapikan gendongan kain di tubuhnya, menaruh Zain di dada, dan bersiap melangkah keluar kamar. Ia berniat membawa serta putranya karena tidak mungkin meninggalkan bayi empat bulan itu sendirian di rumah besar yang asing baginya.Namun, begitu ia menuruni anak tangga hingga ke lantai bawah, langkah Cita terhe

  • Kawin Grebek   110. Ternyata Dia Pemalu

    Suara deru mesin mobil Rayhan perlahan-lahan menghilang dari halaman rumah mewah berlantai dua itu, menyisakan keheningan yang cukup canggung bagi Cita. Setelah kepergian suaminya, suasana rumah terasa jauh lebih lengang.Di ruang keluarga yang luas, Cita hanya berdua dengan Zain, bayi berusia empat bulan yang kini mulai menguap, tanda waktunya untuk tidur siang. Sementara itu, Lilis duduk di sofa seberang sambil menyeruput teh hangatnya, memasang raut wajah dingin namun matanya sesekali melirik ke arah menantu dan cucunya dengan penuh perhitungan.Selama ini, jauh di lubuk hatinya, Lilis sebenarnya menyimpan kekhawatiran besar bahwa Rayhan tidak akan pernah menikah dan memberinya cucu. Usia putranya sudah matang, namun Rayhan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sebelum akhirnya pria itu pulang membawa Cita dan bayi mungil ini. Meski Lilis bersikap ketus dan gengsi untuk menunjukkan kelembutan, kehadiran Zain secara tidak langsung berhasil meluluhkan sebagian benteng keras

  • Kawin Grebek   109. Alasan Lembur

    "Ada apa, Mas? Siapa yang telfon? Kok wajah kamu langsung tegang gitu?" tanya Cita saat suaminya sudah kembali dan menutup pintu balkon.Rayhan menatap Cita, berusaha menetralkan ekspresinya agar tak membuat istrinya cemas. Ia berjalan mendekat, lalu membelai pipi Cita dengan lembut. "Bukan apa-apa, Cit. Itu tadi... atasan di kantorku.""Atasan?" Cita mengerutkan keningnya bingung."Iya. Aku dipanggil kerja lagi hari ini. Urusan mendadak," jawab pria itu. "Oh...." Cita ber-oh ria. Wajahnya masih terasa panas sisa perbuatan suaminya. Dan ia tak tahu apakah Rayhan akan melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda atau tidak."Sepertinya kita udahan aja, Cit. Aku... harus siap-siap pergi kerja kembali," ujar pria itu kemudian.Cita menatap ke area pangkal paha suaminya. Di sana masih ada tonjolan yang cukup jelas, namun tidak setegang tadi, mungkin karena adanya interupsi."Sudahlah. Aku bisa atasi ini sendiri. Kamu nggak perlu cemas. Sekarang aku minta tolong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status