Home / Romansa / Kawin Sama Mantan / 5. Aku pulang.

Share

5. Aku pulang.

Author: Ellina Exsli
last update Last Updated: 2025-10-04 20:48:09

Kabar kepulangan Agnesia cukup membuat rumah utama keluarga Agraf menjadi cukup sibuk. Tujuh Tahun tak kembali, begitu banyak orang yang hampir melupakan keberadaan Agnesia. Para pelayanan tampak begitu tergesa menyiapkan semua hal meski mereka semua merasa kedatangan Agnesia tak perlu dirayakan.

"Apakah nona memakan sesuatu yang salah? Kupikir dia tak akan kembali. Dia mengikuti tunangannya seperti lem yang tak akan lepas tapi tak kunjung menikah. Dia menjadi lelucon bagi semua orang. Jika itu nona Acacia, dia tak akan mempermalukan keluarga Agraf."

"Apakah kita harus benar-benar menata ulang dan membersihkan kamarnya? Seharusnya dia membersihkan sendiri. Nona Acacia bahkan tak mengizinkan kita membersihkan kamarnya saat dia selalu berkunjung untuk menginap."

"Harusnya nona Acacia saja yang menjadi cucu keluarga ini. Nona Agnesia benar-benar tidak pantas."

Tiga pelayan yang membersihkan kamar Agnesia menggerutu satu persatu. Di tengah kesibukan mereka membersihkan kamar, salah satu dari mereka melemparkan bantal guling yang tengah ditata.

"Aku tak akan membersihkan kamarnya. Dia harus belajar dari nona Acacia untuk membersihkan kamarnya sendiri."

Melihat hal itu dua pelayan lain mengangguk.

"Kau benar. Kenapa kita harus memberi anak haram ini pelajaran."

"Mari kita buat dia kembali hidup di luar agar nona Acacia tetap sering berkunjung. Jika dia kembali, nona Acacia akan sedih."

Keputusan untuk tidak membersihkan kamar Agnesia pun terbentuk. Mereka bertiga berniat meninggalkan kamar Agnesia yang berantakan karena proses pembersihan yang terhenti.

Sore itu Agnesia benar-benar kembali ke rumah utama keluarga Agraf. Dia membuka pintu tanpa mengetuk dan tertegun saat melihat kakeknya yang tua tengah duduk dengan mata terpejam lalu kedua tangan memegang tongkat tepat di depan tubuhnya. Untuk beberapa saat hatinya teremas karena mengingat kakeknya tak lagi kuat seperti tujuh tahun lalu.

"Kakek," panggil Sia lirih.

Sungguh, di rumah yang lebih pantas disebut mansion ini, kakeknya adalah satu-satunya orang yang begitu tulus menyanyanginya. Dan entah bagaimana dia tak pernah kembali selama tujuh tahun hanya karena mengikuti Aaric dan tinggal bersama. Setelah menyadari semua, Sia benar-benar merasa menyesal akan kebodohannya.

Melihat kakeknya yang tertidur pulas, dia tak berniat untuk membangunkan kakeknya, Agnesia berjalan sangat pelan untuk naik ke kamarnya sebelum suara tua itu menghentikan langkahnya.

"Kau! Cucu tak berbakti! Beraninya kau muncul di sini!"

Agnesia berbalik saat pukulan tongkat itu mengenai punggungnya. Tangannya sontak melindungi tubuhnya dari pukulan tongkat yang berkali-kali datang memukulinya. Seharusnya dia tahu bahwa kakeknya tak mungkin tidur dalam posisi itu. Dia tertipu.

"Ahk, kakek. Kakek, aku bersalah. Aku bersalah. Kakek, hentikan, ini sakit. Kakek,"

"Kau memanggilku kakek tapi tak pernah pulang untuk mengunjungiku? Aku tak punya cucu yang tak berbakti sepertimu."

"Maaf kakek, aku lupa. Kakek, ini sakit. Kakek, aku minta maaf."

Pria tua itu berhenti saat melihat wajah cantik itu memohon ampun. Dia menurunkan tongkatnya dengan mata meneliti wajah Agnesia dengan seksama.

"Kakek, aku bersalah. Aku tak akan mengulangi lagi. Aku bersumpah."

Agnesia duduk memohon dengan dua tangan yang di tangkupkan di depan. Melihat kakeknya yang masih terlihat marah. Sepertinya dia salah menganggap kakeknya tak lagi kuat. Setelah melihat betapa energiknya kakeknya dalam memukulinya, ternyata kakeknya masih sama seperti dulu.

"Aku tak akan mempercayai kata-kata manismu. Kenapa kau kembali? Tujuh tahun, kau sama sekali tak pernah menjengukku yang tua ini. Apakah tunanganmu mengirimmu kesini karena kalian mengalami kesulitan keuangan? Atau dia merasa seluruh asetmu kurang? Katakan, kenapa kau kembali?"

Mendengar itu semua tubuh Agnesia tertegun. Sesuatu pasti telah terjadi dengan asetnya yang di kelola Aaric. Jika tidak, kenapa kakeknya mengatakan itu semua? Sebenarnya apa yang telah terjadi?

"Tunggu, kakek, apa maksud dari kata-kata mu?"

"Sekarang kau pura pura bodoh? Kenapa kau tak kembali tinggal bersamanya?"

Agnesia terduduk di lantai dengan pasrah. "Kakek benar. Itu karena aku sangat bodoh. Kakek, aku benar-benar bodoh."

Melihat cucunya yang mengaku bodoh, sang kakek pun terheran.

"Sia, apakah-"

"Kakek, kali ini aku berjanji akan tinggal di sini," potong Agnesia cepat. "Tak peduli meski Aaric memintaku pindah, aku tak akan angkat kaki dari sini. Aku berjanji, kakek kau harus percaya padaku."

Mendengar hal itu, pria tua itu luluh. Dia mengulurkan tangannya agar Agnesia bangun.

"Cucuku akhirnya kembali. Dia benar-benar kembali,"

Agnesia bangun lalu memeluk kakeknya lelah. "Kakek, aku pulang. Aku akan kembali tinggal disini. Apakah aku masih cucumu? Bisakah aku kembali ke kamarku?"

Sang kakek bernapas lega. Membalas pelukan Sia dengan hangat. "Kau bisa melakukan apapun disini. Nak, ingatlah satu hal. Keluarga Agraf akan selalu menerimamu kembali kapanpun kau pulang."

Agnesia mengangguk terharu. Entah bagaimana dia pun akhirnya menangis seperti anak kecil.

"Istirahatlah. Undangan pesta keluarga Valora-"

"Kakek, aku akan berangkat bersamamu. Aku akan segera bersiap."

Agnesia naik ke kamarnya dan tak menyangka akan berpapasan dengan tiga pelayan yang baru saja keluar dari pintu kamarnya. Suatu kebetulan yang luar biasa, melihat tiga pelayan itu terkejut karena kehadirannya, Sia merasa familiar dengan hal ini.

"Apa yang sudah kalian lakukan?"

"No-nona kami hanya menerima perintah untuk membersihkan kamar."

"Be-benar. Kami-"

"Buka," potong Sia dingin. "Kembali dan buka kamarku!"

"No-nona,"

"Aku akan memeriksanya sendiri."

"Nona!"

Agnesia membuka pintu kamarnya lebar lalu tersenyum tipis saat melihat kamarnya yang berantakan.

"Membersihkan kamarku?" ulang Sia menatap tiga pelayan yang menunduk dalam.

"No-nona ka-kami belum selesai membersihkan kamar nona," ucap salah seorang maju dengan takut.

"Benar. Ja-jadi kami hanya ingin keluar sebentar untuk membersihkan kamar nona Acacia," jelas salah satu pelayan lagi mencari alasan.

"Acacia?" ulang Sia dingin. "Jadi apakah dia sering menginap?"

Ketiga pelayan itu mengangguk takut. Dan anggukan itu membuat emosi Sia meluap.

Sudah lebih dari sepuluh tahun Agnesia kembali ke keluarga Agraf namun beberapa orang masih saja berani menyebut nama Acacia bahkan menjaga kamar Acacia yang harusnya sudah tidak ada.

Di saat umurnya sepuluh tahun, dia kembali dan Acacia pun dikembalikam pada keluarga yang semestinya. Di umurnya yang ke Enam Belas tahun dia menjalani pertunangan resmi dengan Aaric. Dan di umurnya yang ke Dua puluh Tiga, dia baru menyadari bahwa terlalu banyak hal yang harus dia kembalikan pada tempatnya.

Salah satunya Acacia!

"Kenapa hidupku selalu berputar putar di antara mereka? Sangat menjengkelkan!"

"Nona, biarkan kami membersihkan kamar nona terlebih dahulu," Ucap mereka hampir bersamaan.

Agnesia mengabaikan para pelayan dan langsung memasuki kamarnya. Dia melihat ranjangnya yang berantakan diikuti barang-barangnya yang berserakan. Tak mau menunggu, dia pun berjalan menuju ruang penyimpanan pakaian, tas, dan seluruh keperluannya. Melihat banyaknya barang hilang dan kosong, seluruh pikirannya hanya tertuju pada satu nama.

Acacia!

Agnesia tiba-tiba tertawa kecil dan langsung keluar menuju kamar Acacia.

"Nona!"

"Nona, kenapa nona-"

"Berikan kunci kamar Acacia," pinta Sia dingin di depan pintu sebuah kamar yang tertutup.

"Nona, kenapa nona bersikap seperti ini. Ini adalah kamar nona Acacia!"

Salah satu pelayan maju dan langsung mengkritik hal yang akan Sia lakukan.

Sia tak peduli, dia tetap mengulurkan tangannya. "Berikan kuncinya atau aku mimintanya pada kakekku."

"Nona, ini bukan kamar nona. Ini adalah kamar nona Acacia!"

Plakkk!

Dan sebuah tamparan mendarat keras di pipi pelayan yang baru saja bicara. Membuat dua pelayan lain diam.

"Berani kau berteriak padaku! Bahkan anjing tak akan menggonggong pada tuannya!"

Pelayan yang menerima tamparan itu terdiam cukup lama lalu pulih kembali. "Nona Acacia bahkan tak pernah memperlakukan kami seperti ini. Nona Acacia lebih pantas menjadi cucu keluarga ini. Nona Acacia-"

Dan tamparan kedua pun terjadi lagi, membuat pelayan itu tersungkur. Dua pelayan lain ikut terduduk takut.

"Sepertinya kalian lupa. Sebaik apapun dia, cucu keluarga Agraf tetaplah aku! Pantas atau tidaknya, itu bukan urusan kalian yang hanyalah segelintir orang luar. Jika kalian begitu menyukai Acacia, kenapa kalian tak bekerja untuknya! Keluarga Agraf tidak membutuhkan orang yang tidak loyal pada tuan mereka."

Hening, semua pelayan terduduk takut dengan tubuh gemetar.

"Berikan kunci kamarnya."

Salah seorang pelayan memberikan kunci dengan tangan gemetar. Sia mengambil dengan cepat lalu membuka kamar itu lebar-lebar. Matanya mengedar cepat dan senyum dinginnya kembali terlukis tipis.

"Acacia, kau benar-benar luar biasa!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kawin Sama Mantan   83. Semut gunung yang menarik.

    Tanpa diduga, Sulli juga ikut mengambil potongan dari vas bunga yang pecah. Ia mengambil bagian yang cukup tajam, yang bisa melukainya kapan saja. Sia kaget, kini dua orang benar-benar akan membunuhnya. Namun, ia tetap bersikap tenang, tidak banyak bicara, bahkan tidak bergerak sama sekali. "Saya harap Anda berdua tidak keterlaluan pada Nona Sia!" Pengawal pribadi Sia datang dengan cepat, tetapi Houston dan Sulli dengan kompak mendekatkan senjata mereka ke leher Sia. "Aku yang berharap agar kau menjauh dari sini!" Houston memperingatkan pengawal itu, tetapi pengawal itu tidak mundur. Malah ia semakin maju hendak melawan Houston dan Sulli untuk menyelamatkan Sia. Sia yang pergerakannya terkunci, akan benar-benar mati kalau pengawal itu maju selangkah lagi. "Tidak-tidak! Kau mundur saja! Tolong jangan membuat keadaan semakin runyam!" Sia meminta pengawalnya mundur, walaupun pengawal itu hendak membantah, tetapi akhirnya menurut juga. "Paman dan Sulli, tolong lepaskan senjata kalian

  • Kawin Sama Mantan   82. The Graf Imperial bangkrut.

    Setelah kembali ke kamarnya, Sia berpikir cukup lama. Dengan Sulli yang memaksa tinggal di rumah utama, hal itu membuatnya berpikir bahwa pamannya juga pasti tak akan menyerah begitu saja. "Apa yang harus kulakukan pada ayah dan anak itu? Paman dan Sulli tak akan berdiam diri. Di sini tak ada paman Wenart, aku sendiri." Sia bergumam sendiri. Ia tahu, sebentar lagi Houston pasti akan membalaskan dendam padanya, dengan atau tanpa Sulli. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Sia menelepon Melody. Ia memiliki rencana besar dan ia membutuhkan bantuan seorang peretas handal seperti Melody saat ini. Ia langsung menelepon sahabatnya itu, tak perlu menunggu lama, Melody langsung menerima panggilannya. "Apa kau sedang sibuk?" Sia bertanya. 'Aku baru saja bangun, setelah semalaman bekerja.' Terdengar suara Melody yang malas dan masih mengantuk. "Maaf, aku mengganggu waktu istrahatmu. Tapi Melody, apa kau bisa membantuku lagi kali ini?" Suara yang malas itu tiba-tiba berubah menjadi semanga

  • Kawin Sama Mantan   81. Seluruh milikku untuk mas kawin.

    Adrian meminta Dominic untuk menyiapkan beberapa berkas dan surat-surat penting lainnya padanya. Dominic tidak banyak bertanya untuk apa, ia hanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Adrian menunggu di ruang kerjanya sembari berkutat di depan layar komputernya. Dominic datang dengan tumpukan berkas yang diminta Adrian. Dominic menghela napas lelah. Ia lihat Adrian tengah fokus, hingga tak menyadari kedatangannya. Saat tahu, ia menoleh pada Dominic."Tolong buatkan surat pernyataan yang menyatakan bahwa semua aset dan surat-surat penting yang kumiliki akan dipindahkan atas nama Sia. Aku membutuhkannya secepatnya."Dominic terkejut. "Y-ya? Tuan, mengapa menjadi atas nama Nona Sia?"Adrian tersenyum. "Sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak ingin bercerai dengannya. Aku ingin memberikan seluruh aset yang kumiliki kepadanya sebagai mas kawin pernikahan kami. Karena saat kami menikah, aku bahkan tidak memberikannya apapun, bahkan seutas cincin. Jadi inilah bentuk pe

  • Kawin Sama Mantan   80. Aku adalah pemimpin resmi.

    Sia langsung berjalan di tengah-tengah para wartawan yang heboh dengan pernyataan Houston. Houston dan Sulli yang melihat kedatangan Sia pun terkejut. Para pengawal tidak ada yang berani menahan Sia, walaupun berkali-kali Houston memberi perintah. Sia dengan anggun menghampiri Houston dan Sulli, berdiri disamping mereka dan merebut mikrofon. "Apa yang kau lakukan, Sia?" Houston bertanya dengan marah. "Mengungkap kebenaran!" Balas Sia tegas. "Ayah, apa yang sedang ia lakukan?" Sulli gelisah, begitu juga Houston. Para wartawan dan media massa semakin berbisik karena melihat Sia yang tiba-tiba naik ke panggung. "Saya adalah cucu dari Tuan Agraf, pemilik dan pemimpin keluarga Agraf. Kedatangan saya ke mari adalah untuk meluruskan kabar bohong yang telah beredar yang mengatakan bahwa Kakek saya sudah meninggal. Padahal kenyataannya tidak, Kakek saya, Tuan Agraf, saat ini dalam kondisi baik-baik saja!" Sia mengungkapnya dengan tegas. Semua yang ada di sana makin heboh. "Jadi mak

  • Kawin Sama Mantan   79. Kau adalah pemimpin.

    Pagi harinya, Sia terbangun dengan terkejut ketika ia merasakan sebuah tangan mengelus lembut rambutnya. Ia kaget saat melihat Adrian sedang tersenyum menatapnya. "Apa yang kau lakukan?" Sia langsung berdiri menjauh, di sisi lain terlihat Dominic yang masih terlelap. "Hanya mengelus rambut istriku." Adrian tersenyum nakal. Jika tidak ada Dominic, dia pasti lebih berani. "Sayang, aku-" "Stop," potong Sia cepat. Dia bergidik ngeri saat ingatannya berputar tentang kekejaman Adrian. Lalu juga tentang tuan Tua yang ingin perceraian. "Sayang, kita-" "Adrian, kurasa kau sudah jelas tentang satu hal. Mari kita bekerjasama demi kebaikan kita berdua." Sia beranjak, ia hendak ke kamarnya untuk membersihkan diri, tetapi Adrian tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya menghentikan langkahnya. "Aku tak akan pernah melepaskanmu, Sia. Tidak akan. Bahkan walaupun kakekku datang memohon agar aku menceraikanmu, semua itu tidak akan pernah kulakukan. Sekali milikku akan tetap menjadi mil

  • Kawin Sama Mantan   78. Sia, maafkan aku.

    Setelah beberapa jam menyetujui permintaan Sia untuk menjaga Tuan Agraf, Wenart tiba-tiba berubah pikiran. Ia mengkhawatirkan Sia. "Nona, kalau aku menjaga Tuan Tua, lalu siapa yang akan menjaga Nona nantinya?" Sedangkan saat ini, dirinya dan Tuan Tua sudah berada di rumah baru yang letaknya agak jauh dari apartemen Sia maupun rumah utama keluarga Agraf. Di mana di rumah itu Houston maupun anggota keluarga Agraf lainnya tidak akan tahu keberadaan Tuan Agraf. "Paman, aku harus kembali ke apartemen sekarang untuk mengurus beberapa hal." Sia baru saja keluar dari kamar Tuan Agraf sembari sibuk menyimpan ponsel di dalam tasnya. "Sia, setelah kupikir-pikir, aku juga tak bisa membiarkanmu pergi sendiri dan mengurus semuanya sendiri. Bukan berarti aku tidak bersedia menjaga Tuan Tua, hanya saja, ya kau tahu sendiri keadaan sedang kacau. Houston bisa mengirim orang kapan saja untuk menyakitimu." Sia mendesah. Ia menatap Wenart dengan seksama. "Tapi kalau bukan Paman yang menjaga Kake

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status