MasukAaric menoleh, dia membeku melihat Acacia mengenakan gaun yang dia kenali. Sontak matanya menatap Agnesia yang berdiri tanpa merasa bersalah.
"Tidak, kenapa menjadi seperti ini?" gumam Aaric tanpa sadar. Aaric baru menyadari bahwa tunangannya mengenakan gaun berwarna hitam alih-alih gaun berwarna ungu muda yang khusus dia pesankan. Dia juga baru menyadari bahwa rambut panjang Agnesia yang sangat dia sukai kini berubah menjadi pendek dan memperlihatkan kulit pundak yang putih dan halus. Kecantikan yang dominan, begitu percaya diri dan terlihat sangat segar. Aaric bahkan menelan ludahnya kasar setelah memperhatikan tampilan Agnesia dengan seksama. Cantik, Sexy dan menggoda. Bahkan dia tidak yakin lagi bisa menahan dirinya. Tangannya bahkan tanpa sadar menarik lengan Sia untuk kembali tanpa mempedulikan pesta. Namun semua tertahan saat matanya kembali menatap Acacia. "Cia, kenapa kau memakai gaun ini?" Dan akhirnya rasa ingin tahu Aaric membuncah. Acacia begitu puas diri saat melihat gaun yang dia kenakan memang sangat serasi dengan setelan yang Aaric kenakan. Agnesia memang tak berbohong bahwa gaun ini adalah gaun yang Aaric pesan. "Aaric," panggil Acacia lembut karena tak menyadari perubahan ekspresi Aaric. Tangannya terulur tanpa sadar menyentuh jemari Aaric. "Apakah aku sangat cantik?" sambung Acacia penuh percaya diri. "Kalian sangat serasi," puji Agnesia tulus sebelum Aaric sempat menjawab. Dia mengajukan dua jempol tangannya kedepan lalu menggoyangkannya. Dia juga mengambil dua langkah kebelakang saat melihat ekspresi dingin Aaric. Mendengar itu, Acacia semakin bahagia. Dia menatap Sia dengan senyum penuh kemenangan. "Sia, kenapa aku baru menyadari bahwa kau sangat baik hati." Mendengar hal itu Agnesia menahan ejekan dalam hatinya. Namun saat melihat ekspresi Aaric yang kian dingin, dia mengambil langkah mundur sekali lagi. "Yah Cia, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Kalian sangat serasi." "Sia, kau memiliki mata dan penglihatan yang sempurna," puji Acacia kembali. Acacia akhirnya memberanikan diri berdiri tepat di samping Aaric. "Karena hanya aku yang paling pantas berada di sampingnya," ucapnya dalam hati. Dengan penuh percaya diri, Acacia akan bertingkah sebagai tunangan Aaric seperti sebelumnya. Seperti Agnesia kembali dan merebut semua miliknya. Dan jawaban Sia membuat tatapan Aaric menajam. Dia menatap tunangannya tak percaya. Setelah melihatnya bersama Viola, dia merasa Sia sangat tak biasa. Meninggalkan tagihan hotel, meninggalkannya sendiri ke pesta bahkan kini tunangannya memberikan gaun yang dia lukis dan pesan pada Acacia. Tak sampai di situ, tunangannya ini bahkan menjodohkan dirinya pada mantan tunangan palsunya. Sungguh tak bisa dipercaya. Dia benar-benar merasa tak lagi mengenal tunangannya. "Menyingkir," ucap Aaric pelan, dia menatap sekitarnya, pada suasana pesta yang sangat ramai. Tak sedikit mata yang memandangnya berdiri berdampingan dengan Acacia. Hal ini akan memperburuk citranya. "Kataku, menyingkir!" ulang Aaric tajam. Acacia membeku, dia menatap Aaric seolah tak percaya. "A-aaric, apakah ada yang salah?" Acacia sangat ingat bagaimana kata-kata Agnesia siang ini saat mereka bertemu di salah satu toko pakaian ternama. Kata-kata Agnesia kembali terngiang di telinganya. Gaun berwarna Ungu muda ini untuknya! Dan Aaric tidak mencintai Agnesia, melainkan mencintainya! Agnesia bahkan mengatakan bahwa mereka berdua sangatlah cocok bersama. Tunangan Aaric hanya bisa dirinya! Pikiran-pikiran itu terus berkembang secara liar. Tapi saat mendengar Aaric menyuruhnya untuk menyingkir, perintah itu jelas bukan untuk dirinya. Itu pasti Agnesia. Ya, perintah itu pasti untuk Agnesia. Dengan senyum dingin, Acacia menatap Agnesia. "Sia, menjauhlah. Aaric tak menyukaimu." Untuk beberapa saat Agnesia tertegun, dia mencerna semuanya dan tiba-tiba senyum tipis terukir. Tiga langkah ke belakang, dia mundur dengan penuh percaya diri. Matanya menatap Acacia puas, meski dia tahu wajah Aaric mulai menggelap. Kali ini jarak antara dirinya dan Aaric sudah cukup jauh. "Masalah kalian, tak ada hubungannya denganku. Acacia, kau harus menanggungnya," pikir Agnesia puas. Karena dia hanya akan menjadi penonton dengan latar belakang pesta yang memukau. "Itu bukan Sia, tapi dirimu!" tekan Aaric tak lagi bisa menahan emosinya. Acacia tertegun, tubuhnya terhuyung karena tangan Aaric mendorong tubuhnya. "A-aaric, kau!" "Cia, sadari tempatmu! Ini ditengah keramaian!" peringat Aaric lagi. Acacia masih mematung, seolah tak percaya. Namun saat Aaric menyebut tentang keramaian, matanya sontak menatap sekeliling. Pesta yang ramai. Halaman dan aula utama hampir penuh. Dan tak sedikit mata yang memandang mereka. "Apakah semua jelas?" Tanya Aaric dingin. Matanya masih saja menatap gaun yang Acacia kenakan dengan tidak rela. Gaun canti itu harusnya melekat pada tubuh tunangannya. Dan malam ini harusnya mereka berangkat bersama. Aaric yakin, semua mata akan tertuju pada mereka. Karena pesta ini adalah kali pertama mereka berdua secara resmi tampil di depan publik setelah tujuh tahun bersama. Mendengar kata-kata Aaric yang dingin, Acacia mengangguk patuh. Dia menundukkan kepalanya saat menyadari Aaric masih menatapnya. Kedua pipinya tanpa sadar bersemu merah. Benar, dia lupa satu hal, bahwa ini adalah pesta dan tempat keramaian. Dia dan Aaric tak bisa terlihat bersama. Karena urusan pertunangan Aaric dan Agnesia belum resmi di batalkan. Aaric baru saja menyadarkannya untuk bersikap hati-hati. Itu semua adalah bentuk perhatian padanya. Menyadari hal itu Acacia semakin yakin bahwa Aaric benar-benar mencintainya. "Aaric, aku akan mendengarkanmu dengan patuh," ucap Acacia lembut. Dia mundur selangkah lalu menatap Aaric penuh cinta. Melihat tatapan itu Aaric merasa muak. Dia merasa Acacia meninggalkan otaknya. Tapi itu tidak penting, yang terpenting adalah tunangannya. Agnesia pasti salah paham kembali dengan suasana ini. Sama seperti siang tadi. "Sia, aku bisa jelaskan semuanya," Agnesia yang berdiri cukup jauh dari Aaric tak mendengar sama sekali. Dia begitu sibuk dengan kue di piring kecilnya dan sesekali melihat tontonan menarik di depan matanya. Namun matanya menangkap sosok cantik dengan balutan gaun berwarna ungu muda yang cantik. Kulit putih, rambut disanggul ke atas dengan meninggalkan beberapa helai di pinggir wajah. Make up tipis yang membuat wajah itu terlihat semakin cantik. Kehadiran wanita ini membuat mood Agnesia semakin membaik. "Tokoh utama telah datang. Drama ini akan benar-benar menarik dan menegangkan. Aku tak boleh melewatkannya," jerit Agnesia dalam hati. Dia benar-benar antusias untuk melihat akhirnya. "Sia-" "Aaric, akhirnya aku bertemu denganmu." Panggilan Aaric terhenti saat suara familiar terdengar. Seluruh tubuhnya menegang dengan rasa tak percaya saat pelukan hangat dari belakang tubuhnya membuat seluruh tubuhnya kaku. Matanya bahkan mulai meninggalkan Agnesia untuk berbalik memeriksa pemilik suara. "Aaric, aku mencarimu dari tadi." "Viola," ucap Aaric seolah tak percaya. Dia melepaskan pelukan Viola cepat. "Viola, kenapa kau bisa di sini? Tidak, bagaimana kau bisa menghadiri pesta ini?" Karena untuk masuk ke pesta ini, diperlukan undangan resmi. Dan keluarga Viola tak memenuhi syarat untuk hadir. Viola tersenyum saat menyadari tak ada satu wanita pun di samping Aaric. Itu artinya tempat itu kosong. Tunangan Aaric, dia bahkan tak bisa memikirkannya. Wanita itu pasti begitu kecewa pada Aaric sampai membiarkan Aaric pergi sendiri menghadiri pesta. Untung saja dia datang. "Aaric, kau pasti menungguku. Harusnya kau menjemputku saja,"Tanpa diduga, Sulli juga ikut mengambil potongan dari vas bunga yang pecah. Ia mengambil bagian yang cukup tajam, yang bisa melukainya kapan saja. Sia kaget, kini dua orang benar-benar akan membunuhnya. Namun, ia tetap bersikap tenang, tidak banyak bicara, bahkan tidak bergerak sama sekali. "Saya harap Anda berdua tidak keterlaluan pada Nona Sia!" Pengawal pribadi Sia datang dengan cepat, tetapi Houston dan Sulli dengan kompak mendekatkan senjata mereka ke leher Sia. "Aku yang berharap agar kau menjauh dari sini!" Houston memperingatkan pengawal itu, tetapi pengawal itu tidak mundur. Malah ia semakin maju hendak melawan Houston dan Sulli untuk menyelamatkan Sia. Sia yang pergerakannya terkunci, akan benar-benar mati kalau pengawal itu maju selangkah lagi. "Tidak-tidak! Kau mundur saja! Tolong jangan membuat keadaan semakin runyam!" Sia meminta pengawalnya mundur, walaupun pengawal itu hendak membantah, tetapi akhirnya menurut juga. "Paman dan Sulli, tolong lepaskan senjata kalian
Setelah kembali ke kamarnya, Sia berpikir cukup lama. Dengan Sulli yang memaksa tinggal di rumah utama, hal itu membuatnya berpikir bahwa pamannya juga pasti tak akan menyerah begitu saja. "Apa yang harus kulakukan pada ayah dan anak itu? Paman dan Sulli tak akan berdiam diri. Di sini tak ada paman Wenart, aku sendiri." Sia bergumam sendiri. Ia tahu, sebentar lagi Houston pasti akan membalaskan dendam padanya, dengan atau tanpa Sulli. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Sia menelepon Melody. Ia memiliki rencana besar dan ia membutuhkan bantuan seorang peretas handal seperti Melody saat ini. Ia langsung menelepon sahabatnya itu, tak perlu menunggu lama, Melody langsung menerima panggilannya. "Apa kau sedang sibuk?" Sia bertanya. 'Aku baru saja bangun, setelah semalaman bekerja.' Terdengar suara Melody yang malas dan masih mengantuk. "Maaf, aku mengganggu waktu istrahatmu. Tapi Melody, apa kau bisa membantuku lagi kali ini?" Suara yang malas itu tiba-tiba berubah menjadi semanga
Adrian meminta Dominic untuk menyiapkan beberapa berkas dan surat-surat penting lainnya padanya. Dominic tidak banyak bertanya untuk apa, ia hanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Adrian menunggu di ruang kerjanya sembari berkutat di depan layar komputernya. Dominic datang dengan tumpukan berkas yang diminta Adrian. Dominic menghela napas lelah. Ia lihat Adrian tengah fokus, hingga tak menyadari kedatangannya. Saat tahu, ia menoleh pada Dominic."Tolong buatkan surat pernyataan yang menyatakan bahwa semua aset dan surat-surat penting yang kumiliki akan dipindahkan atas nama Sia. Aku membutuhkannya secepatnya."Dominic terkejut. "Y-ya? Tuan, mengapa menjadi atas nama Nona Sia?"Adrian tersenyum. "Sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak ingin bercerai dengannya. Aku ingin memberikan seluruh aset yang kumiliki kepadanya sebagai mas kawin pernikahan kami. Karena saat kami menikah, aku bahkan tidak memberikannya apapun, bahkan seutas cincin. Jadi inilah bentuk pe
Sia langsung berjalan di tengah-tengah para wartawan yang heboh dengan pernyataan Houston. Houston dan Sulli yang melihat kedatangan Sia pun terkejut. Para pengawal tidak ada yang berani menahan Sia, walaupun berkali-kali Houston memberi perintah. Sia dengan anggun menghampiri Houston dan Sulli, berdiri disamping mereka dan merebut mikrofon. "Apa yang kau lakukan, Sia?" Houston bertanya dengan marah. "Mengungkap kebenaran!" Balas Sia tegas. "Ayah, apa yang sedang ia lakukan?" Sulli gelisah, begitu juga Houston. Para wartawan dan media massa semakin berbisik karena melihat Sia yang tiba-tiba naik ke panggung. "Saya adalah cucu dari Tuan Agraf, pemilik dan pemimpin keluarga Agraf. Kedatangan saya ke mari adalah untuk meluruskan kabar bohong yang telah beredar yang mengatakan bahwa Kakek saya sudah meninggal. Padahal kenyataannya tidak, Kakek saya, Tuan Agraf, saat ini dalam kondisi baik-baik saja!" Sia mengungkapnya dengan tegas. Semua yang ada di sana makin heboh. "Jadi mak
Pagi harinya, Sia terbangun dengan terkejut ketika ia merasakan sebuah tangan mengelus lembut rambutnya. Ia kaget saat melihat Adrian sedang tersenyum menatapnya. "Apa yang kau lakukan?" Sia langsung berdiri menjauh, di sisi lain terlihat Dominic yang masih terlelap. "Hanya mengelus rambut istriku." Adrian tersenyum nakal. Jika tidak ada Dominic, dia pasti lebih berani. "Sayang, aku-" "Stop," potong Sia cepat. Dia bergidik ngeri saat ingatannya berputar tentang kekejaman Adrian. Lalu juga tentang tuan Tua yang ingin perceraian. "Sayang, kita-" "Adrian, kurasa kau sudah jelas tentang satu hal. Mari kita bekerjasama demi kebaikan kita berdua." Sia beranjak, ia hendak ke kamarnya untuk membersihkan diri, tetapi Adrian tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya menghentikan langkahnya. "Aku tak akan pernah melepaskanmu, Sia. Tidak akan. Bahkan walaupun kakekku datang memohon agar aku menceraikanmu, semua itu tidak akan pernah kulakukan. Sekali milikku akan tetap menjadi mil
Setelah beberapa jam menyetujui permintaan Sia untuk menjaga Tuan Agraf, Wenart tiba-tiba berubah pikiran. Ia mengkhawatirkan Sia. "Nona, kalau aku menjaga Tuan Tua, lalu siapa yang akan menjaga Nona nantinya?" Sedangkan saat ini, dirinya dan Tuan Tua sudah berada di rumah baru yang letaknya agak jauh dari apartemen Sia maupun rumah utama keluarga Agraf. Di mana di rumah itu Houston maupun anggota keluarga Agraf lainnya tidak akan tahu keberadaan Tuan Agraf. "Paman, aku harus kembali ke apartemen sekarang untuk mengurus beberapa hal." Sia baru saja keluar dari kamar Tuan Agraf sembari sibuk menyimpan ponsel di dalam tasnya. "Sia, setelah kupikir-pikir, aku juga tak bisa membiarkanmu pergi sendiri dan mengurus semuanya sendiri. Bukan berarti aku tidak bersedia menjaga Tuan Tua, hanya saja, ya kau tahu sendiri keadaan sedang kacau. Houston bisa mengirim orang kapan saja untuk menyakitimu." Sia mendesah. Ia menatap Wenart dengan seksama. "Tapi kalau bukan Paman yang menjaga Kake







