Share

Bab 3

Penulis: Muriaz
Dalam keadaan linglung, aku melihat Agnes memberiku senyum sinis.

"Kak Tania, kamu nggak dengar apa kata Kak David?"

Saat aku masih tidak tahu harus berbuat apa dan hanya mengamati Agnes berjalan mendekat, dia justru langsung menendang lututku.

Dalam sekejap, aku kehilangan keseimbangan, dan minuman di tanganku tumpah ke wajah playboy itu.

Detik berikutnya, aku pun terjatuh di atas pecahan kaca, dan ada beberapa luka berdarah muncul di lenganku.

Mataku langsung tertuju pada sosok wanita dengan wajah pucat dan mengerut yang tergeletak di tanah itu.

Teguran tajam Agnes juga sampai ke telingaku.

"Kak Tania, kalau kamu nggak mau bersulang, katakan saja. Nggak perlu berpura-pura gila dan membuat Tuan Herman marah. Apa begini caramu bertindak sebagai istrinya Kak David? Bukankah ini hanya akan mempermalukan Kak David?"

Playboy itu tertegun sejenak. Setelah menyadari apa yang sedang terjadi, dia menatapku dengan mata terbelalak.

"Ka ... kamu istri David Tandiono?"

Aku terdiam, hanya terkulai di tanah. Rasa sakit di tubuhku dan pikiranku seakan mencekikku.

Playboy itu mengulurkan tangan dan meraih lenganku, tetapi David langsung menghentikannya.

David melirik wajahku yang berlumuran darah, matanya tiba-tiba menjadi gelap. Dia menatap playboy itu dan menggertakkan giginya.

"Enyah dari sini!"

Playboy itu merasa terintimidasi dan terpaksa menelan amarahnya, lalu pergi dengan diam-diam. Sebelum pergi, dia meyempatkan diri untuk mengumpat.

"David! Kamu gila? Kalau aku tahu itu istrimu, aku nggak akan menyentuhnya!"

Setelah playboy itu berlalu, aku beranjak dan bersiap pergi, tetapi lenganku sekali lagi dicengkeram oleh sebuah tangan besar.

"Tania, kamu senang karena nggak perlu dihukum lagi, 'kan? Apa dua tahun di pulau itu nggak mengajarkanmu sopan santun?"

"Kamu hanya perlu bersulang untuk menyelesaikan masalah ini, kenapa kamu malah bertingkah seperti orang bodoh? Kamu jelas tahu aku memintamu bersulang untuk mencegah hal ini terjadi. Apa kamu nggak bisa menilai situasi dengan benar?"

Melihat David yang marah, aku hanya membalasnya dengan mataku yang memerah.

Kali ini, aku tidak menahan diri lagi dan balas menghardiknya, "David! Aku istrimu. Asalkan kamu menjelaskan identitasku, masalah ini tetap bisa terselesaikan."

Kata-kataku sangat jelas. David-lah yang tidak mau menjelaskan karena ingin melindungi harga diri Agnes yang mempermainkan perasaanku saat itu.

David merasa sedikit bersalah setelah dibongkar olehku.

Melihat itu, Agnes masih ingin membelanya.

Namun, David mengerutkan kening, sebuah pemandangan yang jarang diperlihatkannya. Pria itu membuka mulut dan menghentikan Agnes.

"Cukup! Diamlah. Kembali ke mobil dan tunggu aku."

David baru menghela napas setelah suara langkah kaki itu menghilang.

"Maaf, tapi aku masih harus jelaskan. Aku benar-benar nggak tahu apa maksud dari 'menjejalkan telur'. Kalau aku tahu, aku nggak mungkin setuju."

"Mengenai Agnes, kuharap kamu bisa mengerti. Gimanapun, saat dia kembali ke tanah air, dia langsung mendengar kabar aku sudah meni ...."

David tidak menyelesaikan kata-katanya, tetapi aku bisa menebak apa yang akan dia katakan.

Agnes sengaja mempersulitku karena suasana hatinya sedang buruk ketika mengetahui David telah menikah. Jadi, David ingin aku memaafkannya. Itulah yang ingin pria itu katakan.

Tatapan mata kami bertemu. David sepertinya memahami ejekan yang membingkai mataku. Dia menghela napas lagi.

"Ya sudah. Aku lihat kamu juga terluka. Aku akan minta sopir untuk mengantarmu ke rumah sakit. Agnes sepertinya kurang sehat. Aku mau memeriksanya dulu. Kita akan bicarakan lagi sewaktu aku kembali nanti."

Sebelum aku sempat menjawab, dia kembali menambahkan, "Meskipun kamu nggak menyelesaikan hukumanmu, aku izinkan kamu menukarnya dengan kupon pengampunan."

Selesai berbicara, dia berbalik dan pergi. Sembari mengamati kepergiannya, aku menyentuh dahiku yang masih berdarah dan tertawa terbahak-bahak.

Namun, aku juga tidak peduli lagi.

Masih ada dua kali. Aku akan pergi setelah melunasi utang budiku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 13

    "Meskipun kamu nggak memberikan bunga saat mengutarakan perasaanmu, aku tetap berbaik hati dan setuju untuk menjadi pacarmu.""Sudah senang, 'kan? Jangan melompat ke sungai lagi, Haikal.""Anggap saja demi aku."Haikal tiba-tiba menatapku dengan ekspresi terkejut.Matanya mendadak memerah. Dia menggenggam tanganku dengan erat.Sebenarnya, aku tidak berencana untuk melompat ke sungai hari itu. Aku hanya tiba-tiba mendapat ide untuk berdiri di tempat yang lebih tinggi agar bisa melihat lebih jauh.Namun, aku justru bertemu dengan Haikal, yang sebenarnya berada di sana untuk melompat ke sungai.Hari itu, tatapan matanya benar-benar menunjukkan keputusasaan dan kematian.Jadi, aku memutuskan untuk pulang bersamanya. Lagi pula, menyelamatkan nyawa berpahala besar.Aku tidak tahu apa yang telah dia alami, tetapi karena dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya kepadaku, aku akan menjadi orang yang dia pedulikan. Dia seharusnya tidak ingin mati lagi, 'kan?Kehidupan sebagai pemilik toko b

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 12

    "Kamu benar, aku memang kotor. Aku akan menemukannya dan menebus dosa-dosaku, tapi aku harus membalaskan dendam untuknya!"Agnes merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya karena tatapan tajam pria itu yang begitu dingin.David membantingnya ke tanah dan berkata kepada pengawal di sampingnya, "Pakai lebih banyak cara siksa dia, tapi ingat, jangan sampai dia mati!"Menyadari situasi berada di luar kendali, pupil mata Agnes melebar. Dia sangat ketakutan sehingga kehilangan kendali dan mengeluarkan jeritan melengking."Kak David, ini salahku, ini salahku. Aku minta maaf padanya. Aku bisa pergi, aku bisa pergi ke luar negeri, aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Tapi kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini. Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, David!"David melemparkan Agnes ke sekelompok preman, mengabaikan teriakan dan permohonan ampunnya, lalu mengambil berbagai foto dan video wanita itu, mengunggahnya di internet, yang seketika memicu serangkaian hujatan dan perundunga

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 11

    Buku harian itu mencatat setiap peristiwa dengan jelas, termasuk hal-hal yang David katakan kepada Agnes.David seolah-olah berada di posisi Tania, mengalami semuanya secara langsung.Tulisan itu sangat menyedihkan dan mencekik, dipenuhi dengan pikiran-pikiran melankolis.Rokok itu menyala sesekali di dalam ruangan. David tetap berada di samping tempat tidur, membaca buku hariannya sepanjang malam.Dia menghabiskan sebungkus rokok itu. Asap yang menyesakkan di ruangan itu seolah mencekiknya sampai mati.Saat fajar menyingsing, matanya tampak merah. Dia dipenuhi kesedihan, kelesuan, dan keputusasaan serta kemalangan yang tak berujung.Sekarang, dia sepertinya mampu berempati terhadap Tania.Namun, semuanya telah terlambat.Dia tidak bisa menemukan Tania lagi.Dia memang bajingan!Jelas-jelas Tania adalah korban, jelas-jelas Agnes sangat kejam dan tidak manusiawi, tetapi dia tetap berpihak pada Agnes.Dia bahkan berencana membungkam Tania, menyuruhnya untuk tidak menghubungi polisi dan m

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 10

    "Oh ya, Tuan. Nyonya bilang brankasnya sudah penuh."Pelipis David berdenyut-denyut. Dia buru-buru berlari ke ruang kerja untuk membuka brankas.Dia tidak pernah mengerti mengapa Tania menaruh brankas setinggi setengah badan orang di ruang kerja.Dia pernah menanyakan hal ini pada Tania ketika para pekerja sedang memasang lemari.Tani menjawabnya sambil tersenyum, "Rahasia! Kamu akan tahu saat brankasnya penuh."Saat itu, David tidak terlalu memikirkannya. Dia beranggapan bahwa itu hanya permainan konyol gadis kecil.Namun, kini dia menatap lemari yang penuh dengan sertifikat kepemilikan properti, bernomor 1 hingga 290.Dia masih tetap bingung.Apa rahasianya adalah tiba-tiba lenyap tanpa jejak?Meninggalkan perjanjian cerai dan pemutusan kontrak.Kemudian, menghilang sepenuhnya dari dunia David.Lantas, apa itu 290?Sebelumnya, dia mencatat angka 287 di buku hariannya. Apa artinya itu?David merasakan ketidakberdayaan yang luar biasa di tengah amarahnya.Keinginannya untuk merokok tib

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 9

    Air mata David jatuh setetes di ponselnya. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi."Apa cedera kakinya sangat parah?"Suara manajer langsung berubah marah."Keterlaluan sekali. Orang-orang itu sengaja ingin menghancurkannya. Mereka nggak menyentuh bagian tubuhnya lainnya, tapi mereka melumpuhkan kakinya. Ironis sekali!""Awalnya, masih ada harapan untuk sembuh, tapi siapa sangka, dia terlambat dilarikan ke rumah sakit. Kaki kanannya sudah nggak bisa diselamatkan lagi."Hanya kakinya yang cedera? Mereka sengaja ingin menghancurkan masa depannya?David merasakan sakit yang menusuk di hatinya. Memikirkan Agnes membayar orang untuk melakukan hal ini membuat hatinya sakit seolah-olah diremas oleh tangan yang besar. Rasa bersalah yang mendalam muncul di dalam dirinya.Namun, yang dia inginkan saat ini hanyalah menemukan Tania secepatnya!"Tania, angkat teleponnya! Angkat teleponnya!""Aku bahkan belum setuju, jadi atas dasar apa kamu menceraikanku secara sepihak?"Di ruangan yang kosong itu,

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 8

    [Aku sudah membalas kebaikanmu, tapi cinta kita nggak bisa berlanjut lagi. David, ayo kita bercerai.]Benak David mendadak kosong. Dia seolah tidak mengenali kata "cerai" itu.Dia mengambil berkas itu, membuka halaman terakhir, dan akhirnya melihat tanda tangan istrinya di sana, Tania Biantoro.Dia pun akhirnya menyadari bahwa Tania benar-benar ingin menceraikannya.Melihat kontrak pemutusan kerja di depannya, dia membanting ponselnya dengan kesal.Lalu, dia menelepon manajerku dan membentaknya, "Berani-beraninya kalian mengakhiri kontraknya tanpa sepengetahuanku?! Kalian cari mati?!"Manajer itu ketakutan dan hanya bisa menjelaskan dengan lemah, "Pak David, bukankah kamu beri tahu kami kalau luka Agnes sangat serius. Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, kami nggak boleh mengganggumu, 'kan?"David membeku.Dia ingat menerima panggilan telepon ketika dokter tidak bisa menyembuhkan Agnes.Namun, dia sangat panik waktu itu. Setelah memaki orang di ujung telepon sana, dia langs

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status