Share

Bab 3. Darah Rahasia

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-28 00:55:22

"Apa kalian lihat sendiri?! Baloknya jatuh tepat di atas dia!"

"Harusnya... dia mati. Tapi dia malah bangkit!"

"Dia bukan manusia..."

Suara-suara berdesis di antara pekerja proyek ketika Ryan mulai berjalan pelan ke arah mereka, tubuhnya basah kuyup oleh hujan dan lumpur. Bekas darah masih terlihat samar di keningnya, tapi lukanya telah menutup sempurna, seakan tak pernah ada luka sama sekali.

Dari balik helm kuningnya, Kepala Pengawas Proyek, Tuan Qiwi, menghampiri dengan ekspresi kaku dan penuh tekanan. “Anak muda, kau baik-baik saja?” tanyanya memastikan.

Ryan hanya menatapnya sebentar, selalu menjawab dengan ragu. “Aku... tidak tahu.”

Tuan Qiwi melirik para pekerja yang mulai gelisah dan berbisik seperti melihat hantu. Ia tahu, kalau ini dibiarkan, bisa saja proyek ini dianggap angker, atau lebih buruk lagi, akan viral di media sosial. Skandal bisa mencuat, lalu investor kabur. Semua yang dia bangun bisa runtuh dengan adanya insiden ini.

“Dengar ya, ini hanya insiden kecil. Tapi kau harus tetap diperiksa,” kata Tuan Qiwi, suaranya lembut tapi tegas. “Kami akan tanggung biayanya. Kami akan antar kamu ke rumah sakit terbaik malam ini juga.”

Ryan tidak menjawab. Dia tak tahu harus berkata apa. Dunianya terlalu cepat berubah dalam hitungan menit. Tapi satu hal yang dia rasakan dengan jelas, ada yang aktif di dalam tubuhnya. Seperti ada aliran yang berputar lembut di sepanjang nadinya, sesuatu yang hangat, mengalir dari jantung ke ujung jari, dan kembali lagi. Seperti nafas... tapi bukan tentang sekedar nafas.

***

RSU Jambire, Malam Hari.

Kamar UGD terlihat tenang saat Ryan dibaringkan di ranjang. Beberapa perawat dan seorang dokter muda memeriksanya dengan penuh keraguan.

“Tekanan darah normal. Denyut jantung juga stabil. Tidak ada patah tulang, dan scan otaknya... nihil. Tidak ada pendarahan sama sekali.”

Dokter yang memimpin pemeriksaan, Dr. Wardana, mengernyit. “Oh ya, tadi kalian bilang... pria ini baru saja tertimpa balok baja dari lantai dua belas, tapi kenapa ini tidak ada luka serius sama sekali?”

Para perawat pun mengangguk kikuk, sebab pemeriksaan memang tidak menunjukkan apapun yang menunjukkan tanda-tanda habis kecelakaan.

“Bahkan tidak ada gegar otak ringan?” tanya dokter Wardana lagi, nyaris tidak percaya.

Salah satu perawat berbisik, “Mungkin... mungkinkah dia punya tubuh khusus, Dok?”

Dokter Wardana menggeleng-geleng perlahan. “Tubuh khusus atau tidak, itu urusan genetik. Tapi ini... ini di luar akal sehat, hmm.”

Saat Ryan membuka mata, suara mereka bisa ia dengar dengan sangat jelas. Bahkan... ia bisa merasakan ketegangan urat di dahi sang dokter. Dia juga bisa membaca kelelahan jantungnya, bahkan Ryan bisa melihat titik lemah di pundaknya yang terlalu lama menanggung beban kerja.

Semua itu terjadi... begitu saja, lalu dia duduk perlahan. “Maaf,” ucap Ryan. “Aku tidak terbiasa diperiksa seperti ini.”

Dokter Wardana menoleh, selalu memberikan beberapa pertanyaan umum. “Apakah kamu... merasa pusing, mual? Atau ada gangguan pada penglihatan?”

“Aku merasa... bahkan saat ini aku berada pada posisi di mana tubuhku terlalu sehat.”

***

Di kamar rawat.

Berapa jam kemudian, Ryan dipindahkan ke kamar rawat biasa. Hujan masih mengguyur kota dari balik jendela besar. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam giok di lehernya, dan menutup mata.

Dalam pikirannya, dia kembali melihat sosok berjubah panjang dari “mimpi” tadi. Suara lelaki itu menggema, syahdu di telinganya.

'Tubuhmu kini adalah wadah bagi warisan para leluhur. Dengan giok itu, kau memiliki akses pada ‘Pengetahuan Langit’. Ilmu medis, energi tubuh, dan seni penyembuhan telah mengalir dalam darahmu. Tapi ingat... setiap kekuatan menuntut pilihan.'

Setelahnya, Ryan merasakan perutnya yang terasa hangat. Matanya tiba-tiba menangkap pola energi samar dari dinding, dari tubuh perawat yang lewat, dari dirinya sendiri. Tentu saja ini membuat Ryan terkejut menyadari bahwa dirinya bisa melihat Qi.

***

Berbeda dengan kejadian di Luar Kamar rawat, tiba-tiba dari lorong rumah sakit, terdengar bunyi riuh dan langkah kaki tergesa.

"Pasien VIP masuk! Keadaan darurat!"

Ryan mendengar suara perawat berteriak, “Ini Wakil Gubernur Sadewa! Dia kolaps di tengah-tengah pidato!”

Akhirnya, Ryan pun membuka mata. Sesuatu dalam dirinya menyengat tajam, seolah ada medan energi yang menariknya ke luar. Jantungnya berdegup cepat dan dia tahu jika seseorang akan mati malam ini.

Tapi untuk pertama kalinya juga dalam hidupnya, Ryan merasa bahwa dia bisa menyelamatkan seseorang.

Ia bangkit dari ranjang, nyaris tanpa sadar, dan melangkah menghampiri pasien yang sedang dikelilingi dokter-dokter senior.

"Jangan disentuh pasiennya!" bentak salah satu dokter jaga.

Tapi Ryan sudah menempelkan dua jarinya ke leher pria itu, tepat di nadi. Matanya terpejam merasakan aliran darah yang tersumbat. Ia bisa “melihat” sumbatan energi yang menggumpal di otak bagian kiri.

"Aku tahu caranya..." gumamnya.

Tanpa menunggu persetujuan, dia menekan dua titik di bawah rahang, lalu satu di belakang telinga kanan. Gerakannya cepat, tepat, dan seolah-olah terlatih puluhan tahun.

Semua yang ada di ruangan membeku.

Detik berikutnya, wakil gubernur Sadewa, yang tadi tak sadarkan diri, menggerakkan jari-jari tangan kanannya perlahan lalu tangannya dan setelah itu matanya terbuka.

"...di mana... saya?" katanya lemah, tapi tetap jelas.

Dokter Wardana dan yang lainnya tertegun. Mereka belum sempat memberi injeksi apapun. Belum sempat memberi penanganan intensif. Tapi pasien pulih oleh Ryan.

"Siapa kamu sebenarnya?" tanya salah satu dokter jaga pada Ryan, rasa curiga dan heran tampak nyata.

Ryan sendiri tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri kaku, masih bingung dengan apa yang dilakukannya. Tubuhnya panas dingin, keringat dingin membasahi keningnya. Dunia di sekitarnya mendadak terasa sempit.

Dalam hatinya, hanya satu suara bergema. "Ini bukan aku... Siapa aku, dan ini... ini bukan hidupku yang dulu..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 13. Waktu yang Dipercepat

    Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 12. Tekanan dari Dinas

    Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 11. Jejak yang Hilang

    Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 10. Tawaran Menarik

    Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 9. Kerajaan Karana

    Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 8. Geng Serigala Timur

    Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status