LOGINMelihat Rigen yang berlutut di tanah sambil memohon ampun, wajah Leonel langsung berubah-ubah antara pucat dan merah.Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Howard ternyata begitu menghargai Jimmy.Sialan! Dia baru saja bertemu Laura dan sebenarnya ingin menunjukkan kemampuannya di depan Laura, agar Laura mengaguminya. Dengan begitu, Laura pasti akan menjadi miliknya cepat atau lambat.Sekarang, Howard justru membuatnya kehilangan muka seperti ini! Apa dia sudah tidak menginginkan investasi 10 triliun lebih itu?"Sepertinya kamu sang pembawa rezeki juga nggak terlalu penting ya!" Zisel menatap Leonel dengan tatapan mengejek."Aku sudah bilang, jangan terlalu sok hebat. Nanti wajahmu malah bengkak karena ditampar. Tapi kamu nggak mau percaya.""Oh ya?" Leonel mendengus dingin, lalu berkata dengan gigi bergemeletuk, "Justru bagus kalau Howard datang. Aku ingin melihat sendiri, mana yang lebih penting baginya. Investasi triliunan itu atau temannya ini!"Dia tidak percaya Howard akan menyin
"Sepertinya hari ini aku perlu menyadarkan kalian, siapa sebenarnya yang kotoran di sini." Sambil berkata begitu, Leonel mengeluarkan ponselnya dan menelepon Howard.Melihat tindakan Leonel, ekspresi Laura langsung berubah. Dia buru-buru menarik Zisel ke samping dan berbisik pelan, "Dia itu pembawa uang bagi Howard. Dia memegang investasi lebih dari 10 triliun!""Meskipun Jimmy kenal Pak Howard, kalian tetap nggak mampu menyinggungnya! Cepat minta maaf padanya, nanti aku bantu menengahi supaya masalah besar jadi masalah kecil!"Zisel sedikit terkejut, lalu tersenyum sambil menggeleng. "Jimmy memang benar. Kamu sebenarnya nggak punya niat jahat, cuma otakmu saja yang kurang jalan."Dia sama sekali tidak meragukan bahwa Laura memang bermaksud baik pada mereka. Namun, cara berpikir Laura memang tidak terlalu bagus.Dia juga tidak memikirkannya. Kalau Howard benar-benar sangat menghargai Leonel, seberapa sibuk pun dia pasti akan datang sendiri menemani Leonel makan.Sepuluh triliun investa
Rigen mana mungkin mampu menahan satu tamparan dari Jimmy. Begitu tamparan itu mendarat, Rigen langsung dipukul hingga kepalanya pusing. Tubuhnya terhuyung-huyung, lalu jatuh ke tanah."Pak Rigen!""Berani sekali kamu memukul Pak Rigen!""Kalian tunggu saja sampai tempat ini tutup!"Melihat Rigen dipukul, beberapa orang segera panik dan buru-buru membantu Rigen berdiri.Rigen mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya, lalu menatap Jimmy dengan wajah muram. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Kamu akan mati! Aku pasti akan ....""Pak Rigen!" Laura buru-buru menghentikan Rigen, menggeleng untuk mengingatkannya, "Jimmy kenal Pak Howard."Hati Rigen langsung bergetar, lalu dia menatap Jimmy dengan heran. "Kamu kenal Pak Howard?"Jimmy tersenyum sambil mengangguk. "Karena itu, aku membantu Pak Howard mengajarimu gimana seharusnya cara bekerja."Mendengar itu, wajah Rigen langsung berkedut keras. Kalau bukan karena kata-kata Laura tadi, dia pasti tidak akan membiarkan masa
"Seorang pelayan saja berani bicara seperti ini kepadaku?" Orang itu menatap pelayan dengan garang."Cepat panggil bos kalian! Hari ini dia harus datang sendiri menyambut kami! Kalau nggak, aku pastikan tempat ini nggak bisa buka lagi!"Pelayan itu menggertakkan giginya, memegangi pipinya, lalu berlari masuk.Saat ini, Zisel sedang memimpin seluruh karyawan merayakan kebebasan Jimmy. Dia bahkan mengumumkan bahwa gaji semua orang akan digandakan bulan ini.Membuat para karyawan seperti disuntik semangat, mereka bersorak-sorai dan berbaris untuk bersulang dengan Jimmy.Saat semua orang sedang sangat bersemangat, pelayan yang tadi ditampar berlari masuk sambil memegang wajahnya dan menangis, lalu mengatakan bahwa ada orang yang datang membuat keributan."Ada yang buat keributan?" Jimmy mengerutkan kening dan bertanya, "Apa yang terjadi?"Pelayan itu tidak menyembunyikan apa pun, menceritakan secara singkat apa yang telah terjadi.Setelah mendengar penjelasan pelayan itu, Jimmy dan Zisel s
Dalam perjalanan menuju Resor Scene, Laura baru tahu Howard sebenarnya berencana menjamu Leonel secara pribadi.Namun, di pihaknya tiba-tiba ada urusan penting, jadi dia hanya bisa mengatur beberapa eksekutif perusahaan untuk menemani Leonel.Rigen adalah wakil presdir eksekutif Grup Horizon. Di Grup Horizon, dia bisa dibilang adalah orang nomor dua. Ini benar-benar level eksekutif yang sangat tinggi. Harapan di hati Laura langsung menyala kembali.Dalam obrolan santai, Laura juga mengetahui bahwa sekarang Leonel adalah eksekutif di perusahaan investasi papan atas dalam negeri, Titan Capital. Kali ini, dia datang ke Bataram untuk membicarakan investasi dengan Grup Horizon.Kabarnya, nilai investasinya lebih dari 10 triliun. Mendengar semua itu, Laura sangat terkejut sekaligus semakin kagum pada Leonel.Leonel tidak memiliki keluarga besar yang kuat di belakangnya. Dia bisa mencapai posisi seperti sekarang sepenuhnya berkat usahanya sendiri. Dibandingkan dengan orang-orang seperti merek
Namun, Bisma tetap bersikeras dan tidak mau mengalah sedikit pun.Pada akhirnya, Bisma benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi dia hanya bisa berkata, "Di tempatku ini, Grup Sucipto jelas nggak akan lolos. Kalau Bu Laura benar-benar ingin bekerja sama dengan kami, bisa coba cari Jimmy. Selama dia yang bicara, Pak Howard pasti akan setuju."Mencari Jimmy? Hati Laura langsung terasa seperti tertusuk. Dia baru saja resmi bercerai dengan Jimmy, lalu sekarang harus pergi mencarinya untuk meminta bantuan?Kalau begitu, bukankah benar seperti yang dikatakan ayahnya, benar-benar tidak punya harga diri lagi?Sambil tersenyum pahit, Laura kembali mencoba meyakinkan Bisma. Namun, sikap Bisma sangat jelas.Di tempatnya, Grup Sucipto pasti tidak akan lolos. Apa pun yang Laura katakan tidak ada gunanya.Laura tidak punya pilihan lain. Melihat sudah hampir waktunya makan siang, dia mengusulkan untuk mentraktir Bisma makan, tetapi Bisma menolak dengan alasan sudah ada janji lain.Laura kel
Setelah Broto menutup telepon, semua orang langsung saling memandang.Sialan! Rafael si bodoh ini ternyata benar-benar cuma omong besar! Orang ini sakit apa sih? Omong kosong segila ini juga berani dia lontarkan sembarangan? Sekarang ketahuan membual, 'kan?"Tunggu dulu!" Saat itu, seseorang baru be
"Kurang ajar!" Wajah Zosh langsung menjadi dingin. "Beraninya bicara seperti itu pada Tuan Ryder! Kamu sudah bosan hidup ya?"Jimmy mencebik, menatap Zosh dengan tidak senang. "Aku lagi bicara sama majikanmu. Kamu yang cuma anjing ini lompat keluar buat gonggong apa?"Begitu mendengar itu, ekspresi
Orang bodoh ini, di saat seperti ini masih ingin menggali makam? Dia memang minta dipukul atau pukulan tadi masih terlalu ringan? Apa dia benar-benar mengira Jimmy tidak berani memukulnya di depan Endaru?"Sudah, kalian jangan terlalu emosi." Endaru kembali berbicara untuk menghentikan mereka, lalu
Suara yang tiba-tiba muncul itu langsung menarik perhatian semua orang. Tanpa sadar, mereka mengikuti arah suara tersebut dan menoleh.Tampak seorang lelaki tua berjalan perlahan mendekat. Jimmy pun menghentikan tindakannya terhadap Ryder dan mengangkat pandangan ke arah lelaki tua itu.Eh? Jimmy se







