ログインMendengar ucapan Benjamin, Jimmy hanya bisa menggeleng tak berdaya. Benar-benar tidak tahu diri! Benar-benar cari mati!"Aku urus para satpam ini, kamu urus tuan muda itu! Ingat, cukup kasih pelajaran saja!" Jimmy memberi instruksi kepada Yunan, lalu langsung berjalan menuju para satpam.Dia sendiri pernah bekerja sebagai satpam selama beberapa tahun. Dia tahu orang-orang ini hanya menjalankan perintah. Kalau Yunan turun tangan, mereka pasti akan celaka.Yunan tidak menjawab, hanya berjalan ke arah Benjamin dengan ekspresi dingin. Meskipun Jimmy membawa beberapa kantong pakaian besar di tangannya, gerakannya sama sekali tidak lambat. Dalam sekejap, dia sudah menjatuhkan beberapa satpam."Aku nggak mau menyulitkan kalian, jangan ikut campur." Setelah memberi peringatan, Jimmy menoleh kembali ke arah Yunan."Kenapa kalian masih bengong? Tangkap dia!" Benjamin berteriak dengan marah kepada orang-orang di sekitarnya.Mereka tersadar dan segera maju untuk menangkap Yunan, tetapi langsung d
Jimmy tidak tahan melihatnya, langsung mengambil beberapa gaun untuk Yunan. Ada yang panjang, ada yang pendek."Aku nggak mau pakai gaun!" Begitu melihat Jimmy mengambil gaun, Yunan langsung meledak.Jimmy santai saja. "Aku beli buat orang lain, boleh 'kan?"Yunan mendengus sinis, baru berhenti bicara. Namun, karena tidak puas dengan pegawai toko itu, Yunan langsung pindah ke toko lain.Setelah kembali memborong barang, Jimmy membawa beberapa kantong besar pakaian ke kasir untuk antre membayar.Sementara itu, Yunan tetap seperti bos besar, berdiri santai dengan tangan kosong di samping, menunggu Jimmy membayar.Pada saat yang sama, putra pemilik mal, Benjamin, sedang berkeliling memeriksa mal ditemani oleh para manajer. Dari kejauhan, dia sudah memperhatikan Yunan. Aura dingin dan anggunnya langsung menarik perhatian Benjamin.Celana jeans biru yang dikenakan Yunan membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, membuat hati Benjamin langsung tergoda. Tanpa ragu, Benjamin langsung berjal
Keesokan harinya, kabar bahwa Sabrina menawarkan hadiah 4 triliun untuk mencari pemilik setengah liontin giok lainnya sudah menyebar di seluruh Bataram.Zisel mengira Jimmy belum tahu soal ini, jadi pagi-pagi sekali dia menelepon untuk memberitahunya.Jimmy tidak banyak menjelaskan, hanya bilang dia juga sudah mendengar kabar itu dan menyuruhnya fokus saja pada bisnisnya, tidak perlu ikut campur urusan ini."Benar juga." Zisel tersenyum, lalu berkata dengan nada sedikit licik, "Oh ya, aku baru dengar, Kakek akan keluar dari rumah sakit sore ini. Paman Andra kemungkinan akan undang kamu makan malam, jadi kamu harus siap-siap ya."Yahya akan keluar dari rumah sakit? Jimmy menggeleng sambil tersenyum. Kalau dia benar-benar keluar, entah akan sebesar apa keributan yang akan terjadi di Keluarga Sucipto. Ah, biarkan saja!Barusan dia menyuruh Zisel untuk tidak ikut campur urusan orang lain, sekarang dia sendiri malah memikirkannya. Dia hanya berharap Yahya tidak sampai sakit lagi karena emos
Meskipun kemampuan medis Jimmy cukup bagus, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa dia adalah orang yang tak tahu malu!"Lihat apa kamu?" Edgar memelototi cucunya. "Selama aku masih hidup, kamu nggak bisa seenaknya batalin pertunangan! Mau mundur ya? Pukul aku sampai mati, baru aku nggak akan ikut campur lagi! Biar aku bisa ke alam baka dan minta maaf pada kakeknya Jimmy!"Hati Yasmin langsung bergetar. Seketika, dia tidak bisa berkata apa-apa.Jimmy melirik mereka dengan wajah tanpa ekspresi, lalu berdiri dan berkata, "Anggap saja ini pengobatan gratis, aku nggak minta biaya. Untuk obat, kalian bayar sendiri. Pak Mukhtar, aku pergi dulu. Resepnya nanti kukirim ke kamu. Sudah ya!"Setelah mengatakan itu, Jimmy langsung pergi. Dia tidak mau tinggal lebih lama satu detik pun. Biarkan saja Yasmin berdebat sendiri dengan orang tua itu. Dia benar-benar malas ikut campur lagi. Berdebat bolak-balik juga tidak ada gunanya, cuma buang tenaga."Urusan pernikahan kalian, aku yang tentukan!" Edgar m
Di bawah desakan Jimmy, mereka akhirnya masuk ke kamar. Selain Mukhtar, Edgar dan Edward juga ikut masuk. Jelas, mereka ingin melihat bagaimana Jimmy melakukan akupunktur pada Yasmin.Jimmy tidak bertele-tele, langsung menjadikan Yasmin sebagai bahan ajar, mengajari Mukhtar cara menusukkan jarum di tempat.Mendengar semua itu, hati Yasmin langsung diliputi kekesalan. Jadi, dia dijadikan kelinci percobaan?"Pfft!" Tiba-tiba, tanpa peringatan, Yasmin menyemburkan seteguk darah."Kak!""Yasmin!"Edward dan Edgar langsung berseru bersamaan.Edward bahkan buru-buru maju. Wajahnya penuh amarah saat menatap Jimmy. "Hei! Berani sekali kamu mencelakai kakakku!""Pergi sana! Pergi jauh-jauh!" balas Jimmy dengan kesal, tetapi tangannya tetap bergerak tanpa berhenti.Edward marah besar. Baru saja ingin menyerang, dia langsung ditahan oleh Edgar."Dokter Mukhtar, gimana kondisi cucuku?" Edgar menatap cucunya dengan cemas, lalu bertanya kepada Mukhtar."Ini justru hal baik, nggak perlu khawatir." Mu
Yasmin sebenarnya ingin menolak, tetapi Edgar sudah lebih dulu melotot ke arahnya."Baiklah, kalau begitu suruh saja dokter sakti ini mengobatiku." Yasmin menggertakkan gigi. "Aku juga ingin lihat seberapa hebat kemampuanmu. Jangan sampai mengecewakanku lho!"Sambil berbicara, Yasmin tak lupa melotot dengan galak pada Jimmy. Bagus juga! Biar kakeknya melihat sendiri, apakah Jimmy benar-benar hebat! Bagaimanapun, dia tetap tidak percaya!"Jangan galak begitu sama aku." Jimmy menatap Yasmin sambil tersenyum tipis. "Kalau aku sampai kaget dan tanganku gemetar, bisa-bisa aku malah bikin kamu cacat saat pengobatan ....""Kamu ...!" Ekspresi Yasmin langsung berubah. Matanya menatap ke arah Jimmy dengan dingin.Sambil memijat kepalanya, Edward diam-diam mengacungkan jempol ke arah Jimmy. 'Gila, berani juga dia! Berani-beraninya mengancam kakakku yang galak itu! Cuma dari ini saja, tambah sepuluh poin juga nggak berlebihan, 'kan?'Namun, setelah dipikir lagi, Edward cepat-cepat menggeleng. 'Ka
Keduanya berjalan keluar dari Restoran Sanusi. Begitu sampai di luar, Laura langsung menepis tangan Jimmy dengan kesal."Sekarang kamu puas banget ya?" Laura menatap Jimmy dengan jengkel.Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Cuma beresin dua sampah, nggak ada yang perlu dibanggakan.""Kamu ...." Laur
Azzam memang sangat kuat!Meski usianya sudah lanjut, membelah batu bata dan menghancurkan batu sama sekali bukan hal sulit baginya. Bukan tidak ada orang di ibu kota provinsi yang pernah menantangnya, tetapi tidak satu pun yang menang.Para keluarga besar di sana bahkan berebut menjadikannya penasi
Melisa mengirim foto itu kepadanya, bukankah memang untuk memancingnya datang?Hanya Laura yang masih polos, mengira Melisa benar-benar mau memperkenalkan "orang penting" kepadanya!Wajah Laura menunjukkan sedikit kebingungan, lalu dia menatap Melisa dan Heston, meminta penjelasan."Ternyata kamu ng
Dua tamparan Jimmy tadi sama sekali tidak ringan. Begitu dua tamparan mendarat, kepala Melisa langsung berdengung. Dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah.Saat Jimmy melepaskan tangannya, Melisa bahkan tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya oleng, lalu dia jatuh terduduk di lantai."Melisa!" Laura t







