LOGINMendengar seruan kaget Argani, Jaka segera berlari menghampiri. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menghunus pedang dan berdiri di depan Argani.Sabrina tampak panik dan berkata dengan gugup, "Pak Jimmy, cepat bawa Pak Argani pergi dulu, aku dan Jaka akan menahan di belakang! Kalau bawa kami, nggak satu pun dari kita bisa kabur!""Jangan begitu!"Jimmy tersenyum tipis dan berkata, "Aku ini orangnya sangat penasaran, aku masih ingin tahu rahasiamu. Kalau kamu mati, aku harus tanya siapa lagi?""Sekarang bukan waktunya membahas ini!"Mata Sabrina memerah karena cemas. "Aku tahu kamu sangat kuat, tapi kamu benar-benar bukan lawannya!"Argani menghela napas panjang, "Pak Jimmy, kamu pergi saja sendiri! Dengan kemampuanmu, seharusnya nggak masalah untuk menyelamatkan diri!"Meski tidak mengatakannya secara langsung, maksud Argani sudah sangat jelas. Jimmy jelas bukan lawan Firoz!Jimmy tersenyum santai, lalu melanjutkan, "Kak Sabrina, gimana kalau kita bertaruh?"Sabrina sangat cerdas. Sa
Jimmy tiba di Waduk Ranggani. Baru saja melempar kail dan mulai memancing, Argani sudah datang bersama Jaka dan Sabrina."Kak Sabrina, kamu juga punya waktu santai begini?" goda Jimmy.Sabrina tersenyum memikat, "Mesin saja butuh perawatan, aku yang manusia juga perlu istirahat, 'kan?""Benar juga." Jimmy mengangguk.Sambil mengobrol, Argani dan Sabrina duduk di kiri dan kanan Jimmy. Jaka tidak memancing. Dia berdiri tidak jauh dari mereka sambil berulang kali melatih gerakan mencabut pedang. Jimmy memperhatikan sejenak, lalu menggeleng dan berjalan mendekati Jaka."Pak Jimmy." Jaka menggaruk kepala dan bertanya, "Apa latihanku salah?""Memang salah." Jimmy tersenyum, "Cara kamu sekarang seperti biksu membaca doa, hanya mengulang tanpa makna.""Maksudnya?" Jaka bingung."Karena kamu nggak punya target."Jimmy mengambil pedang dari tangan Jaka, lalu membawanya ke sebuah pohon besar di samping."Pedang itu untuk membunuh."Begitu selesai bicara, Jimmy mengayunkan pedang dengan cepat. Jak
Keesokan harinya, Jimmy membuat janji dengan Argani untuk memancing di Waduk Ranggani. Baru setengah jalan, dia sudah dicegat oleh Yasmin."Turun!"Yasmin datang dengan penuh amarah ke depan mobil Jimmy. Satu tendangan langsung menghantam pintu mobil. Pintu yang malang itu langsung penyok."Jenderal Yasmin, pagi-pagi begini kamu sudah seperti makan bubuk mesiu, ya?"Jimmy turun dari mobil dengan wajah kesal, "Asal tahu saja, biaya perbaikan ini harus kamu ganti penuh!""Biaya perbaikan?"Urat di dahi Yasmin menonjol, matanya merah menyala saat dia berteriak, "Mau sekalian aku tambah biaya pengobatan juga?"Jimmy tertawa heran, lalu menatap Yasmin dari atas ke bawah, "Kamu ini kenapa, sih? Kenapa sampai semarah ini?""Kamu masih berani tanya?" Yasmin menatap Jimmy dengan penuh amarah dan melanjutkan, "Siapa yang suruh kamu buat kakekku dan Edward sampai semabuk itu?"Begitu membahas hal ini, Yasmin langsung semakin kesal. Edward sih tidak masalah karena tubuhnya kuat. Akan tetapi, kakek
"Ini ...." Jimmy langsung tidak bisa berkata apa-apa.Edward sama sekali tidak memberi Jimmy kesempatan untuk ragu. Dia langsung meneguk minuman dengan cepat. Dalam sekejap, tiga gelas arak putih langsung habis. Dia menunjukkan sikap seolah berkata, "aku sudah minum nih, selanjutnya giliran kamu".Jimmy "terpaksa" ikut minum tiga gelas dengan enggan. Baru saja Edward selesai, Edgar kembali ikut minum dan membuat Jimmy tidak mungkin menolak dengan berbagai alasan.Selanjutnya, Edgar dan Edward bergantian memaksa Jimmy minum dengan berbagai cara. Setelah tiga botol arak putih habis, keduanya sudah mulai sempoyongan. Dengan semangat, mereka memesan tiga botol lagi.Saat botol kelima habis, kedua orang itu sudah tumbang.Melihat mereka berdua yang mabuk tak sadarkan diri, Jimmy hanya tersenyum sambil menggeleng. Dengan satu tangan memegang botol arak yang tersisa, dia minum dengan santai sambil menusukkan jarum pada tubuh Edgar.Edgar sudah tua, tidak seperti Edward yang masih muda. Minum
Berhubung saat ini masih musim panas, kondisi Edgar tidak terlalu bermasalah.Setelah beristirahat sejenak, mereka bertiga mengangkat gelas ke arah laut untuk bersulang beberapa kali bagi kakeknya, lalu baru pergi.Saat mereka kembali ke Bataram, langit sudah mulai gelap.Baru saja memasuki wilayah Bataram, Edgar langsung memberi instruksi pada cucunya, "Telepon kakakmu, suruh dia datang untuk makan malam bersama."Belum sempat Edward menjawab, Jimmy sudah tersenyum sambil menggeleng, "Sekarang dia kemungkinan masih sibuk sama Yunan, sepertinya nggak punya waktu.""Eh, kok kamu tahu Yunan?" Edward terkejut.Senyum nakal muncul di wajah Jimmy seraya berkata, "Aku yang suruh kakakmu cari masalah sama Yunan, kenapa aku nggak tahu?"Mendengar ucapannya, Edward langsung terpana, lalu berkata dengan penuh semangat, "Gimana caranya? Ajari aku sedikit!"'Ajari? Seberapa inginnya orang ini menjebak kakaknya?'Jimmy menatap Edward dengan geli. "Aku malas menjelaskan, nanti tanya saja langsung ke
Edgar terus batuk, lalu melambaikan tangan dengan lemah.Siku dan lututnya lecet. Namun, melihat dia masih bisa bergerak dengan normal, seharusnya tidak ada masalah besar yang terjadi."Kamu jaga Kakek, aku ambil kotak P3K di mobil!" kata Edward kepada Jimmy, lalu buru-buru berlari ke tempat parkir. Jimmy membantu Edgar duduk di samping, lalu menanyakan apakah ada bagian lain yang terluka."Nggak apa-apa."Setelah merasa baikan, Edgar lalu tersenyum, "Aku ini pernah turun ke medan perang, luka sekecil ini nggak berarti apa-apa."Jimmy menatap Edgar dengan curiga, lalu mengernyit, "Jangan-jangan Bapak sengaja mau nguji aku?""Kamu mikir apaan, sih!" Edgar tersenyum sambil melotot pada Jimmy, "Kalau aku mau mengujimu, nggak perlu mempertaruhkan nyawaku sendiri! Aku bahkan belum sempat melihat cicit, nggak mau mati secepat itu.""Baiklah."Jimmy tersenyum tak berdaya.'Kakek tua ini benar-benar nekat! Dengan tubuh setua ini, malah pergi ke karang. Apa dia mau berdiri di sana sambil berpui
Baru lewat tengah hari, Jimmy sudah menerima telepon dari Zisel."Kak Jimmy, bisa nggak kamu bantu aku dapatin undangan jamuan Keluarga Cokro?" Zisel langsung menyampaikan tujuannya.Jimmy sudah tahu, telepon darinya pasti bukan hal baik. Dia langsung balik bertanya, "Bukannya kamu mau menemani bibi
"Begitu lihat orang lain punya koneksi, langsung nggak tahu malu dan nempel habis-habisan!""Aku sudah sering lihat orang nggak tahu malu, tapi baru kali ini lihat yang sememalukan ini!""Balikkan kartu namaku!"Di tengah tawa mengejek, orang-orang berebut mengambil kembali kartu nama mereka. Seolah
"Gengsi itu 'kan nggak bisa dimakan." Laura tersenyum tipis. "Manusia itu seharusnya seperti bunga, bisa tumbuh ke bawah, juga bisa mekar ke atas. Lagi pula, kalian juga datang, 'kan?""Itu jelas beda!" Livia berkata dengan wajah penuh kebanggaan sambil mengambil satu lembar undangan dari tangan Zis
"Hah?" Jimmy terkejut. "Kalau begitu, gimana pertimbanganmu?""Aku agak bingung," sahut Bisma dengan ekspresi kosong. "Aku ingin dengar pendapatmu.""Ngapain tanya aku?" Jimmy memutar bola mata, lalu berkata tanpa daya, "Ini tergantung kamu sendiri. Kalau ada posisi yang kamu rasa sanggup kamu jalan







