LOGINSetelah saling melotot dengan marah selama beberapa saat, akhirnya mereka berdua berjalan turun gunung bersama.Begitu Jimmy menanyakan situasinya, barulah dia tahu bahwa sebenarnya Yasmin tadi sudah ikut evakuasi. Hanya saja, ponselnya kemasukan air dan Edward tidak menemukannya di tengah kerumunan.Saat Yasmin menemukan Edward dan yang lainnya sudah siap pergi, barulah dia tahu kalau Jimmy malah naik gunung mencarinya.Edgar khawatir dengan keselamatan Jimmy, jadi menyuruh Yasmin cepat-cepat mencarinya.Jimmy merasa Yasmin mencari masalah, Yasmin merasa Jimmy membuat situasinya makin rumit. Keduanya pun sama-sama kesal. Maka terjadilah adegan tadi.Kalau saja Yasmin satu menit lebih cepat bertemu Edward dan yang lainnya, semua kejadian ini tidak akan terjadi. Mengetahui hal itu, Jimmy hanya bisa merasa tak berdaya.Saat mereka sampai di kaki gunung, barulah mereka sadar bahwa banjirnya semakin mengerikan. Di bawah, banyak pohon besar sudah tumbang tersapu arus. Jalan turun gunung mer
"Ya sudah, anggap saja aku kebanyakan bicara!" Jimmy mengangkat bahu. Dia sudah mengingatkan. Kalau wanita ini tetap tidak percaya, ya biarkan saja!Saat Jimmy berjalan turun gunung, hujan mulai turun. Begitu sampai di lereng gunung, Jimmy tiba-tiba menyadari ada yang tidak beres.Tempat mereka berkemah berada di dataran rendah. Kalau hujan lebih deras sedikit saja, air pasti akan mengalir ke sana. Ini akan jadi banjir bandang!Hati Jimmy langsung menegang. Dia segera menelepon Zisel. "Cepat evakuasi semua orang! Mungkin akan terjadi banjir bandang! Cepat! Siapa pun yang nggak mau pergi, langsung pecat!"Mendengar nada serius Jimmy, Zisel tidak berani lengah dan segera mengatur evakuasi. Sekarang baru hujan kecil, tenda juga baru selesai dipasang, tentu saja semua orang enggan pergi.Zisel langsung menyampaikan kata-kata Jimmy, barulah semua orang mulai bergegas membereskan barang. Bersenang-senang boleh, tetapi tidak boleh sampai kehilangan pekerjaan. Bos sedermawan Jimmy sangat langk
'Mengalah sedikit demi aku?' Kilatan tajam langsung melintas di mata Yasmin.'Jimmy ini sedang menantangku? Pria ini ingin mengalah sedikit demi aku? Bukankah seharusnya aku yang ngomong begitu?'"Kamu cari mati?" Mata indah Yasmin menyipit, menatap Jimmy dengan ekspresi tidak ramah."Terserah." Jimmy tersenyum santai. "Tapi aku ingatkan, kamu masih terluka. Kalau makin parah, aku nggak akan mengobatimu.""Terluka?" Yasmin mencibir. "Bahkan kalau aku tinggal satu napas pun, aku masih bisa menghajarmu!"Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Kalau begitu, kenapa nggak langsung saja?"'Wanita ini ... sebenarnya bisa diajak akur, cuma terlalu percaya diri,' pikir Jimmy."Jangan coba-coba memancingku!" Yasmin mendengus dingin. "Jangan kira aku nggak tahu apa maumu!""Apa mauku?" Jimmy tampak bingung.Yasmin menatapnya dengan dingin, lalu berkata, "Nggak usah pura-pura! Kamu cuma ingin dipukul olehku, lalu pergi ke tempat kakekku untuk cari simpati, 'kan? Aku nggak akan tertipu!"Mendengar itu
"Kalian panggil orang lain saja!" Jimmy tersenyum. "Main kartu sama aku nggak bakal seru.""Kamu ini jago banget atau gimana?" Edgar langsung tidak terima. "Aku ini juga jago ya! Ayo, kita main beberapa ronde ...."Dua orang lainnya juga ikut menyahut, memaksa Jimmy untuk bermain kartu. Jimmy pun merasa tidak enak untuk menolak, jadi dia duduk.Tak lama kemudian ... dia menang tiga ronde berturut-turut. Ketiga orang itu sampai melotot melihatnya."Sudah, sudah! Main kayak begini mana bisa jadi teman!""Pak Jimmy, jangan begitu dong!""Main sama kami kok malah curang sih?"Ketiganya langsung kehilangan semangat dan wajah mereka terlihat pasrah."Sudah biasa, haha!" Jimmy juga tidak menyangkal soal kecurangan itu, lalu membantu mencarikan orang lain untuk menggantikannya. Dia melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan Yasmin."Kakakmu ke mana?" Jimmy menghampiri Edward."Ke puncak gunung," jawab Edward."Kalau begitu, kamu masih bawa barang seberat itu buat apa?" Jimmy tak habis pikir. "
Seiring kedatangan Yasmin, suasana di tempat itu langsung berubah drastis. Para karyawan resor juga mengenalnya.Walaupun mereka bisa bercanda santai dengan Jimmy sebagai bos besar, di depan Yasmin, mereka tetap tidak berani terlalu bebas."Kalian juga datang buat kamping?" Jimmy menatap Edgar dan yang lain dengan sedikit pusing."Bukan, kami cuma jalan-jalan, cari udara segar." Edgar menggeleng, lalu menepuk bahu Jimmy sambil tertawa. "Lihat, kita ini memang berjodoh, jalan santai saja bisa ketemu! Kamu ini memang sudah ditakdirkan jadi menantu Keluarga Sutomo!"Mendengar perkataan Edgar, para karyawan langsung terkejut. Mereka menatap Jimmy dan Yasmin dengan wajah tak percaya.Gila! Bos mereka ternyata menantu Keluarga Sutomo? Suami Yasmin? Eh, tunggu .... Kalau Jimmy suaminya Yasmin, lalu kakaknya Zisel itu apa? Hubungan ini agak rumit ya!Setelah mengetahui kalau mereka bukan datang untuk kamping, Jimmy sedikit lega, tetapi tetap heran saat melihat Edward. "Kalau begitu, dia bawa b
Jimmy jelas-jelas punya latar belakang yang sangat kuat, bahkan orang seperti Argani saja harus memperlakukannya sebagai tamu terhormat. Namun, dia sama sekali tidak bersikap tinggi hati, bisa berbaur dengan berbagai macam orang.Namun, kalau dibilang dia ramah, saat membunuh, dia melakukannya seperti hal biasa. Kadang seperti malaikat, kadang seperti iblis. Entah yang mana sebenarnya dirinya.Takdir yang aneh membuat Zisel bertemu dengannya, bahkan sempat masuk ke hidupnya. Namun, pada akhirnya dia kalah oleh dirinya sendiri, tidak mampu benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.Bertemu pria ini adalah keberuntungan sekaligus ketidakberuntungannya. Di masa depan, bahkan jika dia benar-benar melupakan Jimmy, saat bertemu pria lain, dia pasti tanpa sadar akan membandingkannya dengan Jimmy.Sepanjang hidup ini, apa pun hubungan mereka nanti, ke mana pun jalan hidupnya, pasti akan selalu ada satu sudut di hatinya yang menyimpan sosok Jimmy.Saat Zisel tenggelam dalam pikirannya, Jimmy jug
"Hah?" Jimmy terkejut. "Kalau begitu, gimana pertimbanganmu?""Aku agak bingung," sahut Bisma dengan ekspresi kosong. "Aku ingin dengar pendapatmu.""Ngapain tanya aku?" Jimmy memutar bola mata, lalu berkata tanpa daya, "Ini tergantung kamu sendiri. Kalau ada posisi yang kamu rasa sanggup kamu jalan
Mana berani Shadika menceritakan yang sebenarnya? Dia hanya terus-menerus meminta maaf kepada Jimmy, berulang kali mengatakan bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman.Melihat Shadika tidak berani bicara, Howard pun beralih menanyakan langsung kepada Jimmy.Jimmy jelas bukan tipe orang yang membalas k
Sambil berkata demikian, Bisma kembali mengangkat gelas dan menenggak birnya dengan ganas.Jimmy tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, aku akan cari orang untuk membantu mencarikan sekolah buat anakmu."Bisma adalah perantau yang datang bekerja dari luar daerah. Meski sudah menetap di Bataram, kota
Mengingat peringatan Argani semalam, niat membunuh yang lama terpendam di tubuh Jimmy langsung meledak. Dengan aura pembunuh yang mengerikan, dia bertanya dingin, "Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"Pria itu hendak menjawab, tetapi baru saja membuka mulut, darah langsung menyembur dengan deras. Tubu







