LOGINSeminggu itu terasa lebih pendek dari yang Arka rencanakan.
Bukan karena banyak yang harus disiapkan secara fisik, tas kecil, beberapa pakaian, buku catatan baru, bungkusan dari Empu Sardulo yang tidak dia buka. Persiapan fisik selesai dalam dua hari.
Seminggu itu terasa lebih pendek dari yang Arka rencanakan.Bukan karena banyak yang harus disiapkan secara fisik, tas kecil, beberapa pakaian, buku catatan baru, bungkusan dari Empu Sardulo yang tidak dia buka. Persiapan fisik selesai dalam dua hari.Yang memakan waktu adalah hal-hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam tas....Hari pertama, Arka ke padepokan untuk terakhir kalinya sebagai siswa.Bukan untuk upacara. Tidak ada yang mengumumkan kepergiannya. Hanya be
Prawira tidak ada di bengkel saat Arka pulang.Bukan hal yang langsung mengkhawatirkan, mungkin di dalam rumah, mungkin di warung sebelah, mungkin sedang istirahat. Tapi ada sesuatu di cara bengkel itu berdiri hari ini yang terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya.Lebih sunyi. Lebih diam.Seperti ruangan yang sudah lama tidak dihuni.Arka masuk ke dalam rumah.Ibunya ada di dapur tapi tidak memasak. Duduk di kursi dengan tangan di pangkuan dan wajah yang tidak menunjukkan apapun dengan cara yang justru menunjukkan terlalu banyak."Ibu."Sekar menoleh. Matanya sudah merah di tepinya bukan baru menangis, tapi sudah lama menahan sesuatu dan baru saja tidak bisa menahan lagi."Bapakmu," katanya pelan, "di kamar."...Prawira berbaring di kasurnya.Bukan posisi orang yang tidur, posisi orang yang lelah dengan cara yang tidak bisa dipulihkan dengan tidur. Matanya terbuka saat Arka masuk. Menatap langit-langit dengan cara yang Arka kenal, cara menatap sesuatu yang tidak ada di sana tapi tet
Dua minggu setelah malam di bengkel itu, surat dari Paguyuban Empu datang.Bukan diantar utusan kali ini datang langsung ke tangan Arka melalui anggota yang sudah dia kenal, pria tua dengan jubah tanpa lambang yang selalu sudah ada sebelum orang lain tiba. Mereka bertemu di kedai teh yang sama di kota bawah.Cangkir teh. Dua orang. Surat di meja di antara mereka."Baca dulu," kata pria tua itu.Arka mengambil surat itu....Isinya panjang lebih panjang dari yang Arka bayangkan untuk sebuah keputusan. Penuh dengan bahasa formal Paguyuban yang berlapis-lapis, tapi intinya ada di paragraf keempat:Teknik Lapisan Bayu dan Irama Ganda, sebagaimana didemonstrasikan oleh Arka Prawirasuta dalam proses verifikasi yang berlangsung selama tiga bulan, dinyatakan VALID sebagai teknik Olah Rasa yang sah. Pengembangan lebih lanjut diizinkan dan didokumentasikan sebagai preseden pertama dalam kategori teknik berbasis akumulasi iteratif.
Bulan pertama.Verifikasi dimulai dua minggu setelah pernyataan dukungan resmi keluar.Tidak seperti yang Arka bayangkan, tidak ada lapangan besar, tidak ada penonton. Hanya ruangan kecil di sayap timur gedung Paguyuban Empu sementara yang dibuka khusus di Medang Agung, tiga meja, dua pengamat dari Paguyuban, dan satu pencatat yang menulis setiap kata dengan tinta yang tidak pernah habis.Setiap tiga hari, Arka datang. Mendemonstrasikan. Menjawab pertanyaan yang kadang terasa seperti jebakan dan kadang terasa seperti percakapan biasa. Lalu pulang.Lahan bekas pertanian tetap jadi tempat latihan. Empu Sardulo tetap di bangku kayunya. Cangkir teh tetap ada dua, kadang tiga kalau Dyah Arum datang, kadang empat kalau Wira mampir sebelum jadwal Paksa Senapatinya.Wira belum menjawab tawaran itu secara resmi. Tapi dia masih datang ke lahan.Arka tidak bertanya. Wira tidak menjelaskan....Rumah tidak berubah.Ibu memasak. Sari cerewet. Ayahnya bekerja di bengkel sebelum fajar dan selesai set
Arka menemui anggota Paguyuban Empu itu sore harinya.Bukan di bengkel Empu Sardulo, di kedai teh kecil di kota bawah yang ternyata sudah jadi tempat pertemuan tidak resmi bagi orang-orang yang tidak mau pertemuan mereka tercatat di arsip manapun. Pria tua itu sudah ada di sana saat Arka tiba, cangkir tehnya sudah setengah, sepertinya dia tidak pernah benar-benar menunggu, hanya selalu sudah ada.Arka duduk di depannya."Kamu perlu menyatakan dukungan resmi sebelum Wiryatama bergerak," kata Arka langsung. "Kalau tidak, tiga anggota Paguyuban yang sudah dia hubungi bisa override posisi Bapak."Pria tua itu tidak terkejut. Hanya menatap cangkir tehnya sebentar."Dari mana kamu tahu ini?""Dari seseorang yang mempelajari aturan Paguyuban Empu kemarin malam.""Siapa?"Arka tidak menjawab itu.Pria tua itu menatapnya lalu mengangguk pelan. Tidak mendesak."Kalau aku menyatakan dukungan resmi sekarang," katanya, "Wiryatama akan tahu dari mana informasi ini bocor. Dan konsekuensinya tidak ha
Mereka duduk di tanah.Bukan karena ada yang menyuruh hanya karena berdiri terlalu lama terasa seperti sedang bersiap untuk sesuatu yang belum tentu perlu disiapkan. Pramodawardhana duduk dengan cara yang tidak persis sama dengan cara dia duduk di tribun padepokan yang sedikit kurang tegak, sedikit lebih manusia.Arka duduk di sebelahnya dengan jarak yang cukup untuk tidak terasa sengaja.Tidak ada yang bicara dulu.Di sekeliling mereka, lahan bekas pertanian itu diam, pohon-pohon tua di tepi, tanah yang penuh bekas latihan, langit pagi yang belum sepenu







