MasukLi Zi tak mengatakan apa-apa lagi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya akan menambah bahan ejekan mereka. Dengan gerakan lambat, ia mengambil tas selempang itu. Ia menatap pamannya, Li Dalao, dan sepupunya, Li Xihua, untuk terakhir kalinya. Dalam tatapan mata sayu yang kini dipenuhi tekad yang membeku, ia mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang tak lagi mau menerimanya.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari kediaman timur. Langkah kakinya terasa berat, namun ia berusaha melangkah tegak. Tepat saat ia melangkah keluar dari gerbang utama Klan Li, seolah-olah alam semesta ikut berduka, hujan deras mendadak turun. Butiran air yang besar menghantam tanah dengan keras, menciptakan suara gemuruh yang menyakitkan. Langit seolah meratapi nasib buruk Li Zi. Dalam sekejap, pakaiannya basah kuyup. Ia tak peduli. Ia terus berjalan, meninggalkan kompleks Klan Li yang kini terasa begitu asing dan kejam. Bau tanah basah yang menyengat dihirup hingga ke paru-paru, bercampur dengan pahitnya rasa dikhianati. "Setelah kematian Ayah, inilah perlakuan yang kuterima." "Hanya karena tak dapat membangkitkan Roh Bela Diri, mereka mengusirku seperti debu yang tak berarti." "Apakah mereka lupa, alasan Klan Li ini terus berdiri dan berkembang pesat? Itu semua karena darah, keringat, dan usaha Ayahku! Mereka hanya memanfaatkan namanya, dan membuangku, darah dagingnya." Suara hati Li Zi menggema di bawah derasnya hujan, teredam oleh gemuruh air yang menampar tubuh. Rasa kecewa dan sedih itu kini mulai bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih keras dan kuat. Bukan hanya kebencian yang mendalam, tapi sebuah tekad baja untuk membuktikan diri. Li Zi berhenti berjalan. Ia mendongak, menatap langit muram yang menumpahkan air mata. "Aku janji..." Geramnya, suaranya nyaris hilang di antara derasnya hujan, namun tekadnya jelas, "Suatu saat, aku akan kembali! Aku akan merebut segalanya yang menjadi hakku! Dan kalian... kalian akan menyesali telah membuangku!" Tepat pada puncak geramannya, suara guntur menggelegar dahsyat di atas langit. Suasana suram itu dihiasi oleh gemerlap kilat putih kebiruan yang melintas, seolah menyambut sumpahnya. Li Zi mencari perlindungan. Ia bergerak cepat menuju sebuah batang pohon yang telah mati, berdiri sendirian di pinggiran jalan setapak, berharap mendapatkan sedikit naungan dari derasnya hujan. DUARRR! Saat ia berdiri di bawah batang pohon mati itu, langit di atasnya bergetar hebat. Gemerlap kilat menyala-nyala, bukan lagi kilatan biasa, melainkan sambaran petir biru pucat dengan intensitas luar biasa. Petir itu, dengan kecepatan yang tak masuk akal, langsung menghantam puncak batang kayu mati itu. Li Zi yang berada di bawahnya merasakan energi mengerikan merambat. Bulu kuduknya berdiri. Ia mendongak, namun sudah terlambat. Dalam sepersekian detik, Li Zi diliputi oleh cahaya biru menyilaukan. Energi petir itu melompat dari pohon, menghantam tubuh kurusnya. Ia merasakan sakit yang tak terbayangkan, setiap sarafnya seperti ditarik dan dibakar secara bersamaan. Tubuhnya terkulai. Ia jatuh, tersentak-sentak kejang. DUARR! Belum sempat kesadaran Li Zi pulih, sambaran kedua datang, lebih kuat, seolah memastikan. Dan kemudian... DUARRR! Sambaran ketiga dan terakhir menghantam, mengirimkan gelombang kejut yang membakar seluruh tubuh Li Zi. Rasa sakit itu begitu ekstrem hingga melampaui batas kesadarannya. Semua menjadi hitam ... Di tengah hujan lebat yang seolah tak mau berhenti, tubuh kurus Li Zi tergeletak tak berdaya di bawah sisa-sisa batang pohon yang kini mengeluarkan asap tipis, aroma gosong menyeruak bercampur bau tanah basah. Namun, di dalam kegelapan total yang menyelimuti jiwanya, sebuah proses aneh dan monumental baru saja dimulai. Energi petir murni yang seharusnya menghancurkannya justru bertindak sebagai katalisator, membuka segel kuno yang tertanam jauh di dalam inti kesadaran Li Zi. BZZZT! Dalam keheningan jiwa, suara gemuruh listrik tak terdengar menggema. [Mengaktifkan Sistem Leluhur Bela Diri!] [Mengevaluasi kondisi pengguna… Kondisi fisik sangat lemah dan rentan. Proses pemulihan dasar dimulai.] [Mengoptimalkan kinerja tubuh… 0%... 10%... 50%... 100% Selesai!] [Energi Petir Murni telah mengintegrasikan warisan Leluhur. Akses Penuh ke Sistem diberikan!] Li Zi yang semula tak sadarkan diri, tiba-tiba tersentak. Matanya terbuka, napasnya terengah, seolah baru saja keluar dari dasar lautan. Rasanya, ia baru saja melewati siksaan terburuk di dunia, namun kini, rasa sakit itu telah lenyap, digantikan oleh kehangatan aneh yang menyebar dari dadanya. Ia bangkit, sedikit terhuyung. Pakaiannya basah kuyup, air hujan menetes dari rambutnya. Seolah-olah apa yang terjadi barusan hanyalah mimpi buruk yang baru saja berakhir. "Ugh! Apa yang terjadi?" gumamnya, suaranya parau. Ia menyentuh dada dan kepalanya, memastikan dia masih hidup. "Aku... tersambar petir? Tiga kali?" Saat Li Zi mencoba mencerna kembali kejadian mengerikan itu, pandangannya terhenti. "A-apa ini!?" Tepat di hadapannya, mengambang di udara, ada sebuah layar transparan berwarna biru pucat, seperti cermin yang terbuat dari kristal energi. Benda aneh itu menampilkan sederet tulisan dan ikon yang sama sekali tak ia kenal. Cahaya lembut dari layar itu menerangi wajahnya yang basah. Li Zi mengira penglihatan dan otaknya telah rusak akibat sambaran petir. [Kondisi fisik anda terlalu lemah dan rentan, Tuan. Silahkan temukan tempat berteduh agar tak terkena demam!] Sebuah suara mekanis, tanpa emosi, namun sangat jelas, menggema langsung di telinga Li Zi. Suara itu terasa aneh, seolah datang dari dalam benaknya sendiri, namun juga sejelas seseorang yang berdiri tepat di sampingnya. Li Zi panik. Ia menoleh ke segala arah, menembus derasnya hujan, mencari sumber suara. Di sana hanya ada pohon mati yang berasap dan jalanan sepi. "Siapa itu?! Tunjukkan dirimu!" serunya, berusaha meninggikan suara di antara gemuruh hujan. Suara mekanis itu kembali bergema, penuh ketenangan yang kontras dengan kebingungan Li Zi. [Apa yang anda dengar adalah suara mekanis sistem dalam benak anda, Tuan. Saya adalah Sistem Leluhur Roh Bela Diri.] Li Zi kembali menatap layar transparan di hadapannya. Alisnya terangkat tinggi, ekspresi keheranan yang luar biasa tercetak jelas di wajahnya. "Aku tak mengerti?" [Sistem merupakan bagian dari kesadaran yang hanya bisa anda dengar, Tuan. Layar biru transparan di hadapan anda merupakan fitur akses penggunaan sistem. Hanya anda yang dapat melihat dan mendengarnya.] [Singkatnya, Tuan, anda telah menerima Warisan Leluhur melalui katalisator Petir Murni.] Li Zi mulai merasakan debaran aneh di jantungnya. Ia adalah pecundang yang gagal membangkitkan Roh Bela Diri. Kultivasi selalu terasa seperti tembok tebal yang tak bisa ia tembus. Lalu, apa ini? "Tunggu, apakah kau ini semacam Roh Bela Diri? Roh Bela Diri tertinggi, mungkin?" tanyanya penuh harap. Dalam dunia kultivasi, memiliki Roh Bela Diri tertinggi adalah impian setiap orang. [Sistem bukanlah Roh Bela Diri, Tuan. Melainkan berkah yang terikat dalam kesadaran jiwa anda. Saya tidak bertarung, namun saya membantu anda bertarung.]Li Zi mundur setapak, mencoba kabur tanpa memprovokasi. Namun, beruang itu peka terhadap gerakan mangsanya. Tak mungkin ia membiarkan Li Zi lolos begitu saja. Makhluk raksasa itu meraung ganas, memperlihatkan deretan taring menguning. Kedua cakar depannya menghentak tanah keras, mengirimkan debu beterbangan tinggi seperti kabut.Li Zi menyadari peluang untuk kabur sangat tipis sekali. Ia terasa seperti terperangkap di antara tebing curam tanpa celah keluar. "Sial! Siapa pun yang menarikku tadi, dia harus bertanggung jawab. Karena ulahnya, aku terjebak di sini!" geramnya dalam hati, adrenalin memompa darahnya lebih kencang.Dengan cepat, Li Zi memutar tubuh dan melesat sekuat tenaga. Ia menghindari konfrontasi langsung, memanfaatkan kelincahan tubuhnya. Tapi beruang gunung itu ternyata cukup gesit melebihi ukurannya. Setiap langkahnya mengguncang bumi, menutup jarak dengan kecepatan menakutkan.Cakar tajamnya terayun ke depan, memantulkan cahaya bulan pucat. Sabetan itu mengenai batan
Setelah keadaan mereda, para murid dari kelompok Chen Long langsung berkumpul dan mengepung murid lain yang baru saja keluar dari hutan bersamaan dengan binatang buas itu. Anak muda tersebut nyaris dikeroyok habis-habisan, tapi Chen Long dengan sigap mengambil alih situasi. Ia menyuruh semua anggota kelompoknya untuk tenang dan mundur.Di sisi lain, Li Zi berdiri agak jauh dari kerumunan. Matanya menangkap siluet hitam samar di balik pohon besar di pinggir hutan perkemahan. "Siapa itu?" gumamnya pelan. Namun, ia memilih untuk tidak menyelidiki lebih lanjut dan berpura-pura mengabaikannya demi menghindari masalah baru.Di depan matanya, panel sistem mengambang tenang. Setelah berhasil mengalahkan seekor serigala abu-abu, ia memperoleh imbalan 100 poin dari sistem. Tak lama kemudian, pemberitahuan baru muncul dengan kilauan samar.[Tugas biasa telah diperbarui.]Li Zi langsung menyentuh panel antarmuka itu dan membuka menu tugas tanpa ragu.[Tugas: Temukan Reruntuhan Kerajaan Langit Ku
Ketika malam semakin larut, gemuruh mendadak datang dari arah utara perkemahan. Beberapa murid yang berjaga di sekitar hutan langsung berkumpul."Ada yang datang!?" seru seorang murid.Tak lama Li Zi dan Chen Long beserta yang lainnya tiba. Lalu tak berselang lama seorang murid berlari tertatih-tatih ke arah mereka, ia keluar dari hutan dengan wajah panik."Siapa bocah ini? Kenapa dia lari ke sini membawa binatang buas bersamanya." seru Gu Heng kesal.Dan benar saja, setelah murid itu mendekati perkemahan, tampak segerombolan serigala abu-abu seukuran sapi betina muncul. Jumlahnya mencapai selusin serigala.Chen Long segera memerintahkan setiap murid untuk waspada. "Dia kemungkinan berasal dari anggota kelompok lain. Semuanya, bentuk formasi penyergapan!"Segera lusinna murid dalam kelompok berpencar, membentuk formasi pertahanan di segala arah. Geraman kasar serigala abu-abu menggema. Mereka semua adalah binatang buas tingkat Fana yang setara dengan kultivator pada puncak ranah Pen
Kelompok Chen Long akhirnya tiba di sebuah tanah lapang yang cukup luas di wilayah lapisan luar Alam Reruntuhan Langit. Hamparan tanah berwarna kelabu kehijauan membentang sejauh mata memandang, dikelilingi hutan lebat dengan pepohonan tinggi. Udara di tempat itu terasa berat, seolah mengandung tekanan halus yang terus menekan tubuh para murid tanpa henti.Begitu memastikan area tersebut relatif aman, Chen Long segera memberi instruksi singkat.“Dirikan kemah. Kita bermalam di sini.”Para murid segera bergerak. Ada yang mengumpulkan ranting, ada yang menyiapkan api unggun, sementara sebagian lainnya memasang tenda pelindung dari kain tebal khusus. Meskipun ini adalah pertama kalinya banyak dari mereka menginjakkan kaki di Alam Reruntuhan Langit, gerakan mereka cukup terlatih.Li Zi ikut membantu tanpa banyak bicara. Tatapannya beberapa kali menyapu sekitar, mengamati setiap detail. Alam ini terasa berbeda dari wilayah hutan di luar sana. Seolah tempat ini telah lama ditinggalkan oleh
Tiga hari berlalu. Pagi itu, halaman utama Akademi Shutian dipenuhi para murid dari kelas pemula hingga kelas menengah. Suasana tegang namun semangat menyelimuti udara. Banyak wajah menunjukkan antusiasme, sebagian lagi pucat karena cemas menghadapi ujian besar yang menanti.Hari ini adalah pembukaan Gerbang Alam Reruntuhan Langit—tempat yang hanya terjadi beberapa kali dalam setahun.Di tengah kota, bangunan tinggi menyerupai gerbang raksasa berdiri megah. Bentuknya seperti pintu batu setinggi menara, dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang berkilap samar di bawah sinar matahari. Banyak murid baru melihatnya dengan mata terbelalak. Meskipun bangunan itu telah berdiri sejak zaman leluhur kota Tianhu, aura yang memancar darinya tidak pernah kehilangan ketegasan yang membuat setiap orang merasa kecil.Konon, gerbang itu bukan sekadar bangunan, melainkan segel yang menghubungkan dunia luar dengan wilayah misterius yang ditinggalkan leluhur kuno.Sebuah alam rahasia.Sebuah ruang terpisah yang
Tetua Chen Hong meninggalkan perpustakaan. Setelah itu, perpustakaan kembali hening. Rak-rak tinggi, tumpukan kitab kuno, dan aroma debu tua menyelimuti ruangan, menyisakan Li Zi dan Xian Yue berdiri berhadapan.Xian Yue menarik napas perlahan. Beban yang menahan kultivasinya selama ini akhirnya terpecahkan—dan semua itu berkat Li Zi. Ia menunduk sedikit, senyumnya lembut namun tulus.“Terima kasih banyak, Li Zi,” ucapnya. “Hampir saja aku mengganti teknik kultivasiku jika kamu tak membantu menerjemahkan teknik itu. Aku tak tahu harus bilang apa.”Li Zi mengibas tangan. “Tidak perlu sungkan. Kalau kau menemukan kitab kuno lain yang sulit kau pahami, datangi saja aku. Aku tidak akan keberatan membantu.”Ucapan sederhana itu membuat wajah Xian Yue sedikit merona. Cahaya senja yang masuk dari jendela memantul pada rambut hitamnya, menciptakan siluet lembut yang membuatnya tampak seperti lukisan hidup. Momen itu sempat membuat Li Zi terpaku beberapa detik—meski ia cepat menahan diri dan







