Se connecterYang masih setia sama Mas Ramli, jangan lupa gem dan hadiahnya ya, sayangku. Supaya Mas Ramli selalu update setiap hari 😘😘😘
Sonya berusaha untuk tidak terlalu fokus pada dada Ramli yang besar. Wanita mana yang bisa menolak pesona Aland, dari gadis, janda, bahkan istri orang saja sampai tergila-gila padanya. Pria itu menatap wajah putrinya sambil menggenggam tangan mungil bocah itu. Lalu dengan lembut Aland menciumnya. "Maafkan ayah, ya? Ayah belum sempat ajak kalian jalan-jalan. Ayah sibuk sekali akhir-akhir ini!" kata pria itu. "Nggak apa-apa kok, Yah. Ayu bisa ngerti, ayah kan emang orang penting, jadinya pasti sangat sibuk. Lagipula sekarang udah ada Mbak Sonya kok. Ayu udah nggak kesepian lagi, ada yang diajak main. Tahu nggak, Yah. Mbak Sonya ini pinter banget loh ngerjain soal matematika, Pa, Ayu aja sering diajarin rumus sama Mbak Sonya!" Jawaban polos sang anak seketika membuat Aland memicingkan matanya. "Pintar matematika?" Tiba-tiba Aland menatap serius ke arah wajah Sonya. Seperti dirinya sedang menatap mendiang istrinya yang dulu sering ia goda. "Emmm bukan, Tuan. Sa-saya cuma membant
"Mbak Sonya kenapa megap-megap gitu? Kayak ikan kehabisan napas aja!" Suara mungil itu tiba-tiba mengejutkan sang gadis yang baru saja masuk kamar Ayu. Sonya terkesiap, gadis itu segera menghampiri Ayu yang sedang berbaring di atas tempat tidur. "Hei, nggak apa-apa, tadi Mbak cuma lihat tikus lewat, guwedeee banget dan banyak bulunya, ihhh serem pokonya!" jawab Sonya berbohong, gadis berkulit hitam manis yang masih berusia sekitar dua puluh empat tahun itu. "Tikus! Di rumah ayah yang segede ini ada tikus? Nggak mungkin pah itu, Mbak!" sahut Ayu heran. "Ohhh, iya tadi pas Mbak lewat belakang dapur, di sana kan sepi dan masih berupa tanah, ih pokonya Mbak takut banget! Oh ya, Ayu minum obat dulu, ya!" Sonya tampak mengalihkan pembicaraan dengan mengambil obat yang biasa Ayu minum sebelum tidur sebagai obat terapi untuk kelumpuhan kakinya. Sementara itu di kamar. Aland masih tak percaya jika dirinya melihat wajah seorang perempuan yang sangat mirip sekali dengan mendiang istr
Spontan Aland langsung berdiri dan mengambil piyamanya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Mata tajam pria itu segera melihat ke arah sumber suara. Ia merasa ada seseorang di balik pintu kamarnya. Di sisi lain, gadis itu nampak gugup dan segera pergi agar tidak ada yang curiga. Sayangnya tanpa sengaja ia menabrak Nyonya Ratna yang saat itu sedang mencarinya. "Aduhhh! Nyo-Nyonya... Maaf Nyonya, saya tidak sengaja!" pekiknya sembari menundukkan wajahnya panik. Ia khawatir jika Aland mendengar suara jatuhnya vas bunga itu dan keluar dari kamar. "Kamu kenapa ketakutan gitu, Sonya?" tanya Nyonya Ratna heran. "Dan itu! Kenapa vasnya bisa pecah?" tanyanya lagi seraya melihat pecahan beling yang berceceran di atas lantai. "Ma-maaf Nyonya, tadi saya nggak sengaja jatuhin!" jawab wanita yang biasa dipanggil Sonya itu. "Biar saya bersihkan!" sahut gadis itu lagi dan ia segera berjongkok untuk membersikan pecahan-pecahan beling itu. Siapa sangka, di saat Sonya sedang membersihkan pecahan beling
Ini sangat sial bagi Aland. Mungkin dirinya bisa sedikit melupakan Vina saat bersama dengan orang-orang di sekelilingnya. Namun tidak saat dirinya sedang sendiri. Rasanya sangat menyiksa dan pria itu tidak bisa melupakan begitu saja bagaimana gairah Vina yang begitu membawa atas dirinya. Apalagi saat ia melihat ranjang tidurnya sendiri, halusinasi tentang bayangan Vina pun makin sulit ditepis. Pria itu seolah melihat dengan jelas wajah Vina yang sedang mendamba dirinya dalam kondisi telanjang bulat. "Kemarilah, Ramli! Sentuh aku sekarang! Aku sangat menginginkanmu, puaskan aku Sayang...!" Suara itu, lewat begitu saja di telinga Aland. Pria itu makin dibuat gila. Bagaimana tidak, dirinya mendekati ranjang tidurnya seolah ia sedang menghampiri Vina. Namun nyatanya, itu hanya sebuah halusinasi. Vina tidak ada, dan semuanya hampa. "Brengsek! Vinaaaaaa!" Pria itu berteriak dalam kegelapan. Di seberang sana, Vina terbangun dari tidurnya, seolah ia sedang mendengar suara Ramli
Orang-orang suruhan Aland langsung terbang ke Paris, sesuai informasi yang didapatkan dari Mbok Yem jika Tuan Andreas dan Vina berada di sana. Benar kata Aland, jika Tuan Andreas seperti belut dan susah ditemukan. Sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan orang-orang suruhan Aland mencari keberadaan Tuan Andreas. Nyatanya nihil, mereka hanya menemukan Vina saja yang tinggal di sebuah rumah di salah satu kota besar itu. Kini, usia kandungannya semakin besar, Vina makin menjaga kandungannya dengan sangat hati-hati. Kelahiran dua bayi kembar itu adalah hal yang paling ia nantikan. Siapa sangka, kedatangan Rangga di tengah-tengah dirinya sedang berjuang sendirian dengan kehamilannya adalah sesuatu yang mengejutkan wanita itu. Rangga sengaja menyusul Vina untuk membujuk wanita itu agar mau kembali kepadanya. "Ngapain kamu ke sini, Mas? Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi! Sebaiknya kamu pergi saja dan jangan ganggu aku!" katanya dengan nada tak enak dan cenderung ketus. "Aku tahu kamu
"Emmm, iya, ayah sudah tidak kerja lagi di sana!" jawab Aland langsung. "Apa karena ayah sudah kaya, ya? Sekarang kan kita tinggal di rumah gede ini, apa ayah udah selesai melakukan pekerjaan ayah yang disuruh Bu Vina dulu? Emangnya uang ayah sudah banyak?" Pertanyaan Ayu seketika membuat Romi dan Edi yang ada di sana ikut tertawa kecil. "Emmm ya begitulah! Su-sudah! Pekerjaan ayah sudah selesai, makanya ayah beliin rumah ini untuk kalian, bukankah ayah udah janji mau beliin rumah besar untuk Bagas, Ayu, Rendra dan nenek juga!" jawab Aland tentunya ia sedang berbohong. "Ohhhh, itu artinya kita udah nggak ketemu sama Bu Vina lagi dong! Sayang banget ya, padahal kita udah seneng tinggal di rumah Bu Vina. Bu Vina juga pasti sedih karena nggak ada yang nemenin main lagi. Apalagi Bu Vina sedang hamil, pasti sekarang sangat kesepian. Jadi pingin ketemu sama Bu Vina!" kata Ayu yang tiba-tiba bersedih. Aland menunduk sambil terus menggendong si bungsu. "Hei, jangan sedih dong! Tentu






