INICIAR SESIÓNAni semakin merasa dipeluk oleh mereka. Keberadaan Vina dan Nyonya Ratna yang mendukungnya semakin membuatnya bersemangat untuk hidup dan melahirkan bayinya. "Terima kasih banyak, Nyonya. Saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada kalian yang sudah baik sekali membantu wanita sepertiku. Aku memang berdosa, tapi bayi ini tidak berdosa. Aku akan melahirkan dan membesarkannya menjadi manusia yang baik tidak seperti ibunya. Aku janji pada kalian!" jawab Ani sambil mengusap perutnya yang masih rata. Nyonya Ratna dan Vina tersenyum dan selalu memberikan semangat pada Ani. Akhirnya, setelah Vina selesai berbicara dengan Ani. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke balai desa di mana Aland sedang menghadapi dua pemuda anak lurah yang sedang mencecarnya. Suasana di balai desa sangat ramai karena Agus dan Pras berhasil menyita perhatian warga kampung. Mereka berusaha untuk memprovokasi warga agar membenci Aland. "Ohhh ya, ngomong-ngomong di mana jongosmu itu, Tuan? Dari
Bu Mar dan Nyonya Ratna ikut menghampiri Ani. Mereka turut merasakan apa yang dirasakan Ani. "Kita tidak pernah membencimu, An. Setiap manusia pasti punya kesalahan dan syukurlah sekarang kamu sudah sadar. Vina tidak seperti yang kamu kira. Mungkin orang-orang di kampung ini mengira bahwa mereka adalah pasangan kumpul kebo. Sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya dan kita semua sudah memaafkanmu, kita selalu ada untukmu, Ani!" ucap Bu Mar menenangkan wanita itu. "Bu Mar benar, kami semua sudah melupakan apa yang pernah kamu lakukan pada Vina. Sekarang yang terpenting adalah kamu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu ini. Bayi ini tidak berdosa, aku harap kamu jangan membuangnya, rawatlah anak ini, kami selalu siap untuk membantumu!" imbuh Nyonya Ratna. Ani merasa tidak sendirian lagi. Hidupnya yang semula putus asa sekarang ia mendapatkan semangat luar biasa dari para wanita hebat itu. "Terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih banyak atas dukungan kalian. Entah apa yang ter
Wanita itu terkejut dan terlihat takut. Ia melihat tatapan mata Aland yang nampak sedang marah. "Sah-saya, saya cuma...!" balas wanita itu yang terlihat gemeteran. Bu Lastri yang ada di samping wanita itu pun juga ikut merasa takut. Sepertinya Aland memang sedang marah. "Ta-tapi, apa yang dia katakan itu benar, Tuan. Si Vina dan Ramli memang tidak menikah. Mereka datang ke kampung kami hanya untuk bersenang-senang. Tentu saja kami marah karena mereka itu kumpul kebo. Kampung kami bisa-bisa kena tulah dan bencana!" sahut Bu Lastri. Aland lanjut menatap wajah Bu Lastri dengan tajam. Lalu pria itu memberikan beberapa pernyataan yang mampu mematahkan pendapat para warga tentang hubungan Vina dan Ramli. "Apa! Vina dan Ramli adalah pasangan kumpul kebo? Dari mana kalian mendapatkan berita itu, hah? Bisa-bisanya kalian berpikir sangat dangkal sekali. Kalau pun mereka pasangan non halal, kampung ini sudah dari dulu mendapatkan karma. Tapi apa kenyataannya? Kampung ini makin maju, h
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di balai desa di kampung tempat tinggal Ramli. Bantuan berupa sembako dari Aland sudah datang. Tampak dua truk mengusung bahan-bahan pokok panganan itu. Sebanyak lima ratus KK yang mendapatkan bantuan tersebut termasuk janda dan anak yatim. Aland memberikan bantuan itu bukan tanpa sebab. Ia memberikannya sebagai tanda syukurnya karena kehamilan sang istri untuk kedua kalinya. Ia sangat bahagia karena dirinya dipercaya akan mendapatkan keturunan lagi. Itulah sebabnya ia memberikan bantuan kepada warga kampung meskipun mereka sudah berbuat tidak nyaman padanya dan sang istri. Tapi setidaknya ia ingin berbagi sebagai bentuk kepedulian dan rasa syukur. Pak lurah sangat senang dengan bantuan yang sudah diberikan oleh Aland kepada warga desanya. Tentu saja pria itu memberikan sambutan yang sangat antusias. Tapi sayang,hal itu tidak diimbangi oleh sikap kedua anaknya, Agus dan Pras. Kedua anak Pak lurah justru mengolok-olok bantuan dari Aland
Ani sendiri merasa gugup dan ia tidak berani menatap wajah Vina. "Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu!" ucap Vina. Ia tahu betul jika wanita itu memang sedang memiliki masalah besar. "Terima kasih banyak karena sudah membantuku, nanti aku pasti akan ganti uangmu!" kata Ani. "Tidak usah, kamu tidak perlu menggantinya. Aku cuma ingin bertemu sama kamu. Apa benar yang dikatakan ibu tadi, kalau kamu sedang hamil?" balas Vina yang justru bertanya. Ani tampak salah tingkah dan matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa diam? Benar kamu sedang hamil dan kamu mengambil buah mangga ini karena kamu sedang ngidam?" tanya Vina lagi. Sejenak suasana yang hening. Hingga akhirnya tangis Ani pecah. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di hadapan Vina dan lainya. Nyonya Ratna dan Bu Mar. Vina menghela napas dan sudah bisa menduganya. Ucapan Bu Juminten tidak salah. "Ani, jadi benar kamu hamil? Kenapa diam? Ayo jawab?" desak Bu Mar. Ani pun segera menjawabnya dengan anggukan kepala. Sa
Akhirnya Vina dan anak-anaknya pergi ke balai desa. Mereka pergi dengan berjalan kaki karena jarak balai desa dari rumah cukup dekat. Di saat mereka sedang berjalan menuju ke balai desa, tanpa sengaja Vina berpapasan dengan Ani yang nampak lesu dan pucat. Vina mengerutkan keningnya, sudah hampir satu bulan ia tidak pernah bertemu dengan janda muda itu, dan sekarang mereka bertemu namun sudah banyak yang berubah dari Ani yang dulu dikenal sebagai janda muda yang cantik dan semok di kampung itu. Tubuh Ani sedikit kurus dan kurang terawat. Di tangannya menggendong sebuah mangga muda kecil yang entah ia dapat dari mana. Sungguh, sangat berbeda dengan keadaan Ani sebulan yang lalu yang masih terlihat cantik dan centil. Ani tahu jika dirinya berpapasan dengan Vina. Wanita itu langsung menundukkan wajahnya seolah ia malu saat orang melihat keadaannya yang sekarang. "Ani, bukankah dia tukang pijat itu, kok sekarang dia keliatan beda, ya!" gumam Vina. Benar saja, saat Ani mulai berjala







