เข้าสู่ระบบ08 – Amarah KaranLayar televisi berukuran tujuh puluh inci di meja makan penthouse menampilkan siaran langsung berita pagi yang cukup mengguncang. Di bawah pendaran lampu kamera pers, Anita berdiri dengan mata sembab, mengusap air matanya yang tampaknya dipaksakan keluar menggunakan sapu tangan mahal. Di sebelahnya, Karan berdiri tegap dengan wajah kaku dan mengepal keras, memancar emosi yang disengaja di depan puluhan wartawan yang merubunginya di depan pagar rumah peninggalan Hermawan."Kami memohon dengan sangat kepada pihak kepolisian dan masyarakat luas," tangis Anita pecah di depan mikrofon pers. "Keponakan kami, Jasmine, telah diculik secara paksa oleh kelompok organisasi bayangan yang dipimpin oleh pria berbahaya bernama Maximilian. Dia dibawa pergi di bawah ancaman senjata, dan anak saya, Aris, dihajar sampai koma saat berusaha melindungi Jasmine! Kami tidak tahu bagaimana nasib keponakan kami sekarang!"Jasmine yang duduk di kursi meja makan terpana menatap layar televisi.
07 – Kediaman sang Ketua OrganisasiDengung halus mesin sedan mewah itu mengalun stabil membelai heningnya jalanan ibu kota yang mulai lengang. Jasmine menyandar lemas di atas jok kulit berwarna hitam pekat, matanya menatap tajam keluar jendela memandangi pendaran lampu jalan yang meluncur cepat. Di bahunya, jas wol hitam milik Max masih tersampir hangat, menguarkan aroma parfum maskulin berkayu yang secara tidak langsung memberikan sensasi perlindungan aneh di tengah guncangan emosi yang baru saja dialaminya.Di sampingnya, Max duduk tenang dengan kaki bersilang santai. Kemeja putihnya yang sempat berantakan kini sudah kembali rapi, walau memar merah di buku-buku jemari tangannya masih terlihat jelas akibat pukulan brutal yang melayang ke wajah Aris tadi. Kacamata berbingkai tipis milik pria itu memantulkan kilatan cahaya remang dari lampu dasbor.'Gua beneran udah bikin kesepakatan sama ketua mafia ini?' batin Jasmine menjerit panik. Jemari tangannya refleks bergerak menggigiti bibi
06 - Syarat sang PerawanSentuhan jemari pria itu di permukaan bibir bawah Jasmine terasa bagai sengatan listrik yang memercik cepat ke seluruh penjuru tubuhnya. Hawa panas menguar dari helaan napas yang membelai pipi Jasmine yang sudah merona merah. Jasmine memejamkan mata sejenak, memutar otak yang serasa membeku di bawah kungkungan aura intimidatif pimpinan organisasi bayangan di hadapannya.Ia harus memikirkan cara untuk lolos. Akal sehatnya menjerit histeris agar ia tidak tenggelam dalam pesona pria yang baru saja memenangkannya dari panggung lelang haram tersebut.Suara Max terdengar serak dan berat ketika ia berbisik sangat dekat di telinga Jasmine, menuntut gadis itu untuk bersikap lebih tenang. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis. Max memiringkan kepala, bersiap mengklaim bibir ranum yang sedari tadi terus menggoda imannya."Max, tunggu," bisik Jasmine, suaranya gemetar namun ada ketegasan tersembunyi yang membuat pergerakan Max tertahan."Ada apa lagi, sweetheart?" g
Jasmine si kutu buku punya khayalan tingkat tinggi. Dia memiliki segunung novel romansa yang seringkali menceritakan kisah cinta epik dari tokoh utamanya. Kebanyakan penulis menjabarkan seperti apa rasanya bertemu dengan cinta pertama, menjalani hari-hari penuh antisipasi dan debaran jantung yang membuat pipi bersemu kemerahan hingga akhirnya sepasang insan itu berbagi ciuman. Semuanya begitu indah dan mendebarkan! Jasmine sampai-sampai membayangkan seperti apa ciuman pertamanya nanti. Lelaki seperti apa yang akan dia nikahi, bagaimana rupanya, seperti apa sikap romantisnya. Dan apa yang akan mereka lakukan di malam pertama pernikahan. Auw, membayangkannya saja membuat Jasmine menjerit-jerit menggigit selimut kesenangan sekaligus malu. Sebenarnya, Jasmine tidak sepolos itu, dia pernah curi-curi membaca novel dan manga erotis. Ibunya bahkan tanpa sadar membayarkan tagihan pembelian buku impor berbahasa Inggris yang berkisah tentang BDSM. Ah, andai saja Lily Hermawan tahu apa bacaa
"Pe-penipu...?" Napas Jasmine tercekat, dia tersedak emosinya. Tangannya terangkat menutup mulut seiring dengan air mata membayang di pelupuknya. Max mengangguk santai, dia menarik dasi lepas dari lehernya, membuangnya ke lantai dan memberi kode pada Jasmine agar mendekat. Sedikit ragu, Jasmine melangkah. Dia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak dari lelaki asing yang membawa berita tak menyenangkan. Mana mungkin Karan, pamannya itu bukan adik dari ayahnya? Lalu siapa dia? "Kamu mau tahu siapa dia?" Max seolah bisa membaca pikiran Jasmine. Gadis itu mengangguk. Max tersenyum, Jasmine ini begitu polos. Dia bagaikan sebuah buku yang terbuka; Max bisa membaca semuanya dari sirat wajahnya. Tanpa sengaja, pandangan mereka bersirobok. Max terdiam seketika manik mata biji almon itu menatapnya menuntut jawaban. "Duduk sini," Max menepuk pahanya, meminta Jasmine duduk di pangkuannya. Tak disangka, Jasmine menggeleng, "Tidak, terima kasih." "Oh, nggak perlu sungkan, sweetheart
Sejak kedatangan Anita ke hidupnya hampir setahun yang lalu, Jasmine tak pernah tidur tenang. Dia terusir dari kamarnya sendiri yang berada di paviliun samping, sekarang kamar itu digunakan Aris, anak Karan dan Anita, seorang mahasiswa tingkat tiga Fakultas Hukum di Universitas ternama. Anita selalu membanggakan anak semata wayangnya itu, memanjakannya hingga batas yang sangat mengkhawatirkan. Di pertemuan pertama mereka, Aris sudah naksir Jasmine, namun Anita tak suka melihat mereka mengobrol. Walau tinggal satu atap, Aris dan Jasmine tak pernah terlihat akrab. Memang sudah sepantasnya seperti itu, karena siapa sih yang malah bermanis-manis dengan penjajah yang menduduki wilayah? Bagi Jasmine, Karan dan anak istrinya tak ubahnya penjajah yang menginvansi rumahnya. Mereka datang dan memorak porandakan kehidupan Jasmine. Tak sampai di situ, ternyata Anita dengan beraninya melelang Jasmine pada lelaki hidung belang! "Jasmine," panggil Aris ketika Jasmine turun dari panggung. Gadis it
Di mata Max, gadis muda itu terlalu polos untuk mengenakan gaun mini halter neck yang memeluk setiap lekuk tubuhnya. Jelas gadis yang dipanggil ke hadapan para pelelang yang kebanyakan pria hidung belang itu memiliki bentuk tubuh seorang wanita muda, namun dari ekspresi wajahnya dia masih lugu. Sor
"Kulit kamu cerah, kontras dengan warna hitam, jadi kelihatan lebih anggun!" Anita, istri pamannya yang baru dikenalnya selama beberapa bulan berdecak kagum pada pantulan Jasmine di cermin. Matanya berbinar-binar melihat kecantikan paripurna seorang gadis yang masih perawan. Ini pertama kalinya Ja







