LOGIN10 – Pengumuman PublikDua hari pasca penandatanganan berkas pra-nikah di penthouse, atmosfer di ballroom utama Hotel Grand Hyatt Jakarta terasa luar biasa tegang. Ruangan bernuansa emas dan kristal yang biasa digunakan untuk perhelatan jet set ibu kota itu kini dipenuhi oleh puluhan pengusaha kelas atas, pejabat publik, serta kolega bisnis peninggalan almarhum Hermawan. Para jurnalis dari media bisnis ternama merubung di barisan belakang, menantikan pengumuman darurat yang diinisiasi oleh pimpinan tertinggi organisasi bayangan.Max berdiri tegap di atas podium utama. Pria tiga puluh enam tahun itu tampil sempurna dalam balutan setelan jas kustom berwarna hitam pekat, kemeja putih kaku, dan dasi sutra yang terikat rapi. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan pendaran lampu gantung kristal, membingkai sepasang mata tajam yang memancarkan aura dominasi mutlak.Di samping Max, Jasmine berdiri dengan gaun malam berlengan panjang berwarna biru navy yang anggun. Riasan tipis karya tim pro
09 – Pernikahan KontrakSinar matahari pagi membias terang menembus dinding kaca tebal di ruang kerja penthouse Max. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu tenang dan formal. Di atas meja kayu mahoni berukuran besar, dua rangkap berkas tebal berstempel meterai sudah tertata rapi. Pak Budi, pengacara pribadi kepercayaan Max, duduk di kursi berlapis kulit seraya merapikan letak kacamatanya. Di sebelahnya, Anto berdiri tegap dengan sikap siaga khas pengawal terlatih, meski ekspresi wajahnya nampak canggung seperti biasa.Jasmine duduk di hadapan Pak Budi dengan kedua tangan terlipat di atas paha. Gadis itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang dipadu dengan rok kain santai, memberikan kesan rapi namun tetap kasual. Jemari tangannya refleks bergerak menggigiti bibir bawahnya, menahan riak rasa cemas yang diam-diam bergolak di dalam dada. Di sisinya, Max duduk bersandar santai. Kemeja biru gelap yang dikenakan pria itu dibiarkan terbuka dua kancing teratasnya, memancarkan aura
08 – Amarah KaranLayar televisi berukuran tujuh puluh inci di meja makan penthouse menampilkan siaran langsung berita pagi yang cukup mengguncang. Di bawah pendaran lampu kamera pers, Anita berdiri dengan mata sembab, mengusap air matanya yang tampaknya dipaksakan keluar menggunakan sapu tangan mahal. Di sebelahnya, Karan berdiri tegap dengan wajah kaku dan mengepal keras, memancar emosi yang disengaja di depan puluhan wartawan yang merubunginya di depan pagar rumah peninggalan Hermawan."Kami memohon dengan sangat kepada pihak kepolisian dan masyarakat luas," tangis Anita pecah di depan mikrofon pers. "Keponakan kami, Jasmine, telah diculik secara paksa oleh kelompok organisasi bayangan yang dipimpin oleh pria berbahaya bernama Maximilian. Dia dibawa pergi di bawah ancaman senjata, dan anak saya, Aris, dihajar sampai koma saat berusaha melindungi Jasmine! Kami tidak tahu bagaimana nasib keponakan kami sekarang!"Jasmine yang duduk di kursi meja makan terpana menatap layar televisi.
07 – Kediaman sang Ketua OrganisasiDengung halus mesin sedan mewah itu mengalun stabil membelai heningnya jalanan ibu kota yang mulai lengang. Jasmine menyandar lemas di atas jok kulit berwarna hitam pekat, matanya menatap tajam keluar jendela memandangi pendaran lampu jalan yang meluncur cepat. Di bahunya, jas wol hitam milik Max masih tersampir hangat, menguarkan aroma parfum maskulin berkayu yang secara tidak langsung memberikan sensasi perlindungan aneh di tengah guncangan emosi yang baru saja dialaminya.Di sampingnya, Max duduk tenang dengan kaki bersilang santai. Kemeja putihnya yang sempat berantakan kini sudah kembali rapi, walau memar merah di buku-buku jemari tangannya masih terlihat jelas akibat pukulan brutal yang melayang ke wajah Aris tadi. Kacamata berbingkai tipis milik pria itu memantulkan kilatan cahaya remang dari lampu dasbor.'Gua beneran udah bikin kesepakatan sama ketua mafia ini?' batin Jasmine menjerit panik. Jemari tangannya refleks bergerak menggigiti bibi
06 - Syarat sang PerawanSentuhan jemari pria itu di permukaan bibir bawah Jasmine terasa bagai sengatan listrik yang memercik cepat ke seluruh penjuru tubuhnya. Hawa panas menguar dari helaan napas yang membelai pipi Jasmine yang sudah merona merah. Jasmine memejamkan mata sejenak, memutar otak yang serasa membeku di bawah kungkungan aura intimidatif pimpinan organisasi bayangan di hadapannya.Ia harus memikirkan cara untuk lolos. Akal sehatnya menjerit histeris agar ia tidak tenggelam dalam pesona pria yang baru saja memenangkannya dari panggung lelang haram tersebut.Suara Max terdengar serak dan berat ketika ia berbisik sangat dekat di telinga Jasmine, menuntut gadis itu untuk bersikap lebih tenang. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis. Max memiringkan kepala, bersiap mengklaim bibir ranum yang sedari tadi terus menggoda imannya."Max, tunggu," bisik Jasmine, suaranya gemetar namun ada ketegasan tersembunyi yang membuat pergerakan Max tertahan."Ada apa lagi, sweetheart?" g
Jasmine si kutu buku punya khayalan tingkat tinggi. Dia memiliki segunung novel romansa yang seringkali menceritakan kisah cinta epik dari tokoh utamanya. Kebanyakan penulis menjabarkan seperti apa rasanya bertemu dengan cinta pertama, menjalani hari-hari penuh antisipasi dan debaran jantung yang membuat pipi bersemu kemerahan hingga akhirnya sepasang insan itu berbagi ciuman. Semuanya begitu indah dan mendebarkan! Jasmine sampai-sampai membayangkan seperti apa ciuman pertamanya nanti. Lelaki seperti apa yang akan dia nikahi, bagaimana rupanya, seperti apa sikap romantisnya. Dan apa yang akan mereka lakukan di malam pertama pernikahan. Auw, membayangkannya saja membuat Jasmine menjerit-jerit menggigit selimut kesenangan sekaligus malu. Sebenarnya, Jasmine tidak sepolos itu, dia pernah curi-curi membaca novel dan manga erotis. Ibunya bahkan tanpa sadar membayarkan tagihan pembelian buku impor berbahasa Inggris yang berkisah tentang BDSM. Ah, andai saja Lily Hermawan tahu apa bacaa
"Pe-penipu...?" Napas Jasmine tercekat, dia tersedak emosinya. Tangannya terangkat menutup mulut seiring dengan air mata membayang di pelupuknya. Max mengangguk santai, dia menarik dasi lepas dari lehernya, membuangnya ke lantai dan memberi kode pada Jasmine agar mendekat. Sedikit ragu, Jasmine m
Sejak kedatangan Anita ke hidupnya hampir setahun yang lalu, Jasmine tak pernah tidur tenang. Dia terusir dari kamarnya sendiri yang berada di paviliun samping, sekarang kamar itu digunakan Aris, anak Karan dan Anita, seorang mahasiswa tingkat tiga Fakultas Hukum di Universitas ternama. Anita selal
Di mata Max, gadis muda itu terlalu polos untuk mengenakan gaun mini halter neck yang memeluk setiap lekuk tubuhnya. Jelas gadis yang dipanggil ke hadapan para pelelang yang kebanyakan pria hidung belang itu memiliki bentuk tubuh seorang wanita muda, namun dari ekspresi wajahnya dia masih lugu. Sor
"Kulit kamu cerah, kontras dengan warna hitam, jadi kelihatan lebih anggun!" Anita, istri pamannya yang baru dikenalnya selama beberapa bulan berdecak kagum pada pantulan Jasmine di cermin. Matanya berbinar-binar melihat kecantikan paripurna seorang gadis yang masih perawan. Ini pertama kalinya Ja







