Masuk14 – Ujian di Bawah Bayang-Bayang BodyguardSinar matahari pagi yang menembus celah kaca gedung SMA Garuda tidak sepenuhnya mampu mencairkan udara dingin di koridor lantai dua. Suasana sekolah tempat Jasmine menimba ilmu kini terasa begitu asing bagi dirinya sendiri. Setiap kali kakinya melangkah menelusuri selasar ubin putih menuju kelas, puluhan pasang mata teman-teman sekolah dan para guru terpaku ke arahnya dengan berbagai ekspresi, mulai dari takjub, penasaran, hingga bisik-bisik iri yang terdengar samar.Bukan hanya statusnya sebagai calon istri pimpinan organisasi terkemuka yang menjadi buah bibir warga sekolah, melainkan keberadaan dua sosok pria tegap bersafari hitam rapi yang melangkah konsisten dua meter di belakangnya. Anto bersama salah satu personel pengawal pribadi bentukan Max berdiri siaga bagaikan menara pengawas bergerak. Langkah mereka mantap, pandangan mata memindai sekeliling koridor dengan ketelitian tinggi.Jasmine menghela napas panjang seraya merapikan kacama
13 – Celah di Balik MusuhPenangkapan spektakuler Karan dan Anita oleh pihak kepolisian kemarin sore menyisakan keheningan yang sedikit aneh di ruang perpustakaan penthouse. Cahaya mentari pagi menerobos lembut dinding kaca, memantulkan pendaran hangat pada tumpukan buku pelajaran Sekolah Menengah Atas yang berserakan di atas meja kayu. Jasmine duduk bersandar di kursi berpelapis kulit, memegang pulpen hitam di jemarinya seraya mencoba fokus memahami kumpulan rumus kalkulus dan materi ujian sekolah yang tinggal beberapa hari lagi.Namun, bayangan wajah Anita yang histeris digelandang polisi dan raut wajah Max yang begitu dingin seolah enggan beranjak dari benaknya. Jasmine menghela napas panjang, merapikan kacamata tipis yang meluncur sedikit di pangkal hidungnya. Jemarinya refleks bergerak melayang menuju bibir bawahnya, menggigiti bagian kulit lembut itu saat rasa gelisah kembali merayap di dadanya.'Karan sama Tante Anita memang udah ditahan,' batin Jasmine berbisik pelan, matanya
12 – Serangan Balik OrganisasiKegagalan laporan polisi Karan di penthouse Max kemarin rupanya tidak membuat ketegangan mereda, melainkan memicu babak baru pertempuran yang jauh lebih masif. Di ruang kendali siber markas organisasi yang terletak di lantai bawah penthouse, pencahayaan temaram dari puluhan layar monitor raksasa memantulkan kilatan cahaya hijau dan biru. Anto berdiri di tengah ruangan, memandu belasan peretas papan atas dan analis siber yang jemarinya lincah menari di atas papan ketik.Max berdiri di samping meja utama, merapatkan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung hingga sebatas siku. Pria tiga puluh enam tahun itu menatap dingin grafik aliran data dan rekaman audio visual yang terus mengalir di layar monitor utama. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan barisan kode enkripsi yang berhasil ditembus oleh tim siber organisasinya."Semua berkas dan rekaman transaksi sudah terekstraksi sempurna, Bos," ujar Anto seraya mengetuk satu tombol di komputer utama. "Re
11 – Gertakan PerwalianPagi hari di penthouse Max dibuka dengan suasana yang jauh dari kata tenang. Baru saja dua hari berlalu sejak pengumuman pernikahan yang menghebohkan publik di Hotel Grand Hyatt, gelombang balasan dari kubu lawan mulai menghantam. Karan tidak tinggal diam setelah martabat dan rencananya dihancurkan di depan ratusan kolega bisnis. Pria itu menggunakan kartu liar terakhirnya untuk membalikkan keadaan.Jasmine sedang duduk di meja makan seraya memeriksa beberapa lembar catatan pelajaran SMA ketika Anto melangkah terburu-buru memasuki ruang tengah. Wajah pengawal pribadi itu nampak tegang, memegang sebuah map berlogo kepolisian dan dokumen panggilan resmi."Bos, ada perwakilan dari Polda Metro Jaya dan dua petugas dari Komisi Perlindungan Anak di lantai bawah," ujar Anto dengan nada suara rendah namun tergesa-gesa. "Karan baru saja melayangkan laporan resmi. Dia menuduh Anda melakukan tindak penculikan, penyekapan, dan perampasan hak anak di bawah umur terhadap Non
10 – Pengumuman PublikDua hari pasca penandatanganan berkas pra-nikah di penthouse, atmosfer di ballroom utama Hotel Grand Hyatt Jakarta terasa luar biasa tegang. Ruangan bernuansa emas dan kristal yang biasa digunakan untuk perhelatan jet set ibu kota itu kini dipenuhi oleh puluhan pengusaha kelas atas, pejabat publik, serta kolega bisnis peninggalan almarhum Hermawan. Para jurnalis dari media bisnis ternama merubung di barisan belakang, menantikan pengumuman darurat yang diinisiasi oleh pimpinan tertinggi organisasi bayangan.Max berdiri tegap di atas podium utama. Pria tiga puluh enam tahun itu tampil sempurna dalam balutan setelan jas kustom berwarna hitam pekat, kemeja putih kaku, dan dasi sutra yang terikat rapi. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan pendaran lampu gantung kristal, membingkai sepasang mata tajam yang memancarkan aura dominasi mutlak.Di samping Max, Jasmine berdiri dengan gaun malam berlengan panjang berwarna biru navy yang anggun. Riasan tipis karya tim pro
09 – Pernikahan KontrakSinar matahari pagi membias terang menembus dinding kaca tebal di ruang kerja penthouse Max. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu tenang dan formal. Di atas meja kayu mahoni berukuran besar, dua rangkap berkas tebal berstempel meterai sudah tertata rapi. Pak Budi, pengacara pribadi kepercayaan Max, duduk di kursi berlapis kulit seraya merapikan letak kacamatanya. Di sebelahnya, Anto berdiri tegap dengan sikap siaga khas pengawal terlatih, meski ekspresi wajahnya nampak canggung seperti biasa.Jasmine duduk di hadapan Pak Budi dengan kedua tangan terlipat di atas paha. Gadis itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang dipadu dengan rok kain santai, memberikan kesan rapi namun tetap kasual. Jemari tangannya refleks bergerak menggigiti bibir bawahnya, menahan riak rasa cemas yang diam-diam bergolak di dalam dada. Di sisinya, Max duduk bersandar santai. Kemeja biru gelap yang dikenakan pria itu dibiarkan terbuka dua kancing teratasnya, memancarkan aura
Jasmine si kutu buku punya khayalan tingkat tinggi. Dia memiliki segunung novel romansa yang seringkali menceritakan kisah cinta epik dari tokoh utamanya. Kebanyakan penulis menjabarkan seperti apa rasanya bertemu dengan cinta pertama, menjalani hari-hari penuh antisipasi dan debaran jantung yang m
"Pe-penipu...?" Napas Jasmine tercekat, dia tersedak emosinya. Tangannya terangkat menutup mulut seiring dengan air mata membayang di pelupuknya. Max mengangguk santai, dia menarik dasi lepas dari lehernya, membuangnya ke lantai dan memberi kode pada Jasmine agar mendekat. Sedikit ragu, Jasmine m
Sejak kedatangan Anita ke hidupnya hampir setahun yang lalu, Jasmine tak pernah tidur tenang. Dia terusir dari kamarnya sendiri yang berada di paviliun samping, sekarang kamar itu digunakan Aris, anak Karan dan Anita, seorang mahasiswa tingkat tiga Fakultas Hukum di Universitas ternama. Anita selal
Di mata Max, gadis muda itu terlalu polos untuk mengenakan gaun mini halter neck yang memeluk setiap lekuk tubuhnya. Jelas gadis yang dipanggil ke hadapan para pelelang yang kebanyakan pria hidung belang itu memiliki bentuk tubuh seorang wanita muda, namun dari ekspresi wajahnya dia masih lugu. Sor







