Share

Pasukan Malam

Penulis: RajaFantasi
last update Tanggal publikasi: 2026-01-04 12:06:24

Suara petir!

Hantaman keras!

Seseorang muncul dari langit dengan tubuh berselimut petir dan menampilkan senyuman lebar penuh semangat. Orang itu dengan cepat meluncur menghantam kepala monster kelabang raksasa hingga hancur dan memuntahkan darah hijau. Gelombang energi halus mengandung petir menyebar ke segala arah membuat siapapun yang terkena sedikit kejang dan mati rasa.

Dien tidak bisa membantu dan kesetrum ringan, dengan wajah bingung pria sumbing itu mencoba melihat seseorang yang tertutup debu sambaran petir.

“Apa itu? Manusia? Manusia super?” Dien membatin menyadari bahwa itu bukan sambaran petir biasa.

“Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun! Bagaimana bisa monster muncul di tengah-tengah masyarakat kota? Ini sangat aneh.” Rudo berkata dengan senyuman lebar, lalu menyebarkan petir ke segala arah.

Rudo yang menginjak kepala monster kelabang yang hancur segera melompat tinggi dan mendarat di samping mayat monster kelabang raksasa.

“Menjijikkan sekali!” Keluh Rudo dengan jijik menendang-nendang udara mencoba menyingkirkan darah hijau monster kelabang yang melumuri kakinya.

“Dari ratusan pengunjung yang ada di danau ini hanya mereka berdua yang selamat?” Seorang pria keluar dari kegelapan malam dengan pedang di pinggang kanan.

Pria muda berwajah datar dan dingin itu bernama Seta Huang.

“Tidak juga!”

“Beberapa orang berhasil menjauh dan menyelamatkan diri saat kekacauan terjadi. Beruntungnya aku berhasil menghapus ingatan mereka untuk melupakan kejadian ini.” Balas seorang wanita dengan acuh.

Sebuah lentera turun dari langit menuju tangan sang wanita. Itu adalah lentera ingatan yang memiliki kemampuan menghapus ingatan orang lain.

“Kekacauan ini terlalu…” Syifa melihat situasi danau yang berantakan, sisa daging manusia berserakan, dan darah membasahi halaman danau.

“Apakah kalian utusan dewa? Terimakasih dewa! Aku tahu kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Terimakasih! Terimakasih!” Sela wanita kepang dua merasa lega dan terus berterimakasih kepada dewa.

Empat orang (termasuk Dien) melihat wanita kepang dua dengan berbagai ekspresi.

“Kami bukan utusan dewa. Kami hanyalah manusia biasa yang memiliki sedikit kemampuan… hmm… dapat dikatakan kami memang ada karena restu dari dewa.” Seta Huang berkata dengan senyuman.

“Kami bukan utusan dewa, karena dewa tidak peduli dengan manusia. Kami hanyalah orang yang kebetulan lewat.” Balas Rudo melirik Seta sekilas.

“Rudo, dewa selalu mengawasi kita semua. Jangan pernah meragukan keberadaan dewa, apalagi menganggapnya tidak ada. Kamu akan dimasukkan ke dalam neraka jika berkata seperti itu.” Ucap Seta menatap tajam.

“Dewa itu sama seperti kita. Hanya manusia biasa, tidak mungkin dia memasukkan kita ke neraka. Jangan bercanda.” Balas Rudo acuh tak acuh.

“Jika dewa memang peduli. Dimana dia saat manusia dibantai monster? Dimana dia saat umat yang percaya kepadanya sedang ketakutan? Dimana dewa saat monster kelabang itu membantai orang-orang di danau ini?” Rudo bertanya dengan acuh, menunjuk beberapa potongan tubuh manusia, dan diakhir kalimat menunjuk mayat kelabang raksasa.

“Seta kalau bukan karena kita, monster kelabang itu akan terus mengamuk dan mengacaukan kota. Bukalah matamu! Dewa itu tidak peduli dengan manusia atau bahkan tidak pernah ada dan hanya fatamorgana orang-orang bodoh sepertimu.” Ujar Rudo yang memang dikenal tidak percaya keberadaan dewa.

“Rudo kamu tahu dewa tidak pernah secara pribadi turun untuk menyelamatkan umatnya yang kesusahan. Dewa hanya perlu menggerakkan umatnya yang mampu untuk menyelamatkan umatnya yang tidak mampu dan lemah tak berdaya. Contohnya kita, tanpa restu dari dewa kehidupan, kita mungkin tidak akan pernah datang ke danau ini. Tanpa restu dewa kematian, kita mungkin akan terbunuh sebelum sampai ke tempat ini.” Seta menjelaskan dengan tenang penuh kesabaran.

“Alasan klasik! Selalu itu alasan orang-orang bodoh seperti kalian. Dewa tidak turun secara pribadi. Dewa hanya perlu menggerakkan umatnya yang lain… blablabla. Aku ingin tertawa mendengarnya. Hahaha!!!” Rudo tertawa mengejek.

“Rudo sebaiknya kamu bertobat atau aku akan membunuhmu karena menghina dewa!” Ujar Seta mengeluarkan aura keberadaannya sembari menatap dingin Rudo yang kelewat batas.

“Kenapa? Tidak terima?” Tanya Rudo juga mengeluarkan aura keberadaannya yang mengandung energi petir.

“Sudah-sudah! Malu kepada orang lain!” Ujar Syifa melerai pertengkaran dua rekannya tersebut.

“Syifa sebaiknya kamu tidak ikut campur! Aku akan memberi bocah bodoh ini pelajaran karena meragukan keberadaan dewa. Aku akan mengirimnya untuk bertemu dewa neraka.” Seta berkata dengan sangat marah.

“Ayo majulah! Aku ingin lihat bagaimana dewa menyelamatkanmu dari kematian.” Rudo menantang dengan tangan memercikkan petir kuning yang sangat kuat.

“Hentikan Rudo! Seta!” Syifa panik melihat dua rekannya yang ribut tersebut.

Seta maupun Rudo tidak berniat untuk berhenti dan saling mengintimidasi, mereka malah semakin siap bertarung. Satu percikan kecil saja mereka berdua mungkin akan bertarung dan saling membunuh saat itu juga. Keributan mereka berdua, membuat mereka berlima (termasuk Dien dan wanita berkepang dua) tidak menyadari bahwa monster kelabang perlahan-lahan regenerasi dan hidup kembali.

Terkaman mengerikan!!!

Tiba-tiba monster kelabang mencaplok kepala wanita kepang dua. Alhasil tiga orang tersebut kaget dan menjaga jarak, sementara Dien langsung dilindungi oleh Rudo yang mengeluarkan energi petir.

“Monster brutal tingkat 9 setengah langkah akan berevolusi menjadi monster sihir? Tidak disangka monster kelabang ini menembus batasan saat sedang sekarat.” Gumam Seta mencengkram gagang pedangnya sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

“Rudo kenapa kamu tidak membunuhnya? Karena kelalaian kamu korban malah bertambah.” Syifa bertanya marah.

Rudo hanya diam menatap monster kelabang raksasa, lalu tersenyum mengejek.

“Seharusnya wanita itu masih hidup, karena dewa kehidupan menyelamatkannya dan dewa kematian memberinya izin untuk hidup lebih lama. Kenapa dia bisa mati diterkam monster? Aku bingung. Apakah kalian tahu alasannya?” Tanya Rudo dengan senyuman mengejek.

Syifa tertegun mendengar jawaban Rudo yang diluar nalar.

“Ah sepertinya dewa kematian berubah pikiran. Haha.” Rudo mengerti dan tertawa mengejek.

Seta membelah kepala monster dalam sekali tebasan energi. Monster kelabang itu mati seketika karena bagian vitalnya ditebas dan tidak dapat regenerasi lagi. Seta menyarungkan pedangnya dengan gerakan lambat dan dingin.

“Rudo sepertinya kamu salah paham beberapa hal tentang eksistensi dewa.” Ucap Seta dingin.

“Semua makhluk didunia ini adalah ciptaan dewa. Dewa sangat adil dan tidak pernah memihak salah satu makhluk ciptaannya dan merugikan makhluk ciptaannya yang lain. Dewa hanya diam dan membiarkan makhluk ciptaannya bertahan hidup sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika kamu cukup kuat, maka kamu akan dapat bertahan hidup. Jika kamu lemah, maka kamu hanya bisa menjadi santapan makhluk yang lebih kuat.” Seta menjelaskan.

“Jika seseorang mati diterkam monster, itu karena dia tidak memiliki kemampuan yang cukup dan orang-orang disekitarnya juga tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melindunginya. Itu sudah menjadi ketetapan dewa penguasa alam semesta.” Seta menatap dingin Rudo dan mengakhiri penjelasannya.

“Haha. Seta oh Seta itukan menurutmu. Tapi menurutku...” Rudo tertawa dan berkata.

Syifa hanya bisa menggeleng kepala tanpa daya melihat pertengkaran Seta dan Rudo berlanjut. Syifa menarik Dien sedikit menjauh, lalu mengangkat lentera dan mengarahkannya tepat di wajah Dien yang kebingungan karena ditarik menjauh.

Dien bingung dengan tindakan Syifa yang tiba-tiba mengangkat lentera dan bertanya-tanya apa yang ingin wanita itu lakukan kepadanya menggunakan lentera dengan ukiran aneh tersebut.

Tiba-tiba saja bayangan putih seperti roh atau jiwa keluar dari tubuh Dien. Itu adalah bentuk roh jiwa Dien.

“Dengan ini kamu tidak akan mengingat…” Syifa memulai untuk menghapus ingatan Dien Moretz.

Mendengar beberapa kata itu, Dien langsung sadar bahwa Syifa ingin menghapus ingatannya.

“Aku ingin bergabung dengan kalian!” Pekik Dien melompat menjauh sebelum lentera itu benar-benar mengambil ingatannya.

Tiga orang itu kaget dengan teriakan Dien sampai-sampai Seta dan Rudo menghentikan perdebatan sengit mereka. Mereka bertiga menatap Dien penuh arti seakan-akan bertanya tekad Dien.

“Aku sudah memikirkannya semenjak monster kelabang muncul secara mengejutkan. Aku menghubungkan kemunculan monster kelabang dengan iklan penerimaan pasukan malam. Setelah dipikir-pikir, aku sangat yakin bahwa mereka adalah pasukan malam yang iklan lowongannya aku temukan sebelumnya.” Batin Dien dalam pengawasan tiga orang tersebut.

“Aku menyadari ada dunia berbeda dibandingkan dunia yang biasanya aku hadapi sehari-hari. Dunia itu adalah dunia dibalik kegelapan yang menyelimuti dunia. Dunia itu adalah dunia yang penuh dengan monster mengerikan. Dunia itu adalah dunia yang penuh kekacauan dan monster pemangsa manusia.” Dien membatin dan semakin yakin untuk bergabung.

“Aku bertekad untuk menjadi bagian dari dunia itu.” Batin Dien, lalu menghela nafas di bawah tatapan tiga orang yang mengawasinya.

“Aku ingin menjadi pasukan malam. Aku ingin menjadi praktisi spiritual dan melawan monster dan roh jahat.” Ucap Dien dengan penuh tekad, membuat wanita pembawa lentera menatap dua rekannya.

Tiga orang itu saling pandang satu sama lain meminta pendapat.

“Izinkan aku bergabung menjadi Pasukan malam! Aku ingin menjadi praktisi spiritual!” Ucap Dien kembali dan sangat berharap dapat diterima.

Pukulan keras di punggung leher!

Tiba-tiba Rudo menghilang dan memukul punggung leher Dien dari belakang. Pukulan itu membuat Dien pusing, lalu jatuh pingsan begitu saja dalam pengawasan pandangan dingin Rudo, Seta, dan Syifa.

Bersambung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Akhir Sarjana Pengangguran

    Ledakan besar tercipta dan menyapu habis perumahan khusus pasukan malam hingga sejauh 5 km dan membunuh ribuan manusia yang berada di dalam jangkauannya. Tidak ada manusia yang berhasil hidup termasuk praktisi spiritual, kecuali beberapa orang yang cepat tanggap menggunakan sihir pelindung untuk melindungi diri dan keluarganya. Seorang anak perempuan yang sedang bermain ponsel di balkon rumah melihat ledakan bom atom di kejauhan. Bocah perempuan itu menunjuk ledakan bom atom dengan takjub. “Ibu ada kembang api besar sekali!” Ucap sang bocah bersemangat. Sang ibu melihat ke arah yang ditunjuk putrinya. Hawa panas mulai menyerbu dan membakar kulit mereka. “Panas!!! Ibu panas!!!” Pekik bocah perempuan kepanasan dan rumah mereka hancur dihantam gelombang kejut ledakan bom atom. Setelah ledakan bom atom berakhir, pusat ledakan meninggalkan kawah besar dan sangat dalam. Bent yang merupakan penyebab bom atom selamat karena melindungi dirinya dengan kubah tanah berlapis-lapis. Kapten Me

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Anita

    Kapten Medi mengejar Bent dengan kecepatan sihir elemen petir. Seorang bawahan yang bernama Ruslan mengikuti dari belakang dan melepaskan tembakan. Bent dengan cepat terjun ke bawah, lalu menciptakan duri tanah untuk menghambat pergerakan kapten Medi dan Ruslan yang mengejarnya. Bent dengan cepat berlari keluar dari perumahan dengan menjadikan tanah layaknya selancar, namun sayangnya beberapa orang mengepungnya dari berbagai arah. Bent menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling hanya untuk menemukan bahwa dia dikepung dari berbagai arah. “Aku dikepung ya. Informasinya cepat tersebar. Wajar saja sih! Soalnya ini adalah perumahan khusus praktisi spiritual.” Bent tersenyum tipis dan mendongak melihat kapten Medi yang menatapnya tajam dari atap rumah. “Menyerahlah Bent! Kau sudah terkepung!” Kapten Medi menatap tajam Bent dan meminta agar pria itu menyerah. “Menyerah? Haha.” Bent menutup wajahnya dan tertawa“Setelah apa yang terjadi kepada Anita kau memintaku menyerah?” Bent mena

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Kabur

    Bent tersenyum kecil, mengingat hari dimana rekannya terbunuh oleh tangannya sendiri. Hari itu Bent tampak syok dan merasa sangat bersalah karena telah membunuh rekan seperjuangannya. Meskipun merasa sangat bersalah Bent nyatanya tidak menyesal sama sekali. Bagi Bent pengorbanan rekannya harus dilakukan demi mewujudkan ambisinya. “Ada apa senior? Ayo makan!” Dien menegur Bent yang belum mulai menyuap nasi di piringnya. Bent yang mengingat kenangan kematian rekannya hanya tersenyum. “Haha. Junior yang menarik.” Bent tertawa dan tiba-tiba melepaskan aura pembunuh yang sangat besar. Ayah, ibu, dan Helena menghentikan makannya. Mereka menatap Bent dengan ketakutan dan sangat terintimidasi. “Kita langsung saja, karena aku tidak pandai bernegosiasi.” Ujar Bent memperkuat tekanan energi spiritualnya. “Junior jika kamu menginginkan mereka tetap hidup, maka patuhilah perintahku!” Bent menatap tajam Dien yang menyuap dan mengunyah nasi. “Pak tolong jangan keluarkan kekuatanmu atau apapun

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Sang Pengkhianat

    Taman bunga. Reni datang menemui ayahnya yang bersantai di taman bunga sembari menikmati secangkir kopi pagi. Reni memeluk ayahnya dari belakang dengan senyuman ceria dan terlihat seperti gadis kecil yang sangat merindukan ayahnya. Gorg Dereck tersenyum dan mengelus lembut rambut kepala Reni. “Apa yang kamu inginkan putriku?” Gorg tahu betul Reni datang menemuinya pasti menginginkan sesuatu. “Ayah lupa? Aku menginginkan kepala Leonard, Helena, dan bajingan yang membantu mereka?” Reni mengutarakan tujuan kedatangannya dengan wajah cemberut. “Apakah ayah berhasil mengambil kepala mereka? Dimana kepala mereka?” Tanya Reni dengan mata berbinar melihat sekeliling taman yang hanya ada bunga. Reni kecewa karena tidak menemukan kepala tiga orang yang dia benci. Gorg tersenyum dan mengelus lembut tangan putrinya tersebut. “Bersabarlah sayang! Saat ini anak buah ayah sedang menyerang mereka. Jika kepala mereka berhasil diambil, ayah akan langsung mengirimkannya ke kamarmu.” Gorg hanya b

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Klon

    Dien tiba-tiba merasakan perutnya sangat sakit dan terasa dingin. Dien melihat perutnya dan menemukan sebuah tangan wanita yang berdarah-darah menembus perutnya. Tangan itu adalah tangan Karin si pembunuh yang dikirim Gorg Dereck. Karin tersenyum tipis dan mencabut tangannya dengan sangat kasar hingga Dien tersentak menahan sakit. Dien jatuh berlutut memegang perutnya yang bolong, bahkan mengeluarkan ususnya. Karin tersenyum kecil dan jongkok hingga wajahnya sejajar dengan wajah Dien.“Apakah gurumu tidak pernah mengajarimu untuk waspada dengan teknik bawaan orang lain?” Karin menatap mata Dien dan bertanya dengan penasaran. Dien melotot menahan sakit, lalu muntah darah memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah.“Kau… bagaimana bisa kau masih hidup?” Tanya Dien menatap tajam dan secara diam-diam mengambil kesempatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. “Bukankah aku telah membunuhmu sebelumnya?” Tanya Dien tidak percaya Karin terlihat baik-baik saja bahkan terlihat seperti ti

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Melihat masa depan x Kecepatan super

    Jauh di rumah tersembunyi terlihat Demma berkumpul dengan anggota Organisasi Jalan Suci. Demma terlihat memperhatikan kelabang merah yang merayap di tangannya. Kelabang merah itu masuk ke dalam pakaian dan keluar dari atas kepala Demma. Demma tersenyum tipis melihat tingkah peliharaannya tersebut, lalu melihat ke pintu khusus dimana pemimpin organisasi akan datang. Klize pemimpin organisasi akhirnya datang dengan senyuman kecil menyapa 9 anggota organisasinya termasuk Demma. Dua pengawal Klize dengan sigap dan sikap waspada melindungi sang tuan. “Maaf aku terlambat!” Ucap Klize tersenyum meminta maaf kepada 9 anggota organisasinya. Klize menciptakan meja lengkap dengan kursi menggunakan sihir tanah, lalu duduk dan mempersilahkan semua rekannya untuk duduk sebelum membahas beberapa hal penting mengenai kelanjutan organisasi. Semua orang mengangguk mengerti dan duduk di kursi tanah buatan Klize. “Mari kita mulai rapatnya!” Klize sebagai pemimpin memulai rapat darurat organisasi.“K

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Aku

    Pov Dien.Aku terus berusaha mengontrol energi aneh yang meledak di dalam tubuhku, sebuah energi yang berasal dari ramuan sihir kebangkitan spiritual. Aku menyebutnya energi spiritual, sesuai dengan nama ramuan yang memicunya, lagipula hanya nama itu yang cocok untuk menjelaskan energi aneh tersebu

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Ramuan Sihir Kebangkitan Spiritual

    Ramuan sihir kebangkitan spiritual adalah ramuan sihir yang mengandung kekuatan spiritual dan atribut bawaan monster. Jika jantung monster yang menjadi bahan utama pembuatan ramuan memiliki atribut bawaan elemen api, maka orang yang meminum ramuannya akan mendapat atribut bawaan elemen api, jika ja

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Iklan

    Markas Tersembunyi, Kota Selabatu. Byurrr! Seseorang menyiram Dien yang tak sadarkan diri dengan seember air dingin, membuatnya terbangun seketika. Pemuda itu batuk-batuk sembari melihat sekelilingnya yang tampak suram dan mencekam, terlihat tempat itu dipenuhi lilin yang hidup dan menyinari selu

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Monster

    Danau Liverl, Kota Selabatu.Semua orang kaget mendengar suara teriakan yang lantang dan disertai dengan ketakutan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan darimana sumber suara teriakan berasal. Suara teriakan ketakutan itu berasal dari seorang pria yang berada di ujung danau dekat sema

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status