MasukSuara petir!
Hantaman keras! Seseorang muncul dari langit dengan tubuh yang diselimuti petir, lalu menghantam kepala monster kelabang raksasa hingga hancur dan memuntahkan darah hijau. Gelombang energi halus mengandung petir menyebar ke segala arah, membuat siapapun yang terkena sedikit kejang dan mati rasa. Dien tidak bisa membantu dan kesetrum ringan, dengan wajah bingung pria sumbing itu mencoba melihat seseorang yang tertutup debu akibat sambaran petir. “Apa itu? Manusia? Manusia super?” Batin Dien menyadari bahwa itu bukan sambaran petir biasa. “Ya ampun, ya ampun, bagaimana bisa monster muncul di tengah-tengah masyarakat? Ini sangat aneh.” Ucap pria berselimut petir tersebut dengan senyuman lebar. Rudo yang menginjak kepala monster kelabang yang hancur, segera melompat tinggi dan mendarat di samping mayat monster kelabang raksasa. Pria berambut ikal, mata biru yang ada kilatan petir, dan memakai baju biru itu dengan jijik menendang udara untuk membersihkan darah monster yang mengotori kakinya. “Dari ratusan pengunjung yang ada di danau ini, apakah hanya mereka berdua yang selamat?” Tanya seorang pria keluar dari kegelapan malam dengan pedang di pinggang kanan. Pria muda berwajah datar dan dingin itu bernama Seta Huang. “Tidak juga!” “Beberapa orang berhasil menjauh dan menyelamatkan diri saat kekacauan terjadi akibat kemunculan monster. Beruntungnya aku berhasil menghapus ingatan mereka untuk melupakan kejadian ini.” Balas seorang wanita yang membawa lentera. Wanita muda itu bernama Syifa Kafa sang pemegang lentera ingatan. “Kekacauan ini terlalu… ” Ucap Syifa melihat situasi danau yang berantakan, sisa daging manusia berserakan, dan darah membasahi halaman danau. “Apakah kalian utusan Tuhan? Terimakasih Tuhan. Aku tahu kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Terimakasih! Terimakasih!” Sela wanita kepang dua merasa lega dan terus berterimakasih kepada Tuhannya. Empat orang (termasuk Dien) melihat wanita tersebut dengan berbagai ekspresi. “Kami bukan utusan Tuhan. Kami hanyalah manusia biasa yang memiliki sedikit kemampuan… hmm… dapat dikatakan kami memang ada karena restu dari Tuhan.” Ucap Seta Huang dengan senyuman. “Kami bukan utusan Tuhan, karena Tuhan tidak ada. Kami hanyalah orang yang kebetulan lewat.” Balas Rudo melirik Seta sekilas. “Rudo, Tuhan itu ada dan selalu mengawasi kita semua. Jangan pernah meragukan keberadaan Tuhan, apalagi menganggapnya tidak ada. Kamu akan dimasukkan ke dalam neraka jika berkata seperti itu.” Ucap Seta menatap tajam. “Benarkah? Lalu dimana Tuhan saat umatNya dibantai monster? Dimana dia saat itu? Dimana Tuhan saat monster kelabang itu membantai orang-orang di danau ini?” Rudo bertanya dengan acuh, menunjuk beberapa potongan tubuh manusia, dan diakhir kalimat menunjuk mayat kelabang raksasa. “Seta kalau bukan karena kita, monster kelabang itu akan terus mengamuk dan mengacaukan kota. Bukalah matamu! Tuhan itu tidak ada dan hanya fatamorgana.” Dengus Rudo yang memang dikenal atheis. “Rudo, kau tahu Tuhan tidak pernah secara pribadi turun untuk menyelamatkan umat-Nya yang kesusahan. Tuhan hanya perlu menggerakkan umat-Nya yang mampu untuk menyelamatkan umat-Nya yang tidak mampu dan lemah tak berdaya. Contohnya kita, tanpa restu dari Tuhan, kita mungkin tidak akan pernah datang ke danau ini. Rudo jangan pernah meragukan Tuhan.” Ucap Seta menjelaskan dengan tenang. “Alasan klasik, selalu itu alasan orang-orang bodoh dan mabuk agama seperti kalian. Tuhan tidak turun secara pribadi. Tuhan hanya perlu menggerakkan umatNya yang lain… blablabla. Aku ingin tertawa mendengarnya.” Ucap Rudo tertawa mengejek. “Rudo… sebaiknya kau bertobat atau aku akan membunuhmu karena menghina Tuhan.” Ucap Seta menatap dingin Rudo yang kelewat batas. Seta yang terlihat tenang itu mengeluarkan aura keberadaan yang mengandung energi api dan niat membunuh. “Kenapa? Tidak terima?” Tanya Rudo juga mengeluarkan aura keberadaannya yang mengandung energi petir. “Sudah-sudah! Malu kepada orang lain.” Ucap Syifa melerai pertengkaran dua rekannya tersebut. “Syifa sebaiknya kamu tidak ikut campur! Aku akan memberi bocah bodoh ini pelajaran karena meragukan keberadaan Tuhan.” Ucap Seta yang sudah sangat marah. “Ayo! Aku ingin lihat, bagaimana Tuhanmu menyelamatkanmu dari kematian.” Tantang Rudo siap melawan. “Hentikan Rudo! Seta!” Ucap Syifa juga mengeluarkan aura keberadaannya. Dua orang itu tidak berniat untuk berhenti dan saling mengintimidasi, mereka malah semakin siap bertarung. Hanya satu percikan saja, mereka berdua mungkin akan bertarung dan saling membunuh saat itu juga. Keributan mereka berdua, membuat mereka berlima (termasuk Dien dan wanita berkepang dua) tidak menyadari bahwa monster kelabang perlahan-lahan regenerasi dan hidup kembali. Terkaman mengerikan!!! Tiba-tiba monster kelabang mencaplok kepala wanita kepang dua. Alhasil tiga orang tersebut kaget dan menjaga jarak, sementara Dien langsung dilindungi oleh Rudo yang mengeluarkan energi petir. “Monster brutal tingkat 9, setengah langkah akan berevolusi menjadi monster sihir. Tidak disangka dia menerobos batasan saat sedang sekarat.” Gumam Seta mencengkram gagang pedangnya. “Rudo, kenapa kamu tidak membunuhnya? Karena kelalaian kamu, korban bertambah.” Tanya Syifa marah. Rudo hanya diam menatap monster kelabang raksasa, lalu tersenyum mengejek. “Seharusnya dia masih hidup, karena Tuhan menyelamatkannya. Kenapa dia bisa mati diterkam monster? Aku bingung. Apakah kalian tahu alasannya?” Tanya Rudo dengan senyuman mengejek. Syifa tertegun mendengar jawaban Rudo yang di luar nalar. Seta membelah kepala monster dalam sekali tebasan energi. Monster kelabang itu mati seketika karena bagian vitalnya ditebas dan tidak dapat regenerasi lagi. Setelah membunuh monster brutal tingkat 9 tersebut, Seta menyarungkan pedangnya dengan gerakan lambat dan dingin. “Rudo sepertinya kau salah paham beberapa hal tentang eksistensi Tuhan. Semua makhluk di dunia ini adalah ciptaan Tuhan, termasuk monster yang berkeliaran di dunia. Tuhan sangat adil dan tidak pernah memihak salah satu makhluk ciptaanNya dan merugikan makhluk ciptaanNya yang lain. Tuhan hanya diam dan membiarkan makhluk ciptaannya bertahan hidup sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika kau kuat, maka kau dapat bertahan hidup. Jika kau lemah, maka kau hanya bisa menjadi santapan makhluk yang lebih kuat.” “Jika seseorang mati diterkam monster, itu karena dia tidak memiliki kemampuan yang cukup dan orang-orang disekitarnya juga tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melindunginya. Itu sudah menjadi ketetapan-Nya.” Ucap Seta menatap dingin Rudo. “Haha. Seta oh Seta…” Rudo tertawa dan berkata. Syifa hanya bisa menggeleng kepala tanpa daya melihat pertengkaran mereka berlanjut. Dia menarik Dien sedikit menjauh, lalu mengangkat lentera dan mengarahkannya tepat di wajah Dien yang kebingungan karena ditarik menjauh. Dien bingung dengan tindakan Syifa yang tiba-tiba mengangkat lentera dan bertanya-tanya apa yang ingin wanita itu lakukan kepadanya menggunakan lentera dengan ukiran aneh tersebut. Tiba-tiba saja bayangan putih seperti roh atau jiwa keluar dari tubuh Dien, itu adalah bentuk roh jiwa Dien. Syifa menyentuh kepala roh jiwa Dien dengan lembut, membuat Dien sedikit rileks dan tenang, lalu menarik energi halus yang berasal dari kepala roh jiwa tersebut. Energi halus itu langsung dihisap oleh lentera berbentuk kepala serigala yang dibawanya. “Dengan ini kamu tidak akan mengingat…” Ucap Syifa memulai untuk menghapus ingatan Dien Moretz. Mendengar beberapa kata itu, Dien langsung sadar bahwa Syifa ingin menghapus ingatannya. “Aku ingin bergabung dengan kalian!” Pekik Dien melompat menjauh sebelum lentera itu benar-benar mengambil ingatannya. Tiga orang itu kaget dengan teriakan Dien yang tiba-tiba, sampai-sampai Seta dan Rudo menghentikan perdebatan sengit mereka berdua. Mereka menatap Dien penuh arti, seakan-akan bertanya tekad Dien. “Aku sudah memikirkannya semenjak monster kelabang muncul secara mengejutkan untuk pertama kalinya. Aku menghubungkan kemunculan monster kelabang dengan iklan penerimaan pasukan malam. Setelah dipikir-pikir, aku sangat yakin bahwa mereka adalah pasukan malam yang iklan lowongannya aku temukan sebelumnya.” Batin Dien dalam pengawasan tiga orang tersebut. “Aku menyadari ada dunia berbeda dibandingkan dunia yang biasanya aku hadapi sehari-hari. Dunia itu adalah dunia dibalik kegelapan yang menyelimuti dunia, dunia itu adalah dunia yang penuh dengan monster mengerikan.” “Aku bertekad untuk menjadi bagian dari dunia tersebut, karena itu aku memutuskan untuk bergabung dan menjadi pasukan malam.” Batin Dien dan menghela nafas dibawah tatapan tiga orang yang mengawasinya. “Aku ingin menjadi pasukan malam. Aku ingin menjadi praktisi spiritual dan melawan monster dan roh jahat.” Ucap Dien dengan penuh tekad, membuat wanita pembawa lentera menatap dua rekannya. Tiga orang itu saling pandang satu sama lain, seperti sedang meminta pendapat. “Izinkan aku bergabung menjadi Pasukan malam! Aku ingin menjadi praktisi spiritual!” Ucap Dien kembali dan sangat berharap dapat diterima. Pukulan keras di punggung leher! Tiba-tiba Rudo menghilang dan memukul punggung leher Dien dari belakang, membuatnya pusing, lalu jatuh pingsan begitu saja dalam pengawasan pandangan dingin Rudo, Seta, dan Syifa. “Syifa kami mengandalkanmu.” Ucap Seta membuka portal, lalu melangkah masuk meninggalkan tempat kejadian. Rudo menghentakkan kaki, membuat Dien terlempar ke atas, lalu menentengnya seperti membawa sampah. “Jaga dirimu. Semoga Tuhan… semoga takdir melindungimu.” Ucap Rudo dengan senyuman bengis, lalu melompat masuk ke dalam portal mengikuti Seta. “Dasar atheis.” Ucap Syifa menggeleng tanpa daya. Syifa yang ditinggal sendirian, mulai membersihkan tempat kejadian menggunakan sihirnya, yaitu sihir yang dapat mengembalikan kerusakan seperti semula. Dalam waktu singkat, danau yang berantakan dipenuhi darah dan daging kembali normal seperti sebelumnya, namun beberapa daging manusia masih berserakan dan tidak terkena efek sihir milik Syifa. Melihat itu, Syifa mengeluarkan sebuah kotak hitam dengan bentuk wajah iblis bertaring di setiap sisi, lalu menggunakannya untuk menghisap masuk semua daging manusia yang berserakan. Wajah iblis membuka mulutnya dan menghisap semua daging manusia sisa hingga habis tanpa bekas. Terlihat kotak hitam berwajah iblis itu seperti sedang mengunyah. Terlihat danau bersih total dari daging manusia yang tidak habis dimakan monster kelabang. Syifa sendiri langsung membuka portal dan pergi setelah selesai dengan urusan bersih-bersihnya, namun baru saja melangkah tiba-tiba seseorang menusuk jantungnya dari belakang. Bersambung.Ribuan jiwa dan ratusan senjata tersegel menyerang Dien sesaat setelah pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan penyimpanan senjata tersegel. Ribuan jiwa dan ratusan senjata tersegel itu tidak mampu menyentuh tubuh Dien, karena dihalangi oleh formasi segel jiwa. "Kamu memiliki waktu 30 menit untuk mendapatkan pengakuan senjata tersegel."Dien mengingat pesan kepala divisi sembari melihat berbagai senjata tersegel yang menyerangnya, namun mereka tidak bisa menyentuhnya berkat formasi segel jiwa. Dien melihat berbagai tombak, busur, pedang, pistol, palu, gada, cambuk, cakram, shuriken, perisai/armor, pisau, belati, keris, buku, dan berbagai jenis senjata lainnya. Dien melangkah ke depan, membelah ribuan jiwa dan ratusan senjata yang menghalangi jalannya. Dien melangkah hingga bertemu dengan sebuah buku usang yang berada di sudut ruangan berkabut tersebut. Dien melihat buku usang tersebut dengan tajam. Hatinya berkata bahwa buku usang itu merupakan senjata tersegel yang aman dan tida
Kemampuan istimewa:Manusia memiliki kecerdasan yang luar biasa, sebuah keistimewaan yang membuat manusia dapat meniru dan menciptakan apapun. Berkat kecerdasan inilah manusia mampu menciptakan berbagai teknik bela-diri, teknik penggunaan senjata, teknik sihir, ramuan sihir, senjata sihir, senjata tersegel, formasi sihir, teknologi canggih, hingga menciptakan ramuan yang dapat mencuri kekuatan bawaan monster sihir, dan lain sebagainya. Monster memiliki kemampuan memanipulasi energi alam dengan baik, sebuah kemampuan yang membuat monster dapat berevolusi ke bentuk yang lebih kuat lagi. Seperti berevolusi menjadi monster brutal, monster sihir, monster roh, hingga berevolusi menjadi iblis. Roh memiliki kemampuan dapat bersembunyi di dalam kegelapan dan bisa keluar-masuk dunia manusia dan dunia roh sesuka hati. Iblis memiliki kemampuan regenerasi super, dapat berubah bentuk menjadi apapun, dapat menyerap kekuatan orang lain, dan dapat membuat seseorang jatuh dalam kegelapan. Dengan kem
Roh jahat yang bernama Nadira itu berubah menjadi gumpalan energi hitam dan melepaskan diri dari cengkraman Dien. Roh itu muncul dibelakang dan melepaskan tiupan tembakan angin yang mampu melubangi tembok besi. Dien reflek menghindar dan melihat tembok rumah bolong akibat tembakan angin berbentuk lingkaran kecil tersebut. Dien kembali menghindari tembakan angin, lalu menangkis tinju tangan panjang, dan menangkis tendangan kaki yang memanjang.BANG! Dien merasakan tangannya seperti dihantam kereta api akibat menahan tendangan kaki memanjang tersebut. Dien terhempas membentuk aspal jalan dan disaat yang sama menerima serangan tembakan angin di perutnya, beruntungnya perutnya hanya memerah karena diperkuat energi spiritual. "Kekuatan roh tingkat 5?" Batin Dien menyadari lawannya merupakan roh tingkat 5.Dien mundur menjaga jarak, lalu menggumamkan mantra sihir Banaspati. "Sihir itu? Manusia pengganggu kau tidak akan bisa menggunakannya dihadapanku." Ucap roh jahat sudah berada di sam
Perumahan G15. Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah dengan dua lantai. Seorang perempuan muda dengan setelan baju formal khas pekerja kantoran keluar dari mobil taksi, lalu membayar biaya jasa transportasi antar-jemput tersebut. "Terimakasih." Ucap perempuan muda tersenyum, lalu pergi masuk ke dalam rumahnya. "Sama-sama nona." Balas supir tersenyum. Sopir taksi tersenyum menerima bayarannya, lalu melaju pergi meninggalkan perumahan elit tersebut. Karena hari sudah larut malam, perumahan G15 sudah sangat sepi, tidak ada seorangpun yang beraktivitas di luar rumah. Sopir taksi mengendarai mobilnya sembari bersiul, mencoba menghilangkan suasana hatinya yang tegang dan takut karena terlalu sepi. Sopir itu kaget dan banting setir ke samping kanan ketika melihat seorang anak kecil tiba-tiba muncul di depannya dan menghalangi jalan. BRAK! Terdengar suara benturan keras dengan darah terciprat membasahi kaca mobilnya dengan mengerikan. "Babi sialan!" Umpat supi
Rumah mewah. Seorang wanita tua yang tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya karena merasakan energi jahat yang sangat pekat. Wanita tua itu bangun, lalu menoleh ke arah barat dan bergumam dengan tenang namun menghanyutkan. "Aura iblis yang mengerikan!" Ucap wanita tua, lalu beranjak dari ranjangnya dan bersiap untuk pergi ke sumber aura energi jahat. Perumahan G15. Dien pergi keluar rumah untuk melihat monster kambing yang sudah menjadi abu. Terlihat abu monster perlahan-lahan menyusun dan membentuk monster kambing kembali, namun kini monster tersebut berdiri dengan dua kaki. Melihat itu Dien tidak percaya, lalu mundur menjaga jarak. Monster kambing itu seketika menghilang dari kegelapan. Disaat yang sama tepat di bawah kaki Dien muncul lingkaran kegelapan, membuat Dien seketika tenggelam ke dalam lingkaran gelap tersebut. Dien merasa seperti ditarik kedalam air. Monster kambing menggigit kaki Dien dan menariknya agar masuk lebih dalam ke dalam lingkaran kegelapan. Dien d
Di kamarnya yang cukup luas, terlihat Dien duduk bersila sembari memejamkan mata, dan memasuki alam bawah sadarnya. Dien berniat berlatih teknik sihir guntur saketi sebagai persiapan melawan iblis yang bersembunyi di perumahan G15, sekaligus target ujian pemburu monster yang diberikan para petinggi pasukan malam. Alam bawah sadar Dien. Dien melihat gulungan teknik sihir guntur saketi yang sudah berada di alam bawah sadarnya. Gulungan itu memancarkan energi petir kuning yang sangat menyilaukan dan terus menyambar ke segala arah. Petir kuning itu menyambar Dien, membuat Dien mundur beberapa langkah. Jika Dien terkena sambaran petir itu, maka otaknya akan terluka akibat rohnya disambar petir di alam bawah sadarnya sendiri. "Itu berbahaya sekali." Gumam Dien melihat gulungan teknik sihir yang terus memancarkan petir kuning. Dien mengalirkan energi spiritual ke tubuhnya, memperkuat tubuhnya dengan energi spiritual yang dapat menahan serangan apapun. Dien melangkah menuju gulungan tekni







