LOGIN"Oh... pantas saja dia dikejar sampai segitunya," gumam Valerie lirih.
"Ternyata dia artis." "Apa?" tanya Bianca. Valerie menoleh ke arah suara. Bianca baru saja ke luar dari gudang sambil membawa sebuah kardus kecil. Tadi, ia sempat mendengar gumaman Valerie, meski tidak terlalu jelas . "Kamu ngomong apa, Ser?" tanya Bianca lagi, karena belum mendapat jawaban dari Valerie. Valerie mengangkat tangan, lalu menunjuk televisi yang masih menampilkan wajah Ethan. "Nggak apa-apa. Cuma, tadi aku sempat ketemu sama laki-laki itu." Bianca mengikuti arah telunjuk Valerie. Seketika, matanya langsung membulat. "Kamu serius?!" tanya Bianca. Kardus yang ia bawa hampir saja terlepas saking terkejutnya. Valerie menganggukkan kepala perlahan. "Iya." "Kamu liat dimana emang?" tanya Bianca, penasaran. Meski begitu, ia tetap berusaha tenang karena khawatir kardus itu akan jatuh. "Di sini," jawab Valerie, santai. Bianca langsung meletakkan kardus di lantai. "Astaga! Kamu nggak lagi bercanda, kan?" "Tidak." Bianca menepuk dahinya sendiri. "Kenapa tadi aku malah ada di gudang, sih? Padahal aku kan pengen banget ketemu sama Ethan!" Valerie memiringkan kepala sedikit. "Memang, dia terkenal banget ya?" "Banget!" jawab Bianca tanpa ragu. "Makanya, sekali-kali tuh update berita terkini, jangan kerja mulu!" Valerie hanya tersenyum tipis. "Mau gimana lagi, tanggungan aku kan banyak, Bi." "Iya, sih," ucap Bianca. Ia sama sekali tidak mengelak dan kembali menatap televisi dengan wajah berbinar. "Nih, aku kasih tau ya! Ethan itu, bukan cuma sekedar penyanyi. Suaranya tuh bagus banget! Lagu-lagu yang dia nyanyiin, selalu masuk tangga lagu terbaik." Bianca berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan dengan semangat. "Belum lagi aktingnya. Serial drama terbaru yang ia bintangi, lagi viral di mana-mana. Banyak orang yang awalnya cuma suka dia sebagai penyanyi, sekarang malah jadi makin kagum gara-gara aktingnya yang bagus banget." Valerie ikut memandang layar televisi. Laki-laki itu memang memiliki wajah yang menarik. Namun, yang paling Valerie ingat justru bukan wajahnya. Melainkan ekspresi panik saat bersembunyi di bawah meja kasir beberapa menit lalu. "Begitu rupanya," ucap Valerie pelan. Bianca tertawa kecil. "Kalau aku tadi ada di sini, pasti aku udah minta foto sama dia." Valerie mengangkat alis sebelah kanannya. "Foto? Untuk apa?" Bianca menatap Valerie seolah pertanyaan itu sangat aneh. "Ya buat kenang-kenangan dan dipamerin, dong! Kamu gimana sih?!" Valerie hanya menganggukkan kepala pelan. "Kalian di dunia ini memang sangat unik." "Hah? Kamu ngomong apa tadi?" tanya Bianca sambil mengerutkan kening. Valerie langsung menggelengkan kepala pelan. "Nggak apa-apa." Bianca menghela napas panjang. "Sayang banget, itu bukan rezeki aku." Beberapa saat kemudian, pelanggan kembali berdatangan silih berganti. Percakapan mereka pun berakhir begitu saja. Valerie dan Bianca kembali melayani setiap pelanggan yang datang. *** Hari demi hari berlalu. Valerie semakin terbiasa menjalani kehidupan sebagai Serena. Pagi hingga sore, ia bekerja di minimarket. Malam harinya, ia berganti seragam dan berangkat ke restoran tempat Serena bekerja paruh waktu. Awalnya, semua terasa melelahkan. Setiap malam, kedua kakinya terasa pegal setelah berdiri berjam-jam. Namun, Valerie tidak pernah mengeluh, terus belajar, dan beradaptasi. Ia mempelajari cara menggunakan berbagai peralatan modern dan memahami kebiasaan orang-orang di dunia modern. "Serena!" panggil George, supervisor restoran. Malam itu, restoran tempat Valerie bekerja tampak lebih ramai dibanding biasanya. Para pelayan berjalan cepat membawa hidangan. Suara peralatan makan sesekali terdengar bersahutan. George berjalan menghampiri Valerie. Sedangkan Valerie yang mendengar nama Serena dipanggil, langsung menoleh dan membalikkan tubuh ke arah sumber suara. "Iya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Valerie. "Malam ini, kamu bertugas di ruang privat lantai dua, ya!" titah George. Valerie menganggukkan kepalanya. "Baik, Pak." "Oh, ya! Tamu yang datang nanti, sangat penting. Jadi, pastikan pelayanan kamu tidak mengecewakan!" "Baik. Saya mengerti, Pak," jawab Valerie. George menyerahkan daftar hidangan dan Valerie menerimanya. Lalu, ia membawa daftar itu menuju dapur. Beberapa menit kemudian, seluruh pesanan telah siap. Dengan hati-hati, Valerie mendorong troli menuju ruang privat dan mengetuk pintu dua kali setelah sampai di depan pintu. "Silakan masuk." Setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan, Valerie segera membuka pintu secara perlahan. Ruangan itu jauh lebih mewah dibanding ruang makan biasa. Di tengah ruangan, terdapat meja makan panjang yang telah dihiasi rangkaian bunga segar. Namun, yang duduk di sana hanya Evelyn Miller, seorang perempuan lanjut usia yang merupakan pengusaha ternama di Averon. Valerie segera menyajikan hidangan satu per satu hingga meja makan terisi rapi. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, ia membungkukkan badan dengan sopan. "Selamat menikmati." Baru saja Valerie hendak melangkah mundur, suara lembut Evelyn menghentikannya. "Tunggu sebentar!" Valerie kembali menoleh ke arah Evelyn. "Iya, Bu?" Evelyn memperhatikan wajah Valerie beberapa saat. Lalu, tatapannya perlahan berubah menjadi hangat. "Akhirnya, Nenek bertemu lagi dengan kamu, Nak!" ucapnya, sambil tersenyum lebar. Valerie terdiam sejenak. Seolah, ia sedang membuka ingatannya kembali tentang perempuan yang ada di hadapannya. Dan, ingatan Valerie perlahan muncul. Beberapa hari lalu, saat ia sedang berjalan melewati taman, ia melihat Evelyn terjatuh dan meminta tolong dengan suara lirih. Dengan langkah tergesa-gesa, ia meminta bantuan kepada orang-orang yang ada di sekitar taman dan bergegas menuju rumah sakit. Namun, setelah Evelyn sudah ditangani oleh dokter dan perawat, dan dinyatakan kondisinya aman, ia menitipkan Evelyn kepada perawat. Lalu, Valerie pergi begitu saja saat Evelyn masih tidak sadarkan diri dan keluarganya belum ada yang datang karena harus pergi bekerja. Valerie tersenyum tipis. "Ah, iya! Syukurlah, Ibu sudah jauh lebih sehat sekarang." Evelyn mengangguk pelan, sambil tersenyum haru. "Ini semua berkat kamu, Nak." Ia meraih tangan Valerie dengan lembut. "Waktu itu dokter bilang, untung kamu cepat membawa Nenek ke rumah sakit. Kalau tidak..." "Ibu tidak perlu berterima kasih. Semua orang yang ada di posisi saya waktu itu, pasti akan melakukan hal yang sama, Bu." Evelyn menggeleng pelan. "Tidak, itu harus!" Suara Evelyn terdengar penuh rasa syukur. "Kalo bukan karena kamu, mungkin keadaan Nenek akan jauh lebih buruk dari itu." Valerie membalas genggaman tangan itu dengan sopan. "Kalau begitu, sama-sama Bu. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan." Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. "Asal kamu tau Nak. Sejak hari itu, Nenek selalu berharap bisa bertemu lagi sama kamu." "Bahkan aku udah minta orang untuk cari kamu, tapi sangat sulit. Seolah, kamu tidak pernah ada sebelumnya," lanjut Evelyn. "Untunglah akhirnya Tuhan mengabulkan doa Nenek dan kembali mempertemukan kita." Valerie tersenyum lembut. "Iya, Bu." Evelyn ikut tersenyum. Suasana menjadi semakin hangat. Namun, belum sempat mereka berbicara lebih jauh, pintu ruang privat kembali diketuk dari luar. "Nek, Ethan masuk ya!" Suara laki-laki itu terdengar dari balik pintu. Valerie dan Evelyn secara otomatis langsung menoleh ke arah pintu. Perlahan, pintu itu terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tinggi melangkah masuk dengan pakaian kasual sederhana. Meski begitu, ia tetap terlihat menarik dan tampan. Ketika melihat wajah laki-laki itu, mata Valerie langsung membulat. "Itu..." Di saat yang sama, langkah laki-laki itu ikut terhenti. Tatapan mereka bertemu. Hening menyelimuti ruangan selama beberapa saat. "Kamu," ucap Valerie dan Ethan hampir bersamaan."Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







